
Beberapa hari lalu di London, terlihat seorang pria dengan postur tubuh tinggi tegap dengan kulit putih bersih, terlihat sangat berantakan rambutnya karena baru saja mengganti ban mobilnya yang bocor di pinggir jalan.
"Sial! Kenapa tiba-tiba ban mobilku bocor? Apes sekali!" sarkas pria yang tak lain adalah Zack Pieterson ketika mengumpat karena kesal.
Dengan tangannya yang kotor, ia mengambil air mineral dari dalam mobil untuk membersihkan tangan. Baru saja selesai dengan kegiatannya, tanpa sengaja menatap ke arah dua wanita yang terlihat tengah berbicara sambil tertawa.
"Marcella? Apa dia tinggal di sekitar sini? Dia bahkan menutupi tempat tinggalnya dari semua orang agar tidak ada yang tahu. Memangnya apa yang ditutupi? Kenapa tidak ada yang boleh tahu?" lirih Zack ketika melihat sosok wanita incarannya berjalan bersama seorang teman.
Ini adalah weekend dan tadi rencananya ingin pergi ke apartemen sahabatnya karena bosan di rumah, ternyata mendapatkan kemalangan ketika ban mobil tiba-tiba kempes.
Namun, kemalangannya berubah menjadi sebuah berkah baginya ketika ia bertemu dengan rekan sesama dosen sekaligus wanita yang merupakan incarannya dan ingin didapatkan.
Sudut bibirnya terangkat ke atas begitu melihat senyuman manis dari wajah cantik wanita yang menurutnya terlihat memesona ketika tersenyum. "Dia memang sangat cantik dan memesona."
Awalnya ia tadi ingin menghubungi jasa montir, tetapi ponselnya mati karena kehabisan baterai. Ia yang tidak suka memakai jasa supir, selalu mengemudikan mobilnya sendiri ke mana-mana.
Namun, tidak pernah mengalami apes seperti hari ini yang mengharuskannya untuk bersusah-payah mengganti ban mobil sendiri.
Zack Pieterson yang terbiasa mengutak-atik mobil, sehingga tidak sulit baginya jika hanya mengganti ban.
"Awalnya kupikir nasibku sangat sial beberapa saat yang lalu, tapi begitu melihat Marcella, seolah menghilangkan semua kesialanku," ucap Zack yang masih tidak berkedip menatap sosok wanita yang sangat menarik di matanya dan sekaligus mengerutkan kening saat melihat wajah penuh kekhawatiran.
Ia pun mengikuti arah pandang wanita tersebut dan bisa mengerti apa yang akan terjadi. Begitu melihat wanita yang dari tadi diperhatikannya berlari ke tengah jalan, refleks langsung mengambil langkah kaki seribu begitu dari arah berlawanan ada mobil berwarna hitam yang melaju sangat kencang.
"Awas!" teriak Zack yang saat ini mencoba untuk menyelamatkan Marcella ketika berlari ke tengah jalan karena ingin menyelamatkan seorang remaja laki-laki berjalan dengan wajah tatapan kosong.
Bahkan terlihat seperti sengaja melakukan perbuatan bunuh diri dan akhirnya membuat Marcella refleks berlari untuk menyelamatkan tanpa memperdulikan keselamatan diri sendiri.
Seolah berlomba dengan waktu, Zack langsung menariknya Marcella yang juga tengah menarik remaja itu ke tepi.
Bahkan perbuatannya membuatnya meringis menahan sakit pada lengan dan tubuhnya yang terbentur aspal saat terjatuh. Ia sengaja menahan tubuh Marcella agar tidak terhempas ke aspal dan terjatuh di atasnya dan membuatnya seolah tidak bisa bernapas.
"Kamu tidak apa-apa, Marcella?" tanya Zack yang mencoba untuk mencari tahu meskipun badannya terasa sakit semua.
Sementara itu, Marcella yang menyelamatkan remaja laki-laki dan sudah terjatuh di sebelahnya, buru-buru bangkit dari atas tubuh pria yang terlihat sikunya sudah mengeluarkan darah.
"Zack? Kau, kenapa bisa ada di sini?Kau berdarah." Saat masih menatap ke arah siku Zack yang berdarah, ia sekilas melihat pergerakan dari remaja yang hendak pergi tanpa mengatakan apapun tersebut.
"Hei, mau ke mana? Jangan pergi karena aku mau membawamu ke kantor polisi. Kau telah mencoba melakukan aksi bunuh diri dan perlu mendapatkan sebuah hukuman!" sarkas Marcella yang ingin menakut-nakuti sosok remaja tersebut.
