Married by Accident

Married by Accident
Akan jadi milikku



"Marcella!" lirih Zack yang saat ini merasa terkejut dengan penampilan berbeda dari wanita di hadapannya. Ia bahkan merasa aneh sekaligus senang bisa melihat wanita itu yang jauh lebih cantik mengenakan pakaian berwarna cerah.


Selama ini di kampus selalu melihat penampilan Marcella yang mengenakan pakaian berwarna hitam dan jarang menggunakan warna-warna cerah.


Jadi, merasa seperti aneh sekaligus senang karena pertama kali melihatnya.


"Kenapa kau kembali?" Marcella saat ini menatap penuh curiga dan berpikir jika pria di hadapannya seperti seorang penguntit.


Ia merasa sangat menyesal karena memberitahu tempat tinggalnya karena dasar balas budi tadi. Hingga ia pun merasa jika seseorang yang berdiri di hadapannya seperti mengawasinya setiap saat.


Berbeda dengan Zack yang menguraikan kesalahpahaman dan menjelaskan apa yang dialaminya barusan. "Jangan salah paham dulu karena aku sebenarnya kehilangan dompet. Aku tadi menunggu taksi di depan, tapi saat memeriksa dompet di saku belakang celana, tidak menemukannya."


Ia pun juga menceritakan jika tadi sudah mencari di setiap sudut yang dilalui karena berpikir mungkin terjatuh ketika berjalan. Namun, tidak kunjung menemukannya dan akhirnya kembali ke apartemen Marcella untuk menanyakan apakah terjatuh di sofa yang tadi menjadi tempat duduknya.


"Apa kamu tidak menemukannya?"


Marcella seketika berniat memeriksa di sofa dan mencari dengan mengedarkan pandangannya. Hingga ia menatap ke arah bawah dan benar-benar melihat ada dompet milik Zack.


Saat ia mengambil dan berniat untuk mengembalikan pada Zack, melihat sosok wanita yang berpenampilan seksi dan membuatnya malah merasa risi.


"Apa Daniel yang datang?" tanya Lidya yang mengerutkan kening ketika melihat tangan sahabatnya memegang dompet berwarna hitam dan ia ketahui seperti milik pria. "Dompet siapa itu?"


Marcella seketika mengarahkan dagunya ke arah pintu, di mana Zack berada di sana karena memang tadi tidak menyuruhnya masuk.


"Zack? Sepertinya ini adalah nasib baikmu," sahut Lidya yang tersenyum simpul dan berpikir untuk mengajak pria itu sekalian ke klab malam agar menjaga sahabatnya.


Namun, belum sempat mengatakannya, mendengar suara bariton dari sang kekasih yang baru saja datang dan menyapa. Seperti biasa langsung mencium keningnya.


"Kau sudah datang rupanya. Oh ya, ini yang tadi kuceritakan. Dia tadi sudah pulang dan kembali karena kehilangan dompet. Ternyata tak jatuh di bawah sofa. Bagaimana jika dia kita ajak sekalian?" Lidya saat ini melihat sang kekasih sempat menangkap curiga karena sepertinya berpikir Zack tidak kunjung pulang.


Hingga ia malah mendengar jawaban dari sahabatnya yang bahkan tidak diajak bicara.


"Dia harus beristirahat dan pulang karena terluka saat pagi menolongku. Pasti saat ini badannya sakit semua. Jangan macam-macam!" sahut Marcella yang saat ini mengarahkan tatapan tajam pada sahabatnya agar tidak melaksanakan niat untuk terus mendekatkannya dengan Zack.


Ia bahkan saat ini berpikir jika sosok pria di hadapannya tersebut malah akan membuatnya bertambah risi. Namun, lagi-lagi ia harus bersabar ketika kalah dengan persetujuan yang bersangkutan.


"Aku sangat senang bisa ikut bersama kalian karena memang sangat bosan berada di rumah. Kita pergi sekarang?" Zack sangat bersemangat ketika bisa pergi dan melakukan double date.


Meskipun itu bukan kencan sesungguhnya, tetap saja merasa senang karena bisa pergi dengan wanita yang disukainya tersebut.


Hingga ia menunggu keputusan dari sosok pria yang memiliki postur tak lebih tinggi darinya. Bahkan saat ini merasa percaya diri karena paling tinggi diantara yang lain, khususnya kekasih dari Lidya tersebut.


Sementara itu, Daniel yang tadinya berpikir akan sangat bosan karena hanya akan menunggu dua wanita tersebut saat berada di klab malam, seketika menganggukkan kepala karena berpikir akan ada teman mengobrol saat menjaga mereka.


