
"Bagaimana rasanya menjadi istri seorang Kelana Radiaksa."
"Saya pernah menjawab pertanyaan ini sebelumnya."
"Pasti jawabannya sekarang berbeda setelah apa yang kalian lalui sebelumnya."
"Itu terlalu sulit dideskripsikan dalam satu kalimat pendek, luar biasa karena dunia Kelana begitu berbeda, penuh gemerlap dan sangat ramai, ada perasaan bangga karena saya bisa menyaksikan perjuangan Kelana di balik kamera dan menemaninya saat dia terpuruk atau putus asa."
"Serta bahagia yang tak terhingga apalagi setelah Renjana hadir di tengah-tengah kami, Kelana benar-benar telah menjadi suami dan Papa yang baik untuk kami."
Senyum Kelana bermekaran melihat video wawancara Renjani yang dilakukan tanpa dirinya. Renjani terlihat sedikit gugup karena itu pertama kalinya ia melakukan wawancara seorang diri tanpa Kelana.
"Saya tidak bisa mengatakan bahwa menjadi istri Kelana adalah suatu yang mudah karena kita semua tahu kalau penggemar Kelana ada di segala penjuru dan saya juga tidak bisa membuat mereka semua menyukai saya, saya akui ini sulit tapi saya akan selalu berusaha melakukan yang terbaik."
Entah sudah berapa kali Kelana memutar video tersebut. Setiap kali melihatnya Kelana merasa Renjani sangat mencintainya.
"Apa rencana kalian 10 tahun ke depan?"
Kelana hafal setiap kalimat yang Renjani katakan pada wawancara itu karena ia sudah melihatnya berulang kali. Seringkali Renjani menegur Kelana akan selalu melihat video lama tersebut. Anehnya Kelana tidak bisa. Jika suatu hari Renjani berubah maka Kelana akan memperlihatkan video tersebut meskipun sampai sekarang Renjani sana sekali tidak berubah.
Jika Kelana diberi pertanyaan tersebut maka ia akan mencatat rencana-rencananya hingga 10 tahun ke depan berbeda dengan Renjani yang melakukannya secara spontan. Renjani tak memusingkan soal masa depan, ia membiarkan kehidupannya seperti air mengalir. Sedangkan Kelana lebih suka mengatur semuanya sesuai koridor yang telah ia tentukan.
Meski kadang alam selalu memberi Kelana kejutan termasuk pernikahannya dengan Renjani. Kelana harus berterimakasih pada alam, pada sang penentu takdir sebab jika tak bertemu Renjani hari itu mungkin sekarang Kelana tak akan tahu seperti apa rasanya menjadi seorang papa. Mengganti popok Renjana, menghangatkan stok ASI di dalam kulkas saat Renjani ke kantor, memandikan dan memakaikannya baju.
Kelana dapat menyaksikan tumbuh kembang Renjana mulai dari merangkak, berjalan hingga berlari kesana kemari. Itu semua terasa luar biasa menyenangkan.
"Kami akan senantiasa bersama, menyaksikan Renjana tumbuh dan Kelana tetap menghasilkan banyak karya untuk masyarakat sedangkan saya akan terus menerbitkan buku berkualitas untuk semua orang, mungkin kami juga akan punya satu atau dua anak lagi, tidak ada yang tahu."
"Papa, lihat video itu lagi?" Renjani muncul dari belakang Kelana, ia geleng-geleng karena Kelana masih hobi melihat video wawancara tersebut.
Kelana mendongak menatap Renjani, "mari wujudkan rencana mu."
"Rencana apa?" Tanya Renjani.
"Rencana memberikan adik untuk Nana."
Renjani mengembangkan senyum tidak ikhlas, kalimat itu juga hampir setiap hari dikatakan Kelana. Dalam bayangan Renjani, ia akan memiliki satu anak lagi setelah Nana berusia dua tahun tapi kenyataannya sampai sekarang mereka belum bisa mewujudkan hal tersebut karena kesibukan masing-masing.
"Kamu sendiri yang bilang gitu." Tuntut Kelana lagi.
Renjani mengembuskan napas keras, "aku mau anak laki-laki." Jawab Renjani akhirnya.
"Aku lebih suka perempuan." Kelana mengekori Renjani menuju ruangan sebelah dimana ia menyimpan barang pemberian para penggemar disana. Hari ini mereka berencana menyusun ulang mereka dan membuang bunga-bunga yang sudah layu.
"Kita sudah punya perempuan."
"Kalau gitu dua perempuan dan satu laki-laki."
