
Beberapa saat yang lalu, Erland masih sibuk untuk menunggu Floe sambil mengoleskan minyak yang tadi diberikan oleh wanita yang sudah keluar dari ruangan.
"Floe." Ia mengusap lembut lengan dibalik kemeja lengan panjang tersebut untuk menyadarkan wanita yang masih betah memejamkan mata.
Ia merasa sangat khawatir pada keadaan dari ibu yang tengah mengandung calon anaknya tersebut dan berniat untuk menelpon dokter, akan mengetahui apa yang harus dilakukan saat Floe pingsan.
Namun, ketika baru saja hendak mengambil ponsel dari saku celana, melihat pergerakan Floe yang beberapa saat kemudian perlahan membuka kelopak mata.
"Apa yang terjadi?" Floe yang tadinya mengerjapkan mata untuk menetralkan cahaya masuk ke retina dan beberapa saat kemudian melihat jelas sosok pria yang ada di hadapannya.
Hingga ia mengingat apa yang terjadi, jika tadi berbicara dengan kekasih dan teman Harry, lalu tiba-tiba kehilangan kesadaran. Refleks ia berniat untuk bangkit dari posisinya yang terlentang dan hendak duduk.
"Sudah, berbaring saja dulu. Kamu pasti saat ini masih merasa pusing, bukan?" Erland saat ini menahan tubuh Floe agar terus berbaring dan menuruti perintahnya.
Floe kini merasa lebih baik dan menggelengkan kepala karena sama sekali tidak pusing. Hanya saja tadi saat kehilangan kesadaran, ia seperti merasa terkuras tenaganya hanya karena berdiri terlalu lama ketika memilih buku.
"Aku sudah tidak apa-apa." Ia melihat tangan Erland yang membawa sesuatu dan memintanya begitu mengetahui jika itu adalah minyak angin.
"Baunya pasti dari itu, kan? Seger," ucapnya yang kini langsung membuka minyak kayu putih tersebut dan menghirup aroma yang menurutnya sangat menenangkan.
"Sepertinya aku perlu membawa ini kemana-mana saat pergi agar tidak pusing atau pingsan seperti tadi. Ini wangi seperti aromaterapi." Floe berbicara sambil menghirup minyak kayu putih tersebut.
Erland hanya diam di hadapan Floe yang saat ini sudah duduk di bangku panjang empuk tersebut. Ia tadi langsung memberikan uang untuk wanita tadi akan membeli yang baru.
Kini, ia duduk di sebelah kanan Floe untuk memastikan jika wanita itu baik-baik saja. "Apa benar sudah enakan? Kamu tidak pusing?"
Ia melepaskan jas yang dikenakan dan menaruh di pangkuan, lalu melipat lengan panjangnya sampai ke siku agar tidak terlihat formal ketika berada di pusat perbelanjaan tersebut.
Bahkan ia memastikannya dengan menaruh telapak tangan di kening wanita itu.
Floe yang tadinya masih sibuk menghirup aroma minyak, seketika menepis telapak tangan di keningnya karena takut jika seperti biasanya, yaitu hatinya berdebar-debar jika bersentuhan kulit dengan Erland.
"Sudah kubilang tidak apa-apa. Ngeyel!" sarkas Floe yang kini menutup botol minyak tersebut dan bangkit berdiri sambil mengusap perutnya. "Aku lapar. Hari ini enaknya makan apa, ya?"
Ia menunduk ke arah perutnya seolah ingin berkomunikasi dengan janin yang ada di dalam kandungannya. "Baby mau makan apa?"
"Lebih baik kita pulang saja dan makan di rumah karena aku tidak ingin kamu kembali pingsan karena kecapean." Erland yang kini bangkit berdiri sambil membawa jas miliknya, menggandeng pergelangan tangan Floe untuk keluar dari ruangan khusus ibu hamil yang sengaja dikosongkan agar bisa hanya berdua dengan wanita itu.
Ia juga tidak ingin ada wanita yang merasa risi melihatnya berada di ruangan khusus wanita. Jadi, tadi menyuruh pengawal untuk memberikan uang pada para wanita hamil yang hendak masuk ke dalam agar beristirahat di food court untuk menikmati makanan.
Kini, ia menatap tajam wanita yang baru saja menepis tangannya karena tidak ingin menuruti perintah.