Ia berpikir jika ancamannya akan membuat remaja itu tidak mengulangi niatnya untuk bunuh diri dan usahanya berhasil karena melihatnya menyatukan kedua tangan.
"Jangan bawa aku ke kantor polisi, Nona. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Sebenarnya aku ...." Ia terdiam karena bingung harus menjelaskan dari mana.
Ia ingin bunuh diri karena sang ayah satu minggu lalu meninggal saat kecelakaan. Padahal hanya punya ayah dan sekarang tinggal sendirian. Sang ibu pergi dengan pria lain saat ia berusia 10 tahun, sedangkan sekarang berusia 15 tahun.
Marcella kini menepuk pundak remaja tersebut karena yakin jika sedang banyak masalah dan belum berani berbicara. Ia pun kini memberikan kartu namanya yang diambil dari dalam tas jinjing miliknya.
"Hubungi aku jika kamu membutuhkan bantuan. Aku tinggal di apartemen yang tak jauh dari sini. Kau bisa datang jika butuh teman ngobrol, tapi benar-benar harus berjanji jika tidak akan melakukan ini lagi. Sekarang katakan di mana tempat tinggalmu!" Ia tidak ingin remaja itu menipunya, jadi berpikir akan lebih baik mengetahui alamatnya.
Kini, remaja itu mengeluarkan kartu pelajar karena tidak ingin ditangkap polisi. "Aku tinggal di sini. Pasti aku akan menghubungi Anda nanti. Terima kasih karena telah menolongku."
Ia pun membungkuk hormat setelah kartu identitas miliknya dikembalikan. Bahkan juga mengucapkan terima kasih pada pria yang masih duduk di tepi jalan sambil meniup lukanya. Kemudian melambaikan tangan dan berjalan lurus ke depan menuju lokasi tempat kerja part time.
Tentu saja ia menyambung hidup dengan bekerja part time di salah satu restoran cepat saji yang gajinya tidak besar, tapi cukup untuk kebutuhan hidup sehari-hari.
Kemudian Marcella menoleh ke arah Zack. "Kau tidak apa-apa?"
Sementara itu, Zack yang tadinya telentang, hanya tersenyum simpul agar tidak membuat wanita yang terlihat sangat mengkhawatirkannya itu merasa bersalah. Dengan posisi sudah beralih duduk, ia menatap ke arah wanita cantik tersebut.
"Aku tidak apa-apa, tenanglah. Syukurlah kalian berdua tidak tertabrak mobil tadi. Mana pemilik mobil tidak berhenti untuk memohon maaf, lagi! Dasar tidak bertanggungjawab!" sarkas Zack yang saat ini merasa senang karena pertama kalinya ia melihat wanita itu khawatir padanya.
'Manis juga sikap Marcella saat baik padaku. Padahal selama ini selalu dingin dan menghindar dariku ketika diajak ngobrol. Ada untungnya ban mobilku bocor di sini dan bisa menyelesaikannya,' gumam Zack yang kini terdiam saat melihat Marcella fokus pada luka di sikunya yang memang berdarah.
Bahkan ia sampai menahan rasa perih di sikunya saat ini, tapi tidak ingin terlihat lemah di hadapan wanita yang terlihat sangat mengkhawatirkannya tersebut.
Marcella yang awalnya ingin menjawab perkataan dari pria yang hanya mengenakan celana panjang dan kemeja berwarna biru itu, tidak jadi mengeluarkan suara saat mendengar suara dari sahabatnya yang baru saja menghampiri.
"Syukurlah kamu baik-baik saja, Cella. Lain kali jangan nekad seperti itu karena bisa-bisa kamu yang mati jika dia tidak menyelamatkanmu tadi. Dasar ceroboh!" sarkas Lidya Pertiwi sambil menatap ke arah pria yang masih terduduk di pinggir jalan tersebut.
Apalagi jalanan hari ini sangat ramai karena memang weekend. Ia tadinya keluar apartemen bersama sahabatnya untuk jalan-jalan sore dan berniat untuk membeli hamburger di restoran cepat saji yang tak jauh dari apartemen.
"Dia siapa? Temanmu?" tanya Lidya yang tadi mendengar sahabatnya menyebut nama pria itu seperti sudah sangat kenal.
