Married by Accident

Married by Accident
Menunggu respon



Saat tidak percaya dengan apa yang baru saja didengar, Floe saat ini bersitatap dengan pria yang memiliki netra pekat dengan rambut hitam klimis itu. "Apa Anda bilang? Berpura-pura menjadi wanita Anda?"


Dhewa yang saat ini melirik sekilas mesin waktu di pergelangan tangan kirinya karena ingin memastikan jika memiliki waktu untuk menjelaskan sebelum sebentar lagi kedatangan sosok wanita yang hendak dijodohkan dengannya.


Ia saat ini memilih untuk menutup buku catatan yang tadi sudah dibacanya. "Aku tahu jika kamu mungkin sangat terkejut dan merasa konyol dengan apa yang baru saja ku sebutkan. Hanya saja aku butuh bantuan dan hanya kamu yang cocok berpura-pura menjadi wanitaku."


Kemudian ia menjelaskan dari awal mengenai perjodohan yang dilakukan oleh orang tuanya hingga membuatnya memilih untuk pergi ke Jakarta dengan alasan mengepakkan sayap di dunia bisnis. Bahkan saat ini membuka ponselnya dan menunjukkan sebuah foto profil dari seorang wanita yang dijodohkan dengannya.


"Sebentar lagi dia datang ke sini. Aku harap kamu bersedia untuk membuat wanita itu menolak perjodohan denganku." Dhewa yang saat ini melihat Floe baru saja merebut ponselnya karena ingin melihat secara jelas foto profil dari Camelia Pratiwi yang merupakan seorang selebgram dan pengusaha kosmetik.


Ya, ia akui jika wanita yang dijodohkan dengannya tersebut memiliki paket komplit sebagai seorang calon istri, tapi entah mengapa sama sekali tidak mempunyai feeling ataupun ketertarikan.


Membayangkan menghabiskan waktu seumur hidup dengan seorang wanita yang bahkan tidak bisa menggetarkan hatinya, tentu saja membuatnya ingin mengakhiri rencana dari orang tuanya. Entah mengapa saat ia pertama kali melihat Floe yang bahkan sama sekali tidak memakai riasan, tapi sanggup membuatnya tidak bisa mengalihkan perhatian.


Bahkan pada pandangan pertama sudah menggetarkan hatinya dan seolah takdir berpihak padanya begitu mendapatkan permohonan dari seorang Hugo Madison. Ia kini menunggu hingga Floe mengeluarkan jawabannya.


Berbeda dengan Floe yang seketika memijat pelipis karena merasa pusing dengan permintaan dari pria di hadapannya. Namun, ia tidak ingin menambah bebannya karena ini hanya mau fokus pada tugas besar yang diberikan oleh sang ayah.


Refleks ia menggelengkan kepala sebagai jawaban atas permohonan yang baru saja diterima. "Maaf, saya tidak bisa. Anda bisa cari pekerja wanita lain yang ada di sini."


Di saat ia baru saja menutup mulut, mendengar suara pintu yang diketuk dari luar dan membuatnya menoleh ke belakang.


Dhewa yang merasa kecewa dengan jawaban Floe, tadinya ingin membujuk agar mau menyetujui permohonannya. Namun, tidak jadi melakukannya begitu melihat pintu terbuka dan ada seorang pria serta wanita berjalan masuk ke dalam ruangan.


"Maaf, Tuan Dhewa. Ada yang mencari Anda," ucap seorang pria berseragam biru dan menoleh pada wanita dengan paras cantik yang memiliki kulit putih seperti artis di televisi.


"Hai, Dhewa." Seorang wanita dengan dress selutut berwarna hitam mengulas senyuman sambil melambaikan tangannya saat berjalan mendekati kursi kebesarannya.


Bahkan ia yang membawa paper bag berisi makanan, kini mulai meletakkan di atas meja yang hampir dipenuhi oleh barang-barang tersebut. "Kebetulan tadi aku melihat orang menjual makanan kesukaanmu. Jadi aku membelinya."