"Sudah kubilang aku sudah tidak apa-apa dan sekarang sangat lapar. Aku ingin makan makanan yang enak di sini. Jadi, jangan menghancurkan mood-ku untuk kesekian kali, oke!" Floe sudah berjalan meninggalkan Erland karena kesal dan tidak memperdulikan pengawal yang menatap heran di depan ruangan.
Ia menatap ke sekeliling dan berniat untuk ke arah eskalator menuju ke lantai paling atas karena mengetahui jika pusat kuliner di sana.
Sementara itu, Erland yang memijat pelipis karena laki-laki harus menahan kesabaran pada wanita yang saat ini tengah hamil muda tersebut. Ia berjalan cepat mengikuti Floe setelah menyerahkan jas miliknya agar dibawa oleh pengawal.
"Floe, tunggu!" teriak Erland saat ini ketika mengejar Floe yang berada di eskalator.
Hingga ia pun bisa melewati orang-orang yang ada di hadapannya dan kini berdiri di samping Floe. "Apa kamu tidak paham jika aku melarangmu karena khawatir? Bagaimana jika kamu pingsan lagi?"
Floe hanya diam dan tidak ingin berdebat di tempat umum dan menjadi pusat perhatian, sehingga hanya fokus untuk mencari makanan yang diinginkan.
'Biarkan saja dia berbuat sesuka hati. Mau mengomel sampai mulut berbuih pun tidak ku perdulikan,' gumam Floe yang kini merasa sangat terkejut dengan perbuatan Erland secara tiba-tiba.
Erland sudah tidak tahan dengan diamnya wanita yang diajaknya bicara tersebut. Padahal benar-benar sangat mengkhawatirkan keadaan ibu dari calon anaknya tersebut.
Refleks ia langsung membungkuk dan mengangkat tubuh Floe ke atas lengannya tanpa memperdulikan tatapan dari orang-orang yang ada di depan serta belakang.
"Baiklah. Begini saja jauh lebih baik karena tidak ada kursi roda. Kamu pasti akan kecapean jika berjalan dan tidak baik untuk janin dalam kandunganmu." Ia tidak memperdulikan pergerakan wanita di atas lengannya tersebut ketika mode protes padanya.
"Astaga! Apa yang kau lakukan? Cepat turunkan aku!" sarkas Floe yang sudah menggerakkan tubuhnya agar diturunkan.
Ia sangat terkejut sekaligus merasa malu karena tiba-tiba pria itu menggendongnya di tempat umum dan menjadi pusat perhatian semua orang.
Rasanya bahkan ingin menyembunyikan wajahnya agar tidak dilihat oleh banyak orang yang menjadi pengunjung di Mall. Ia bahkan menatap tajam pria yang seolah sama sekali tidak memperdulikan perintahnya.
Refleks ia mengarahkan cubitan pada pinggang kokoh pria itu yang masih belum menurunkannya. "Hei, apa kamu tidak punya telinga? Aku malu dilihat banyak orang."
Erland hanya menggelengkan kepala dan bersikap datar ketika kini sudah tiba di lantai paling atas dan menatap ke arah beberapa food court. "Karena kamu tidak mau pulang dan aku mengkhawatirkan anakku, jadi lebih baik cari jalan tengah saja."
"Dengan begini aku bisa tenang dan kamu pun bisa makan apapun yang diinginkan. Cepat pilih mau makan apa!" Erland mengarahkan dagunya pada area food court agar wanita dalam gendongannya tersebut memilih menu apa yang diinginkan hari ini.
Kata adil dan impas yang selalu menjadi semboyan dalam perdebatan mereka, akhirnya membuat Floe tidak punya pilihan lain dan mengalah. Ia kini menatap satu persatu food court yang menunjukkan gambar menu andalan mereka.
Ia bahkan saat ini merasa bingung karena ada banyak makanan yang menggugah seleranya. Hingga pilihannya jatuh pada area yang baru saja ia tunjuk dengan jari telunjuknya.
"Aku ingin makan seafood saja. Tomyam dan kepiting asam manis," ucapnya yang gini merasa sudah sangat lapar ketika membayangkan dua makanan itu bergulat di indra perasanya.
Bahkan ia yang kini sudah tidak memperdulikan tatapan orang-orang karena terbiasa dan merasa jika saat ini tengah dilakukan oleh seorang suami yang menjadi ayah dari calon anaknya.
'Semua orang melihatku dan pastinya merasa sangat iri pada nasibku karena memiliki seorang suami yang sangat perhatian. Padahal dia melakukan ini karena hanya peduli pada calon anaknya saja, bukan karena mencintaiku,' gumam Floe yang kini diturunkan di kursi setelah Erland masuk ke dalam salah satu restoran seafood.
