Married by Accident

Married by Accident
LXXXIX



Tangan Kelana terulur meraba-raba tempat kosong di sampingnya, kemana Renjani? begitu pertanyaan yang hinggap di benak Kelana ketika ia tidak menemukan Renjani di sampingnya. Kelana memicing ketika sinar matahari menerpa wajahnya, ah pukul berapa ini? mereka bekerja keras semalaman hingga Kelana bangun setelah matahari meninggi.


Kelana berguling melihat ke arah gorden, itu dia! Kelana melihat siluet sosok Renjani membelakanginya masih dengan pakaian yang sama sejak semalam bedanya pagi ini rambutnya sudah digulung ke atas. Kelana suka pakaian itu, bukan karena bahannya transparan tapi—Renjani pantas mengenakan lingerie berwarna putih tersebut. Renjani pandai memilih pakaian untuk dikenakan di depan Kelana.




"Pagi." Ucap Kelana seraya mengulas senyum ke arah Renjani.


"Hei, kamu udah bangun?" Renjani memutar kepala melihat Kelana di atas ranjang, "kamu boleh tidur sebentar lagi biar aku bikin sarapan."


"Jam berapa?"


"Sekarang—" Renjani melirik jam di atas nakas, "jam 10."


Kelana biasanya selalu bangun pagi, ia adalah morning person yang selalu produktif menghasilkan sesuatu seperti menulis lagu, bermain musik, membuat sarapan dan olahraga. Namun pagi ini berbeda, mungkin karena efek jet lag.


"Ada sesuatu yang pengen kamu makan?" Tanya Renjani, ia bisa membuat sarapan sesuai keinginan Kelana.


"Makanan Indonesia."


Kelana hendak memanggil Renjani memintanya kembali berbaring di sampingnya tapi Renjani sudah lebih dulu keluar setelah membuka jendela balkon hingga udara segar masuk ke kamar.


Renjani menemukan ide menu sarapan pagi ini setelah mencari-cari di internet. Meskipun kulkas terisi penuh oleh bahan makanan, Renjani selalu bingung apa yang akan dimasaknya setiap hari. Sepertinya itu adalah problematika yang dialami oleh semua ibu rumah tangga.


Renjani mengeluarkan dua buah kentang, kacang panjang, kubis, selada dan tauge. Sebagai bahan pelengkap Renjani mengambil telur untuk direbus nanti. Karena Kelana ingin makan hidangan Indonesia, maka Renjani akan membuat gado-gado. Hidangan sehat yang mudah dibuat walaupun Renjani tak tahu apakah rasanya enak atau tidak.


Kelana memperhatikan Renjani dari pintu yang menghubungkan ruang makan dan dapur. Renjani tampak mengusap-usap punggungnya sesekali.



"Bikin apa?" Kelana memeluk Renjani dari belakang, ia tak bisa hanya berdiam diri melihat Renjani memasak dengan pakaian seperti itu.


"Gado-gado, kamu mau kan?"


"Kamu tahu aku makan apapun apalagi masakan istri ku."


Renjani menahan senyum, Kelana memang sangat pemilih terhadap makanan tapi Renjani sudah paham betul mengenai hal tersebut. Renjani juga banyak belajar dari Yana.


"Tapi selama ini kamu makan masakan ku nggak karena terpaksa kan?"


Kelana menggeleng, "itu karena masakan mu enak."


Renjani memang sering mendengar Kelana memuji masakannya. Tak hanya itu Kelana selalu menghabiskan masakan Renjani.


"Sakit ya?"


Renjani mengangguk, sakit punggungnya terasa makin hebat akhir-akhir ini. Apalagi saat bangun tadi pagi, rasanya Renjani tak sanggup lagi membawa perut sebesar ini.


"Maaf sayang, kamu harus merasakan sakit ini sendiri."


"Jangan bilang gitu, kamu selalu melakukan yang terbaik buat aku, semalam kamu juga rela keluar malem-malem ke minimarket demi beliin aku es krim."


"Kamu tahu aku keluar?"


"Tahu." Renjani tahu Kelana pergi ke minimarket karena seingatnya tak ada es krim yang tersisa di kulkas.


"Itu bukan apa-apa dibanding pengorbanan kamu mengandung Nana." Kelana memberi satu kecupan di pipi Renjani. "Aku perlu bantu nggak?" Tanya Kelana.


"Nggak perlu, singkirkan tangan mu dari bokongg ku." Renjani menepis tangan Kelana yang jahil meraba-rabanya.


"Salah sendiri kamu pakai baju kayak gini padahal lagi masak." Kelana menepuk bokong Renjani.


"Nggak mungkin aku pakai baju pengantin kan?" Renjani menatap Kelana kesal, kegiatan memasaknya jadi terganggu karena Kelana. "Udah sana pergi."


"Aku mau bantu kamu." Akhirnya Kelana mengurai pelukannya. Ia mencuci sayuran lalu memotongnya. Sedangkan Renjani menggoreng kacang tanah dan menyiapkan bumbu lainnya.