Renjani tertawa, "emangnya bisa direncanakan gitu?"
"Bisa kok." Kelana yakin jika mereka bisa saja merencanakan jenis kelamin anak-anak mereka dengan berkonsultasi pada dokter. "Walaupun hasilnya nggak bisa seratus persen sesuai harapan tapi kita harus berusaha dulu."
"Laki-laki dulu." Renjani tidak mau kalah.
"Kalau begitu kita harus berusaha untuk membuat adik laki-laki buat Renjana."
Renjani tertawa, kalimat itu terdengar aneh tapi lucu.
"Selesaikan ini, waktu kita nggak banyak." Renjani memperingatkan, mereka hanya bisa membereskan barang-barang tersebut sampai Nana pulang dari sekolah.
Kelana menurunkan kotak-kotak yang sebagian besar berisi jam tangan, mug, gantungan kunci dan dasi dari para penggemarnya. Sementara Renjani memasukkan bunga yang sudah layu ke kantong sampah setelah mengambil surat di dalamnya. Renjani memasukkan surat penggemar ke dalam kotak khusus agar Kelana mudah mencarinya. Biasanya Kelana akan membaca beberapa surat saat senggang atau saat tak bersemangat. Surat-surat itu mampu memberikan suntikan semangat baru untuk Kelana selain pelukan Renjani tentunya.
"Kenapa mereka kasih kamu ini, kamu udah kaya." Renjani heran melihat emas batangan berjumlah belasan yang Kelana simpan di dalam laci. Kadang Renjani berpikir untuk menjual emas tersebut tapi sayangnya itu bukan miliknya.
"Aku juga sudah memberitahu mereka untuk nggak ngasih aku barang mahal tapi mereka tetap kasih."
"Kenapa nggak dijual aja?" Renjani mengambil satu batang emas paling kecil.
Kelana tertawa, "aku masih mampu nafkahin kamu."
"Sekolah Nana mahal lho."
"Aku juga masih sangat mampu bayar yang itu."
Renjani mendengus, usahanya untuk mengambil satu batang emas milik Kelana ternyata gagal. Kelana memang sangat menjaga barang-barang dari para penggemar tidak peduli pada harga mereka. Semuanya berharga untuk Kelana.
Denting bel menghentikan aktivitas mereka, Kelana bergegas pergi ke ruang tamu untuk membuka pintu.
"Papa!" Suara pekikan Nana terdengar begitu Kelana membuka pintu.
Kelana terkejut melihat Nana di depan pintu, ia mengecek jam tangan, harusnya Nana pulang satu jam lagi dan biasanya Kelana atau Renjani yang menjemputnya.
"Nana sama siapa?"
"Sama Om." Nana menunjuk ke arah seorang lelaki yang berdiri tak jauh darinya.
Kelana melihat ke arah yang Nana tunjukkan, tampak Fatan sedang memasang senyum padanya.
"Saya tidak sengaja melihat Nana di depan sekolahnya waktu saya pergi ke tempat percetakan." Fatan menjelaskan seolah mengerti arti tatapan Kelana.
Kelana mengangguk samar dan mengucapkan terimakasih karena Fatan sudah mengantar Nana kesini.
Kelana pikir Fatan akan menyerah mendekati Yana setelah ia mengatakan harus menunggu hingga Yana menyelesaikan kuliah. Namun ternyata Fatan mampu bertahan sampai sekarang. Kabar baiknya Minggu depan Yana dijadwalkan wisuda.
"Ayo masuk." Ajak Kelana.
"Tidak usah Kak."
Akhirnya Fatan mengekori Kelana masuk ke apartemen. Fatan duduk di sofa ruang tamu dengan canggung.
"Renjana kenapa pulang cepet?" Tanya Kelana pada Nana.
Renjana hanya mengedikkan bahu karena tidak tahu jawaban dari pertanyaan papa nya.
"Bersih-bersih badan sama Ibu dan ganti baju ya."
"Lho anak Mama udah pulang?" Renjani melompat dari atas kursi menghampiri Nana di depan pintu.
"Nggak ada pemberitahuan dari gurunya kalau pulang lebih awal tapi untungnya Nana ketemu Fatan." Jelas Kelana.
Renjani menggendong Nana menciumi wajahnya penuh kasih sayang. Bocah empat tahun itu anteng di gendongan sang ibu menuju kamar mandi.
"Aduh, kaki kamu udah panjang sayang." Renjani menurunkan Nana.
"Tapi aku suka digendong Ibu."
"Ibu bantuin buka bajunya atau Renjana buka sendiri?"
"Buka sendiri."
