Married by Accident

Married by Accident
XXI



"Jangan pergi, aku mohon." Kelana memandangi wajah kekasihnya lekat, sepasang mata berwarna kecoklatan dengan bulu mata lentik, hidung mungil dan bibir yang ranum.


"Aku harus pergi, aku ingin mengejar karir ku bukan berdiam diri disini."


"Kamu udah nggak cinta sama aku, Elara?"


"Jangan bicara soal cinta." Bibir Elara gemetar menahan tangis sekuat tenaga, ia juga tak ingin meninggalkan Kelana. Namun Elara tak mau cinta menghalanginya meraih mimpi menjadi violinis terkenal dunia. Elara tak mau dirinya jadi menyalahkan Kelana seandainya ia gagal meraih impiannya. Elara begitu mencintai Kelana tapi ia tak punya pilihan selain ikut papa dan mama nya ke Italia, ini demi kebaikan mereka. Lagi pula mereka masih terlalu muda, kalaupun ditakdirkan bersama mereka akan kembali bersatu meski jarak jauh memisahkan.


"Lantas kenapa kamu pergi?"


"Aku nggak perlu menjelaskannya lagi Kelana."


"Kalau begitu aku akan menunggumu."


"Jangan tunggu aku."


"Kenapa? aku cuma cinta sama kamu, Lara."


"Aku nggak tahu kapan bisa kembali kesini atau mungkin aku nggak akan pernah kembali."


Genggaman Kelana terlepas begitu mendengar bahwa Elara mungkin tak akan pernah kembali. Bagaimana Kelana akan menjalani hidup tanpa Elara setelah ini.


"Elara, Lara jangan pergi, Elara Adaline!"


"Kelana ada apa? bangun Lan!" Renjani mengguncang tubuh Kelana karena lelaki itu terus meneriakkan nama Elara.


Kelana membuka mata, keringat membanjiri tubuhnya. Mimpi buruk itu datang lagi. Mungkin itu karena sebelumnya Renjani bertanya soal Elara, pikiran Kelana kembali tertuju pada wanita itu. Perpisahan yang masih menjadi luka mendalam di hati Kelana.


"Kamu mimpi buruk ya?" Renjani menghidupkan lampu ruangan menggunakan remote, ia menyeka keringat di kening Kelana, "aku ambilin minum dulu." Ia melirik jam digital di atas nakas, pukul setengah 6 pagi. Renjani tidur nyenyak tanpa mimpi, itu sebabnya ia begitu terkejut mendengar teriakan Kelana.


Kelana menahan tangan Renjani yang hendak turun dari ranjang lalu menarik gadis itu dan memeluknya erat. Tubuh Renjani menegang karena semua ini terjadi secara tiba-tiba. Renjani bisa mendengar jantung Kelana berdegup dua kali lebih cepat.


"Maaf, harusnya aku nggak nanya soal Elara." Renjani menyesal telah menyinggung soal wanita bernama Elara, ia menduga hal tersebut membuat Kelana bermimpi buruk. Renjani mendengar Kelana meneriakkan nama Elara dalam tidurnya.


Setelah merasa Kelana lebih tenang, Renjani mengurai pelukan. Ia turun dari tempat tidur untuk membuka gorden dan jendela.


Udara dingin menerobos jendela yang baru dibuka memberikan sedikit kesegaran bagi Kelana. Renjani keluar kamar untuk mengambil air putih.


"Pagi Mbak Rere."


Seperti biasa Yana sudah bangun lebih awal dan sibuk berkutat dengan bahan masakan di dapur. Biasanya Renjani akan membantu apa saja sesuai kemampuannya. Walaupun Renjani merasa dirinya cukup mahir memasak tapi pengetahuan Yana soal makanan jauh lebih banyak. Yana memasak menu yang bervariasi setiap harinya seolah tak pernah kehabisan ide.


"Pagi Yana, ada yang mau dibantu nggak?" Renjani menuang air ke dalam gelas. "Tapi aku mau anterin air dulu buat Kelana."


"Iya, nggak usah buru-buru, waktu kita banyak soalnya hari ini Mas Kelana libur."


