
"Lihat saja sendiri," sahut Erland yang memilih untuk kembali menikmati ritual menghilangkan stres karena tidak ingin sesuatu hal yang baru saja diketahuinya berakhir membuatnya semakin bertambah kecewa.
Ya, semua yang terjadi bukan lagi sebuah karma untuknya dan dianggap sebagai sebuah pembelajaran hidup yang mendewasakan dirinya karena tidak mungkin ia terus-menerus berteriak meluapkan amarah seperti yang dilakukan di rumah sakit.
Hingga mendengar suara dari sang asisten yang kini mengetahui hasilnya. Ia sama sekali tidak menanggapi karena tidak ingin terlihat seperti seorang pria lemah yang terpuruk dalam kekecewaan atas takdir yang dialami.
"Positif," lirih Leo yang saat ini baru saja melihat hasil dari rumah sakit dan membuatnya berpikir jika saat ini perlu menghibur atasannya tersebut yang masih belum membuka suara sepatah kata pun.
"Tuan, ini bukanlah akhir dari segalanya karena hanya membutuhkan waktu beberapa bulan saja untuk nona Marcella kembali pada Anda. Lagipula pria itu sudah mendapatkan hukuman 1 tahun penjara, kan?" Ia bahkan mengerahkan seluruh keberaniannya ketika mencoba untuk menghibur, meski sebenarnya sangatlah deg-degan.
"Jadi, tidak akan pernah bertemu dengan nona Marcella, sehingga tidak ada kemungkinan mengalami depresi." Ia yang baru saja mengetahui nasib rumah tangga atasannya sudah hampir ketok palu, sehingga berpikir jika saat ini kehidupan atasannya tersebut porak poranda hanya dalam waktu singkat.
Bahkan usahanya sia-sia saat mendapatkan respon datar yang membuatnya merasa menyesal menghibur dengan niat baik agar sedikit kurang beban pikiran.
"Pergilah. Aku hari ini ada banyak berkas yang harus diperiksa." Erland membuang puntung rokok ke dalam asbak yang ada di atas meja dan kembali ke kursi kerjanya.
Ingin menyibukkan diri dengan pekerjaan karena ia tidak mungkin seharian mengumpat takdir yang menimpanya saat ini. Bahkan hari ini bukanlah saatnya menelpon Marcella yang pastinya sudah diliputi kesedihan begitu menjadi orang pertama yang mengetahuinya.
Saat ia baru saja mendaratkan tubuhnya di atas kursi dan melihat sang asisten berpamitan untuk kembali ke ruangannya, ia menoleh pada laci yang kini dibukanya.
Ia butuh sesuatu untuk menenangkan pikirannya dan saat ini mengingat foto yang selalu disimpan di dalam laci. Berpikir untuk melihatnya terlebih dahulu sebelum kembali fokus bekerja.
Kini, ia sudah memegang bingkai foto itu dan mengusapnya perlahan. "Maafkan Papa, sayang karena tidak bisa menjagamu. Sekarang Papa sudah mendapatkan balasannya. Apa kamu di sana bahagia? Kamu saat ini sedang bermain-main di surga bersama dengan yang lain, kan?"
Erland dulu menyimpan hasil foto USG yang berada di dalam ruangan kamar Floe. Ia tadinya menyuruh pelayan untuk membersihkan ruangan yang sudah ditinggalkan oleh pemiliknya tersebut dan menemukan itu, lalu diberikan padanya.
Jadi, ia sengaja memasang bingkai untuk melindungi selembar foto yang menjadi kenangan terakhir keturunannya. Bahkan saat ini ia berubah melow ketika menatap hasil dari foto USG tersebut.
"Apa kau akan mengenali Papa saat bertemu di sana? Apa kau hanya mengenali mamamu saja?" gumam Erland yang saat ini terdiam dengan bola mata berkaca-kaca karena penyesalannya jauh lebih besar saat mengingat perbuatan jahatnya yang tidak mau memperdulikan calon keturunannya hanya demi mengejar sesuatu yang membuatnya seperti seorang pecundang.
