Married by Accident

Married by Accident
Sebentar lagi



Marcella terlihat tengah fokus mengobati luka pada siku Zack yang berdarah dengan obat yang tadi dibeli oleh Lidya.Tentu saja ia merasa bersalah sekaligus berhutang budi dan ingin membalas kebaikan dari sosok pria yang sudah menyelamatkan nyawanya.


Sementara itu, Zack kini tengah menatap intens wajah wanita di depannya dengan tidak berkedip dan sibuk dengan pikirannya sendiri. 'Semakin dilihat, Marcella sangat manis dan juga baik hati.'


Baru saja ia selesai berargumen sendiri di dalam hati, suara dari Marcella sontak membuatnya merasa kebingungan untuk menjawab.


Tanpa mengalihkan pandangannya, Marcella masih belum selesai mengobati luka di siku Zack. "Kamu sudah cari wanita lain saja!"


"Hah ...." Zack memikirkan jawaban karena bingung untuk menjawabnya. "Sebenarnya ...."


"Aku sudah punya kekasih dan kami bahkan sudah menjalin hubungan lebih dari 8 tahun. Jadi, aku tidak akan tertarik padamu atau pun pria lain." Marcella tahu jika Zack selama ini menyukainya dan ketika pria itu tidak berkedip menatapnya, sehingga mengingatkan agar tidak melanjutkan perasaannya.


"Beginilah kerasnya cinta. Aku mengerti apa yang kamu rasakan, makanya berkata seperti ini," sahut Marcella yang baru saja selesai memasang perban di siku Zack. Ia berharap setelah mengatakan itu, bisa membuat Zack melupakannya. "Untung tidak dalam, sehingga tidak perlu dijahit."


Meskipun bingung untuk menanggapi, tetap saja Zack menganggukkan kepala dan sedikit menggerakkan tangannya. Meskipun terasa pegal dan juga perih, tetapi tidak ingin memperlihatkannya.


"Terima kasih. Luka ini akan cepat kering dan beberapa hari juga sembuh. Mengenai perasaanku ...." Zack tidak bisa melanjutkan perkataannya karena dipotong oleh wanita yang tengah membereskan obat dan kapas yang tadi digunakannya untuk membersihkan luka.


"Tidak perlu membahasnya karena aku tidak ingin mendengarnya. Aku memang tidak bisa memaksamu untuk membuang perasaan padaku, tapi paling tidak gunakan akalmu. Aku sangat mencintai kekasihku dan tidak bisa membalas perasaanmu, oke!"


Marcella bangkit berdiri dari sofa dan membawa kantong plastik berisi obat tersebut masuk ke dalam. "Oh ya, sebelum pulang, makan hamburgernya."


"Aaah ... iya." Zack selalu merasa mendapatkan kalimat skak mat dari wanita yang telah menghilang di balik dinding tersebut.


'Aku tidak akan menyerah selama kau belum menikah dengan kekasihmu. Bahkan pernikahan saja bisa berakhir dengan perceraian. Apalagi cuma menjalin hubungan bertahun-tahun,' gumam Zack yang kini masih bersyukur karena akhirnya bisa lebih dekat dengan Marcella.


Sementara itu, Marcella baru masuk ke dalam. Dilihatnya Lidya masih berbicara di telepon dengan suaranya yang lirih, seolah tidak ingin pembicaraan sampai didengarnya.


"Aku tidak akan mengganggumu berbicara dengan kekasihmu. Jadi, bicaralah dengan tenang di sini," lirih Marcella dengan tersenyum tipis untuk menggoda sahabat tersebut. "Lanjutkan saja, aku makan dengan Zack di depan."


Sementara itu, Lidya yang tadinya tengah kebingungan menutupi apa yang diketahuinya, meremas pakaiannya begitu mendengar perkataan yang menjerumuskan sahabatnya dalam jurang kehancuran.


Setelah tanpa sengaja membaca pesan dari Erland, kebetulan kekasihnya menelpon, tapi ia tidak mood karena kasihan pada sahabatnya. Hal itulah yang membuatnya berbicara sangat lirih karena seperti tidak punya tenaga hanya untuk berbicara dengan sang kekasih.


'Marcella, bagaimana tanggapanmu nanti setelah membaca pesan kekasihmu? Susah payah aku menutupi rasa ibaku, tetapi kamu malah mengatakan mau makan dengan Zack di situasi genting seperti ini,' batin Lidya dengan degup jantungnya yang berdetak sangat kencang.


