
Marcella menggerakkan tubuhnya dan beberapa kali mengerjapkan mata ketika pertama kali merasakan cahaya lampu menembus kornea matanya. Ia bahkan merasa bingung ketika pertama kali bangun di tempat yang menurutnya sangat asing.
Hingga ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling untuk mencari tahu ada di mana sekarang. 'Ada di mana aku? Kenapa aku berada di ruangan ini? Bukankah ini hotel?'
Saat ia masih mengunci rapat bibirnya karena masih berusaha untuk mengingat apa yang terjadi padanya, seketika ia mengingat ketika terakhir kalinya berada di antara orang-orang ketika dance on the floor.
Bahkan ingatannya berhenti ketika ia melihat Zack yang menghampiri bersama dengan kekasih sahabatnya. Saat ia belum selesai mencari informasi terkait kejadian ada di hotel, menyadari jika tubuhnya kini berada di bawah selimut.
Hingga ia membekap mulutnya begitu mengetahui jika saat ini tidak memakai pelindung tubuh satu lembar pun. Bahkan di saat seperti itu, masih berusaha untuk berpikir positif bahwa tidak ada yang terjadi padanya.
Namun, ia menyadari ketika bergerak hendak turun dari atas ranjang king size tersebut. Tentu saja berniat untuk berpakaian, tapi rasa nyeri luar biasa dirasakan di bagian intinya hingga meringis menahan rasa sakit.
Tentu saja ia bukanlah anak kecil yang tidak tahu apapun ketika tiba-tiba rasa nyeri luar biasa dirasakan pada bagian intinya. Bahwa sesuatu yang selama ini ia jaga kini telah dihancurkan oleh seseorang.
"Tidak!" teriak Marcella yang kini seketika menoleh ke arah sumber suara.
Dilihatnya sosok pria yang saat ini memakai jubah handuk berwarna putih berjalan ke arahnya dengan rambut basah yang menetes di pelipis dan turun ke pipi.
"Kamu sudah bangun rupanya," ucap Zack yang baru saja dari kamar mandi.
Setelah tadi ia berhasil menyalurkan hasratnya pada sosok wanita yang kini terlihat menyembunyikan tubuh polosnya di bawah selimut, langsung membersihkan diri di kamar mandi.
"Berengsek! Apa yang kau lakukan? Ini tidak seperti yang kupikirkan, bukan? Kau bukan bajingan yang telah memperkosaku, kan?" Marcella sebenarnya ingin sekali menarik rambutnya sendiri untuk merutuki kebodohannya sendiri.
Ia benar-benar tidak bisa menerima kenyataan yang dialami saat ini, sehingga masih berharap jika yang saat ini dirasakan tidak benar. Meskipun sadar jika itu hanyalah harapan semu.
Hingga ia mengepalkan tangan sambil memegangi selimut tebal berwarna putih yang melindungi tubuhnya tersebut kala pria di hadapannya menatap dengan penuh seringai dan berbicara menusuk jantungnya.
"Ternyata kamu belum pernah melakukannya dengan kekasihmu. Aku sama sekali tidak menyangka jika kalian menjalin hubungan tanpa bercinta satu kali pun." Zack yang tadi kesulitan menyatukan diri karena memang wanita di hadapannya tersebut ternyata ibarat barang ORI.
Hingga ia kembali mengatakan apa yang membuatnya spesial. "Punyamu masih sangat sempit dan benar-benar menggigit. Aku benar-benar jadi pria beruntung hari ini."
"Bangsat!" Refleks Marcella meraih bantal di sebelahnya dan melemparkannya pada pria yang telah menghancurkan masa depannya.
Ia bahkan sekarang merasa tidak berharga lagi karena telah kehilangan kehormatan yang selama ini dijaga. Bahkan rasanya sekarang ingin bunuh diri karena menganggap nasibnya selalu buruk dalam hal kehormatan.
'Kenapa semua ini bisa terjadi padaku? Apa yang harus kulakukan sekarang? Apa lebih baik aku mati saja agar hidupku jadi lebih tenang?' gumam Marcella yang seketika mengingat akan Erland.
'Aku sekarang sudah tidak pantas untuk Erland. Dia pasti tidak akan pernah bisa mau menerima wanita yang tidak bisa menjaga kehormatan dirinya. Dia tidak akan pernah mau menerima barang bekas dan ternoda sepertiku.' Marcella yang sangat marah memikirkan semua itu, seketika membulatkan mata begitu melihat Zack naik ke atas ranjang dan mendekatinya.
To be continued...