
Hugo Madison yang baru saja menerima telpon dari sang istri, kini menyesalkan jika semuanya terlambat karena pria yang ingin dijodohkan dengan putrinya sudah pergi. Apalagi ia sadar jika tidak bisa menahannya lebih lama karena memang merupakan orang yang sibuk.
Saat ia mengetahui jika putrinya akan datang ke perusahaan untuk meminta bantuan, kini langsung bergerak memencet tombol panggil pada nomor pria yang ingin segera dipisahkannya.
"Apa cecunguk itu akan mengangkat telepon dariku?" ucapnya yang kini menunggu hingga mendapatkan tanggapan.
Namun, setelah beberapa menit berlalu, hingga memencet tombol panggil beberapa kali, tetap tidak membuatnya bisa berbicara dengan pria yang ingin ia ancam akan memberikan hasil foto USG putrinya.
"Dasar pengecut!" sarkas Hugo Madison yang seketika menggebrak meja dan wajahnya memerah karena kesal ketika tidak ditanggapi dan yakin jika pria itu sengaja melakukannya.
Hingga di saat bersamaan mendengar suara pintu yang diketuk dan beberapa saat kemudian terbuka, menampilkan putrinya yang berjalan mendekat.
"Siang, Dad," seru Floe yang saat ini berjalan ke arah sang ayah dan langsung mencium tangannya.
Ia mengerutkan kening karena melihat sang ayah hanya diam saja dengan wajah seperti tengah menahan amarah.
"Ada apa, Dad?"
Refleks Hugo Madison menunjukkan daftar panggilan yang tidak terjawab. "Cecunguk itu memang pengecut karena tidak berani mengangkat telepon Daddy. Sepertinya Daddy perlu menemuinya langsung di kantornya. Bila perlu, akan membuatnya babak belur."
Floe yang tadinya ingin mengeluh pada sang ayah, akhirnya hanya menggaruk tengkuk belakang karena pria yang sangat disayangi dan merupakan cinta pertamanya tersebut sudah mengetahui keluh kesahnya.
"Jadi, Mommy sudah memberitahu Daddy. Terserah Daddy mau bagaimana, yang penting dia menyerahkan fotonya. Aku benar-benar tidak rela dan tidak ikhlas jika dia menyimpannya." Floe kini beralih berjalan menuju ke arah sofa dan mendaratkan tubuhnya dengan kasar di sana.
Ia benar-benar sangat kesal karena tadi juga panggilannya tidak diangkat dan menceritakan pada sang ayah yang mulai berjalan mendekat ke arahnya. Bahkan juga menceritakan pertemuan di makam.
"Sepertinya dia dendam padaku karena aku mengusirnya dari makam anakku. Pasti sengaja tidak mengangkat telepon karena sudah mengetahui apa yang kuinginkan." Floe saat ini melihat sang ayah duduk di hadapannya dengan raut wajah serius.
Ia saat ini benar-benar membutuhkan bantuan sang ayah karena tidak mungkin pergi ke perusahaan ataupun rumah keluarga Felix. "Lakukan apapun yang menurut Daddy bisa membuatnya menyerahkan foto anakku."
Selain memikirkan tentang masalah putrinya yang kesal, Hugo Madison mengingat tentang rencananya. "Iya, Daddy akan pastikan jika cecunguk itu akan memberikan fotonya. Tenang saja."
Kemudian ia pedang sejenak untuk menjeda perkataannya dan tentu saja melihat respon dari putrinya yang kini seperti sudah jauh lebih tenang. "Ada hal penting yang ingin Daddy sampaikan padamu, Floe."
Saat Floe merapikan penampilannya karena risih dengan rambutnya, merasa aneh dengan ekspresi wajah sang ayah yang seperti terlihat tengah menyembunyikan sesuatu darinya.
"Iya, Dad. Hal penting apa? Sepertinya ini sangat serius. Apa perusahaan tengah mengalami masalah?" Hanya itu satu-satunya yang saat ini terlintas di pikiran Floe karena sudah paham bagaimana jungkir balik usaha sang ayah saat memimpin perusahaan.
Refleks Hugo Madison langsung menganggukkan kepala tanda membenarkannya. Ia merasa seperti mempunyai senjata untuk membuat putrinya tidak menolak dan setuju pada perintahnya.
