Married by Accident

Married by Accident
LXVIII



Kelana sudah siap mengenakan setelan jas hitam yang sangat pas di tubuhnya. Kelana sengaja menyiapkan setelan jas tersebut untuk menghadiri konser Elara. Rambut Kelana ditata ke belakang sehingga terlihat lebih rapi. Sebelum keluar dari walk in closet Kelana lebih dulu menyemprotkan parfum di beberapa bagian tubuhnya.


"Loh, kamu mau kemana?" Renjani baru saja keluar dari kamar mandi, ia menghampiri Kelana di depan pintu walk in closet.


"Ke konser Elara." Kelana sedikit merapikan bajunya seolah ingin penampilannya benar-benar sempurna hari itu.


"Tapi kamu udah janji kita mau ngabisin waktu seharian di apartemen, bahkan waktu itu kita udah bikin list kegiatan untuk merayakan satu tahun pernikahan kita." Jangan bilang Kelana lupa, ini baru beberapa hari sejak mereka merencanakan perayaan tersebut.


"Ah benar, aku lupa Re." Kelana menepuk dahinya, kenapa ia bisa lupa jika perayaan satu tahun mereka bertepatan dengan konser Elara.


"Ganti baju gih, kita ke tempat gym mumpung masih sepi jam segini." Renjani memperhatikan penampilan Kelana, itu adalah pakaian yang sering Kelana kenakan tapi Renjani tetap takjub melihat ketampanan sang suami.


"Maaf Renjani, aku nggak bisa, aku harus pergi ke konser Elara, waktu itu aku udah bilang sama kamu." Kelana merasa bersalah pada Renjani tapi ia tak bisa membatalkan janjinya pada Elara.


"Kenapa kamu harus?" Renjani tidak tahu kenapa Kelana harus datang.


"Aku udah janji sama dia." Kelana berusaha bicara baik-baik agar tidak menyinggung Renjani.


"Kamu juga udah janji sama aku." Nada bicara Renjani meninggi.


"Kita bisa melakukannya besok atau lusa tapi enggak dengan konser Elara, setelah ini dia akan kembali ke Perancis." Kelana tidak mau mengecewakan Elara lagi pula setelah ini wanita itu akan pergi dari sini. Kelana memiliki banyak waktu bersama Renjani.


"Jangan pergi." Tegas Renjani.


"Re, tolong kali ini aja kamu jangan egois." Kelana memegang kedua lengan Renjani.


"Aku egois?" Renjani mengerutkan kening, bukankah dalam hal ini Kelana lah yang egois. Kelana sama sekali tidak memikirkan perasaan Renjani.


"Kita punya banyak waktu, aku cuma minta satu hari ini aja untuk pergi ke konser Elara, konser ini sangat berarti untuknya." Kelana menatap Renjani dengan pandangan memohon.


"Anniversary kita juga berarti." Renjani meraih tangan Kelana, ia memohon agar Kelana tidak pergi.


"Aku tahu tapi aku harus pergi."


"Kamu pilih aku atau Elara?" Renjani kehilangan kata-kata untuk membuat Kelana tinggal.


"Kenapa kamu tanya begitu, kamu istriku." Kelana tidak suka mendengar pertanyaan Renjani.


"Kamu meninggalkan istrimu di hari penting, aku harus apain semua itu?" Renjani melempar tatapan pada setumpuk peralatan bercocok tanam di sudut kamar yang sudah ia siapkan sejak jauh hari.


"Besok kita tanam bibitnya."


"Tapi anniversary kita hari ini."


"Tolong jangan mempersulit ku, lagi pula sejak awal ini rencana kamu." Kelana emosi, ia bukannya tidak mau melakukan rencana-rencana Renjani itu. Ia hanya tidak bisa setidaknya untuk hari ini.


"Kamu sendiri yang menawarkan diri untuk ngasih hadiah, aku cuma butuh waktu kamu." Suara Renjani parau menahan air yang sudah menggenang di pelupuk matanya.


"Aku kasih, tapi nggak hari ini." Bentak Kelana membuat Renjani tidak bisa menahan air matanya lagi.


Renjani menghapus air matanya kasar, "Aku atau Elara?" Tanyanya sekali lagi.


"Aku harus pergi." Kelana melenggang pergi meninggalkan Renjani. Ia tak punya pilihan selain datang ke konser itu. Lagi pula setelah ini ia akan menghabiskan banyak waktu dengan Renjani.


Renjani menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya naik turun dengan cepat. Tangisnya pecah menggema ke seluruh penjuru kamar yang sepi.


Sulit untuk Renjani percaya pada perasaan Kelana terhadap dirinya. Renjani berusaha memupuk kepercayaan itu tapi sekarang setelah tumbuh subur, Kelana menghancurkannya.


