Married by Accident

Married by Accident
XCIII



Wajah Renjana untuk pertama kalinya dipublikasikan di usianya yang menginjak tiga bulan. Setelah foto-foto Kelana dan sang buah hati yang diambil diam-diam oleh wartawan atau penggemar beredar di internet akhirnya semua orang bisa melihat wajah menggemaskan Renjana.



Renjani dan Kelana menunjukkan wajah Renjana ketika mereka menghadiri acara award di salah satu stasiun televisi. Renjani dan sang buah hati kompak mengenakan pakaian berwarna putih. Renjani tampak cantik dengan dress off shoulder beraksen ruffle di bagian dada. Sedangkan Kelana mengenakan setelan jas yang selalu berhasil membuat penggemar berteriak heboh hanya dengan senyum dan lambaian tangan.




Blitz kamera menerpa memburu sosok Kelana dan Renjani yang baru turun dari mobil tengah melangkah melewati karpet merah dengan ratusan wartawan di kanan dan kiri.


"Baju itu masih terlalu terbuka." Lirih Kelana pada Renjani yang tengah tersenyum melambaikan tangan ke arah kamera ketika para wartawan memanggil nama mereka.


"Kamu tahu, ini satu-satunya dress putih yang aku punya."


Kelana berdecih tak percaya, ia tahu Renjani memiliki dress putih satu lemari penuh. Harusnya Kelana tetap meminta Yana memilih pakaian untuk Renjani. Ia terlalu percaya pada Renjani yang ingin memilih pakaian sendiri. Sebelum berangkat, ada dua baju putih yang Renjani coba tapi Kelana tidak menyetujuinya karena terlalu terbuka tapi pada akhirnya Renjani tetap mengenakan dress yang memperlihatkan bahunya.


"Apapun yang aku pakai, mereka tetap melihat mu, kamera tetap mengarah pada mu dan mereka tetap memanggilmu sayang, jangan khawatir." Renjani menggandeng tangan Kelana ketika mereka melangkah masuk. Renjani meminta Kelana tidak terlalu khawatir tentang penampilannya toh yang jadi pusat perhatian tetap Kelana.


"Maksudku, bisa saja ada serigala yang suka sama kamu."


"Serigala?" Renjani mengerutkan kening tapi sedetik kemudian ia tersenyum ketika dua orang staf mempersilakan dirinya dan Kelana menempati kursi yang telah disediakan.


"Misalnya serigala yang suka main piano."


Renjani hendak membalas tapi beberapa teman artis yang sudah lebih dulu datang menegur mereka. Mereka saling berjabat tangan tangan dan menyapa. Sebagian besar Renjani sudah mengenalnya walaupun tidak akrab tapi setidaknya mereka pernah bertemu dan bertegur sapa. Namun ada beberapa artis yang Renjani tidak tahu.


Itu adalah acara penghargaan tahunan kepada orang-orang yang berprestasi luar biasa dalam industri hiburan. Ada sedikitnya 50 nominasi pada acara penghargaan tersebut dengan berbagai kategori. Kelana merupakan nominasi pada 7 kategori sekaligus. Tahun-tahun sebelumnya Kelana selalu memenangkan 3-4 kategori. Tahun ini Kelana diperkirakan akan memenangkan hingga 5 kategori karena Love Season menjadi album paling laris di Indonesia, Malaysia, Singapura dan beberapa negara di Asia lainnya.


Tanpa sengaja arah pandang Renjani bertemu dengan Devin yang tak jauh dari tempatnya duduk. Beberapa detik kemudian Devin langsung mengalihkan pandangan membuat Renjani merasa bersalah. Dulu Kelana dan Devin adalah teman akrab. Renjani ingat Devin menjadi salah satu pemusik yang ada di konser Kelana saat itu. Namun sekarang keduanya tak pernah saling sapa lagi. Harusnya mereka tetap berteman, terlepas dari masalah asmara, Devin adalah pianis yang hebat.


