
Violinis Kelana diketahui akan hiatus dalam waktu yang tidak bisa ditentukan.
Antasena Entertainment yang telah menaungi banyak artis terkenal Indonesia mengatakan Kelana Radiaksa akan hiatus dari dunia hiburan dalam waktu yang tidak bisa ditentukan.
Renjani tak sengaja membaca berita tersebut di internet. Renjani jadi ingat ucapan Yana bahwa saat Kelana sakit hati maka ia membutuhkan waktu lama untuk sembuh. Renjani selalu berharap Kelana tetap bahagia meski ia tak lagi ada di sisinya. Renjani dengar Elara sudah lama kembali ke Perancis. Mungkin Kelana sakit hati lagi karena Elara meninggalkannya. Bayangkan saja Kelana sudah memilih Elara hari itu tapi ternyata ia tetap pergi.
"Udah lah Re, kamu sendiri yang bilang harus fokus sama diri sendiri." Renjani melempar ponselnya. Tadinya ia ingin mencari penjual kue terdekat di internet tapi justru tak sengaja melihat berita Kelana.
Renjani bergegas keluar villa. Tumi dan Edi sedang pergi sehingga Renjani sendirian di villa yang cukup luas tersebut.
"Wah kalian cantik sekali." Renjani sumringah melihat Alyssum di depan kamar tumbuh lebat padahal ia hanya menyiramnya. Mungkin kualitas bibitnya yang memang bagus.
Renjani menggeser pot tersebut agar terkena sinar matahari. Sekarang sekedar berjongkok saja Renjani kesulitan tapi ia merasa bahagia setiap kali janin dalam perutnya menunjukkan perkembangan. Renjani tidak pergi kemanapun kecuali ke klinik untuk melakukan pemeriksaan. Renjani tak mau jika tiba-tiba Kelana menemukannya saat ia berkeliaran.
Akhirnya Renjani telah melalui trimester pertama yang begitu menyakitkan. Saat pertama kali mengetahui hamil, Renjani tidak merasa seperti wanita hamil pada umumnya yang sering muntah. Namun beberapa hari setelahnya, Renjani juga merasakan morning sickness. Ia tidak bisa makan apapun, hanya buah-buahan dan air kelapa.
Renjani mengusap perutnya, apapun itu ia sudah melalui masa-masa paling sulit tersebut. Sekarang ia sudah bisa makan apapun seperti saat sebelum hamil. Hanya saja ia tetap tidak bisa tahan terhadap aroma kulkas.
Suara deru mobil perlahan mendekat mengalihkan perhatian Renjani yang asyik ngobrol dengan tanaman di depan villa.
Devin turun dari mobil dengan senyum lebar. Ia membawa kotak kue di tangannya yang dibelinya di Jakarta. Suatu waktu Devin pernah bertanya kue yang paling Renjani suka. Renjani bilang ia menyukai semua jenis olahan coklat, akhirnya hari ini Devin membawa kue ke villa untuk dimakan bersama.
"Hai." Devin menyapa Renjani.
Renjani membalasnya dengan senyum lebar.
"Aku bawa brownies."
"Aku baru aja mau beli kue lewat ojek online." Renjani berbinar mendengar Devin membawa kue. Rupanya semesta mengetahui keinginan Renjani lalu mewujudkannya melalui perantara Devin.
"Aku beli yang size nya lumayan gede." Devin tidak sabar menunjukkan kue tersebut pada Renjani.
"Tapi Paman dan Bibi lagi pergi."
"Aku tahu." Devin mengajak Renjani ke teras samping untuk menikmati kue tersebut. Karena rutin berkunjung ke villa setiap akhir pekan, Devin semakin akrab dengan Renjani. Devin banyak bercerita tentang kehidupannya dan betapa sulitnya menjadi entertainer. Akhir-akhir ini Devin juga tahu jika Renjani suka makan.
"Wah." Air liur memenuhi mulut Renjani ketika Devin membuka kotak tersebut memperlihatkan brownies dengan potongan almond di atasnya.
Devin memotong brownies untuk Renjani, "semoga enak."
Renjani langsung melahap sepotong besar brownies tersebut. Coklatnya langsung meleleh ke seluruh permukaan mulut. Renjani menginginkannya lagi.
