Married by Accident

Married by Accident
Ketahuan



Sosok wanita paruh baya yang saat ini tengah berjalan menuju ke arah terminal kedatangan sambil membawa koper berukuran kecil miliknya, mengikuti orang-orang yang juga tadi berada di satu pesawat dengannya. Wanita yang tak lain adalah Lira Andira yang berusia 55 tahun itu terlihat mengenakan setelan panjang berwarna hitam dan fokus melangkahkan kaki jenjangnya.


Ia sambil melihat ponsel miliknya untuk menelpon putranya. "Apa putraku sudah ada di depan?"


Setelah memencet tombol panggil, menunggu hingga mendapatkan jawaban dari seberang telepon. Hingga ia pun mendengar suara bariton dari putranya.


"Iya, Ma. Aku baru saja tiba di bandara dan saat ini sedang memarkirkan mobil," ucap Dhewa ya saat ini baru saja beranjak keluar dari mobilnya dan melihat Floe juga melakukan hal yang sama.


Ia memberikan kode pada Floe agar berjalan terlebih dahulu dan ia mengikuti dari belakang sambil berbicara dengan sang ibu.


"Mama sekarang menuju ke terminal kedatangan. Tunggu Mama di sana," ucap Lira Andira yang kini baru saja turun dari lift. "Oh ya, kamu mengajak wanita itu, kan? Mama benar-benar penasaran seperti apa wanita yang membuatmu menolak Camelia yang sangat cantik dan menjadi idaman para pria."


Dhewa yang saat ini berjalan mengekor Floe, sangat malas untuk menanggapi kekesalan sang ibu, jadi sengaja menjawab singkat. "Iya, Ma. Sebentar lagi Mama juga melihatnya. Tunggu di sana, Ma."


Kemudian langsung mematikan sambungan telepon dan berjalan cepat mengikuti langkah kaki Floe yang berada di depan dan memanggil untuk menghentikannya karena ingin berbicara sejenak.


"Ayu Ningrum!" seru Dhewa yang selalu berhati-hati agar tidak memanggil nama asli wanita yang kini menoleh ke belakang dan menghentikan langkahnya.


Floe yang masih mengerucutkan bibir karena kesal pada sosok pria yang kini berhasil menghampirinya, tentu saja ia dari tadi berusaha untuk menghilangkannya agar tidak terlihat di depan wanita yang ingin melihatnya.


"Apa?"


"Galak amat! Apa kamu akan seperti ini menghadapi mamaku?" tanya Dhewa yang sudah menduga seperti apa respon Floe.


Ia tidak ingin ada kesan buruk sekecil apapun yang ditampakkan oleh Floe karena ingin menampilkan kelebihan wanita yang berhasil menggetarkan hatinya hanya dengan sekali bertemu. Saat tidak mendapatkan tanggapan apapun dari Floe, merasa yakin jika wanita itu mengerti kesalahannya dan tidak akan mempermalukannya di depan sang ibu.


"Aku tadi lupa mengatakan sesuatu yang disukai mama. Jadi, kamu bisa memanfaatkan itu saat berbicara dengan mamaku nanti. Mama suka sekali dengan hal-hal yang berhubungan dengan Jawa. Bukankah kamu adalah keturunan Jawa? Jadi, kamu bisa membahas hal-hal yang berhubungan dengan budaya Jawa. Ya, sebisamu dan yang kamu ketahui saja."


Saat Dhewa baru saja menutup mulut, ia sebenarnya merasa kasihan pada Floe yang seperti tertekan karena perintahnya. Namun, ia juga sedang berusaha untuk membuat sang ibu mau menerima keputusannya untuk tidak menjodohkannya dengan Camelia.


Sementara itu, Floe yang saat ini memijat pelipis karena merasa pusing ketika sesuatu hal yang tidak pernah dipelajarinya harus dibahas dengan wanita yang bahkan dianggap seperti akan memangsanya hidup-hidup.


Bahkan ia juga menggaruk tengkuknya ketika mengingat-ingat sesuatu hal yang pernah diceritakan oleh sang ibu yang berasal dari keturunan Jawa. "Dulu aku sama sekali tidak tertarik dengan adat Jawa karena seingatku benar-benar memusingkan."


"Tapi malah kamu menyuruhku untuk membahas sesuatu yang tidak kusukai dan bertentangan dengan logikaku." Floe sangat mengingat satu hal yang dikatakan oleh sang ibu ketika membahas mengenai hitungan Jawa dari pasangan kekasih yang memilih untuk menikah dan harus cocok hitungannya.


Jika tidak cocok, besar kemungkinan tidak akan pernah bisa menikah karena dianggap akan banyak menghadapi ujian ataupun hal-hal buruk jika sampai tetap menerjangnya.


"Ya, sebenarnya itu hanya saranku saja dan jika kamu tidak menyukainya, cari topik yang lain saja. Sekarang kita ke sana karena mamaku sepertinya sudah berada di depan." Dhewa refleks meraih pergelangan tangan Floe. "Maaf karena aku harus melakukan ini demi membuat mamaku percaya jika kita memiliki hubungan."