Andai sejak awal Renjani tidak banyak berharap, andai ia menjaga perasaannya agar tidak jatuh terlalu dalam. Semuanya terlambat sekarang, harapan Renjani selalu berakhir seperti ini. Dulu Renjani begitu mempercayai Arya tapi lelaki itu selingkuh di belakangnya


Renjani tidak punya tempat untuk berkeluh kesah, ia juga tak bisa menceritakan ini pada siapapun termasuk mama nya.


Renjani berteriak mengacak-acak rambutnya tertawa dan menangis sekaligus, ia bisa gila memikirkan Kelana.


"Giliran mu sudah berakhir Re, satu tahun sudah berlalu." Renjani mengusap wajahnya yang basah oleh air mata. Meskipun tidak ada Kelana, Renjani harus melakukan semua yang sudah ia tulis di tabletnya.


Pusat kebugaran yang berada di lantai 32 apartemen itu cukup sepi karena ini adalah hari kerja. Renjani melakukan pemanasan sebentar sebelum menggunakan alat-alat olahraga disana. Renjani sudah tahu apa yang harus ia lakukan dengan alat-alat tersebut karena sudah sering olahraga bersama Kelana.


Renjani berlari di atas treadmill selama 10 menit dengan kecepatan sedang lalu naik spinning bike favoritnya. Renjani berusaha mengalihkan pikirannya pada alat tersebut.


Setelah puas mengayuh, Renjani mengangkat dua dumble 5 kilogram di tangan kanan dan kiri.


"Ah gila!" Keringat Renjani bercucuran, napasnya tersengal. Ia menjatuhkan dumble tersebut lalu duduk selonjor di atas matras.


"Are you okay?" Seorang lelaki menghampiri Renjani yang sedang mengusap-usap perutnya.


"Eh nggak apa-apa, tiba-tiba kram mungkin karena kurang pemanasan." Renjani nyengir, ia sering bertemu dengan lelaki itu disini tapi ini pertama kalinya mereka bertegur sapa.


"Tumben sendiri, kamu istri Kelana Radiaksa kan?"


"Benar, dia sedang ada urusan." Renjani beranjak dari sana, ia harus segera kembali ke apartemen dan membuat nasi goreng.


Renjani memegangi perutnya, ia lupa kalau dirinya sedang hamil. Renjani bahkan berolahraga lebih keras dari biasanya.


"Aku cuma punya kamu." Renjani mengajak janinnya bicara meski tidak yakin apakah suaranya bisa didengar atau tidak. "Kelana menolak kehadiranmu tapi aku enggak, aku—Mama mu." Renjani sudah merasakan betapa masa kecilnya tidak seperti anak-anak lainnya yang dipenuhi kasih sayang orangtua. Renjani harus bisa mencurahkan semua kasih sayangnya untuk sang anak meski tanpa Kelana. Renjani akan melakukannya seorang diri walaupun itu tidak mudah. Renjani sudah melalui masa sulit sebelumnya, kali ini pasti tak jauh berbeda.


Walaupun tidak seenak buatan Kelana, Renjani tetap mengabiskan nasi gorengnya. Nasi kemarin memang paling enak dibuat nasi goreng.


Setelah makan, Renjani mengeluarkan semua peralatan bercocok tanam dari balkon. Ia menuang tanah ke dalam pot dan menabur bibit Alyssum lalu menyiramnya. Renjani menyimpan beberapa biji untuk ditanam lain kali, entah kapan ia bisa punya waktu untuk menanam bunga lagi.


"Kamu harus tumbuh subur." Gumam Renjani pada dua buah pot yang ia letakkan dekat pagar balkon agar terkena sinar matahari yang cukup.


Renjani memberi tanda ceklis pada tulisan olahraga, sarapan nasi goreng dan menanam bunga.


Daftar terakhir yang Renjani buat adalah menonton film. Ia menutup gorden dan menyalakan televisi. Renjani bukan orang yang suka menonton film tapi ia bertekad untuk melakukan semuanya dalam daftar tersebut.


"Ini membosankan." Renjani menghela napas berat, ia memejamkan mata di tengah-tengah film. Mungkin jika ada Jesi disini Renjani tak akan merasa bosan. Ia rindu saat dirinya bukan siapa-siapa, bukan istri seorang Kelana Radiaksa. Walaupun tidur di kasur sempit tapi Renjani tak perlu khawatir soal penilaian orang lain. Ia tak pernah khawatir akan kehilangan seseorang yang dicintainya.


Air mata kembali meleleh membasahi pelipis Renjani. Bukankah ia sudah mendapatkan lebih dari yang Kelana janjikan? Renjani tak boleh menuntut apapun termasuk Kelana yang tidak memilihnya hari ini. Ataupun tentang perasannya yang telanjur dalam.