Devin tersenyum lebar melihat eskpresi Renjani, seperti itulah setiap kali Renjani bertemu makanan. Matanya berbinar-binar ditambah senyumnya yang merekah bagai bunga matahari di musim semi.
"Baru dua Minggu nggak kesini, perut kamu udah kelihatan lebih besar." Devin hendak menyentuh perut Renjani tapi sebelum berhasil melakukannya Renjani beranjak dari sana.
"Ambil minum dulu." Renjani melesat pergi menuju dapur.
Devin berpikir apakah dengan dirinya tidak memberitahu Kelana adalah keputusan yang benar. Kelana jelas sangat menderita karena kepergian Renjani. Namun Devin tak mungkin mengingkari janjinya pada Renjani.
"Kamu minum kopi nggak?" Renjani kembali membawa dua gelas kopi cocok untuk teman makan brownies.
"Minum."
Renjani menyesap kopi buatannya lalu kembali melahap sepotong brownies.
"Aku tadi ketemu Kelana waktu beli kue."
Renjani tidak bereaksi, ia tak ingin mendengar apapun tentang Kelana. Namun setiap kali Devin datang pasti ia membawa informasi tentang Kelana. Atau saat Renjani menelepon Manda, ia akan mendengar kabar terbaru Kelana. Semua orang mengingatkan Renjani pada Kelana.
"Nanti lagi makannya."
"Kenapa?"
"Jangan terlalu banyak makan yang manis, nggak bagus."
Renjani muram melihat Devin menutup kotak kue tersebut padahal ia baru makan dua potong. Padahal dulu Kelana tak pernah membatasinya makan apapun, bahkan ia bisa menghabiskan satu kue utuh berukuran sedang. Tunggu dulu, kenapa Renjani jadi membandingkan Kelana dengan Devin. Mereka adalah dua orang yang berbeda.
"Gimana kalau aku ajak kamu ke tempat yang bagus."
"Kemana?"
"Kamu akan tahu setelah sampai disana."
"Nanti kalau tiba-tiba ketemu Kelana gimana, selama ini aku nggak pernah pergi kemanapun kecuali ke klinik."
"Tempatnya deket sini kok."
Devin memperhatikan punggung mungil Renjani yang semakin menjauh, "kenapa ganti baju, dia cantik pakai apapun." Gumamnya.
Devin tahu Renjani pasti bosan karena hanya berada di villa setiap hari, ia berinisiatif untuk mengajak Renjani pergi ke taman bunga dekat sini. Itu bisa menyegarkan pikiran Renjani.
Renjani kembali dengan dress putih selutut yang membuatnya terlihat semakin cantik. Bahkan tanpa sadar Devin memperhatikan Renjani begitu lama. Itu hanya dress sederhana tapi kenapa begitu cantik di tubuh Renjani.
"Kalau weekend gini rame ya tempatnya?" Renjani masuk ke dalam mobil ketika Devin membukakan pintu untuknya.
"Sepertinya lebih rame dibanding hari biasa tapi tempatnya luas jadi jangan khawatir." Devin mulai menjalankan mobilnya meninggalkan halaman villa.
Renjani mengulas senyum, karena jarang keluar ia jadi tidak nyaman untuk bertemu banyak orang. Padahal dulu Renjani selalu jadi pusat perhatian saat berjalan bersama Kelana. Hidupnya berputar dengan cepat, dunianya yang kumuh dan sempit tiba-tiba berubah menjadi dunia yang penuh keramaian, blitz kamera, gemerlap lampu dan kemewahan tapi sekarang dunianya kembali tenang walaupun seringkali harus kesakitan karena menahan rindu.
"Banyak orang yang kenal kamu pasti disana." Renjani baru ingat jika Devin juga publik figur.
"Nggak lebih terkenal dari Kelana, lagi pula penampilanku biasa saja seperti orang pada umumnya." Devin terkekeh.
"Tadi aku nggak sengaja baca berita di internet, Kelana akan hiatus."
"Iya, dia juga bilang begitu waktu kami ketemu tadi."