Tentu saja saat ini ia tengah merasa sangat iba, tapi sosok pria yang masih belum mematikan sambungan telepon malah menambah kekesalannya.


"Kamu kenapa sih, Sayang? Dari tadi seperti malas berbicara denganku." Pria di seberang telepon merasa curiga jika ada pria lain di apartemen karena mendengar suara Marcella menyebut nama seorang pria.


"Apa kamu mau menipuku dengan mengatakan kalian hanya berdua di sana. Siapa Zack yang barusan dikatakan oleh Marcella? Cepat katakan padaku, sebelum aku langsung meluncur ke sana!"


Tentu saja Lidya kini memijat pelipisnya karena benar-benar sangat pusing. Dengan tangan menjauhkan ponsel dari telinganya, ia bangkit dari posisinya dan berjalan ke kamar mandi karena ingin menjelaskan semuanya agar tidak terjadi kesalahpahaman. Begitu pintu sudah ditutup, ia mulai mengeluarkan suara dengan menceritakan tentang pesan yang dibacanya tadi.


"Sebenarnya tadi Marcella hampir tertabrak mobil karena menyelamatkan seorang remaja dan untungnya ada temannya sesama dosen yang langsung mendorong ke tepi jalan hingga terluka sikunya. Karena itulah, ia kini mengungkapkan rasa terima kasihnya dengan mengobati pria itu. Hanya itu."


Sebenarnya ingin sekali ia mengumpat sang kekasih, tapi tidak ingin hubungannya bertambah buruk hanya karena kesalahpahaman. "Aku benar-benar kasihan pada Marcella."


Hening untuk beberapa saat, karena tidak ada suara dari seberang telpon. Namun, beberapa saat kemudian, terdengar suara bariton dari seberang telepon.


"Dengarkan aku, Sayang!"


"Iya," jawab Lidya yang saat ini tengah serius mendengarkan.


"Buat sahabatmu sibuk setelah membaca pesan dari kekasihnya. Jadilah teman curhat yang selalu ada untuknya. Apapun yang dilakukan oleh Marcella, kamu harus mendukungnya. Termasuk pria yang saat ini ada di sana, mungkin bisa menjadi sekedar pelampiasan."


Saat Lidya ingin menjawab, panggilan telepon telah terputus dan membuatnya merasa sangat frustasi. "Kenapa malah mati sih?"


"Kalau tahu begini, aku tidak akan mengambil ponsel Marcella tadi karena yang gamon pertama kali malah aku. Ya ampun, kenapa aku harus mengetahui percintaan rumit Marcella dan Erland?"


Dengan membuka pintu kamar mandi, ia berjalan menghampiri sahabatnya.


Ia memutar otak untuk mencari ide agar sahabatnya tidak berlarut-larut dalam kesedihan hari ini. Namun, suara bariton dari sosok pria yang tak lain adalah Zack membuatnya tersenyum smirk.


Awalnya Marcella tengah menikmati Hamburger bersama dengan Zack sambil berbincang. Ia merasa penasaran dengan apa yang sebelumnya dilakukan oleh pria itu saat tidak mengajar hari ini. "Sebenarnya kamu tadi dari mana mau ke mana?"


Untuk beberapa saat, Zack masih melanjutkan kegiatannya yang mengunyah makanan. Karena memang dirinya merasa lapar setelah memforsir tenaganya ketika mengganti ban mobil yang bocor.


"Memangnya apa lagi? Aku tadi ingin pergi ke apartemen sahabatku, tapi malah ban mobil bocor." Kembali menggigit hamburger.


"Memangnya di mana apartemennya? Dekat sini atau jauh? Lebih baik kau pulang saja dan beristirahat karena masih terluka." Marcella kini mengulurkan air minum untuk Zack yang seperti tengah kesusahan untuk menelan.


"Pelan-pelan makannya. Aku tidak akan memintanya karena punya sendiri," ejeknya dengan tertawa.


Namun, gelengan kepala dari pria yang melanjutkan kegiatan makannya setelah minum, membuatnya malah terkekeh karena wajah Zack yang lucu ketika mengunyah makanan seperti anak kecil.


"Aku tidak ingin stres di rumah. Makanya keluar. Sudah kubilang ini hanya luka kecil, jadi tidak apa-apa." Zack kini menggerakkan sikunya untuk menunjukkan tidak merasa sakit.