Sementara itu, Floe yang bisa mengerti ke mana arah pembicaraan dari sang ayah, kini masih terdiam karena di otaknya saat ini hanyalah tentang memimpin perusahaan untuk melanjutkan perjuangan sang ayah.
"Apa Daddy menyuruhku untuk belajar di perusahaan ini? Agar aku tidak terlalu bodoh saat nanti menggantikan posisi Daddy?" Sebagai anak tunggal dan bukanlah seorang laki-laki, ia sadar jika tugasnya memanglah tidak mudah.
Namun, tetap optimis jika dirinya akan menjadi orang sehebat sang ayah karena mendapatkan gen-nya. Hingga ia merasa bingung begitu mendengar sang ayah tidak membenarkan.
"Bukan di perusahaan ini karena kamu harus memulai dari nol dengan terjun ke lapangan langsung. Bahwa kamu harus tahu beratnya dunia lapangan agar menjadi benteng pertahanan yang kokoh." Hugo Madison kini mulai menjelaskan panjang lebar mengenai apa yang harus dilakukan putrinya.
Ia berharap putrinya langsung setuju dan tidak bermanja-manja seperti biasanya ketika merengek meminta sesuatu darinya.
"Apa kamu mengerti apa maksud Daddy?" tanya Hugo Madison yang saat ini ingin jawaban dari putrinya.
Floe yang saat ini seketika memikirkan kuliahnya, tentu saja merasa bingung dengan keinginan sang ayah yang menyuruhnya terjun ke lapangan langsung bersama dengan para pekerja di lokasi.
"Aku sih tidak masalah, Dad. Tapi kuliahku bagaimana?" Ia yang masih bingung karena tadinya berpikir hanya dengan menjadi mahasiswi berprestasi sudah bisa menjadi dasar untuk melanjutkan pemimpin perusahaan ketika sang ayah pensiun.
Jadi, ia sedikit terkejut dengan ide dari sang ayah yang menyuruhnya untuk menyamar sebagai orang biasa, bukan putri dari pemilik perusahaan yang dihormati banyak staf kantor.
"Kamu ambil kuliah saat malam saja karena tidak mungkin datang ke lokasi kerja sesuka hati. Pasti akan menimbulkan kecurigaan. Bukankah lebih baik berbaur dengan semua pekerja tanpa harus merasa sungkan padamu yang notabene adalah putriku? Biar kamu tahu bagaimana kalau keluh kesah dari para pekerja nantinya." Ia benar-benar merasa senang karena putrinya langsung setuju.
Bahkan tanpa harus bersusah payah untuk membujuk putrinya, jadi saat ini merasa senang. "Nanti kamu akan menjadi bawahan seseorang yang baru bekerja sama dengan perusahaan kita. Dia tidak tahu kalau kamu adalah putriku. Jadi, hormati dia dan jangan membantah semua perintahnya."
Hugo Madison seketika merasa lega karena melihat putrinya mengangguk tanpa pikir panjang.
"Baiklah, Dad. Kapan aku mulai bekerja?" tanya Floe yang merasa jika ia akan mempunyai pengalaman baru dan pastinya akan bertemu dengan orang-orang yang menjadi tonggak dari perusahaan.
"Besok pagi kamu langsung ke lokasi dan menemui pria bernama Dhewa Aji Ismahayana." Ia pun bangkit berdiri dari sofa karena ingin segera ke perusahaan Erland untuk meminta foto dari cucunya karena merasa senang dengan putrinya yang kini sangat penurut. "Daddy akan memastikan cecunguk itu memberikannya."
Floe masih belum beranjak dari sofa karena mendengar nama yang menurutnya sangat aneh. "Dewa? Namanya seperti tokoh di cerita India dan China saja. Apa dia setampan Dewa Krisna, Dad?"
Floe seketika tertawa karena merasa pertanyaannya sangatlah konyol ketika membayangkan wajah dari pria yang mempunyai nama seperti cerita di film India dan China.
"Besok kamu lihat sendiri orangnya," sahut Hugo Madison yang saat ini sudah berjalan menuju ke arah pintu sambil senyum-senyum sendiri karena merasa usahanya sukses untuk membuat putrinya dekat dengan Dhewa.
'Semoga putriku bisa melupakan masa lalu kelamnya dan berjodoh dengan Dhewa Aji Ismahayana,' gumamnya yang kini sudah berjalan keluar dari ruangan meninggalkan putrinya.
To be continued...