Married by Accident

Married by Accident
XLI



Kabut menggantung di atas pepohonan pinus setelah hujan deras mengguyur menyisakan udara lembap yang dingin menusuk kulit.


Hujan mulai reda ketika Kelana dan Renjani sampai di penginapan yang letaknya paling dekat dengan area pemakaman. Kelana tak sempat memilih penginapan bagus karena tubuh mereka basah kuyup dan harus segera dikeringkan. Namun mereka beruntung karena penginapan ini tidak terlalu buruk apalagi dengan adanya balkon yang menyajikan pemandangan indah.


Kelana yakin Renjani akan menyukai pemandangan ini karena mereka biasa melihat gedung-gedung pencakar langit di Jakarta.


"Kita bermalam disini, besok baru pulang." Kelana memutar kepala menyadari kehadiran Renjani.


"Oke." Renjani duduk di samping Kelana, ia mengibaskan rambutnya yang basah. Renjani mencari hair dryer ke seluruh kamar tapi ia tidak menemukannya. Sepertinya pihak penginapan tidak menyediakan fasilitas pengering rambut. "Jadi makam Mama kamu disini."


"Iya, Mama asli Bandung."


"Beliau pasti violinist yang luar biasa juga seperti kamu."


"Ya, awalnya Mama cuma tampil di event lokal dan makin terkenal terus ketemu Papa. Papa memberikan fasilitas alat musik untuk Mama hingga akhirnya mereka menikah."


"Nggak heran kalau sekarang kamu jadi violinist terkenal." Renjani mengulas senyum paling manis berharap itu bisa mengobati kesedihan Kelana.


"Itu karena sejak lahir aku terbiasa dengan musik."


"Mama kamu pasti bangga."


"Aku harap dia hidup lebih lama, saat itu aku masih belum jadi apa-apa, aku cuma bisa menekan tuts piano secara acak."


"Kamu luar biasa karena bisa bertahan sampai sekarang." Renjani menangkup pipi Kelana. "Kamu akan terus kuat sampai nanti."


Kelana tersenyum, ia menggenggam tangan mungil Renjani yang berada di pipinya.


"Jangan merasa sendiri lagi, ada aku."


"Terimakasih Re." Kelana mengecup kening Renjani lama lalu memeluknya. Ia merasa beruntung karena takdir mempertemukannya dengan Renjani. Gadis sederhana yang tidak memiliki keistimewaan kecuali hatinya yang tulus.


"Kelana, aku baru sadar kalau punggung kamu lebar banget, tanganku nggak nyampek."


"Berarti kurang dekat." Kelana merapatkan tubuhnya agar Renjani bisa memeluk punggungnya.


Renjani seperti bayi kanguru yang bersembunyi di perut ibunya.


"Apa yang harus kita lakukan saat cuaca hujan?"


Renjani berpikir, ia sudah membayangkan makan mie instan dari tadi. Namun ia sudah makan mie instan tadi malam. Renjani berkomitmen untuk hidup lebih sehat seperti Kelana. Renjani tidak pernah melihat Kelana makan mie instan. Yana selalu membuat makanan sehat dengan bahan berkualitas.


"Re," Kelana mengurai pelukan karena ia tidak segera mendengar jawaban Renjani.


"Makan mie instan." Renjani berkata jujur, apalagi yang bisa mereka lakukan saat hujan selain makan mie instan. Renjani selalu melakukan itu bersama Jesi dulu. Mereka bisa menambahkan apapun yang tersisa di kulkas agar mendapat porsi lebih banyak.


Kelana tertawa, ternyata pikiran Renjani dipenuhi oleh makanan. Padahal Kelana memikirkan hal lain yang lebih menyenangkan dibandingkan makan.


"Kita juga belum makan siang."


"Baiklah, mari pesan makanan." Kelana mengalah, lagi pula mereka masih punya waktu sampai besok disini.


"Kamu mau mie instan nggak?"


"Aku belum pernah makan mie instan sejak satu tahun terakhir, kalau Yana tahu pasti dia akan mengomel."


"Jangan bilang Yana."


