Married by Accident

Married by Accident
Ayu Ningrum



"Kenapa memangnya?" tanya Hugo Madison yang saat ini mengerutkan kening karena merasa curiga melihat putrinya saat menanyakan tentang pria yang menjadi calon terbaik kategori menantu idaman.


Floe yang tidak bisa melanjutkan perkataannya karena dipotong oleh sang ayah, sebenarnya mencium sesuatu yang membuatnya curiga. Bahwa melihat sikap sang ibu tadi, seketika mengingatkannya jika disuruh buru-buru untuk pergi ke kantor sang ayah.


Jadi, ia saat ini ingin memastikan sesuatu. Bahwa apa yang akan ada di pikirannya benar. "Aku ingin tahu seperti apa pria yang akan menjadi bosku. Aku ingin mengetahui karakternya agar bisa bekerja dengan baik dan tidak mengecewakannya ataupun membuatnya kesal."


Hugo Madison saat ini hanya geleng-geleng kepala karena merasa putrinya yang selama ini sangat pintar, berubah polos. Namun, ia berpikir jika itu disebabkan karena putrinya sedang banyak pikiran, jadi memakluminya.


"Cari saja namanya di mesin pencarian. Ingat namanya dan jangan sampai lupa lagi. Namanya, Dhewa Adji Ismahayana. Sudah, Daddy mau mandi dulu. Gerah." Hugo Madison kini memberikan kode pada sang istri yang dari tadi menatapnya dengan keanehan, agar segera mengikutinya karena ingin membicarakan sesuatu.


Lestari Juwita yang kini menganggukkan kepala, menepuk lengan putrinya. Cepat masuk, Sayang." Ia pun langsung berjalan mengekor suami.


Sementara itu, Floe yang saat ini masih merasa ambigu karena gerak-gerik dari sang ayah tidak menunjukkan kecurigaannya. Ia tadi sudah mencari tahu tentang pria yang disebutkan sang ayah ketika berada di perusahaan dan mengetahui seperti apa.


'Sepertinya hanya perasaanku saja. Mungkin bukan seperti yang kupikirkan. Lagipula mana mungkin seorang calon janda seperti itu diterima oleh pria lajang yang bahkan memiliki karir sukses dan juga wajah yang rupawan,' gumam Floe yang saat ini mengingat tentang raut wajah pria yang besok akan menjadi atasannya.


"Aku tidak menyangka jika dia yang tadi meminta maaf padaku saat tidak melakukan kesalahan, ternyata adalah orang yang dimaksud Daddy. Tapi dia tampan juga. Cocok untuk dijadikan cuci mata di lokasi kerja yang dipenuhi oleh banyak pekerja laki-laki." Floe bahkan terbahak dengan apa yang baru saja diucapkan.


Kemudian berjalan masuk menuju ke arah pintu utama dan menaiki anak tangga untuk segera beristirahat di kamar sambil membawa bingkai foto yang masih digenggamnya.


***


Keesokan harinya, Floe yang kini terlihat sudah rapi, berjalan masuk ke dalam mobil yang akan mengantarkannya ke lokasi. Namun, ia akan turun di tempat sebelum lokasi karena menyamar sebagai pekerja biasa, bukan merupakan putri dari pemilik perusahaan.


Bahkan ia memakai setelan panjang berwarna hitam putih dan hanya memakai riasan tipis di wajahnya. Saat ia hendak masuk ke dalam mobil, menoleh ke arah belakang begitu mendengar suara sang ibu.


"Sayang, bekalnya ketinggalan!" seru Lestari Juwita yang saat ini tengah berjalan cepat menghampiri putrinya.


Floe seketika menepuk jidat karena melupakan sesuatu hal yang penting. Ia memang berencana untuk membawa bekal setiap hari agar tidak pergi makan di restoran dan malah menjadi pusat kecurigaan.


"Hati-hati di jalan, Sayang. Semoga semuanya berjalan lancar." Lestari Juwita kini melambaikan tangannya begitu mobil yang dikemudikan oleh sang sopir tersebut berlalu pergi meninggalkan area rumah.


Floe kini terdiam memikirkan jika hari ini merupakan hari pertama bekerja. Ia khawatir jika nanti akan mendapatkan bullying karena merupakan seorang perempuan dan dikelilingi oleh pekerja laki-laki.


"Kok aku mendadak gugup gini, ya? Semoga aku tidak melakukan kesalahan di hari pertama bekerja," ucap Floe yang saat ini masih sibuk merapal doa dan berharap semuanya akan berjalan dengan lancar.


Setengah jam kemudian, mobil berhenti dan ia langsung turun karena lokasi ada di seberang jalan. Ia mengucapkan terima kasih pada sang supir sebelum menyeberang. Beberapa saat kemudian ia sudah berjalan memasuki area yang kini sudah mulai dibangun gedung dengan lantai sepuluh.


Seketika ia mendongak menatap ke arah bangunan tinggi menjulang yang masih mulai dibangun itu. "Wah ... jadi seperti ini gedung mulai dibangun."


Saat ia berjalan sambil mendengar menatap ke arah bangunan, beberapa saat kemudian mengedarkan pandangan ke arah beberapa orang yang baru saja datang, sama sepertinya. Ia sengaja berangkat lebih awal agar tidak terlambat di hari pertama bekerja.


Namun, ia seketika mengerjapkan mata begitu melihat sosok pria yang ditabraknya kemarin sudah terlihat memakai helm dan berbincang dengan seorang pekerja.


"Wah ... rajin sekali dia. Bahkan para pekerja saja baru berdatangan, tapi dia malah sudah terlihat sibuk dengan pekerja." Floe menggaruk tengkuk belakang karena merasa ragu untuk menghampiri pria yang terlihat fokus berbincang serius tersebut.


Saat ia memperlambat langkah kaki untuk mendekat sambil menatap pria yang terlihat serius itu, seketika bersitatap dan membuatnya merasa kebingungan ketika melangkah mendekat.


'Apa dia mengingatku? Bahwa aku adalah perempuan yang ditabraknya kemarin di depan perusahaan?' gumam Floe yang mengingat perkataan sang ayah mengenai nama palsunya di tempat kerja. 'Ayu Ningrum, kenapa daddy memilih nama itu sih.'


Lamunan Floe seketika buyar ketika mendengar suara bariton dari pria yang ditabraknya kemarin.


"Ayu Ningrum?" tanya Dhewa yang saat ini tengah menatap ke arah sosok wanita yang merupakan putri dari pemilik perusahaan, tapi berpura-pura tidak tahu seperti orang bodoh dan juga memanggil nama yang bukan merupakan nama asli karena diberitahu oleh Hugo Madison tadi pagi.


'Rasanya aku sekarang sedang berakting layaknya aktor sinetron saja,' gumam Dhewa yang kini melihat wanita di hadapannya menganggukkan kepala.


To be continued...