Membuat gado-gado bukan ide bagus untuk sarapan karena prosesnya cukup lama dibandingkan dengan membuat roti panggang. Renjani agak menyesal karena perutnya sudah keroncongan padahal ia belum selesai memasak.


"Kenapa?" Kelana memperhatikan Renjani yang memegangi perutnya sambil meringis seperti sedang kesakitan.


"Tiba-tiba mules, mungkin karena belum makan."


"Ya udah kamu duduk dulu biar aku yang selesain." Kelana membimbing Renjani untuk duduk sementara ia menyajikan sayuran di atas piring.


Soal menyajikan makanan, Kelana jagonya. Ia menata sayuran, potongan tahu goreng lalu menyiramnya dengan saus kacang yang sudah Renjani buat. Terakhir telur rebus yang dipotong menjadi dua dan kerupuk. Gado-gado ala mereka berdua sudah siap disantap.



"Masih sakit?" Kelana meletakkan dua piring gado-gado di atas meja.


Renjani menggeleng, "semoga enak ya."


"Pasti enak lah." Kelana menyantap gado-gado miliknya. "Sudah kuduga, kamu memang pandai memasak."


"Aku senang bisa sarapan bareng kamu lagi."


"Setelah ini aku nggak akan pergi kemana-mana, kalaupun pergi aku pasti ajak kamu sayang."


Renjani mengangguk pelan, ia lebih suka menghabiskan waktu berdua di apartemen. Namun mengingat profesi Kelana, Renjani tak mungkin meminta hal itu. Kelana harus berada di luar bertemu banyak orang dan Renjani harus menemaninya kemanapun.


"Awh!" Renjani menjatuhkan sendoknya, tiba-tiba ia merasa mulas lagi seperti saat hari pertama haid. Sebelumnya Renjani juga mengalami kram perut beberapa kali tapi sekarang rasanya lebih kuat.


"Kenapa Re?" Kelana beranjak mengambil sendok yang terjatuh di atas lantai. "Kenapa?"


"Sakit." Renjani menggigit bibir bawahnya.


"Ayo ke rumah sakit."


"Tunggu, dokter bilang nggak perlu buru-buru ke rumah sakit, aku masih bisa."


"Ya udah, habisin makannya dulu ya." Kelana mengambil sendok baru untuk Renjani, ia berusaha terlihat tenang padahal sebenarnya ia panik ingin segera pergi ke rumah sakit. Kelana bisa lebih tenang jika Renjani diawasi dokter.


Setelah sarapan Renjani membereskan barang-barang yang hendak dibawa ke rumah sakit sementara Kelana mandi.


Renjani membereskan tempat tidur yang super berantakan bahkan gulingnya terlempar cukup jauh ke dekat pintu. Renjani tak ingat bagaimana bisa guling itu terlempar kesana.


"Maaf hari ini kesiangan siram kalian." Renjani menyiram tanaman hias di balkon walaupun sedikit telat karena matahari sudah meninggi. Ia harap mereka tidak mati.


"Nana, kita akan segera bertemu." Renjani mencengkram pinggiran balkon saat kembali merasakan kontraksi. "Ibu dan Papa siap menyambut mu, kita berjuang sama-sama ya."




"Wah!" Kelana terperangah melihat ruangan yang mulanya menjadi tempatnya menyimpan koleksi violin miliknya sekarang berubah menjadi kamar bernuansa putih dan hijau. "Kamu yang pilih wallpaper nya ya?"


"Iya, bagus nggak?"


"Bagus banget, dindingnya penuh warna, Nana pasti suka." Kelana duduk di sofa dekat jendela, "ini bangku untuk menyusui?"


"Iya terus kakinya bisa naik kesini." Renjani duduk di kursi khusus menyusui yang berada di dekat ranjang.


"Sebentar lagi." Kelana duduk di lantai meraih tangan Renjani lalu mengecupnya.


"Aku mau mandi dulu."


"Ayo." Kelana membantu Renjani beranjak dari kursi.


******


Renjani dan Kelana berangkat ke rumah sakit setelah menelepon dokter dan menjelaskan kondisinya. Karena kontraksi yang Renjani rasakan semakin intens maka Kelana tak bisa menahan diri lagi untuk segera pergi ke rumah sakit. Apalagi tadi Renjani sempat mengeluarkan cairan kemerahan.


Kelana menggenggam tangan Renjani erat, ia meminta Dayat mengemudi dengan hati-hati di jalan raya yang padat sore itu. Kelana ingin segera sampai di rumah sakit tapi keselamatan mereka yang paling utama.


Sesampainya di rumah sakit dokter langsung memeriksa Renjani. Kelana setia menemani Renjani, ia tak mau jauh-jauh dari sang istri barang sebentar. Kelana harap dengan dirinya selalu berada di sisi Renjani, ia bisa memberi kekuatan lebih.


"Sudah pembukaan 3, Mom."


Renjani meringis, rasanya sudah sesakit ini tapi baru pembukaan 3.