"Baiklah, aku akan pesan." Kelana mengubungi pihak penginapan untuk memesan mie instan yang Renjani inginkan lengkap dengan telur.


"Nasi juga." Bisik Renjani.


Alis Kelana terangkat kaget karena Renjani makan mie instan dengan nasi. Padahal mie instan saja sudah cukup mengenyangkan.


"Mereka akan mengantarnya dalam 10 menit." Kelana meletakkan ponselnya kembali.


Renjani manggut-manggut, air liur sudah memenuhi rongga mulutnya membayangkan menyeruput mie yang masih mengepulkan asap. Ah tak ada yang lebih enak dari itu sekarang.


"Karena sudah disini, kamu mau pergi mengunjungi Mama Lasti?"


Renjani menggeleng, ia sudah bertemu mama nya beberapa hari yang lalu. Lagi pula mereka tidak punya waktu banyak, Kelana juga bukan pengangguran yang bisa jalan-jalan kesana kemari.


"Sebenarnya kangen sih tapi Mama kalau ketemu selalu aja ngomel walaupun aku nggak merasa berbuat salah, kayaknya aku napas aja salah di mata Mama."


"Mungkin itu tanda sayang Mama ke kamu."


"Dia emang pemarah." Pandangan Renjani menerawang ke atas langit kelabu. Sebelum bercerai, orangtuanya sering terlihat pertengkaran. Setiap kali bertengkar, Lasti akan melampiaskan kemarahannya pada Renjani. Lasti akan memukul Renjani hanya karena masalah sepele. Renjani pernah dipukul ikat pinggang berbahan kulit hanya karena ia menggunakan lipstik milik mama nya.


Namun membayangkan Kelana yang kehilangan Karalyn membuat Renjani berpikir bahwa sakit akibat kemarahan Lasti tak ada apa-apanya. Setidaknya Renjani masih bisa melihat mama nya jika rindu. Tidak seperti Kelana yang hanya bisa menatap pusara Karalyn.


"Tapi kamu terlalu ceria untuk anak korban broken home."


"Aku nggak mau dunia tahu kesedihanku, kamu juga begitu."


"Karena tuntutan pekerjaan." Kelana terkekeh, seberat apapun masalah yang sedang ia hadapi jika ada kamera ia harus bersikap seolah-olah dirinya paling bahagia di dunia. Kelana harus tetap tersenyum pada wartawan dan para penggemarnya.


"Aku bisa jadi wadah air mata kamu."


"Kamu mau jadi baskom?"


"Gede banget, jadi gelas wine aja."


"Emang cukup buat nampung air mataku?"


"Harus cukup, artinya kamu nggak boleh sering nangis."


"Re, kamu nggak pakai bra?" Kelana harusnya menyadari itu sejak Renjani menghampirinya setelah mandi.


"Enggak, kan basah." Renjani meletakkan pakaian basahnya di kamar mandi.


"Jadi kamu?" Kelana melirik bagian bawah tubuh Renjani, apakah Renjani tidak mengenakan underwear?


"Iya basah juga." Renjani mengangguk santai.


"Kamu nggak boleh kemana-mana, jangan keluar kamar."


"Emang kelihatan ya?" Renjani berdiri di hadapan Kelana, ia sudah mengenakan sweat shirt longgar yang tak akan memperlihatkan tonjolan dadanya.


"Enggak, tapi buat jaga-jaga aja."


"Ayo beli underwear."


"Nggak usah, besok pagi kita pulang." Kelana tidak mau mengajak Renjani keluar, orang-orang bisa melihatnya. Kelana juga tak mau membeli seorang diri, selain tidak tahu ukuran yang biasa Renjani kenakan ia juga malu.


Renjani mengerucutkan mulutnya, "bilang aja biar gampang kan?" Ia menyipitkan matanya menatap Kelana curiga.


"Gampang apa?"


"Gampang dihajar."


"Aku pernah hajar kamu?" Kelana menaikkan alis, kapan ia pernah menghajar Renjani. Bukankah Renjani yang selalu melakukannya saat tidur.


"Sering."


"Kapan Re?"


