
Floe yang menjalani hari-harinya dengan baik dan fokus pada kuliahnya, ini sudah memiliki banyak teman yang selalu baik padanya. Bahkan hubungannya dengan Harry makin baik karena sering datang ke rumah untuk mengajarinya. Itu dilakukan dengan ditemani oleh Zeze juga karena tidak ingin ada kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka.
Jadi, terkadang jika Harry memiliki urusan dan tidak bisa datang, Zeze yang ikut bersamanya pulang dan belajar bersama untuk saling berbagi. Ia merasa sangat senang karena tidak ingin dikaitkan dengan orang ketiga dan menjadi penyebab hancurnya hubungan orang lain.
Apalagi mengetahui bagaimana rasanya saat hubungan yang dibina hancur hanya gara-gara orang ketiga, jadi berusaha untuk menjadi seorang wanita yang tidak merusak kebahagiaan orang lain.
Ia yang baru saja masuk ke dalam mobil, mendengar suara hari yang berjalan bersama dengan Zeze.
"Floe, kamu langsung pulang?" tanya Harry yang saat ini hendak pergi bersama dengan sang kekasih dan memang jadwal hari ini tidak belajar bersama.
Floe yang masih belum menutup pintu mobil, refleks menggelengkan kepala karena memiliki rencana untuk datang ke pemakaman. "Kalian bersenang-senang saja karena aku akan bersenang-senang juga dengan anakku."
Ia melambaikan tangan pada pasangan yang dianggapnya sangat serasi itu sebelum menutup pintu mobil dan mendapatkan tanggapan yang sama. Hingga ia pun saat ini langsung mengemudikan kendaraan meninggalkan kampus menuju toko bunga.
Sepanjang perjalanan ia fokus menatap ke arah jalanan ibukota. Ia yang tadi belajar di dalam kelas, mendapatkan pesan dari sang ayah mengenai Erland. Bahwa hasilnya positif dan tentu saja Marcella akan stay di London sampai melahirkan.
Ia seketika tertawa ketika mengingatnya karena benar-benar puas saat takdir memporak-porandakan hidup pria yang telah memilih kehancuran sendiri. "Sayang, kamu melihatnya dari atas sana, kan?"
"Kamu merasa senang karena papamu yang tidak memperdulikanmu sama sekali sudah mendapatkan hukuman. Jadi, kita hari ini harus merayakannya. Mama akan membeli bunga yang cantik untukmu." Floe kini berhenti di depan toko bunga dan langsung membeli untuk ditaburkan ke atas makam dan juga buket sekalian.
Beberapa saat kemudian ia sudah kembali dan melanjutkan perjalanan menuju ke arah makam keluarga yang tak jauh dari sana. Hingga 15 menit kemudian ia sudah tiba dan memarkirkan mobilnya di tempat biasa.
Namun, ia seketika mengerutkan kening karena melihat mobil berwarna hitam yang sangat tidak asing. Hingga ia pun kini terdiam sejenak untuk memastikan apa yang saat ini terlintas di pikirannya.
"Tidak mungkin!" seru Floe yang saat ini beranjak keluar dari mobil dan ini benar-benar yakin jika itu adalah milik pria yang sangat dibenci.
"Dia di sini?" Wajah Floe seketika berubah memerah dengan telapak tangan yang mengepal karena emosinya seketika meluap-luap begitu mengetahui jika pria yang dianggap tidak pernah peduli pada anaknya malah berani datang.
"Berani-beraninya dia datang untuk menemui anakku!" seru Floe yang tidak ingin membuang waktu untuk segera meluapkan amarah dan melarang agar Erland tidak pernah lagi datang ke pemakaman.
"Enak saja dia datang ke pemakaman anakku hanya untuk melampiaskan nasib buruknya yang menjalani karma atas perbuatan jahatnya pada anak sendiri." Floe yang membawa buket bunga serta bunga yang ditabur pada makam, mempercepat langkah kakinya agar bisa segera bertemu dengan Erland.
Hingga ia pun seketika berteriak begitu kata-kata di sebelah kiri pria yang sangat ingin ia usir dari tempat pemakaman anaknya. "Berani-beraninya kau menginjakkan kaki di sini!"
"Floe," lirih Erland yang seketika berdiri begitu melihat wanita yang sudah lama tidak ditemui semenjak kejadian kecelakaan. "Aku ...."
Ia tidak bisa melanjutkan perkataannya karena dipotong oleh suara teriakan wanita dengan raut wajah memerah yang seperti sangat membencinya dan enggan untuk melihatnya.
