
'Berengsek! Aku padahal tadi jelas-jelas menolaknya dan sama sekali tidak mau membantunya, tapi malah seenak jidat mengatakan aku kekasihnya. Sialan bener dia!' umpat Floe yang baru saja berdiri dan berniat untuk membuka mulut demi menguraikan kesalahpahaman karena tidak ingin terlibat dengan masalah dari pasangan tersebut.
Namun, belum sempat ia membuka suara, sudah mendapatkan kode mata dari pria yang seperti menampilkan wajah memeras padanya dan membuatnya menghembuskan napas kasar melihatnya. Bahkan ekspresi wajah yang seperti seorang anak kecil meminta permen pada sang ibu, membuatnya kesal karena tidak tega.
Apalagi ia dulu sering memakai jurus membelah seperti itu saat meminta sesuatu pada siapapun, termasuk Erland dan berhasil membuat pria itu menurutinya. Floe yang akhirnya kembali menutup mulut dan diam saja karena merasa iba, akhirnya memilih untuk mengikuti permintaan Dhewa.
'Hanya berpura-pura saja. Ini tidak akan berpengaruh apapun padaku. Dia pasti hanya ingin membuat wanita itu mundur dan membatalkan perjodohan. Saat semua itu terjadi, semuanya akan selesai,' gumam Floe yang saat ini mendapatkan tatapan tajam dari wanita yang memiliki tubuh seksi karena menampilkan lekuk tubuh ketika memakai pakaian serba ketat.
Bahkan bagian belahan dada saja terlihat sangat jelas dan pastinya sangat disukai oleh para kaum Adam. Namun, ia heran saja kenapa seorang Dhewa Adji Ismahayana sama sekali tidak tertarik dan ingin membatalkan perjodohan, sehingga melibatkannya.
Padahal ia baru bertemu dan berinteraksi secara langsung hari ini, tapi sudah harus dibebankan dengan masalah cukup pelik. Saat mendengar suara dari wanita yang kini berjalan mendekat ke arahnya, Floe akhirnya memilih untuk menundukkan kepala seperti seorang bawahan yang tidak ingin membantah atasan ketika dimarahi.
"Jadi, selera Dhewa adalah wanita biasa sepertimu?" Camelia yang sebenarnya ingin sekali menampar Dhewa karena jelas-jelas hari ini telah mempermalukannya dan menolaknya mentah-mentah di depan seorang wanita yang dianggap tidak pantas untuk menjadi saingannya.
Ia sebenarnya sudah tahu jika pria yang dijodohkan dengannya tersebut merupakan seorang pria dingin dan datar karena tidak pernah sekalipun dikabarkan dekat dengan seorang wanita, tapi dengan percaya diri berpikir bisa menaklukkannya.
Apalagi selama ini tidak ada yang bisa menolak pesonanya dan semua pria selalu terpesona padanya, tapi saat menginginkan satu orang, malah ditolak mentah-mentah dan membuat harga dirinya benar-benar terhina. Ditambah lagi saat ini berniat untuk merayu calon suami, tapi malah mendapatkan sebuah hal yang sangat mengejutkan.
Ia benar-benar tidak terima karena saingannya hanyalah seorang wanita pekerja biasa dan dianggap tidak selevel dengannya. Camelia menatap penampilan wanita yang kini masih menundukkan kepala, seolah tidak berani menatapnya.
'Apa hebatnya wanita ini? Bahkan badannya saja rata begitu, tidak bisa dibandingkan dengan tubuhku yang selalu menjadi pusat perhatian para pria. Dia juga tidak cantik-cantik amat. Apalagi hanya memakai pakaian seperti itu dan hanya merias wajahnya sekedarnya, tapi kenapa Dhewa bisa menyukainya?' gumam Camelia yang seketika menoleh ke arah pria di sebelah kirinya dan membuatnya makin bertambah kesal.
Dhewa yang beberapa saat lalu tidak punya pilihan lain dan akhirnya terpaksa mengarang sebuah kebohongan tanpa persetujuan dari Floe, merasa sangat lega ketika permohonannya tidak dibantah atau pun ditolak setelah menampilkan wajah memelas.
Ia pun secepat kilat ingin melindungi Floe agar tidak mendapatkan umpatan atau kemurkaan dari Camelia, sehingga membuatnya kini berjalan semakin mendekati wanita yang dianggapnya seorang bidadari tersebut. Kemudian menatap Camelia setelah sebelumnya memeluk lengan Floe untuk meyakinkan wanita itu.
