
Zack yang tadinya langsung menangkap bantal dari lemparan sosok wanita dengan raut wajahmu merah di atas ranjang tersebut dan bisa mengerti bagaimana seorang Marcella semakin bertambah membencinya karena akibat perbuatannya yang merenggut kesuciannya.
Ia benar-benar tidak pernah menyangka jika wanita yang sudah lama menjadi incarannya tersebut ternyata masih murni dan belum disentuh oleh sang kekasih yang selalu dibanggakan dan sudah menjalin hubungan sangat lama.
Kini, ia sudah naik ke atas ranjang dan menahan pergelangan tangan kanan dan kiri wanita yang hendak memukulnya. "Kau tidak perlu khawatir atau berpikiran buruk tentangku karena aku akan bertanggungjawab menikahimu karena telah memperkosamu."
"Kau tidak akan pernah menemukan pria sebaik aku yang mau bertanggung jawab setelah menikmati tubuh wanitanya. Ini kulakukan karena aku sangat menyukaimu dari dulu hingga sekarang." Zack bahkan tidak pernah berpikir jika ia akan menikahi wanita yang baru saja membuatnya melepaskan puncak kenikmatan.
Ia biasa melakukannya bersama dengan para kekasihnya dan sama sekali tidak berpikir untuk mengakhiri masa lajang seperti hari ini. Berpikir bahwa wanita seperti Marcella sangat sulit didapatkan di zaman sekarang ini dan di negaranya, sehingga membuatnya tidak rela untuk melepaskan.
Berpikir bahwa wanita dihadapannya tersebut seperti sebuah barang berharga yang sangat langka, sehingga membuatnya terobsesi untuk memiliki selamanya.
Sementara itu, berbeda dengan yang dirasakan oleh Marcella saat ini karena merasa sangat jijik disentuh oleh pria yang sangat dibenci karena telah menghancurkan mimpi serta harapannya untuk bisa menjadi satu-satunya wanita berharga di mata sang kekasih.
Tatapan penuh kebencian kini tercipta dan terlihat jelas saat ini. "Lepaskan tanganku, bajingan! Aku sangat jijik padamu. Aku sangat membencimu dan tidak ingin melihatmu!"
Teriakan Marcella memenuhi ruangan kamar hotel yang saat ini menjadi sebuah neraka untuknya dan membuatnya berpikir bahwa sesuatu hal yang dihadapi hari ini merupakan sebuah malapetaka besar.
Marcella bahkan dari tadi menggerakkan tangannya agar dilepaskan dari kuasa seorang pria yang ingin sekali ia cekik sampai kehabisan napas. Namun, ia tidak bisa melakukannya dan membulatkan mata begitu tubuhnya terhuyung ke belakang begitu Zack seolah ingin menguasai tubuhnya.
Ia bahkan seketika memalingkan wajahnya ke sebelah kiri karena melihat pria itu mendekatkan wajah padanya seolah ingin menciumnya. "Apa yang kau lakukan? Pergi!"
Zack yang merasa gairahnya kembali bangkit melihat Marcella yang sangat murka padanya, sehingga pikirannya kini travelling untuk bercinta dengan wanita yang terlihat menolaknya tersebut untuk kedua kali.
"Aku tidak akan pernah melepaskanmu setelah hari ini. Jadi, jangan buang-buang tenagamu dengan melawanku karena itu tidak akan pernah berhasil. Sebaiknya kita nikmati malam ini dengan berbagi peluh untuk mencapai puncak kenikmatan." Ia bahkan saat ini sudah bergerak untuk menelusuri wajah memerah itu dengan bibirnya.
"Tidak! Berhenti! Jangan lakukan hal menjijikkan ini," sarkas Marcella yang masih berusaha untuk menghindar dengan menggerakkan wajahnya agar tidak bisa dikuasai oleh bibir tebal pria yang sudah berhasil menyentuh kulit wajahnya.
Namun, ia yang berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan kuasa Zack, menyadari jika tenaganya tidak sebanding karena meskipun sudah mengeluarkan seluruh kekuatan, sama sekali tidak berhasil menghentikan pria yang bahkan sudah membuatnya berurai air mata.
"Diam atau aku akan melakukan cara kekerasan padamu saat bercinta. Nikmati semuanya karena aku akan memberikan sesuatu yang belum pernah kamu rasakan. Bukankah tadi kamu belum merasakan kenikmatan bercinta karena tidak sadarkan diri?" ujar Zack yang sebelumnya mengangkat wajahnya ketika menatap dengan penuh seringai sosok wanita di bawahnya.
To be continued...