"Memangnya tunggu sampai pembukaan berapa?" Tanya Kelana, ia mendadak lupa pada hal-hal seperti itu meski sebelumnya sempat mengikuti kelas hamil dan melahirkan bersama Renjani.


"Sepuluh, sabar dulu ya."


Untuk mempercepat proses pembukaan Renjani menggunakan gym ball, dokter bilang itu juga mengurangi rasa sakit. Namun bagi Renjani itu hanya membantu sedikit, sangat sedikit.


"Bagaimana kalau operasi saja?" Kelana tak sanggup lagi melihat Renjani kesakitan lebih lama.


Renjani menggeleng, ia ingin melahirkan normal walaupun sekarang rasanya ingin menyerah. Namun Renjani harus berjuang maksimal demi Renjana.


"Re, aku nggak tega lihat kamu kayak gini."


"Aku bisa melakukannya, aku mohon."


Kelana mengembuskan napas berat, ia mendekap Renjani seraya mengusap-usap punggungnya.


"Oke, kamu pasti bisa." Kelana mengusap wajah Renjani yang basah oleh keringat bercampur air mata.


Hingga malam pembukaan Renjani tidak menunjukkan kemajuan hingga akhirnya dokter memutuskan untuk melakukan induksi. Renjani tidak bisa tidur semalaman karena kontraksinya terasa lebih sakit.


Wajah Renjani pucat pasi, ia tidak berkata apapun sejak beberapa jam yang lalu. Ia tak sanggup melakukan apapun selain menangis dalam pelukan Kelana. Ia seperti berada di antara hidup dan mati.


"Kelana." Panggil Renjani dengan suara rendah hampir tidak terdengar.


"Hm?" Kelana menangkup wajah Renjani.


"Kalau aku mati—"


"Ssshhh jangan bilang kayak gitu, nggak boleh."


Renjani terisak, "aku—"


"Kamu bisa, kita akan segera bertemu Nana sayang." Kelana kembali mendekap Renjani.


Pintu terbuka mengalihkan perhatian Kelana, Yana datang membawa pakaian ganti untuk Kelana. Ia juga membawa makan malam untuk mereka. Yana akan ikut menginap disini malam ini.


"Ayo makan dulu." Kelana mengambil makanan yang disediakan rumah sakit. Makanan itu belum tersentuh sejak tadi. "Aku suapin ya."


"Aku bisa makan sendiri, kamu juga belum makan malam."


"Baiklah." Kelana membuka pembungkus plastik makanan lalu meletakkannya di atas overbed table. "Kamu mau makanan ku, Yana beli ayam panggang dan salad."


"Punya ku lebih enak." Renjani mendapat beef steak dengan mashed potato dan brokoli rebus.


Kelana terkekeh mengusap puncak kepala Renjani. Ia berpindah duduk di sofa bersama Yana untuk menyantap makan malam mereka.


******


"Pasti sakit banget ya Mbak?" Yana menyisir rambut Renjani yang tampak sangat kacau, ia menguncir ke atas agar lebih rapi.


Renjani mengangguk lemah, ia tak pernah merasakan sakit yang lebih hebat dari ini. Sakitnya tak bisa digambarkan dengan kata-kata.


Ini sudah pukul setengah 12 malam tapi Renjani tidak bisa tidur karena sakitnya begitu intens sejak dokter memberikan induksi. Yana meminta Kelana istirahat sebentar sementara ia menjaga Renjani.


"Tolong panggilkan dokter." Pinta Renjani, ia ingin dokter mengecek pembukaannya karena kontraksi yang dirasakannya begitu kuat.


Yana bergegas keluar memanggil dokter, ia berpengalaman dalam banyak hal tapi soal melahirkan ia tak tahu apa-apa. Yana hanya berusaha melakukan sebisanya.


Yana mengalihkan pandangan ketika dokter memeriksa pembukaan Renjani, itu terlihat sangat mengerikan tapi Renjani tak bereaksi apapun.


"Pembukaannya sudah lengkap." Ucap dokter yang membuat Renjani memiliki harapan baru. Renjani kembali memberi semangat pada dirinya sendiri, ia yakin dirinya bisa melahirkan Renjana dengan selamat.


"Mas, bangun." Yana mengguncang tubuh Kelana.


Kelana membuka mata, sebenarnya ia tak benar-benar tertidur. Kelana tak bisa tidur sementara Renjani kesakitan.


"Papa nya akan tinggal di dalam?" Tanya dokter.


"Iya Dok." Kelana menegakkan tubuhnya, "sudah waktunya?" Tanyanya pada Renjani.


"Iya." Jawab Renjani.


"Aku yakin kamu pasti bisa, aku disini buat kamu." Kelana mengecup kening Renjani lama.


Renjani mengulas senyum samar, ia merasa beruntung memiliki suami Kelana. Walaupun Renjani tak bisa mengatakan hidupnya selalu diisi dengan kebahagiaan, tapi Kelana membuat semua momen yang mereka lalui terasa lebih berharga.