Devin menunduk menyembunyikan senyum, ia sempat melihat Renjana yang berada dalam gendongan ibu nya. Devin telah membuat kesalahan besar, seharusnya sekarang ia masih memiliki hubungan baik dengan Kelana. Rasanya Devin ingin sekali menggendong si kecil Renjana. Namun itu tak akan pernah terjadi. Devin tak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri, ia sudah kurang ajar karena pernah mengatakan akan menjadi papa dari anak Renjani. Devin malu mengingat tindakannya sendiri saat itu.


"Gendong Papa sini." Kelana mengulurkan tangan pada Nana yang anteng di pangkuan Renjani. Nana tampak antusias melihat kesana kemari karena ini pertama kalinya ia bertemu banyak orang.


"Sama aku aja, sebentar lagi kan kamu harus tampil."


Kelana menekuk bibir pura-pura memasang wajah sedih, "Papa nggak boleh gendong Nana sama Ibu, Papa sedih." Katanya dengan nada dibuat-buat yang justru terlihat menggemaskan di mata Renjani. Jika boleh jujur Kelana sana menggemaskannya dengsn Nana.


Jika tidak sedang berada di tempat umum pasti Renjani sudah menggigit pipi Kelana. Namun untuk sekarang Renjani hanya bisa merapatkan gigi menahan rasa gemasnya pada Kelana.


Tak lama kemudian seorang staf menghampiri Kelana untuk bersiap membuka acara. Seminggu sebelumnya Kelana juga sudah melakukan latihan bersama pemusik lain. Malam ini mereka akan tampil bersama pada pembukaan acara penghargaan tersebut.


"Aku ke backstage dulu ya."


"Oke, semangat Papa!" Renjani mengangkat tangan Nana memberi semangat pada Kelana sebelum tampil.


Kelana mengusap rambut Nana sebelum beranjak dari sana bersama staf yang menghampirinya baru saja.


Renjani melihat sekeliling, di tengah keramaian ia merasa sendiri tanpa Kelana. Renjani duduk satu meja dengan lima artis lainnya yang meski tahu namanya tapi ia tidak mau sok kenal dengan mereka. Renjani hanya mengulas senyum ketika tak sengaja bertemu pandang. Suasananya jadi canggung setelah Kelana pergi. Tadinya mereka saling mengobrol meskipun pembahasannya tidak nyambung dengan Renjani.


"Selamat malam semuanya!" Dua orang MC di atas panggung menyapa para tamu undangan yang langsung disambut sorakan riuh. Dua MC kondang yang sosoknya selalu terlihat di layar televisi itu membuka acara dengan teriakan heboh.


"Sebentar lagi kita bersama-sama akan menyaksikan penampilan spektakuler dari violinis yang paling populer sejagat raya, Kelana Radiaksa bersama Devin—pianis yang tidak kalah hits dan Liora penyanyi muda yang baru mengeluarkan single terharunya berjudul Kesepian tapi semoga semuanya disini tidak ada yang Kesepian seperti lagu Liora."


Renjani tersenyum, sepertinya hanya dirinya yang kesepian disini.


"Syukurlah ada kamu." Renjani mengecup puncak kepala Nana, jika tidak ada Nana pasti ia akan benar-benar kesepian di tempat yang asing ini. Tapi tunggu dulu, apakah Renjani tidak salah dengar bahwa Kelana akan tampil bersama Devin.


Sosok Liora terlihat di atas panggung dengan dress hitam selutut model A line yang sangat pas di tubuhnya. Kemudian lampu menyorot pada Kelana dan Devin yang duduk di kursi sedangkan tangannya berada di atas tuts piano bersiap menekannya.


Denting piano terdengar syahdu disusul gesekan piano yang mengalun lembut mengiringi nyanyian Liora.