"Baiklah. Kamu sekalian jadi bodyguard dua wanita cantik ini agar tidak ada yang berani mengganggu mereka saat ingin bersenang-senang di klab malam." Daniel bahkan kini sudah mempersilahkan dua wanita itu agar berjalan di depan dan mereka akan menjaganya.


Hingga ia mengerti jika Marcella sedang tidak baik-baik saja karena tatapannya tertuju pada iris kecoklatan itu kini mau merah seperti baru saja menangis. 'Apa dia sedang patah hati karena ada masalah dengan kekasihnya? Jika benar, bukankah itu merupakan sebuah hal baik dan aku memiliki kesempatan?'


Saat ia hanya bisa menebak-nebak di dalam hati, kini berjalan di belakang dua wanita yang mulai melangkahkan kaki menuju ke arah lift.


Marcella akhirnya tidak ingin berdebat dan bersikap egois dengan menolak Zack yang tidak keberatan untuk ikut meskipun kondisinya baru saja mengalami kemalangan saat menolongnya.


Ia malah fokus pada sahabatnya yang terlihat seperti sangat bahagia hanya karena berhasil membujuknya. "Sudah, jangan menatapku seperti itu dan bersikap seperti orang yang baru saja mendapatkan lotre."


"Ini bahkan lebih dari itu karena akhirnya burung ini lepas dari sangkarnya dan menghirup kebebasan agar tidak diejek kurang pergaulan ketika berada di London." Lidya bahkan saat ini sudah merangkul pundak sahabatnya untuk menyalurkan kebahagiaan.


Berbeda dengan dua pria yang berdiri di depan karena hanya mendengarkan pembicaraan antara dua wanita yang mempunyai karakter berbeda tersebut.


"Nanti jangan jauh-jauh dariku biar kamu tidak hilang." Lidya yang saat ini berbicara sambil melihat dua pria dengan bahu lebar tersebut, memberikan kode pada sahabatnya agar memperhatikan.


Ia bahkan memainkan mata ketika ingin mengungkapkan bahwa dua pria tersebut memiliki badan yang sama-sama bagus.


Marcella hanya geleng-geleng kepala melihat kenakalan sahabatnya. Ia sama sekali tidak menuruti kode dari sahabatnya karena kini fokus pada angka digital yang kini sudah menunjukkan sampai di lobi apartemen.


"Sebenarnya ini masih terlalu awal pergi ke klab malam, tapi tidak apa-apa karena bisa sepuasnya di sana untuk bersenang-senang," sahut Zack yang menunggu hingga dua wanita tersebut berjalan lebih dulu setelah keluar dari lift.


Hingga ia kembali melangkahkan kaki panjangnya begitu mereka mendahuluinya.


"Ya, kita akan bersenang-senang sepuasnya." Lidya kini bergelayut manja di lengan sahabatnya.


Tidak mempedulikan raut wajah masam sahabatnya yang seperti tidak suka dengan perbuatannya. "Anggap kita sedang berkencan. Bukankah kamu tidak ingin jadi obat nyamuk? Ya seperti ini saja."


Kemudian melirik ke arah sang kekasih agar tidak merasa cemburu atas kedekatannya dengan Marcella. "Maaf, Bos. Aku libur dulu jadi ayangmu."


"Ya, tapi hari ini saja." Daniel geleng-geleng kepala melihat sikap berlebihan dari sang kekasih dan membukakan pintu untuk mereka agar segera masuk ke dalam mobil begitu tiba di parkiran.


Meskipun sebenarnya tidak nyaman dengan sikap berlebihan yang ditunjukkan sahabatnya karena malu pada dua pria itu, Marcella kini hanya diam dan tidak mengungkapkan ada protes lagi. Ia yakin jika sahabatnya tidak akan mau mendengarkan perkataannya.


Kini, ia terlebih dahulu masuk ke dalam mobil dan disusul oleh sahabatnya yang duduk di sebelahnya. "Aku pinjam ponselmu."


Lidya mengerutkan kening saat menoleh pada sahabatnya. "Lah, emangnya ponselmu di mana?" Sambil memberikan ponsel yang baru saja diambil dari dalam tas miliknya.


Marcella yang menerima sambil menggelengkan kepala, kini mengirimkan pesan pada salah satu rekannya karena mengingat sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan.


Pembicaraan itu tentu saja didengar oleh Zack yang saat ini mempunyai sebuah rencana di otaknya. 'Wah, dia tidak membawa ponsel dan aku pun juga. Sepertinya ini sebuah kebetulan yang patut dimanfaatkan. Aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan emas ini untuk mendapatkannya.'


'Malam ini Marcella akan jadi milikku,' gumam Zack yang Tengah merancang sesuatu untuk mendapatkan Marcella.


To be continued...