Sementara itu, Dhewa seketika bersitatap dengan Floe yang saat ini ingin sekali ia paksa untuk setuju menolongnya. Namun, ia gagal melakukannya begitu melihat Floe membungkuk hormat dan kembali ke kursi kerjanya.


'Sial sekali aku karena pertama kali meminta bantuan orang lain, tapi malah ditolak mentah-mentah dan membuatku seperti seorang pecundang saja,' gumam Dhewa yang akhirnya kini memilih bangkit untuk menyambut kedatangan wanita secantik artis ibu kota tersebut.


"Sebenarnya kamu tidak perlu repot-repot karena aku juga baru saja makan. Jadi sudah kenyang." Dhewa kini memberikan sebuah kode pada pekerja untuk meninggalkan ruangannya.


Berbeda dengan Camelia yang saat ini merasa kecewa dengan apa yang didengarnya. Ia bahkan sudah rela antre untuk membeli makanan kesukaan pria yang dijodohkan dengannya karena tadi diberitahu oleh calon ibu mertua.


Namun, seketika kesal dengan tanggapan datar dari calon suaminya tersebut. "Memangnya kamu makan apa? Tadi sudah beli ya?"


Dhewa kini menoleh sejenak pada Floe yang sudah duduk di kursi kerjanya dan seperti tengah berakting sibuk bekerja. Refleks langsung mengarahkan jari telunjuk pada Floe karena sengaja melakukannya untuk membuat wanita di hadapannya tersebut mengetahui jika ia tidak pernah menyimpan perasaan padanya.


"Tadi aku dibawakan makanan sama dia." Dhewa yang saat ini tidak mengalihkan perhatiannya dari Floe, seketika tersadar dari apa yang ada di otaknya saat ini.


Camelia yang seketika menoleh ke arah sosok wanita di sebelah kiri, kini mengerutkan kening karena merasa ada sesuatu yang tidak beres saat ini dan ingin memastikannya agar tidak pulang dalam keadaan penasaran.


Ia bahkan saat ini mengikuti perbuatan Dhewa. "Dia membawakanmu makanan? Apa karena suka atau menyuapmu agar bersikap baik dan mengistimewakannya? Atau kalian mempunyai hubungan?"


Meskipun sebenarnya kalimat terakhir sangat tidak disukainya, tapi tetap saja ingin sekali membahas kemungkinan terburuk karena tidak mau ada sesuatu hal yang mengganggunya.


Berbeda dengan Floe yang tadinya tidak ingin menanggapi atau memperhatikan interaksi antara pasangan yang dijodohkan itu, seketika bangkit berdiri dari kursi kerjanya karena tidak ingin ada kesalahpahaman.


Bahkan ia mendapatkan tatapan tidak bersahabat dari seorang wanita yang memiliki postur tubuh tinggi semampai dengan body bak gitar spanyol karena lekuk tubuh terlihat sangat jelas ketika memakai gaun seksi dan sebenarnya tidak cocok berada di lokasi kerja saat ini.


'Sialan! Malah terjadi kesalahpahaman gara-gara bekal dari mommy,' gumam Floe yang berniat untuk membuka mulut menjelaskan.


Namun, belum sempat melakukannya, sudah mendengar sesuatu yang membuatnya membeliakkan mata karena sangat terkejut dengan pengakuan pria yang saat ini berbicara dengan wanita itu.


"Dia sama sekali tidak menyuapku, tapi merupakan sebuah perhatian dari seorang kekasih. Jadi, wajar jika seorang kekasih membawakan makanan untuk pasangannya?" Dhewa yang saat ini hanya ingin Camelia ilfeel padanya dan membatalkan perjodohan, terpaksa memanfaatkan Floe untuk menyelamatkannya dari posisi yang sangat sulit.


Bahkan sama sekali tidak menatap Floe ketika mengungkapkan sebuah kebohongan besar yang dirancangnya saat ini dan pastinya akan merasa malu jika wanita di balik meja tersebut murka padanya dan mengatakan hal yang sebenarnya.


'Kanjeng Ratu Widodariku, jangan marah dan tolong bantu aku,' lirih Dhewa yang saat ini hanya bisa berkeluh kesah di dalam hati sambil menunggu respon dari Camelia.


To be continued...