Erland yang saat ini langsung melambaikan tangannya pada waiters untuk memesan apa yang tadi disebutkan oleh Floe. Ia bahkan memesan air mineral saja untuk minum karena tadi mendapatkan laporan dari pengawal kejadian saat Floe tersedak dan minum jus jeruk malah tambah parah batuknya.
"Air mineral punyaku tadi masih ada di dalam tas," ucap Floe yang saat ini menoleh ke arah pengawal di sebelahnya. "Berikan tasku."
Pengawal yang sudah duduk di meja lain, kini menyerahkan tas milik majikan dan seketika merasa bersalah serta bangkit berdiri dari posisinya.
"Mana buku yang ingin kubeli tadi? Kamu tidak membayarnya saat aku pingsan? Apa kuatir tidak kuganti uangmu?" Floe tadinya berpikir jika buku yang dibelinya berada di dalam tas, tapi hanya ada air mineral dan buku miliknya.
Jadi, merasa sangat kesal dan meluapkannya pada pengawal.
"Bukan begitu, Nona. Saya tadi mengikuti pria itu yang membawa Anda saat pingsan. Jadi, tidak sempat membayar buku dan menitipkannya pada kasir. Saya akan ke sana sekarang," ucap pengawal yang berniat pergi dan seketika menghentikan langkahnya ketika mendengarkan suara bariton dari seorang pria yang kini berjalan mendekat.
"Tidak perlu! Ini bukunya," ucap Harry yang tadi sudah selesai berbelanja bersama sang ibu dan diajak makan di restoran seafood.
Ia yang tadinya mengedarkan pandangan ke sekeliling ketika sang ibu memesan makanan, melihat Floe dan dua pria itu.
Jadi, ia berpamitan pada sang ibu untuk memberikan buku yang tadi sudah dibayarnya karena ketika pergi ke ruang istirahat ibu hamil sudah tidak melihat Floe.
Floe yang tadinya berniat untuk mengambil kartu kredit dari dalam tas agar dibawa oleh pengawal saat membayar buku yang dibelinya, seketika menoleh ke arah pria yang sudah berada di hadapannya.
"Harry? Jadi, kamu yang membayarnya? Kenapa repot-repot begini? Aah ... aku belum sempat mengucapkan terima kasih karena kamu tadi membawaku ke ruang istirahat khusus ibu hamil dan menyusui. Berapa total ini semua?" Ia bersiap untuk mengambil uang yang berada di dalam dompetnya.
Namun, semakin merasa berhutang budi karena pria itu malah menggelengkan kepala.
"Tidak perlu! Anggap saja ini adalah salam perkenalan dariku pada anak baru di kampus." Harry yang baru saja menyerahkan paper bag ke tangan pengawal, hanya sekilas melirik ke arah suami dari Floe yang selama ini dihormatinya.
Namun, setelah bertengkar dengan pria itu, rasa hormatnya sudah berkurang 90%. "Selamat petang, Tuan Erland. Jangan salah paham atas kebaikanku pada Floe karena aku melakukan kebaikan pada semua orang."
Erland yang dari tadi hanya diam mengamati interaksi antara pria itu dengan Floe, tidak menyangka jika malah akan mendapatkan kalimat bernada sindiran.
Bahkan ia berusaha untuk tidak bersikap berlebihan demi menjaga mood Floe yang hendak makan, tapi begitu perkataan dari pria itu menyinggungnya, membuatnya kesal. Namun, ia hanya mengibaskan tangan agar segera pergi dari hadapannya.
"Baiklah. Lebih baik kau cepat pergi karena aku tidak ingin selera makanku hilang hanya karena melihat wajahmu yang sok kegantengan itu." Ia aku jika pria paling populer di kampus tersebut memang memiliki wajah rupawan.
Ia bahkan saat ini seperti melihat diri sendiri di masa lalu karena dulu pernah berada di posisi pria itu. Menjadi idaman para mahasiswi di kampus karena tidak ada satupun yang tidak menyukainya. Jadi, saat ini berpikir jika Floe juga demikian.
Bahkan tengah menatap ke arah Floe untuk melihat bagaimana tatapan wanita itu pada pria yang sepantaran dengannya. 'Mungkin jika dia tidak hamil, sudah langsung jatuh cinta dan menggoda Harry.'
