
"Akhirnya ketemu juga sama istrinya selebriti." Jesi berteriak heboh memeluk Renjani yang baru turun dari motornya. Setelah lama tidak bertemu akhirnya mereka bisa meluangkan waktu disela kesibukan Jesi bekerja di rumah sakit dan Renjani yang masih memiliki segudang kegiatan meski telah menjadi istri seorang Kelana. Jesi membayangkan Renjani hanya akan berada di rumah, shopping di mall dan pergi ke salon tapi ternyata ia salah. Renjani hanya pindah tempat tinggal sedangkan kehidupannya tidak banyak berubah.
"Nggak usah lebay, dasar lu." Renjani mengusap wajah Jesi dengan kasar.
"Gue nggak percaya bisa lihat muka lu di TV."
"Udah-udah jangan bahas itu mulu ah." Renjani menarik Jesi, menyeberang dari tempat parkir menuju area Monolog—salah satu kafe yang berada di Plaza Senayan.
Setelah kursus menyetir selama 2 jam, Renjani ingin mengisi perutnya dengan Grilled Chicken Tartine sambil membicarakan banyak hal dengan Jesi karena energinya benar-benar terkuras habis. Walaupun hanya duduk di mobil tapi Renjani cukup dibuat tegang.
"Eh semalem kenapa lu tiba-tiba matiin teleponnya? ngaku lu mau ngapain sama Kelana."
"Gue langsung tidur kok." Memangnya apa yang Jesi pikirkan, apakah ia lupa jika pernikahan Renjani tidak seperti pernikahan pada umumnya.
Jesi menyipitkan matanya menatap Renjani curiga.
"Ck serius gue." Renjani melangkah ke meja dekat jendela. Itu adalah posisi yang Renjani suka karena ia bisa melihat keluar jendela saat bosan dengan pemandangan di dalam kafe.
Renjani memesan Grilled Chicken Tartine yang sudah sangat ia rindukan sedangkan Jesi memilih Crispy Chicken Drumstik dengan salad sayur, softdrink dan Berry Parfait sebagai makanan penutup.
"Jangan bilang lu masih perawan." Jesi membulatkan matanya sambil menunjuk Renjani.
Renjani mengangguk yang langsung membuat Jesi memekik heboh hingga mengalihkan perhatian orang-orang di sekitar mereka. Jesi langsung membekap mulutnya sendiri dan mendekatkan wajah pada Renjani.
"Terus kalian ngapain aja setelah menikah? sedangkan lu tidur sekamar sama Kelana."
"Ya tidur, kayak gue kalau tidur sama lu, nggak ada apa-apa lagi selain tidur jadi please jangan mikir macem-macem."
"Ya wajar lah gue mikir macem-macem karena kalian dua orang dewasa yang udah nikah dan tidur sekamar, nggak mungkin nggak terjadi apa-apa."
"Kenyataannya emang nggak terjadi apa-apa."
Jesi mendelik, "apa jangan-jangan rumor yang beredar selama ini benar kalau Kelana gay."
"Enggak lah, dia cowok normal." Renjani bisa memastikan kalau Kelana itu seratus persen normal tapi ia tak mau menceritakan perihal Elara pada Jesi.
"Gue nggak percaya sebelum dia unboxing elu."
"Eh lu kira gue paket apa pakai diunboxing segala."
Jesi hendak mengatakan sesuatu tapi seorang waiter datang membawa pesanan mereka. Jika sudah melihat makanan maka Jesi lupa segalanya begitupun dengan Renjani, perutnya sudah keroncongan sejak tadi. Ia ingin langsung tidur setelah sampai di apartemen nanti.
"Terimakasih." Ucap mereka pada waiter tersebut.
Untuk sesaat mereka sama-sama terdiam, menikmati suapan pertama olahan ayam yang selalu miliki cita rasa lezat.
"Gue minta salad lu." Renjani menyendok salad dengan ranch dressing milik Jesi. "Rasanya mirip kalau Yana bikin."
"Yana tinggal sama kalian juga kan?"
"Iya, dia luar biasa banget, masih muda tapi bisa segalanya, pengetahuannya juga luas."
"Asisten Kelana masih bukan orang biasa, istrinya aja yang biasa."
"Wah parah lu!" Semprot Renjani walaupun apa yang Jesi bicarakan itu benar, ia tak memiliki keistimewaan apapun.
"Gimana jadi istri Kelana?" Jesi masih belum puas menginterogasi Renjani.
"Biasa aja sih." Renjani jadi teringat pada komentar-komentar fans Kelana di media sosial yang ia baca semalam. "Lebih banyak nggak enak nya."
"Kenapa?" Jesi mengerutkan kening tak mengerti.
"Jadi semalem aku baca komentar fans Kelana, mereka bilang aku nggak pantas jadi istri Kelana, mereka lebih nge-ship Kelana sama Emma, lu tahu Emma kan?"
"Penyanyi yang ininya gede ya?" Jesi menunjuk dadanya.
Renjani mendelik, "kenapa dadanya yang lu inget?"
"Semua orang juga kalau pertama kali lihat Emma pasti salah fokus ke dadanya, udah ya nggak usah peduli sama komentar-komentar itu, ya walaupun mereka nggak sepenuhnya salah sih."
Jesi tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Renjani, "lu suka ya sama Kelana?"
"Eng ... nggak." Renjani melirik ke kiri dan kanan menghindari pandangan Jesi, mulutnya jelas berkata tidak tapi lain lagi dengan hatinya. Lalu mengapa tadi pagi ia merasa sakit saat Kelana menceritakan tentang Elara.
"Udah lu nggak usah baca komentar mereka lagi," Jesi membuka kamera depan pada ponsel dan mengarahkannya pada Renjani, "lu cantik bahkan tanpa make-up."