"Oh gitu, ya udah ntar aku kesini lagi."


"Iya." Yana tersenyum melanjutkan aktivitasnya mengupas wortel. Walaupun belum menikah tapi Yana mengerti bahwa Kelana dan Renjani butuh waktu berdua lebih lama. Yana senang karena mereka sudah tidur bersama. Yana yakin meskipun awalnya pernikahan mereka tidak berdasar pada cinta tapi lambat laun perasaan mereka akan berubah, itu yang ia harapkan.


"Minum dulu." Renjani menyodorkan segelas air putih pada Kelana.


Kelana meneguk air itu hingga tandas, kerongkongannya terasa amat kering seperti baru saja berlari keliling lapangan sepak bola. Kelana sendiri tidak tahu bagaimana rasanya berlari sejauh itu karena ia hampir tak pernah berolahraga.


"Aku nggak akan nanya soal cewek itu lagi." Renjani meletakkan gelas kosong di atas nakas.


Renjani melangkah ke kamar mandi, ia akan gosok gigi dan cuci muka sebelum membantu Yana memasak.


"Dia cinta pertama ku."


Ucapan Kelana membuat langkah Renjani terhenti. Renjani memutar badan, ekspresi Kelana datar dengan pandangan kosong.


"Layaknya cinta pertama pada umumnya—aku belum bisa melupakannya meski aku sudah berusaha."


Renjani mengepalkan tangannya, hatinya terasa perih mendengar perkataan Kelana. Bukankah seharusnya kalimat itu sama sekali tidak berpengaruh untuknya, lagi pula hubungan mereka hanya pernikahan tanpa cinta. Renjani tidak boleh ingkar janji sampai mereka memutuskan untuk bercerai. Bukankah mereka telah menentukan waktu perceraian bahkan sebelum menikah.


"Kenapa aku nggak pernah ketemu dia?"


"Dia nggak disini, mustahil bagi kami untuk bersatu kembali."


"Lalu bagaimana setelah kita bercerai?"


"Oh." Renjani hanya ber-Oh ria lalu masuk ke kamar mandi.


Renjani akui bahwa wanita bernama Elara itu memiliki paras yang cantik sehingga ia tidak mudah dilupakan. Renjani bisa mengerti jika sampai sekarang Kelana belum bisa melupakannya. Pasti ada banyak hal yang telah mereka lewati selama pacaran dulu.


Dulu Renjani juga butuh waktu untuk melupakan Arya karena mereka telah melalui banyak momen menyenangkan sebelum Arya ketahuan selingkuh. Seharusnya jika Kelana sulit melupakan Elara, itu artinya Elara tak pernah menyakiti hatinya. Terlalu banyak dugaan di kepala Renjani, tadinya ia hanya ingin cuci muka tapi akhirnya ia mengguyur tubuhnya dengan air hangat. Renjani harap pikiran-pikiran itu luntur bersama air dan sabun.


Ketika keluar kamar mandi, Renjani tidak melihat Kelana di tempat tidur. Sepertinya Kelana kembali ke kamarnya sendiri.


"Aku bantu parut wortelnya ya." Renjani datang dengan handuk yang membalut kepalanya.


"Eh iya Mbak." Yana senyum-senyum melihat Renjani, "Mbak Rere keramas?" Ia membayangkan Renjani dan Kelana melakukan sesuatu semalam hingga Renjani harus keramas sepagi ini. Meski demikian Yana tidak mau menggoda Renjani, ia tak berhak melakukan itu.


"Iya." Renjani memarut wortel yang sudah dikupas dan dicuci, "mau bikin apa?"


"Siomay Mbak, dikasih ayam sama wortel, Mbak Rere rambutnya nggak dikeringin dulu takutnya masuk angin."


"Enggak, biarin kering sendiri, aku anti masuk angin karena rajin minum tolak angin." Renjani mengibaskan tangannya.


Yana tertawa, "Mbak Rere bisa aja, kalau udah selesai tolong bikinin kopi buat Mas Kelana ya."


"Dia dimana?"


