
Tepuk tangan riuh mengakhiri penampilan Kelana dan Elara malam itu. Penonton tampak puas dengan kejutan dua sejoli yang dulu sempat menjadi pasangan paling sering dibicarakan oleh penggemar masing-masing. Meskipun tanpa persiapan Kelana dapat mengimbangi permainan violin Elara yang sejak dulu lebih mahir darinya.
Kolaborasi antara Kelana dan Elara sekaligus menjadi penampilan terakhir acara konser malam itu. Puluhan wartawan mendekati Kelana dan Elara begitu keduanya turun dari panggung.
Blitz kamera mengarah pada sang bintang disertai pertanyaan dari para wartawan. Sebagian besar pertanyaan mereka adalah tentang hubungan Kelana dan Elara. Apakah akhirnya mereka kembali menjalin hubungan seperti yang digosipkan oleh para penggemar sejak kembalinya Elara ke Indonesia.
Malam ini Elara tampak mempesona dengan gaun putih yang membalut tubuhnya. Gaun polos yang memperlihatkan bagian bahunya.
"Terimakasih atas pertanyaan teman-teman wartawan, hubungan kami sebatas apa yang kalian lihat di atas panggung, seperti yang saya katakan waktu itu bahwa saya dan Renjani akan terus bersama." Kelana segera pergi dari stage sebelum pertanyaan wartawan itu semakin aneh. Kelana tidak mau ada gosip apapun lagi tentang dirinya dan Elara.
"Yana, sudah pesan kuenya?" Tanya Kelana pada Yana di backstage.
"Sudah Mas, bisa kita ambil dalam perjalanan pulang."
"Baiklah." Kelana harus segera pulang karena ini sudah hampir tengah malam, ia akan kehilangan hari dimana Renjani dan dirinya harus merayakan anniversary. Setidaknya Kelana akan memberikan kue dan lilin untuk mereka tiup bersama setelah memanjatkan doa.
"Kelana, tunggu!" Elara menyusul ke backstage. "Kelana, kamu belum jawab aku tadi pagi."
"Soal apa?" Kelana membalikkan badan melihat Elara. "Hati-hati." Kelana menahan tubuh Elara yang hampir terjatuh karena tersandung gaunnya sendiri.
"Soal perasaanku."
"Aku sudah menjawabnya di depan wartawan tadi." Kelana menegakkan tubuh Elara dan mundur selangkah.
"Tapi kenapa kamu datang kesini, kamu juga mau tampil berdua denganku."
"Hanya karena aku datang dan tampil satu panggung denganmu, bukan berarti aku masih mencintaimu Lara, maaf, aku menganggap mu teman nggak lebih."
"Kamu bohong kan?"
"Aku nggak pernah bohong soal perasaanku, sebesar apapun cintaku dulu sekarang dia sudah menyusut dan hilang, nggak ada yang tersisa, aku harap kamu mengerti."
Elara tertegun, ia pikir perasaan Kelana masih sama sepertinya. Namun sudah ada penghuni baru di dalam hati Kelana. Elara tahu ini adalah salahnya tapi ia tidak punya kesempatan untuk menebus kesalahan ini.
"Semoga perjalanan mu lancar, aku pergi." Kelana segera keluar dari backstage diikuti Yana.
Sebelum kembali ke apartemen mereka lebih dulu berhenti di toko kue untuk mengambil kue anniversary yang sudah Yana pesan.
"Kenapa gambarnya seperti ini?" Kening Kelana berkerut melihat kue berwarna putih dengan gambar dua kepala memakai topi.
"Kenapa Mas, ini lucu." Menurut Yana kue ini sangat menggemaskan.
"Ini bukan gaya yang aku suka."
"Saya tahu tapi Mbak Rere pasti suka." Yana membayangkan ekspresi bahagia Renjani saat melihat kue tersebut.
Kelana kalah telak, yang lebih penting dari dirinya sendiri adalah Renjani.
"Mulai sekarang Mas Lana harus tahu apa yang Mbak Rere suka, supaya hubungan kalian harmonis terus."
"Jangan mengajariku, kamu bahkan belum pernah pacaran." Kelana melenggang pergi mendahului Yana.
Yana terkekeh, kadang saat melihat gadis seusianya nongkrong di cafe atau taman dengan pacar mereka, ia merasa iri. Namun setelah dipikir lagi pacaran hanya membuang waktu. Mereka belum tentu punya tabungan sebanyak yang Yana miliki sekarang. Tentu saja Yana juga ingin menikah nanti. Ia bukannya tidak pernah memikirkan masa depan, hanya saja saat ini ia masih menyukai pekerjaannya. Kelana juga membutuhkannya.
******
Kelana melangkah perlahan membuka pintu kamar yang gelap. Di tangan Kelana sudah ada kue dengan dua lilin di atasnya.