Setahu Renjani Kelana tak pernah hiatus sejak awal karirnya. Kelana selalu produktif menghasilkan karya yang akhirnya bisa dinikmati oleh semua kalangan. Setelah menikah, Renjani juga tahu kalau Kelana selalu memiliki ambisi untuk meraih impiannya. Lalu kenapa sekarang Kelana memutuskan untuk hiatus.
"Wah tempatnya bagus banget." Renjani melihat sekeliling taman yang dipenuhi bunga Hydrangea dengan berbagai warna. Ia baru tahu ada tempat seperti ini di Bogor.
"Ya kan, kamu suka bunga nggak?"
"Suka." Renjani melangkah menyusuri barisan Hydrangea yang bahkan tingginya melebihi tubuhnya.
"Bunga apa?" Devin menyusul.
"Peony." Jawab Renjani spontan, meski Hydrangea warna-warni yang dilihatnya sekarang begitu menawan tapi ia justru memikirkan Peony dengan mitosnya yang pernah Kelana ceritakan.
"Kita boleh bawa pulang untuk ditanam di rumah." Devin mengambil satu pot Hydrangea ungu yang bisa diletakkan di depan kamar Renjani bersama Alyssum.
"Yang kecil nggak kalah bagus." Renjani mengambil alih pot tersebut, menyentuh setiap kelopak yang jika dilihat secara teliti seperti kupu-kupu bertumpuk membentuk gumpalan.
"Kamu tahu nggak arti Hydrangea ungu?"
"Emang ada artinya?" Renjani pikir hanya Peony atau Mawar yang melambangkan sesuatu, baru-baru ini ia juga tahu bahwa Lily oranye melambangkan perpisahan. Renjani ingat membeli Lily oranye dan meletakkannya di kantor dan apartemen, ternyata sekarang ia berpisah dengan Kelana serta tim Asmara Publishing. Padahal Renjani tidak percaya pada mitos semacam itu, mungkin hanya kebetulan.
"Keinginan untuk memahami seseorang lebih dalam."
"Menurutku ini hanya bunga yang cantik." Renjani tidak peduli pada arti bunga tertentu.
"Renjani, hari dimana kita ketemu pertama kali kamu ingat nggak aku ngomong apa?"
Renjani berpikir mengingat apa yang mereka bicarakan saat pertama kali bertemu.
"Nggak ingat." Renjani dengan kapasitas otaknya yang kecil tidak bisa mengingat hal seperti itu. Malam itu di Seohanna Hall Renjani hanya ingat bahwa penampilan Kelana luar biasa dan berhasil membuat penonton terpukau.
"Aku memujimu cantik, jujur saja kamu benar-benar cantik dan kalau bukan istri Kelana mungkin aku akan berusaha mendekatimu."
Renjani tertawa, tawa yang dipaksakan. Ia mulai tidak nyaman dengan ucapan Devin.
"Aku menyukaimu." Suara Devin sedikit tercekat.
Senyum di wajah Renjani menghilang, ia harap telinganya bermasalah agar tidak mendengar kalimat Devin barusan. Namun sayangnya meski ada banyak suara dari pengunjung lain, Renjani bisa mendengar ungkapan perasaan Devin dengan jelas.
"Aku nggak salah dengar kan?" Renjani masih tidak percaya apa yang ia dengar.
Devin menggeleng, ia selalu berusaha mengubur perasaannya pada Renjani tapi momen ini membuatnya merasa memiliki kesempatan.
"Maaf—"
"Kamu nggak perlu jawab, aku tahu." Devin tahu betul jika Renjani mencintai Kelana hingga sekarang.
"Aku nggak bisa balas perasaan kamu." Ujar Renjani, ia hanya menganggap Devin sebagai teman dan ia tak mau hubungan mereka lebih dari itu.
"It's okay, asal aku bisa mengungkapkannya itu udah cukup buat aku." Devin memaksakan senyum meski dadanya seperti ditusuk-tusuk duri. Perih sekali. Namun ini resikonya karena menyukai Renjani yang sudah menikah.
Renjani mengangguk pelan, ia tak tega melihat wajah Devin sekarang. Seharusnya Devin tidak memiliki perasaan apapun pada Renjani. Ini akan membuat mereka canggung.