"Tidak mungkin kan aku membiarkanmu berjalan seperti layaknya orang lain dan bukan merupakan pasanganku? Biasanya pasangan kekasih selalu bergandengan seperti ini, kan?"


Floe tadinya merasa sangat terkejut dengan perbuatan pria yang tiba-tiba menggenggam erat tangannya, tapi begitu mendengar penjelasannya, tidak berkutik dan hanya bisa melihat tangannya yang saat ini masih berada dalam kuasa Dhewa.


Bahkan ia saat ini hanya bisa diam ketika berjalan sambil menatap tangannya yang digenggam erat. Hal itu mengingatkannya pada sosok pria yang tak lain adalah Erland karena kenangan di pantai dulu membuatnya sampai sekarang masih belum bisa melupakannya.


Meskipun kebencian terpatri jelas di hatinya, masih ada sedikit rasa di dasar terdalam jika ada beberapa hal yang membuatnya mengingat momen-momen romantis ketika berada di pantai.


'Inilah yang membuatku tidak ingin dekat dengan lawan jenis karena hanya akan mengingat pria tidak berperasaan itu,' gumam Floe yang saat ini masih berjalan di sebelah kiri Dhewa.


Saat ia mengikuti arah pandang pria itu yang melambaikan tangan, bisa melihat sosok wanita paruh baya dengan setelan gelap yang berjalan ke arahnya.


Namun, saat ia fokus menatap wanita yang tak lain adalah mama pria di sebelahnya, mengerjakan mata begitu melihat pemandangan di belakangnya.


'Tidak! Kenapa aku harus bertemu dengan mereka di sini? Tidak, ini tidak boleh terjadi,' gumam Floe yang menarik tangan Dhewa agar melihat ke arahnya karena ingin menyampaikan sesuatu hal yang sangat urgent.


Namun, usahanya tidak berhasil karena Dhewa saat ini fokus pada sang ibu yang sudah berjalan mendekat. 'Bagaimana ini? Aku tidak mau jika jati diriku terungkap di sini. Bisa-bisa daddy marah ini.'


Lamunan Floe seketika buyar begitu mendengar suara wanita yang kini memanggil nama putranya.


"Kenapa lama sekali, Dhewa? Mama sudah berdiri di sini dari tadi. Kaki Mama sampai mau patah ini rasanya," seru Lira Andira yang saat ini menampilkan wajah masam pada putranya karena benar-benar kesal harus menunggu.


"Maaf, Ma. Tadi aku ke toilet sebentar karena tidak tahan," sahut Dhewa yang saat ini langsung mencium punggung tangan sang ibu dan juga memeluknya dengan erat. "Selamat datang di Jakarta, Ma."


Dhewa lalu melepaskan pelukannya dan beralih menatap ke arah Floe karena tidak ingin membuat suasana canggung. "Ma, kenalin. Ini pacarku." Kemudian menoleh ke arah Floe. "Sayang, ini Mamaku. Sapa calon mertuamu agar direstui dan kita bisa segera menikah."


Floe yang saat ini debaran jantungnya makin kencang, beberapa kali menelan saliva dengan kasar karena dipenuhi oleh kekhawatiran. Namun, ia berusaha untuk bersikap senang mungkin dan berpikir positif dengan berakting tersenyum simpul.


Bahkan ia melakukan hal yang sama seperti Dhewa tadi dengan mencium punggung tangan wanita yang dianggapnya memiliki wajah sadis itu. Jujur saja ia sebenarnya merasa mual dengan kalimat terakhir yang tadi diungkapkan oleh Dhewa saat membahas tentang menikah saat statusnya adalah masih istri orang.


Apalagi hanya sedang bersandiwara dan tidak menyangka jika akan membahas mengenai masalah pernikahan dan membuatnya risi, meskipun itu hanyalah sebuah sandiwara semata.


"Selamat malam, Tante. Saya Ayu Ningrum," lirih Floe dengan ragu-ragu karena jujur saja ini baru pertama kali ia berhadapan dengan orang lain saat sedang menyamar.


Jika selama ini selalu percaya diri karena menyandang nama Madison di belakang namanya, sekarang seperti seorang wanita yang berada di kasta paling rendah di hadapan wanita paruh baya yang merupakan keturunan darah biru tersebut.


'Jadi seperti ini rasanya menjadi para wanita biasa yang tidak percaya diri saat berhubungan dengan pria yang memiliki derajat lebih tinggi dari nilai harta dan juga keturunan. Rasanya benar-benar menyedihkan karena bagaikan butiran debu yang tidak terlihat,' gumam Floe yang saat ini curi-curi pandang ke arah depan untuk mencari tahu apakah orang-orang yang tadi dilihatnya tidak menyadari keberadaannya.


Namun, semua tidak seperti yang diharapkannya karena kini ia melihat seseorang yang ditakutkan malah melambaikan tangan ke arahnya dan tersenyum.


'Mati aku. Gimana ini? Apa yang harus kulakukan?' gumam Floe yang saat ini serasa ingin kabur dari sana agar tidak ketahuan.


To be continued...


Sementara itu, Floe