"Renjani." Kelana mendekat ke ranjang lalu duduk disana, ia meraba-raba ranjang yang ternyata kosong. Dimana Renjani?
Akhirnya Kelana menyalakan lampu ruangan. Tempat tidur tampak rapi, bantal dan selimut tertata di tempatnya. Itu berarti Renjani tidak tidur dari tadi.
Kelana meletakkan kue itu dan masuk ke walk in closet sambil memanggil Renjani.
"Kemana dia?" Kelana berpindah ke studio musik, mungkin saja Renjani sedang bermain-main dengan piano atau alat musik milik Kelana. Karena beberapa kali Kelana mendapati Renjani memainkan piano dengan nada Twinkle Twinkle Little Star, satu-satunya lagu yang Renjani tahu.
Tidak ada, ruangan itu sepi. Akhirnya Kelana masuk ke kamar mandi tapi ia juga tidak menemukan Renjani. Kelana mulai panik tapi ia tetap mencari Renjani ke ruangan lain. Kamar, gudang, dapur, ruang makan semuanya sudah Kelana masuki tapi hasilnya nihil. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Renjani.
"Dimana kamu Re?" Kelana merogoh saku celana mengambil ponselnya, ia melihat pesan terakhirnya pada Renjani yang tidak mendapat balasan. Kelana pikir Renjani sudah tidur, itu sebabnya ia tidak membalas pesannya.
Kelana semakin kalut karena nomor telepon Renjani tidak aktif. Kelana keluar menekan bel apartemen Yana.
"Kenapa Mas?" Yana membuka pintu tanpa membuat Kelana menunggu lama.
"Rere nggak ada."
"Nggak ada gimana Mas?"
"Dia nggak ada di kamar, dia nggak ada di manapun."
"Mas tenang, coba telepon dulu mungkin Mbak Rere keluar sama temennya."
"Rere nggak mungkin keluar sampai larut begini apalagi dia belum sehat."
Kini Yana ikut panik, ia masuk ke apartemen Kelana dan memanggil Renjani seolah tidak percaya pada perkataan Kelana barusan.
"Maaf." Kelana menghentikan seorang lelaki seusianya yang ia tahu adalah tetangga terdekat dari unit apartemen miliknya.
"Ya?" Lelaki itu berhenti, ia dan Kelana sering bertemu di pusat kebugaran saat pagi hari.
"Barangkali anda tahu wanita yang selalu bersama saya di gym."
"Saya tahu, kenapa?"
"Anda melihatnya hari ini?"
"Tadi pagi saya lihat dia olahraga di tempat biasa setelah itu nggak lihat lagi."
"Ah begitu, terimakasih Mas."
"Wajahnya pucat, maaf saya nggak berniat memperhatikannya tapi dia olahraga lebih keras dari biasanya, saat keluar dia memegangi perutnya."
"Saya lihat ini di dekat tempat sampah kamar mandi." Yana menyodorkan sebuah tes pack saat Kelana kembali.
"Apa ini?"
"Itu tes kehamilan."
"Apa maksudnya?"
"Dua garis untuk positif itu artinya Mbak Rere hamil Mas."
Test pack di tangan Kelana terjatuh, pantas saja Renjani menyinggung soal kehamilan beberapa hari yang lalu. Kelana tidak tahu jika Renjani benar-benar hamil.
"Aku pikir dia cuma bercanda."
"Kenapa Mas?"
"Waktu itu Renjani bertanya gimana kalau tiba-tiba dia hamil, aku bilang gugurkan saja, aku pikir dia bercanda." Kelana terduduk, tubuhnya lemas seketika mengetahui kenyataan ini. Jika Kelana tahu Renjani benar-benar hamil, ia tidak akan berkata seperti itu. Kelana akan menerima kehamilan Renjani dengan senang hati meskipun ia belum berpikir untuk memiliki anak. Kelana tak mungkin sekeji itu membunuh buah hatinya sendiri.
Kelana kembali ke kamar, ia harus memastikan jika Renjani tidak meninggalkannya. Kelana membuka lemari pakaian Renjani yang ternyata sudah kosong. Kelana baru menyadari bahwa koper Renjani juga tidak ada.
"Maafkan aku Re." Kelana melangkah gontai keluar dari walk in closet. Ia meraba tempat tidur seolah ingin merasakan kehadiran Renjani. Dimana kamu Re?
Kelana tidak sengaja menemukan secarik kertas dengan tulisan tangan.
Terimakasih untuk satu tahun yang penuh kebahagiaan. Ini adalah satu tahun paling berarti buat aku. Sebelumnya aku nggak pernah dicintai begitu hebat seperti yang kamu lakukan.
Kepergian mu pagi ini membuatku sadar bahwa sejak awal aku bukan apa-apa buat kamu. Kamu memilih datang ke konser Elara dari pada melakukan rencana-rencana kekanakan ku.