Renjani mencibir, apakah Kelana lupa ia membuat sekujur tubuh Renjani nyeri setelah menghabiskan sepanjang malam di atas meja rias dan ranjang. Untung saja saat itu kaki Renjani belum sembuh jadi ia punya alasan untuk tidak berjalan dengan kakinya.


"Maaf." Kelana kembali memeluk Renjani, "itu namanya bukan menghajar."


"Lalu apa?"


"Menghajar terdengar terlalu kejam, aku mencintaimu Renjani."


Tubuh Renjani menegang, ia seperti tersengat listrik tegangan tinggi. Apakah telinganya sudah tidak berfungsi. Bagaimana mungkin Kelana mengatakan hal seperti itu. Tidak. Tidak mungkin.


"Aku mencintaimu." Kelana mengulang kalimatnya.


Renjani segera membebaskan diri dari pelukan Kelana saat ia mendengar ketukan pintu beberapa kali.


Mie instan pesanan mereka datang tapi Renjani sudah kehilangan selera makan. Renjani mendadak kenyang setelah mendengar ungkapan cinta Kelana. Apakah akhirnya cinta Renjani tidak lagi bertepuk sebelah tangan. Ah Renjani ingin berteriak dan terbang ke angkasa lalu memberitahu semua orang bahwa Kelana baru saja menyatakan perasaannya.


Renjani meletakkan dua mangkok mie instan dan sepiring nasi di atas meja. Walaupun kehilangan selera makan tapi Renjani harus tetap menghabiskan mie tersebut. Lambung Renjani tidak boleh memiliki waktu senggang.


"Enak nggak?" Renjani menunggu reaksi Kelana setelah satu tahun tidak makan mie instan. Menurut Renjani, Kelana harus masuk rekor muri karena tidak makan mie se-lama itu.


Kelana mengangguk, ia tidak bisa memungkiri bahwa rasa mie instan memang selalu enak. Sesuatu yang tidak sehat memang enak.


"Nggak jadi sama nasi?"


"Enggak, mendadak kenyang."


Mereka menghabiskan mie dalam keheningan. Hanya terdengar gemericik hujan dari dari luar sana seolah langit belum puas membasahi bumi.


"Udah?"


Renjani mengangguk


"Kamu nggak lagi sakit kan?" Kelana menyentuh dahi Renjani memastikan bahwa Renjani tidak demam. Kelana tak pernah melihat Renjani tidak memiliki selera makan seperti ini. Biasanya Renjani selalu makan apapun hingga habis bahkan puffed rice cakes basi saja ia makan.


"Enggak." Renjani menyingkirkan tangan Kelana dari dahinya. Bagaimana mungkin ia bisa makan lahap setelah menerima pengakuan cinta Kelana. "Kelana." Panggilnya.


"Hm?"


"Kamu nggak nanya perasaanku ke kamu gimana?"


"Enggak."


"Kenapa?"


"Aku udah tahu kalau kamu punya perasaan yang sama."


Dih, PD gila nih si Kelana tapi ya emang bener sih. Bahkan gue duluan kayaknya yang jatuh cinta sama dia.


"Aku nggak punya alasan untuk nggak jatuh cinta sama kamu, kamu punya segalanya, tapi aku—aku punya cewek biasa, kamu bisa nemu ratusan cewek kayak aku di luar sana."


"Jangan bilang gitu, di luar sana nggak ada yang makan banyak kayak kamu, nggak ada yang makan kue basi kayak kamu." Kelana memencet pipi Renjani dengan gemas hingga bibir Renjani mengerucut seperti ikan. Kelana beranjak dari kursinya dan menyambar bibir kemerahan Renjani.


Kelana mengangkat tubuh Renjani dengan mudah lalu menghempaskan nya ke tempat tidur. Ia menarik kunciran rambut Renjani dan jika sudah melakukan itu—artinya Kelana akan segera memulai penjelajahannya. Menjelajahi tubuh Renjani.


Renjani merasa ada sesuatu yang membuncah dari dalam dadanya. Kembang api menyala terang lalu meletup-letup membuat Renjani merasa dipenuhi kehangatan—atau bahkan panas.


Renjani bertanya-tanya di tengah hujan yang turun mengapa kembang api masih bisa menyala?