Marcella hanya diam mendengarkan omelan sahabatnya. Ia yang masih fokus pada luka berdarah di siku Zack, merasa semakin bersalah. "Lukamu harus diobati. Sebaiknya ikut aku."
Kemudian beralih menatap ke arah sahabatnya. "Dia rekanku di kampus. Makanya aku mengenalnya."
"Ikut ke mana?" tanya Zack berpura-pura bodoh, tapi tidak sabar ingin tahu tempat tinggal Marcella. Ia berharap bisa semakin lebih dekat dengan wanita itu setelah kecelakaan yang dialaminya.
"Aku tinggal di dekat sini. Biar aku obati lukamu sebagai permohonan terima kasihku karena menyelamatkanku dari maut," sahut Marcella yang kini memberikan kode pada sahabatnya.
Apakah tidak masalah mengajak Zack ke apartemen karena ia berhutang nyawa.
Lydia hanya mengangguk perlahan karena berpikir jika pria itu macam-macam, akan melawan bersama sahabatnya. "Ya sudah, kita pulang saja sekarang."
Zack hanya menganggukkan kepala sambil menunjukkan sisa tangannya yang masih belum bersih sepenuhnya. "Tadi bocor dan baru selesai ganti ban. Kalau begitu masuk saja ke dalam. Aku akan mengantarkan kalian pulang."
Marcella kini menggelengkan kepalanya karena berpikir jika Zack terluka dan tidak boleh mengemudi. "Suruh orang membawanya pulang. Nanti kau pulang naik taksi saja."
Zack kini tidak membantah perkataan dari wanita itu dan meminjam ponsel karena baterainya habis. "Baiklah. Aku hubungi supirku saja biar dibawa pulang."
Pikirannya kini dipenuhi oleh berbagai macam pertanyaan. 'Memangnya dia tidak takut padaku yang mungkin akan berbuat macam-macam padanya? Berani sekali para wanita ini. Apa mereka sudah terbiasa mengajak para lelaki?' gumam Zack yang tersadar dari lamunannya saat mendengar suara berisik dari sosok wanita yang bersama wanita cantik tersebut.
"Aku tadi benar-benar sangat takut terjadi apa-apa padamu. Nekad banget sih, kamu! Bagaimana kalau terjadi apa-apa sama kamu? Bisa-bisa tuan Erland langsung menangis darah," seru Lidya yang tadinya merasa sangat shock melihat keberanian Marcella yang mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan remaja tidak dikenal.
Sementara itu, Marcella yang tidak ingin Lidya menyebut sang kekasih, hanya menanggapinya dengan mencubit lengan wanita tersebut. "Sudah, jangan banyak bicara! Aku tidak apa-apa."
"Aku juga tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil saja bagi para pria." Zack berusaha agar tidak terlihat lemah.
Marcella menggelengkan kepala seolah tidak membenarkan jawaban dari pria yang sudah menyelamatkannya dari kematian. "Aku memiliki hutang budi dan harus membalasnya. Jadi, jangan menolaknya."
"Lebih baik kalian pergi dulu. Aku akan membeli obat dan makanan." Lidya tiba-tiba ingat jika di apartemen obat untuk luka habis.
Tanpa menunggu jawaban dari sahabatnya, ia sudah berlalu pergi dengan melangkahkan kakinya yang jenjang menuju ke arah sebelah kirinya.
Sementara itu, Marcella masih menatap siluet belakang dari wanita yang terlihat sudah semakin menjauh tersebut dan menoleh ke arah sosok pria yang saat ini tengah meniup lukanya.
"Maaf. Ayo, ikut aku!" Marcella sudah berjalan menyusuri jalanan menuju ke apartemen.
Saat ini Zack sudah sibuk dengan pikirannya sendiri saat berjalan di belakang wanita yang baru diketahui namanya tersebut. "Marcella."
"Iya," jawab Marcella yang menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah samping kanan.
"Apa aku boleh pinjam ponselmu?" Ia mengamati reaksi dari Marcella yang tanpa pikir panjang langsung membuka tas.
Marcella yang baru saja mengambil ponsel miliknya, beralih menyerahkannya pada Zack. "Ini!"
Kini, Zack yang menghubungi supir pribadinya untuk mengurus mobilnya agar dibawa pulang.
Beberapa saat kemudian, wanita yang terlihat memencet pascode apartemen dan langsung masuk ke dalam. "Masuklah! Di sini ada CCTV. Jadi, jangan macam-macam karena aku akan melaporkanmu pada polisi nanti."