Kesepian mengisi seluruh ruang di hati


Engkau pergi tak mampu ku cegah


Kekosongan makin mengiris hati


Harapan kau kembali tak lagi terpatri


Seluruh tamu terbawa oleh suasana lagu yang Liora bawakan. Beberapa orang bahkan berkaca-kaca karena lagu tersebut sesuai dengan apa yang mereka rasakan sekarang.


Devin menunduk hikmat dengan jemari yang masih menari-nari di atas tuts piano. Rasa sesak memenuhi dadanya, mengapa hatinya jatuh pada orang yang salah.


Mata Kelana terpejam tak ingin terusik oleh keadaan di sekelilingnya. Jika Kelana dan violin sudah menyatu maka tak ada siapapun yang dapat mengganggu. Mereka bagai dua sejoli yang tak terpisahkan.


Hubungan Kelana dan Devin memang tidak baik tapi mereka tetap bersikap profesional apalagi ketika keduanya harus tampil satu panggung. Mereka tetaplah pemain musik yang luar biasa.


Seluruh tamu berdiri memberi tepuk tangan untuk penampilan Liora, Kelana dan Devin yang amat mengagumkan.


"Wah!" Renjani mengusap matanya yang basah, ia sudah menahan air matanya tapi lagu Liora terlalu indah. Renjani juga merasa kesepian bukan karena pasangan yang meninggalkannya.


Renjani merasa kesepian ketika duduk di sudut ruangan sembari memeluk lutut menyaksikan pertengkaran orangtuanya. Lasti yang selalu marah-marah setiap kali Aji pulang kerja di sore hari. Mengomel soal kebutuhan hidup yang semakin besar tapi pendapatan tak kunjung bertambah.


Namun pria yang saat ini berdiri di atas panggung berjajar dengan Liora dan Devin itu selalu mengisi setiap ruang kosong di hati Renjani. Itu sebabnya Renjani merasa takut kehilangan Kelana. Ketakutan yang tak beralasan karena Kelana akan selalu ada. Sekarang Renjana pula yang melengkapi hidup kesepian Renjani.


"Kamu luar biasa." Puji Renjani ketika Kelana kembali ke meja mereka.


"Berkat kamu." Kelana mengusap rambut Renjani singkat. "Nana sudah tidur?"


"Iya, berkat kamu." Balas Renjani. Nana sudah terlelap sejak lagu Kesepian baru dimulai.


"Aku akan menggendongnya." Kelana mengulurkan tangan, percobaan dua kali untuk mengambil alih Nana dari gendongan ibunya. "Lenganku lebih besar."


Renjani terkekeh, Kelana akan selalu menggunakan cara apapun untuk menempel dengan Nana.


"Pelan-pelan." Renjani memindahkan Nana ke gendongan Kelana. Berat badan Nana hanya 6 kilogram tapi lumayan pegal jika menggendongnya terlalu lama. Namun lengan kekar Kelana selalu kuat menggendong Nana.


"Aku ke toilet dulu." Renjani sudah menahan kencing sejak Kelana tampil tapi ia tak bisa menitipkan Renjana pada siapapun.


"Minta tolong staf untuk tunjukkan toilet nya."


Harusnya Renjani tidak menghabiskan minuman yang disediakan. Kencing saat mengenakan dress di acara seperti ini cukup ribet.


Setelah Renjani kembali, Nana sudah dikerubungi oleh teman-teman artis muda yang mulanya berada di meja lain.


"Bilang aja mau deketin papa nya." Sungut Renjani melihat tingkah artis yang sepertinya masih berusia belasan tahun. Renjani tahu resiko menjadi istri artis adalah siap jika sang suami berinteraksi dengan banyak wanita lain. Namun interaksi mereka bukan alasan pekerjaan, taoh para gadis itu sengaja mendekati Kelana.


"Udah bangun?" Renjani kembali duduk di tempatnya, para gadis yang berkerumun mundur perlahan melihat kedatangan Renjani.


"Pawangnya datang." Renjani sempat mendengar bisikan genit mereka. Renjani hanya membalasnya dengan senyum formal.