"Percaya, kan? Kamu seperti kekasih yang sangat mengkhawatirkan pasangannya saja," ucapnya yang sekilas menatap ekspresi wajah Marcella begitu mendengar ucapannya. Namun, suara tawa renyah dari sosok wanita yang terlihat sangat cantik itu, semakin membuatnya terpesona.


"Habiskan makananmu dan segera pulang! Maaf, jika aku mengusirmu karena tidak ingin kau berpikir seperti itu lagi." Selera makannya mendadak musnah saat mengingat perkataan Zack, sehingga kini ia tidak menghabiskan makanannya.


Sementara itu, Zack yang merasa sedikit kecewa karena telah diusir dari sana, padahal masih ingin berbincang-bincang dengan wanita yang sangat membuatnya tergila-gila. Karena itulah ia tengah mencari cara untuk bisa berlama-lama berada di sana dan kalimat konyol lolos dari bibirnya.


"Apa di sini ada apartemen kosong? Aku sedang mencarikan tempat tinggal untuk sahabatku. Katanya apartemennya sedang direnovasi oleh pemiliknya. Paling tidak, butuh waktu beberapa bulan sampai selesai direnovasi." Ia ingin bekerjasama dengan sahabatnya jika nanti ada apartemen kosong di sebelah Marcella.


Berharap bisa sering datang ke sana agar bisa mampir ke apartemen wanita itu karena ia tidak akan menyerah untuk mendapatkan Marcella.


Saat Marcella berniat menjawab, suara dari sahabatnya tidak jadi membuatnya mengeluarkan jawaban dan hanya mendengarkan sosok wanita yang baru saja keluar dari kamar tersebut.


"Ada. Aku akan bertanya pada pemiliknya nanti karena kebetulan punya nomornya. Jika masih kosong, temanmu bisa tinggal sementara di sana." Lidya beralih menatap ke arah Marcella yang hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


"Menurutmu bagaimana? Kamu tidak keberatan, kan?" Ia sudah tahu ke mana arah Zack yang jelas ingin selalu dekat dengan Marcella, jadi berharap jika mereka bisa lebih dekat karena geram pada Erland yang memutuskan komunikasi.


Padahal satu-satunya harapan dari hubungan jarak jauh hanyalah komunikasi dan ia tahu jika sahabatnya akan terpukul setelah membaca pesan Erland nanti.


Awalnya Marcella hanya mengendikkan bahu, tapi karena merasa iba pada nasib teman Zack, akhirnya mengeluarkan suara, " Telpon saja sekarang dan tanyakan pada Mrs Weasley. Kita sudah nyaman tinggal di sini selama bertahun-tahun, pasti temannya juga akan betah karena tidak pernah ada masalah di sini."


Lidya refleks langsung mengangkat ibu jarinya. Tentu saja ia berusaha sangat keras agar teman Zack benar-benar bisa tinggal di sana. "Baiklah. Aku telpon dulu."


Sementara itu, Zack yang merasa ada sebuah kesempatan, tidak tinggal diam. Karena ingin berada dekat dengan sosok wanita yang menurutnya memiliki daya tarik tersendiri dan membuatnya merasa penasaran dengan semua hal yang ada pada diri Marcella.


Ia memang merupakan seorang pria yang suka bergonta-ganti pasangan karena cepat bosan. Namun, perasaan sukanya pada Marcella tidak pernah surut dan makin bertambah besar.


'Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Dengan sering ke sini dan beralasan menginap di tempat teman, padahal aku yang tinggal,' gumamnya yang kini menunggu hingga mendapatkan kabar baik dari Lidya.


Marcella menatap Lidya yang terlihat tengah menelpon pemilik apartemen. Hingga ia sudah bisa menebak semuanya ketika mendengar perkataan sahabatnya.


"Masih kosong dan bisa langsung ditempati jika mau," ucap Lidya yang baru saja mematikan sambungan telepon setelah berbicara dengan pemilik apartemen.


Raut wajah Zack seketika berubah berbinar karena jalannya untuk mendekati Marcella mendapatkan titik terang. "Kalau begitu aku ke tempat temanku dulu untuk mengatakan padanya."


"Bukankah kamu merasa berhutang budi padanya? Jadi, anggap saja kamu membalas kebaikannya. Sepertinya dia sangat membutuhkan tumpangan. Kamu bisa membantunya dengan mengantarkan ke tempat temannya," ucap Lidya yang kini menepuk pundak Marcella.


Saat ini Marcella hanya tersenyum masam karena seperti tengah dibebankan pada sebuah balas budi. Ia bahkan sangat malas untuk berduaan dengan Zack.