Seperti janji kita saat awal menikah, kita akan berpisah setelah satu tahun.
Semoga kamu bahagia meskipun bukan aku yang ada di sisi mu.
"Enggak, aku nggak mungkin bahagia tanpa kamu." Kelana meraih kunci mobil, ia harus mencari Renjani.
"Mau kemana Mas?"
"Aku harus cari Renjani."
"Saya ikut."
"Kamu disini aja siapa tahu Renjani pulang."
"Baiklah, saya pasti langsung hubungi Mas kalau Mbak Rere pulang."
"Makasih ya." Kelana bergegas pergi dengan harapan bisa menemukan Renjani.
Tujuan pertama Kelana adalah kantor Asmara Publishing yang jaraknya tidak terlalu jauh dengan apartemen.
Kantor itu gelap tapi Kelana tetap turun dari mobil dan melihat ke bagian dalam melalui jendela kaca. Ia meraba kenop pintu dan menekan beberapa kombinasi angka lalu pintu terbuka. Renjani pernah memberitahu pin untuk akses masuk kantor tapi Kelana bilang ia tidak membutuhkan itu. Untung saja Kelana bisa mengingatnya, sekarang ia membutuhkannya.
"Rere, kamu disini?" Kelana setengah berteriak melewati tangga menuju lantai dua yang sama gelapnya dengan bagian depan kantor. "Re, aku minta maaf, aku—" Kelana tidak dapat melanjutkan kalimatnya, ia terduduk di lantai dan menangis tanpa suara. Bagaimana jika ia tidak dapat menemukan Renjani? jika sampai terjadi sesuatu yang buruk pada Renjani ataupun bayi mereka, Kelana tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri seumur hidup.
Mobil Kelana bergerak ke daerah pemukiman padat yang dulunya adalah tempat kos Renjani. Kelana turun dari mobil melewati gang sempit untuk sampai ke tempat kos tersebut.
"Loh Kelana." Jesi tak percaya melihat Kelana di hadapannya, untuk apa Kelana kesini. Jesi tengah memasang sepatu bersiap pergi ke rumah sakit karena ia mendapat giliran sift malam.
"Renjani ada disini?"
"Renjani? dia kan tinggal sama kamu." Jesi mengerutkan kening, jika Kelana mencari keberadaan Renjani berarti ia tidak ada di rumah. "Kok bisa kamu nggak tahu Renjani ada dimana."
"Waktu kembali apartemen, Renjani sudah nggak ada, dia pergi membawa semua bajunya, aku pikir dia kesini."
"Kenapa Renjani kabur, kamu apain dia?" Jesi mendekat, ia terkejut mendengar hal ini.
"Aku nggak bisa cerita, apa dia nggak telepon kamu sama sekali?"
"Kemarin kami sempet ngobrol katanya kalian mau nonton Reedeming Love."
"Aku pergi dulu, tolong kalau ada kabar dari Rere kasih tahu aku."
Jesi melihat punggung Kelana semakin jauh lalu menghilang di ujung gang. Jesi mengeluarkan ponselnya dan mendial nomor Renjani.
"Nih anak emang hobi kabur apa ya?" Jesi menggerutu kesal karena nomor telepon Renjani tidak bisa dihubungi. Ia berharap Renjani segera ditemukan. Jika Renjani sudah pergi dari rumah itu artinya Kelana membuat kesalahan fatal. Seperti halnya Lasti yang selalu memarahi Renjani hingga membuat anak semata wayangnya itu memutuskan untuk tinggal sendiri di Jakarta.
Setelah kembali ke dalam mobil, Kelana memutuskan untuk menelepon mertuanya. Meski sudah tengah malam tapi Kelana tidak punya pilihan, mungkin saja Renjani pergi ke rumah mama nya di Sumedang.
Cukup lama hingga Lasti menjawab telepon Kelana dengan suara serak, ini tengah malam dimana sebagian besar orang sudah berlayar di dunia mimpi.
"Halo Ma, maaf mengganggu tengah malam."
"Ada apa?"
"Ma, saya dan Renjani sedang ada masalah, Renjani pergi dari apartemen dan saya belum menemukannya, mungkin Renjani pulang ke Sumedang."
"Renjani pergi, tuh anak emang hobi pisan pergi dari rumah, dia nggak ada disini."
"Mama kira-kira tahu nggak Renjani pergi kemana."
"Mama nggak tahu, dia bisa pergi kemanapun, dia aja pernah pergi ke Jakarta dari Sumedang waktu lulus SMA."
"Baik terimakasih Ma, saya akan segera menemukan Renjani."
"Ya, Mama bantu hubungi dia juga."
Kelana memutus sambungan dan mengubungi papa Renjani tapi jawabannya tetap sama. Kelana putus asa, kemana lagi ia akan mencari Renjani.
"Tolong kembali Re." Bisik Kelana di tengah keputusasaan nya.