Akhirnya Renjani tersenyum, ia sudah kehilangan percaya dirinya sejak menghadiri konser Kelana. Ia seperti butiran debu di antara penyanyi-penyanyi yang juga hadir malam itu.
"Mau mereka komentar apapun juga, lu tetap istrinya Kelana dan dalam hal ini lu akan selalu menang."
"Tumben bijak lu."
"Ya elah dari dulu gue bijak, udah cocok belum jadi asistennya Mario Teguh?"
"Asistennya Mario Bros sih."
Mereka tertawa membicarakan hal-hal yang tidak terlalu penting tapi Renjani amat merindukan saat-saat seperti ini. Renjani belum bisa beradaptasi dengan kehidupannya yang baru di apartemen. Tak ada tetangga yang bisa diajaknya bergosip. Penghuni di apartemen itu benar-benar tertutup.
"Kok lu naik motor sih?"
"Kan dari tadi emang naik motor dan gue selalu naik motor kenapa baru heran sekarang?"
"Iya gue baru sadar, harusnya lu dianter supir atau naik taksi."
"Biar nggak macet aja, ini weekend dan jalanan udah pasti penuh, naik motor adalah pilihan terbaik."
"Eh, gue ikut ya." Tiba-tiba Jesi berpikir lebih baik jika ia mampir sebentar di apartemen Kelana.
"Ikut kemana?" Renjani menghentikan gerakannya yang hendak memasang helm mendengar perkataan Jesi.
"Ke apartemen Kelana, lewat doang." Rayunya.
"Duh kapan-kapan aja deh gue ajak ke apartemen." Renjani mengibaskan tangan, ia bisa mengajak Jesi ke apartemen itu tapi tidak sekarang karena ia tak memberitahu Kelana sebelumnya.
"Enggak gue cuma pengen tahu depannya dong, boleh ya." Jesi memegang lengan Renjani dengan pandangan memohon, ia penasaran pada lingkungan tempat tinggal Renjani sekarang.
"Ya udah deh terserah lu." Renjani naik ke motornya setelah memasang helm.
Jesi berjingkat girang karena diperbolehkan ikut ke apartemen. Ia mengikuti Renjani dari belakang karena mereka sama-sama membawa motor. Berkendara di tengah terik matahari sudah menjadi makanan sehari-hari. Walaupun mereka harus memicing setiap kali cahaya matahari menerpa wajah.
Renjani melihat Jesi di belakangnya melalui spion, ia masih tak mengerti mengapa Jesi tiba-tiba ingin ikut dengannya. Renjani tersenyum ketika Jesi menyadari bahwa dari tadi ia melihatnya dari spion.
"Kangen gue kan lu makanya nggak mau pisah." Gumam Renjani. Di tengah kegalauan Renjani memikirkan komentar fans Kelana, akhirnya ia bisa terhibur setelah bertemu Jesi. Setidaknya ia masih memiliki satu orang yang akan selalu mendukungnya.
"Jangan-jangan Rere berpikir kalau gue nggak mau jauh dari dia, dasar si PD." Jesi ikut bergumam seolah mendengar apa yang Renjani katakan.
Renjani memilih jalan alternatif yang tidak terlalu padat karena meskipun menggunakan motor, ia masih bisa terjebak macet. Renjani tak mau panas-panasan lebih lama. Tiba-tiba Renjani menyesal karena menolak saran Kelana agar diantar Pak Dayat.
Jesi spontan mengerem ketika motor Renjani disambar oleh motor lain dari arah kiri di perempatan jalan hingga membuat tubuh sahabatnya itu terpelanting ke bahu jalan. Tabrakan tak bisa terhindarkan, semuanya terjadi secara tiba-tiba.
"Rere!" Jesi turun dari motornya berlari ke arah Renjani yang tergeletak di bahu jalan. Jesi melepas helm Renjani untuk melihat keadaannya.
Orang-orang mengerumuni Renjani dan mengamankan pengendara laki-laki yang telah menabrak Renjani. Anehnya laki-laki itu bisa berdiri sendiri, ia juga tak kalah terkejut karena kejadian itu.
"Re, lu sadar kan?" Jesi menekan siku Renjani yang berdarah. Berurusan dengan darah adalah pekerjaan Jesi setiap hari sehingga ia sama sekali tidak merasa jijik melihat darah segar menyembur dari lengan Renjani.
Renjani sama sekali tidak merespon, salah satu dari orang yang mengerumuni Renjani segera menelepon ambulan agar Renjani lekas dibawa ke rumah sakit.
Sekujur tubuh Jesi gemetar, pandangannya berkabut oleh air mata, ia takut terjadi sesuatu yang buruk pada Renjani.
Renjani berusaha membuka mata mendengar riuh orang-orang di sekitarnya, sekilas ia melihat wajah Jesi lalu pandangannya kabur. Semakin Renjani berusaha membuka mata, rasanya kelopak matanya terasa makin berat lalu semuanya menjadi gelap. Keriuhan di sekitarnya juga menghilang, digantikan kesunyian yang tidak ia sukai.
"Mama!" Renjani memanggil mama nya yang berada di pinggir kolam renang. Suaranya timbul tenggelam seiring tubuhnya yang semakin dalam dipeluk air. Tiba-tiba saat itu ia benci air, ia benci kolam.
Renjani menarik napas tapi bukannya udara, justru air yang masuk ke hidung dan mulutnya melewati tenggorokan yang terasa menyakitkan. Ia tak bisa bernapas.
Hari itu Renjani berpikir ia akan mati tapi setelah membuka mata, ia mendapati dirinya berada di pinggir kolam dan orang-orang yang mengerumuninya. Mereka mendesah lega setelah melihat Renjani sadarkan diri.