"Duduklah di situ dulu sambil menunggu temanku kembali." Ia menunjuk ke arah sofa dan langsung masuk untuk mengambil air minum.
Sementara itu, Zack yang tadi hanya tersenyum masam saat mendapatkan ancaman ketika baru masuk, hanya bisa memberikan simbol oke saja. Membela diri hanya akan membuatnya terlihat seperti seorang pria munafik.
Ia saat ini tengah mengamati suasana di sekitar, merasakan rasa nyeri dari sikunya. Tadi ia memang menggulung lengan sampai di atas siku saat memperbaiki mobilnya. Bisa dilihatnya, sikunya yang terluka dengan darah mulai sedikit mengering dan berwarna hitam.
"Lama-lama nyeri juga rasanya."
Marcella yang baru saja keluar dari kamar, sudah menaruh gelas berisi air putih di atas meja dan mendengar keluhan dari Zack. Tentu saja dia tidak bisa tinggal diam setelah mendengarnya.
"Iyalah, tadi kamu terbentur aspal dengan posisi menyangga beban tubuhku. Karena itulah tubuhmu sekarang pasti merasakan nyeri.
Zack dari tadi serius mendengarkan celotehan wanita yang sedang duduk di sebelahnya sambil tersenyum. "Ternyata kau cerewet juga."
Dengan terkekeh geli, Marcella hanya menjawab singkat. "Semua wanita itu cerewet. Kalau laki-laki yang cerewet, itu baru aneh."
"Benar juga." Zack hanya manggut-manggut dengan terakhir mencoba untuk bercanda. "Tenang saja, aku sangat kuat dan luka ini tidak ada apa-apanya."
"Dasar keras kepala! Ya sudah kalau tidak percaya dan sok kuat." Ia yang baru saja menutup mulutnya, melihat sahabatnya sudah masuk ke dalam apartemen. "Cepat sekali."
Zack melihat interaksi dari dua wanita yang sudah sibuk melihat kantong plastik.
"Kebetulan tadi aku mendapatkan tumpangan dari tetangga sebelah. Aku beli tiga Hamburger untuk makan kita bertiga. Ada minuman juga ini," ucap Lidya yang saat ini mengeluarkan obat dari kantong plastik.
Sementara itu, Marcella yang langsung mengucapkan terima kasih, mengambil obat yang ada diberikan sahabatnya. "Biar aku obati tanganmu dulu!"
Marcella kini duduk di sebelah kiri, agar memudahkannya untuk mengobati luka di siku yang berdarah tersebut. Namun, sebelum itu, ia menoleh ke arah Lidya. "Kamu makan dulu saja jika sudah lapar."
Lidya yang memang tadi mengeluh kelaparan, akhirnya memilih menganggukkan kepala dan berjalan masuk ke dalam.
Meskipun sebenarnya ia merasa aneh melihat Marcella yang terlihat sangat biasa pada rekannya saat berstatus sebagai kekasih orang.
'Tumben Marcella sangat biasa dengan pria lain. Mana pria itu tampan, lagi! Mungkin jika Erland mengetahui calon istrinya sedang mengobati luka pria setampan itu, akan terjadi perang dunia kedua di sini,' gumam Lidya sambil mengunyah hamburger.
Namun, ia mendengar suara notifikasi ponsel Marcella dari dalam tas. Tanpa membuang waktu, ia sudah meraih ponsel dan berniat untuk memberikan pada sahabatnya.
Hanya saja, ia bisa melihat pesan di atas dan kini dibacanya. Refleks ia membekap mulutnya begitu mengetahui jika itu pesan dari pria yang tak lain adalah kekasih sahabatnya.
'Astaga! Apa maksudnya tidak berkomunikasi karena alasan pekerjaan? Dengan dalih mengalami masalah si perusahaan, Marcella tidak boleh menghubungi Erland? Apa yang akan dipikirkan Marcella nanti,' gumam Lidya yang kini merasa sangat iba pada sahabatnya.
Lidya kini berjalan dan menatap ke arah ruang depan dan bisa dilihatnya sahabatnya sedang fokus mengobati luka Zack. Tidak hanya itu saja, dilihatnya pria itu menatap ke arah Marcella dengan tidak berkedip.
'Sepertinya rekan kerja Marcella punya perasaan terpendam. Bagaimana jika Marcella nanti tahu pesan dari kekasihnya, ya?' gumam Lidya yang merasa bingung dan kembali ke dalam karena iba pada nasib sahabatnya.
To be continued...