"Pergi! Jangan pernah berani datang ke sini lagi karena kau sama sekali tidak pernah peduli pada anakku yang sudah tiada. Jangan menyusahkan anakku hanya karena kesedihanmu ketika tidak berhasil menikahi wanitamu itu." Floe bahkan saat ini ingin sekali melemparkan buket bunga yang di bawanya.
Erland benar-benar merasa hari ini adalah hari terburuknya karena bisa bertemu dengan Floe saat pergi ke pemakaman anaknya. Ya, tidak dipungkiri jika semua perkataan dari wanita di hadapannya tersebut memanglah benar.
Jadi, ia bahkan seperti terkunci bibirnya untuk sekedar meminta maaf karena tatapan mata tajam yang diarahkan oleh Floe benar-benar menusuk jantungnya. Penyesalan yang dirasakannya saat ini malah membuatnya semakin terlihat seperti seorang pecundang begitu mendengar perkataan Floe.
"Pergi! Aku tidak ingin anakku bersedih karena ada kau di sini. Dia sudah tenang, jadi jangan mengganggunya. Semenjak kau sama sekali tidak memperdulikan kami, anakku menganggapmu mati." Floe benar-benar sangat marah dan kini seketika berjalan mendekat untuk menarik kemeja yang dikenakan oleh Erland agar segera menyingkir dari pusara anaknya.
"Floe ...." Erland bahkan tidak punya kuasa untuk sekedar menolak perlakuan Floe yang sudah menyeretnya untuk segera pergi dari sana.
"Cepat pergi karena aku tidak mau mendengar apapun dari pria tidak bertanggung jawab seperti ini! Kau hanyalah seorang pecundang yang tidak punya nurani!" Floe bahkan kini sudah berhasil membuat Erland menjauh dari pusaran.
Kemudian ia langsung mendorong pria itu agar segera mundur dan menjauh darinya. Dengan semua emosi yang dirasakan saat ini, seperti gunung berapi yang ingin memuntahkan laharnya.
Hingga ia pun seketika bergerak seperti membersihkan tangannya yang baru saja digunakan untuk menyentuh tubuh pria itu. Meskipun tidak secara langsung karena terhalang oleh kemeja berwarna putih yang dipakai, tetap saja membuatnya merasa sangat jijik.
"Sial! Tanganku yang akan kugunakan untuk tabur bunga dan mengusap anakku malah jadi ternodai." Floe masih bergerak membersihkan tangannya dengan mengusapkan ke pakaian karena tidak membawa air untuk mencuci tangan.
Hingga ia pun tidak ingin lagi melihat wajah pria di hadapannya tersebut. Kini, ia berbaring badan dan berjalan menuju ke arah pusara anaknya yang tadi sudah ia taruh bunga sebelum menarik Erland agar menjauh.
Erland bisa melihat raut wajah kebencian dari Floe yang sangat jijik padanya dan tidak bisa berbuat apapun karena memang pantas mendapatkannya.
Ia masih melihat sosok wanita yang saat ini memunggunginya dan sudah berjongkok di depan pusara. Niatnya adalah ingin meminta maaf meskipun tidak akan didengar oleh Floe, tapi berpikir jika saat ini bukanlah waktu yang tepat karena tengah dipenuhi oleh angkara murka.
Akhirnya ia dengan langkah kaki gontai berjalan menjauh. Namun, baru beberapa langkah, kembali mendengar suara bernada ancaman dari Floe.
"Jangan pernah datang lagi ke sini karena aku tidak akan membiarkannya. Aku akan menyuruh orang untuk mengawasi makam anakku dan mengusirmu jika berani datang lagi." Floe berbicara tanpa berniat untuk menatap ke arah Erland. Ia bahkan saat ini sudah menaburkan bunga yang tadi dibawanya.
Hingga beberapa saat kemudian ia mendengar satu kalimat yang tidak pernah ingin didengarnya karena berpikir semuanya sudah terlambat.
"Maafkan aku Floe, juga anak ...." Erland yang tadinya ingin menyebutkan anak kita, tidak jadi melakukannya karena khawatir akan kembali membuat Floe murka.
Akhirnya ia kembali melanjutkan langkah kakinya tanpa menunggu tanggapan dari wanita yang hanya diam saja dan tidak memperdulikannya.
'Aku akan menjalani semua karma yang telah Engkau susun untukku, Tuhan. Aku memang pantas mendapatkan semua ini. Anakku, maafkan Papa, Sayang,' gumam Erland yang gini sudah terlihat semakin menjauhi pusara anaknya dan kembali ke dalam mobil untuk segera pergi dari sana.
To be continued...