Married by Accident

Married by Accident
Semoga membawa kabar baik



Beberapa hari kemudian ....


Erland dan Floe terlihat fitting gaun pengantin di butik. Jika Kirana dan Felix sudah melakukannya, sedangkan pasangan suami istri yang menikah hanya dengan ijab kabul saja itu belum. Jadi, persiapan untuk acara resepsi pernikahan benar-benar sangat singkat.


Bahkan Erland harus meluangkan waktu untuk fitting baju pengantin di sela-sela pekerjaan setelah tidak ada pertemuan dengan rekan bisnis.


Terlihat Floe yang baru saja mencoba gaun pengantin berwarna biru muda yang menjuntai ke belakang dengan bahan brokat Perancis terbaik. Ia memang sengaja mengatakan pada ibu mertuanya selaku pemilik butik agar gaunnya sederhana saja.


Itu karena ia tengah berbadan dua dan tidak ingin merasa terlalu lelah jika memakai gaun berat jika full Payet. Nasib baik ibu mertuanya sudah mengetahui hal itu dan kini benar-benar puas dengan gaun yang dipakainya, yang tentu saja bukan jenis mengembang seperti princess impiannya dulu.


"Bagaimana? Apa kamu merasa nyaman dengan gaunnya?" tanya wanita paruh baya dengan rambut disanggul ke atas tersebut ketika mengamati penampilan menantunya.


"Iya, Ma. Ini sangat cocok untukku, juga tidak terlalu ketat dan muat karena perutku mulai sedikit menonjol." Floe berbicara sambil mengusap perutnya. Ia tersenyum kala mengingat semua kejadian ketika pertama kali melihat Erland yang dipikir akan menikah dengan wanita lain.


'Rasanya kenangan memalukan itu tidak akan pernah bisa dilupakan. Baik untukku maupun semua orang di sini. Mama memang wanita yang sangat baik karena sama sekali tidak membenci atau pun marah padaku ketika dulu menampar putrinya. Meskipun sebuah kesalahpahaman, tetap saja aku telah menampar putrinya,' gumam Floe yang kini seketika menoleh ke arah pintu begitu mendengar suara bariton Erland dari luar.


"Mah, lihat penampilanku! Tolong cepat keluar!" teriak Erland yang kini sudah memakai setelan jas berwarna biru.


Memang ia sudah merasa pas dengan pakaiannya, tapi ingin mendengar pendapat dari sang ibu juga sebelum kembali berganti pakaian dan ke kantor untuk melanjutkan pekerjaannya.


Sementara itu, Floe seketika bersitatap dengan mertuanya. "Mama keluar saja. Aku ingin ganti pakaian karena sudah pas dan cocok gaun untuk resepsi."


"Issh ... jangan ganti dulu. Ayo sekalian ikut keluar biar Erland melihatnya," ucap wanita yang kini langsung menggandeng pergelangan tangan kiri Floe.


Hingga ia disadarkan dengan takdir kalau jodoh sudah ditentukan oleh Tuhan dan tidak ada yang pernah menyangka jika putranya malah tiba-tiba menghamili anak gadis orang.


"Mah, Erland tidak perlu melihatku. Pas acara resepsi nanti juga akan melihat." Floe benar-benar tidak nyaman karena berpikir jika nanti Erland akan mengira ia tengah mencari perhatian.


Refleks wanita paruh baya tersebut menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju dengan pemikiran Floe. "Erland adalah tipe pria yang sulit dipahami. Mungkin saja dia melihat ada hal yang tidak disukainya dari gaun ini. Daripada Mama dikomplain pas hari H, lebih baik cari aman."


Kemudian kembali berjalan bersama menantunya dan kini membuka pintu ruang ganti. Di mana di sana ia melihat putranya berdiri di hadapannya.


Berbeda dengan Floe yang merasa aneh melihat Erland yang menatapnya mulai dari ujung kaki hingga kepala. 'Apa sih yang ada di pikirannya? Kenapa terlihat sangat aneh seperti itu melihatku?'


"Bagaimana, Sayang? Istriku terlihat cantik, kan memakai gaun pengantin?" tanya sang ibu sambil mengamati penampilan putranya.


Sementara itu, Erland yang dari tadi mengamati penampilan Floe yang memakai gaun pengantin, tadinya ingin mengungkapkan sesuatu yang ada di pikirannya. Namun, ia tidak jadi membuka suara begitu mendengar dering ponsel miliknya berbunyi.


"Sebentar, Ma. Sepertinya ini penting," ucapnya yang kini melihat jika asisten pribadinya menelpon dari London.


Refleks ia langsung pergi menjauh karena tidak ingin pembicaraannya didengar oleh dua wanita berbeda usia tersebut.


'Semoga dia membawa kabar baik tentang Marcella,' gumamnya yang kini langsung menggeser tombol hijau ke atas dan mendengar suara bariton dari seberang telepon.


To be continued...