"Baiklah."
Sementara itu Kelana menghampiri Fatan di ruang tamu. Wajah Fatan tampak tegang seperti tengah berhadapan dengan polisi. Wajar Fatan begitu, di matanya Kelana adalah seorang mertua galak yang sudah didekati. Padahal di televisi Kelana terlihat sangat ramah dan bersahabat. Anggaplah Kelana mertua karena Yana tidak memiliki siapapun kecuali Kelana.
"Minggu depan Yana wisuda, kamu boleh menyiapkan diri untuk melamarnya."
Fatan tersentak dengan kalimat Kelana, matanya membulat tak percaya. Itu adalah kalimat yang sudah Fatan tunggu sejak empat tahun. Fatan menunggu dengan sabar karena ia yakin untuk mendapatkan sesuatu yang luar biasa tidak akan dicapai dengan mudah. Ia mengumpulkan uang dari gajinya sebagai karyawan Asmara Publishing hingga sekarang dirinya menduduki posisi penting disana.
"Itu kalau kamu masih suka Yana."
"Masih Kak—eh maksud saya, saya tetap akan menyukai Yana sampai nanti."
"Untungnya Yana juga begitu."
Fatan tersenyum lebar bahkan matanya berkaca-kaca tak percaya jika langkahnya untuk bersama Yana semakin dekat.
Fatan mengucapkan terimakasih pada Kelana karena telah menerimanya sebagai pasangan Yana.
"Harusnya kamu berterimakasih pada Yana, dia di apartemen sebelah."
"Saya boleh kesana?"
"Tentu saja."
Fatan pamit undur diri dari sana, ia tidak pergi ke apartemen Yana karena harus segera kembali ke kantor walaupun Kelana mengizinkannya.
Nanti malam kamu mau nggak ketemu ibuku di rumah ku?
Fatan mengirim pesan tersebut pada Yana, ia sudah sering menceritakan tentang Yana pada ibunya. Nanti malam Fatan akan membawa Yana pergi menemui ibunya.
******
Renjani dan Kelana melanjutkan aktivitas menyusun barang pada rak. Kini mereka menyusun piala penghargaan yang Kelana dapat selama berkarir di dunia hiburan. Ada puluhan piala dengan berbagai macam bentuk. Terakhir Kelana mendapatkan penghargaan Song of the Year berkat lagu berjudul Renjani yang sama sekali tidak ia perkirakan akan masuk nominasi.
"Piala Papa banyak sekali." Nana kagum melihat piala-piala yang disusun oleh ibunya pada rak.
Renjani melihat deretan piala penghargaan Kelana, ia tersenyum kecut karena di antara mereka piala milik Renjani hanya satu buah. Tahun lalu Renjani mendapat Penghargaan Sastra Badan Bahasa untuk novel yang ia tulis sendiri berjudul Adorasi. Renjani tidak menyangka jika ia punya bakat menulis juga setelah berkutat dengan ratusan novel dalam pekerjaannya.
"Kamu juga akan punya banyak piala." Sahut Kelana.
"Pa, Bu, aku nggak mau les piano atau renang lagi."
"Lho kenapa?" Kelana dan Renjani bertanya bersamaan seraya menoleh pada sang buah hati yang tengah duduk di sofa dekat jendela sambil menikmati yogurt bar buatan Renjani. Seperti ibunya, Nana juga suka makan.
"Aku mau les balet aja."
"Les balet?"
Nana mengangguk, "aku juga lebih suka dipanggil Faralyn dari pada Nana."
"Kenapa, Nana kan imut." Kelana menghampiri Nana dan mencubit dagunya gemas.
"Nana seperti anak kecil Pa."
"Kan kamu memang masih kecil." Timpal Renjani.
"Aku udah besar."
"Baiklah kalau begitu mulai sekarang Papa dan Ibu akan panggil kamu Fara."
Kelana dan Renjani saling berpandangan sambil tersenyum penuh arti, mereka mulai kelabakan dengan tumbuh kembang Renjana yang begitu pesat. Sekarang Renjana—maksudnya Faralyn sudah bisa menentukan apa yang ia suka dan inginkan. Tak semua keinginan bisa Kelana dan Renjani wujudkan tapi mereka selalu berusaha mengarahkan sang buah hati pada hal-hal positif.
"Papa akan daftarkan kamu ke sekolah balet paling bagus se-Jakarta."
Faralyn sumringah mendengar perkataan papa nya, ia menyukai balet sejak lama tapi baru sekarang berani mengatakan keinginannya tersebut pada papa dan ibunya.