Tentu saja kalimat itu selalu terngiang dan terekam di otaknya karena dengan sangat jelas Floe mengumpatnya saat itu. "Kamu memang benar, Floe. Aku memang adalah seorang pecundang tidak berguna."
Erland yang saat ini masih tidak mengalihkan pandangannya pada foto di tangan, mendengar suara notifikasi dari ponsel miliknya. Ia berpikir ada hal penting dan membuatnya langsung memeriksa.
Begitu melihat yang mengirimkan pesan adalah adik perempuannya yang bertanya mengenai hasil dari rumah sakit, ia kini langsung simbol +.
Kemudian menonaktifkan ponsel miliknya karena tidak ingin adiknya menelpon dan ceramah seperti sang ibu. "Kirana sama persis seperti mama. Pasti akan menyalahkanku. Belum lagi mama yang nanti di rumah pasti akan mengomel."
Apalagi ia sempat mengalami morning sickness dan membuatnya benar-benar tersiksa, sehingga mengetahui bagaimana beratnya menjadi seorang ibu hamil.
Saat ia kembali mengusap lembut bingkai foto yang dipegangnya, tidak terasa bulir air matanya jatuh karena merasa menjadi seorang calon ayah yang gagal dan tidak berguna.
"Maaf," ucapnya yang kini berniat untuk mendatangi pusara anaknya yang dikebumikan di pemakaman keluarga Floe.
Ia memang tidak pernah bertanya pada keluarga Madison mengenai pusara anaknya karena sudah merasa yakin tidak akan diberitahu, sehingga dulu menyuruh seorang detektif mencari tahu.
Begitu mengetahuinya, selalu diam-diam datang ke pusara anaknya. Bahkan ia selalu berhati-hati dan seperti seorang pencuri yang takut ketahuan ketika datang ke sana. Ia khawatir akan dilarang datang oleh Floe dan juga keluarganya karena dulu tidak mengurus prosesi pemakaman.
"Aku tidak bisa fokus bekerja saat ini," ucapnya yang saat ini meraih jas miliknya begitu bangkit berdiri dari kursi.
"Papa ingin bertemu denganmu, sayang." Ia kini berjalan menuju ke arah pintu keluar dan kembali menyalakan ponsel miliknya untuk mengirimkan pesan pada sang asisten jika ia akan keluar.
Ia tidak ingin bertemu dengan asistennya karena berpikir hanya akan dikasihani seperti beberapa saat lalu ketika dihibur layaknya seorang anak kecil.
Begitu selesai, kembali menonaktifkan ponselnya dan memasukkan ke dalam saku celana sambil berjalan menuju ke arah lift yang membawanya ke lobi. Saat ini ia berpikir jika bertemu dengan anaknya di pemakaman akan bisa membuatnya sedikit lebih tenang.
Apalagi saat ini merasa kepalanya seperti mendidih karena banyak beban yang dipikirkannya. "Semoga tidak ada yang melihatku nanti."
Ia melirik mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangan kirinya menunjukkan pukul dua siang. Tanpa memperdulikan cuaca yang panas, ia pun berjalan menuju ke arah lobby begitu suara denting lift berbunyi dan tentu saja langsung naik ke mobil.
"Papa datang, Sayang. Meskipun kamu marah dan tidak mau menerima Papa, akan sering datang untuk memohon maaf padamu." Erland sudah fokus menatap ke arah jalan raya yang kini tidak terlalu padat seperti saat jam pulang kantor dan tentu saja membuatnya tidak terjebak macet.
Ia sudah mampir untuk membeli bunga dan setengah jam kemudian ia sudah tiba di pemakaman dan langsung menuju ke pusara putranya. Begitu berdiri tepat di pemakaman, ia langsung berjongkok dan menaruh bunga di atasnya.
Sambil mengusap batu nisan, ia membuka suara dengan bola mata berkaca-kaca. "Papa datang, Sayang. Kamu tidak bosan, kan? Atau kamu tidak ingin Papa datang karena membenci Papa?"
Saat ia fokus berbicara dengan pusara anaknya, beberapa saat kemudian jantungnya berdetak kencang begitu mendengar suara seseorang yang tidak asing.
"Erland?"
To be continued...