"Waktu kamu pergi, Nana bangun." Kelana mencoba menidurkan Nana kembali karena acara masih panjang.


"Ngomong-ngomong senyum kamu lebar banget barusan." Renjani menegakkan tubuhnya.


"Kapan aku tersenyum lebar?" Kelana tidak merasa dirinya tersenyum.


"Barusan waktu gadis-gadis ngerubungin kamu."


Kelana menahan tawa, jadi Renjani cemburu ketika teman-teman artis tadi mendekatinya.


"Kamu cemburu sama gadis-gadis itu?"


Renjani tidak menjawab justru membuang muka melihat ke arah lain.


"Sini Nana sama aku aja." Renjani mengambil alih Nana, ia tak mau para gadis itu menggunakan Nana sebagai alasan mereka mendekati Kelana.


Di atas panggung, sepasang aktor dan aktris yang baru-baru ini membintangi film layar lebar berdiri untuk membacakan nominasi. Seluruh tamu seketika diam serius memperhatikan ke depan panggung.


"Kami akan membacakan penghargaan kategori song of the year, nominasinya adalah—"


Layar di belakang mereka menampilkan satu per satu video klip lagu para nominasi.


"Renjani oleh Kelana Radiaksa, kedua lagu berjudul Kilau Embun oleh Devin Kusuma, Cinta Usai oleh Zaneta Paramita, Kesepian oleh Liora Indira."


"Dan pemenang nominasi Song of the Year adalah—"


Kamera menyorot pada Kelana, Devin, Zaneta dan Liora, musik menegangkan diputar membuat semua orang makin tidak sabar.


"Renjani oleh Kelana Radiaksa."


Renjani dan Kelana membelalak saling berpandangan tak menyangka jika lagu tersebut akan memenangkan penghargaan song of the year. Sebab niat awal Kelana membuat lagu tersebut adalah untuk merayu Renjani. Namun ternyata banyak orang menyukainya.


"Selamat Papa." Pekik Renjani tertahan.


"Terimakasih." Kelana memeluk Renjani lalu naik ke atas panggung untuk menerima piala.


"Ini benar-benar di luar dugaan saya." Suara Kelana terdengar gemetar, meski sudah berkali-kali memberikan sambutan seperti ini tapi perasaannya selalu sama setiap menerima piala penghargaan. Senang, haru, terkejut dan bangga bercampur menjadi satu. "Saya mengucapkan terimakasih kepada istri saya Asmara Renjani yang tentu saja jika tidak ada dia pasti lagu ini tak akan pernah diciptakan, terimakasih untuk putri kecil kami Renjana yang keberadaannya selalu mengingatkan saya untuk bekerja lebih keras."


Seluruh tamu tertawa mendengar candaan Kelana.


"Terimakasih Antasena Entertainment yang telah mewujudkan mimpi-mimpi saya termasuk yang paling aneh sekalipun, Pak Adam manajer paling sabar di seluruh dunia, Yana asisten sekaligus adik saya yang tidak pernah mengeluh, terimakasih Papa dan Wira Music yang selalu menyediakan alat musik terbaik dan terimakasih banyak untuk seluruh penggemar Kelana yang selalu mendukung saya dalam keadaan apapun, saya mencintai kalian semua."


Sambutan yang cukup panjang itu diakhiri oleh tepuk tangan seluruh tamu undangan.


Pembacaan nominasi dalam kategori lain juga dibacakan diselingi hiburan oleh banyak artis berbakat Indonesia. Nama Kelana disebutkan lima kali sebagai pemenang nominasi. Ini adalah tahun paling banyak Kelana menerima piala penghargaan pada acara tersebut.


Renjani mengusap air matanya yang meleleh begitu saja, ia menyaksikan sendiri bagaimana Kelana berusaha keras untuk menghasilkan lagu terbaiknya. Renjani merasa bangga dan ikut bahagia pada semua pencapaian Kelana.




Momen Kelana bareng Renjana yang ditangkap paparazi