"Di kamarnya."


Renjani memasukkan kapsul kopi ke dalam mesin pembuat kopi. Renjani sudah hafal kapsul kopi yang biasa Kelana minum karena ia melihat Kelana meminumnya setiap hari. Sesibuk apapun pasti Kelana selalu menyempatkan diri minum kopi.


"Aku anterin ini dulu ya." Renjani membawa segelas kopi ke kamar Kelana.


"Kelana!" Renjani mengetuk pintu beberapa kali tapi tak ada sahutan dari dalam sana.


Alunan piano menyambut Renjani ketika memasuki kamar Kelana. Renjani baru tahu jika Kelana juga bisa memainkan piano.


"Jangan salahin aku kalau masuk tiba-tiba, aku udah ketuk pintu tadi." Langkah Renjani membawanya menuju studio musik Kelana, ia mengintip ke dalam sana. Kelana terlihat serius memainkan piano dengan melodi yang belum pernah Renjani dengar. Itu karena Renjani memang jarang mendengarkan musik di luar perpustakaan.


Kelana baru menyadari kehadiran Renjani ketika gadis itu meletakkan kopi di dekatnya. Aroma kopi menusuk-nusuk hidung membuat Kelana menghentikan gerakan jarinya pada tuts piano.


"Aku ketuk pintu tadi kamu nggak denger." Jelas Renjani tanpa ditanya, ia tidak mau Kelana marah-marah lagi seperti semalam. Kelana cukup menakutkan saat marah dan Renjani tidak mau melihatnya lagi.


"Apa rencana kamu hari ini?"


"Aku ada jadwal kursus nyetir."


Kelana manggut-manggut mengerti, ia menghirup aroma kopi yang Renjani bawakan lalu menyesapnya perlahan. Kopi selalu berhasil menjadi awal yang baik di pagi hari.


"Biar Pak Dayat anterin kamu." Kelana kembali meletakkan gelas kopi tersebut setelah menyesapnya sedikit.


"Nggak apa-apa aku naik motor aja." Renjani sudah membawa motornya ke apartemen ini jadi ia tak perlu meminta Kelana mengantarnya.


"Jangan salah paham, aku minta Pak Dayat anterin supaya hemat ongkos aja lagi pula aku nggak kemana-mana hari ini."


Renjani mendengus kesal, perhitungan banget sih nih cowok. Lagi pula Renjani masih punya uang tabungan berkat bekerja di perpustakaan selama ini.


"Ngomong-ngomong, kamu bisa main piano juga."


"Sedikit."


"Sedikit? menurutku itu udah jago sih, kamu mainnya bagus barusan."


"Oh ya?" Netra Kelana berbinar mendengar pujian Renjani, "kamu tahu lagu yang aku mainkan barusan?" Ia jadi bersemangat karena Renjani memujinya.


"Nggak tahu." Renjani menggeleng.


Senyum Kelana lenyap mendengar jawaban Renjani, ia pikir gadis itu memujinya karena mengetahui lagi yang baru saja ia mainkan. Tentu saja, apa yang Kelana harapkan dari seorang Renjani. Secara tidak langsung Kelana berharap Renjani mengetahui dunia musik atau bahkan ia berharap ada sosok Elara dalam diri Renjani.


Hari-hari berharga bersama Elara membuat Kelana kian dilanda rindu—rindu yang tak tahu kapan bisa terobati. Mungkin seumur hidup Kelana hanya akan merindu pada Elara. Setiap detik yang Kelana lalui bersama Elara akan selalu menjadi kenangan indah dalam kepalanya, dimana mereka membicarakan banyak hal tentang musik. Membicarakan violinist favorit mereka lalu memainkan lagu-lagu dari para violinist terkenal dunia.


"Tapi aku tahu kalau itu bagus." Renjani menambahkan setelah melihat ekspresi kecewa Kelana.


Kelana tersenyum hambar dan meminta Renjani keluar dari studio musiknya karena ia ingin bermain piano tanpa gangguan siapapun. Renjani menuruti Kelana, ia juga harus membantu Yana memasak.