"Baiklah, aku juga tidak akan berlama-lama karena mamaku sedang menunggu di sana." Harry saat ini melambaikan tangannya setelah mendengar perkataan Floe.
"Terima kasih, Harry. Sering-seringlah berbuat baik seperti ini," ucap Floe yang sengaja berbicara seperti itu untuk menguraikan aura ketegangan di antara dua pria berbeda usia tersebut.
Ia sebenarnya merasa sangat heran atas sikap Erland yang dianggap sangat berlebihan ketika selalu mengaitkan semuanya dengan nama baik keluarga dan pria itu. Namun, sangat malas memikirkannya dan seketika lupa begitu aroma pengeluaran di indra penciumannya.
Saat ini ia melihat waiters baru saja menaruh makanan pesanannya di atas meja. "Wah ... pasti sangat enak. Semoga aku tidak muntah-muntah saat makan."
Membayangkan harus muntah-muntah saat menikmati makanan dan akhirnya hilang selera makan, seperti menjadi momok untuknya. Ia benar-benar tersiksa ketika harus mengalami kram perut serta lemas setelah muntah-muntah.
"Sudah, jangan pikirkan itu. Kamu makan saja apa yang diinginkan." Erland yang hanya memesan ikan bakar, langsung mencuci tangan dan berniat untuk menikmatinya karena kebetulan juga sudah sangat lapar.
Ia tadi juga sudah menyuruh pengawal untuk memesan makanan sendiri karena tidak tahu seleranya.
Floe kini sudah meniup tomyam yang hendak ia cicipi karena masih sangat panas dan mengumpulkan asap menguap di udara. Ia pun kini mulai membuka mulutnya dan merasakan sensasi kesegaran yang berpadu rasa asam serta pedas dan membuat selera makannya meningkat.
"Hem ... enak," ucapnya yang kini kembali mengambil dan menyuapkan ke dalam mulut.
Ia saat ini menatap ke arah udang yang cukup besar di dalam mangkuk. Tidak ingin tangannya kotor ketika menyentuh untuk mengupas kulitnya, ia menoleh ke arah Erland yang sudah lahap menikmati ikan bakar.
"Tanganmu sudah kotor, kan?"
"Kotor bagaimana?" Erland berbicara dengan mulut penuh makanan dan mengerutkan kening karena tidak paham apa yang dimaksud oleh wanita di sebelahnya tersebut.
Floe mengarahkan pandangannya pada udang yang kini ia ambil dengan sendok. "Maksudku tanganmu sudah digunakan untuk makan. Jadi, sekalian kupaskan ini dan juga nanti kepitingnya, agar aku tinggal makannya tanpa kotor tanganku."
Ia pakar menuju katanya yang masih bersih karena malas cuci tangan dan memanfaatkan pria itu agar mau melayaninya dengan cara menyiapkan apa yang hendak dimakannya agar tinggal hap saja.
"Astaga! Baru kali ini aku tahu ada wanita yang tidak ingin kotor tangannya saat makan seafood." Meskipun geleng-geleng kepala, tetap saja Erland melakukan perintah Floe dengan mengupas udang agar bisa langsung dimakan.
Sementara Floe hanya tertawa melihat pria yang terus mengomel, tapi sama sekali tidak menolak perintahnya. Ia bahkan sudah mengunyah udang yang tadi dikupaskan oleh Erland.
"Enak juga punya suami rasa pelayan," seru Floe yang berbicara sambil tertawa lebar.
Berbeda dengan Erland yang makin masam wajahnya karena mendapatkan ejekan. Namun, entah mengapa ia merasa senang melihat wanita itu malah tertawa lebar saat mengejeknya.
'Kalau tertawa dengan wajah ceria seperti itu, ternyata dia cantik juga,' gumam Erland yang saat ini kembali melanjutkan ritual makannya.
Sementara itu di sisi lain, sosok pria yang tak lain adalah Harry, sesekali menatap ke arah interaksi antara pasangan suami istri tersebut.
'Sepertinya mereka menikah bukan karena dijodohkan, tapi karena saling mencintai dan akhirnya hamil diluar nikah. Tapi kenapa tadi Floe mengatakan jika semua tidak seperti yang kupikirkan? Apa ada sebuah rahasia dari hubungan mereka?' gumam Harry yang kini masih tidak mengalihkan perhatiannya dari Floe yang terlihat sangat senang hari ini.
To be continued...
Sementara