"Aku dari awal tidak menyetujui perjodohan kita dan sudah mengatakannya padamu, bukan? Tapi kamu selalu saja tidak memperdulikan apa yang kukatakan. Sekarang akhirnya aku memilih untuk jujur padamu jika sudah mencintai wanita lain. Wanita yang kucintai itu bernama Ayu Ningrum yang saat ini ada di sampingku," ucap Dhewa yang sebenarnya merasa gugup ketika pertama kali memeluk erat Floe.
Ia bahkan sibuk merapal doa di dalam hati agar tidak mendapatkan kemurkaan dengan didorong tubuhnya karena sebuah penolakan akibat perbuatannya tanpa izin saat memeluk. Bahkan meskipun berakting sangat percaya diri di depan Camelia agar wanita itu segera pergi dan sadar jika ia tidak mencintainya, sebenarnya cukup jantungnya seperti hendak meledak saat itu juga.
Camelia yang saat ini tidak mengalihkan perhatiannya dari tangan dengan buku-buku kuat yang memeluk erat lengan wanita yang dianggapnya memiliki sebuah nama kampungan dan tidak selevel dengannya, berusaha menahan gejolak amarah yang hendak meledak dan seolah membakarnya saat ini.
Namun, ia berusaha menutupinya dengan tertawa terbahak-bahak sambil bertepuk tangan untuk menormalkan perasaannya yang membuncah saat ini. "Wow ... kamu benar-benar luar biasa, Dhewa. Aku bahkan sama sekali tidak berpikir akan mendapatkan kejutan besar darimu."
Ia pun saat ini mengeluarkan ponsel dari dalam tas miliknya dan langsung membuka kamera untuk mengambil beberapa gambar dari pria yang masih belum melepaskan pelukannya pada wanita yang ingin sekali ditarik rambutnya.
"Aku ingin melihat bagaimana reaksi dari tante Lira soal putranya yang menyembunyikan sesuatu hal luar biasa ini." Sebenarnya Camelia ingin sekali segera enyah dari ruangan yang dianggap sebuah neraka baginya, tapi ia tidak ingin dianggap seperti seorang pecundang yang harga dirinya terluka akibat perbuatan dari pria yang membuatnya terobsesi ingin mendapatkannya.
Ia yang masih memegang ponsel miliknya dan ditunjukkan pada Dhewa, kini tersenyum menyeringai. "Apa kamu sudah siap ini diketahui oleh tante Lira?"
Dhewa yang saat ini melirik sekilas ke arah Floe karena dari tadi hanya menundukkan kepala seperti tengah ketakutan, hingga merasakan sebuah nyeri luar biasa pada bagian belakang tubuhnya karena dicubit oleh tangan kanan wanita yang di peluknya tersebut.
Namun, ia berarti tidak merasakan apapun karena mengetahui jika Floe saat ini tengah marah sekaligus kesal padanya. Ia kini ingin segera menyelesaikan dan membuat Camelia pergi dari sana, agar bisa berbicara empat mata dengan wanita di pelukannya tersebut.
"Katakan saja pada mama sekarang dan kembalilah ke Kalimantan karena aku saat ini benar-benar sedang sibuk. Banyak pekerjaan yang menantiku, jadi aku harap kamu mengerti. Intinya, aku sama sekali tidak mencintaimu karena sudah memiliki seorang wanita yang berhasil menggetarkan hatiku dan dia adalah Kanjeng Ratu Widodariku," ucap Dhewa yang saat ini menoleh ke arah Floe meskipun sebenarnya tengah menahan rasa nyeri luar biasa pada bagian belakang tubuhnya.
"Sialan! Kau benar-benar keterlaluan, Dhewa!" seru Camelia yang saat ini benar-benar terluka harga dirinya dan sangat muak melihat pemandangan di hadapannya.
Refleks ia langsung berbalik badan karena tidak ingin melihat lebih lama lagi sikap romantis dari seorang pria datar dan dingin yang selama ini diketahuinya tidak pernah sekalipun terlibat hubungan dengan seorang wanita dan membuatnya merasa kagum hingga terobsesi mendapatkan.
Namun, semua itu hanya angan semata begitu melihat sikap jauh berbeda yang ditunjukkan oleh Dhewa pada seorang wanita dan tentu saja membuatnya sangat iri. Ia berjalan dengan raut wajah memerah karena kesal sekaligus murka.
Bahkan seketika membanting pintu begitu berada di luar ruangan dan melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke arah jalan raya. "Awas saja kau Dhewa. Aku tidak akan tinggal diam setelah kau permalukan di depan wanita kampungan itu."
To be continued....