Berbeda dengan Zack yang tidak ingin merepotkan Marcella. "Tidak perlu. Aku bisa naik taksi.


"Astaga! Kasihan kamu jika harus naik taksi." Lidya tidak bisa melanjutkan perkataannya karena dipotong oleh Marcella.


Tidak ingin kebohongan semakin merajalela dan mengganggu hidupnya, Marcella langsung bangkit berdiri dari tempatnya dan sudah mengambil keputusan.


"Lebih baik kamu saja yang mengantarkannya! Aku benar-benar sangat pusing. Hari ini aku sangat lelah." Mengarahkan tatapan tajam kepada Lidya karena ingin memberikan pelajaran agar tidak lagi mencoba untuk mendekatkan dirinya dengan Zack.


Padahal sudah tahu jika ia mempunyai hubungan dengan Erland, sehingga hari ini sangat kesal sekaligus merasa aneh pada sahabatnya.


Ia pun berjalan masuk ke dalam dan menuju ke ruangan pribadi. Kemudian menutup pintu kamar tanpa memperdulikan dua orang yang saat ini tengah menatapnya dengan pandangan penuh pertanyaan.


Lidya tahu jika sahabatnya kesal padanya, tapi sangat yakin jika sebentar lagi akan membutuhkan bahunya untuk tempat bersandar ketika menangis.


'Maafkan aku, Cella karena hari ini bersikap aneh dan membuatmu risi. Kamu akan menyadari jika aku melakukan semua ini demi kebaikanmu agar tidak merasa kesepian saat tidak bisa berkomunikasi dengan Erland.'


Lamunan Lidya seketika buyar begitu mendengar suara bariton dari pria di sebelahnya tersebut.


"Aku akan pulang sendiri dengan naik taksi. Jadi, tidak perlu mengantarku. Sikapmu tadi sangat berlebihan, sehingga membuatnya kesal. Sekarang bujuk dia agar tidak marah padamu karena aku tidak ingin membuat hubungan kalian buruk," ucap Zack yang saat ini sudah merasa lega karena akhirnya bisa membuat dirinya dekat dengan Marcella.


Lidya saat ini mengambil kartu nama miliknya dan memberikan pada Zack. "Nanti hubungi nomorku jika temanmu sudah siap untuk pindah. Biar aku memberitahu pada pemiliknya nanti. Marcella tidak akan lama marahnya karena aku sangat mengenalnya, jadi tidak perlu khawatir."


Zack yang langsung memasukkan kartu nama tersebut ke saku celananya, kini berjalan ke arah pintu keluar dan diantar oleh wanita yang membuatnya merasa sangat aneh tersebut.


Apalagi mengetahui jika wanita itu seperti tengah berusaha untuk membuatnya dekat dengan Marcella. Padahal mengetahui jika sahabatnya memiliki kekasih dan hal itu yang dari tadi menari-nari di otaknya, tapi tidak menemukan jawaban pasti.


"Terima atas semuanya. Aku pergi." Zack melambaikan tangannya dan berjalan menuju ke arah lift yang membawanya ke lobi.


Saat pintu kotak besi di hadapannya tertutup, ia kembali memikirkan apa yang ada di otak sahabat Marcella tersebut. "Sebenarnya apa maksudnya berusaha untuk mendekatkanku dengan Marcella? Apa dia tidak menyukai kekasih dari sahabatnya?"


"Memangnya kenapa? Aaah ... rasanya aku ingin sekali bertanya pada wanita itu secara langsung untuk mencari jawaban, tapi jika terburu-buru malah akan membuatnya ilfil padaku. Pelan tapi pasti. Ini yang sekarang harus ku terapkan." Zack merasa seperti orang pada zaman purba karena tidak membawa ponsel untuk menghubungi sahabatnya.


Akhirnya harus datang ke apartemen sahabatnya untuk meminta bantuan agar ia bisa dekat dengan wanita incarannya yang sudah lama ia sukai tersebut.


"Jadi, seperti ini hidup tanpa ponsel. Aku bahkan seperti orang primitif karena tidak bisa menghubungi sahabatku dan harus bersusah payah mendatanginya." Ia kini berjalan keluar setelah pintu lift terbuka dan menunggu taksi di depan apartemen.


Sesekali ia tersenyum karena sudah membayangkan akan sering bertemu dengan Marcella di kantor dan juga di apartemen. "Sebentar lagi aku akan bisa mendapatkanmu, Marcella."


To be continued...