
Suasana di dalam ruangan kamar terbaik di salah satu rumah sakit, kini terlihat sosok wanita yang tengah berjalan bolak-balik dengan perlahan sambil mendorong yang infus. Sosok wanita yang tak lain adalah Floe merasa bosan karena seharian tiduran di atas ranjang perawatan.
Tadi sang ayah pagi-pagi sudah pulang karena akan bekerja, sedangkan sang ibu masih stay di rumah sakit untuk menunggunya. Hanya saja tadi ia ingin makan sesuatu dan meminta sang ibu membelikannya di kantin.
Ia seolah terbiasa makan makanan yang segar karena semenjak hamil suka salad buah. Bahkan sarapan dari rumah sakit tidak ia makan karena ingin menikmati salad buah seperti hari-hari ia lakukan semenjak hamil.
Jadi, begitu sang ibu keluar dari ruangan untuk pergi ke kantin, ia bergerak turun dari ranjang karena mengetahui jika melakukannya akan dimarahi.
Floe saat ini berjalan sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang dipenuhi dengan berbagai macam furniture seperti kulkas, AC, televisi, laci, dua ranjang dan beberapa tempat untuk menaruh barang.
Ia merasa suasana penuh keheningan di dalam ruangan membuatnya melow dan mengusap perutnya yang saat ini sudah tidak menonjol seperti ketika hamil. "Aku harus membiasakan diri dan sudah berjanji untuk membuka lembaran baru dimulai hari ini."
Saat ia terdiam karena saat ini mengingat seseorang yang membuatnya merasa seperti seorang wanita tidak berharga, menghembuskan napas kasar begitu ingin membuang pikirannya yang tengah mengingat Erland.
Floe terlihat menggelengkan kepala beberapa kali untuk menghilangkan bayangan pria itu dan memilih untuk kembali ke atas ranjang. Ia saat ini meraih ponsel miliknya yang ada di atas laci dan mencoba untuk mengalihkan ingatannya dengan scroll sosial media miliknya.
Ia tadinya ingin update Story, tapi saat mengambil foto dirinya yang terlihat pucat, sehingga tidak jadi melakukannya. Namun, ingin meluapkan perasaannya yang saat ini dipenuhi oleh rasa sesak karena ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk bisa segera move on dari pria yang diam-diam dicintai.
"Sial! Jadi, seperti ini rasanya cinta bertepuk sebelah tangan yang sering disebutkan oleh orang-orang? Rasanya sangat sakit karena harus merelakan orang yang dicintai bahagia dengan pilihannya," ucap Floe yang saat ini memilih untuk mencari sebuah video agar bisa diberikan caption ketika update Story.
"Aku tidak mungkin post wajahku yang seperti hantu ini." Saat ia menemukan video ketika dulu liburan bersama orang tuanya, ia memilih saat berada di dalam pesawat dan merekam indahnya awan.
"Awan dan langit yang terlihat saling berdekatan, tapi nyatanya tidak akan pernah bisa berdampingan. Seperti aku dan dia yang sudah berbeda arah dan tujuan." Kemudian ia mulai mengetik caption sebelum post.
Hingga beberapa saat kemudian ia sudah update Story dan tentu saja tidak berapa lama, ada banyak komentar yang tersemat untuk menanggapi.
Ia memang memiliki cukup banyak follower meskipun bukan merupakan selebgram ataupun artis. Bahkan akunnya juga sudah centang biru dan mempunyai banyak penggemar yang menyukai postingannya karena selalu ada kata-kata mutiara yang ia tuliskan.
Floe saat ini tengah fokus membaca komentar dan sesekali ia tersenyum karena banyak yang mengirimkan energi positif padanya meski hanya lewat tulisan.
Hingga ia yang tadinya fokus menatap layar ponsel miliknya, mendengar suara ketukan pintu dan mengangkat pandangan yang beberapa saat kemudian melihat seseorang berjalan masuk.
"Hai."
Sosok pria yang tak lain adalah Harry saat ini berjalan masuk ke dalam ruangan sambil membawa paper bag. Ia bisa melihat tatapan Floe yang sangat terkejut melihatnya seperti tidak menyangka akan kedatangannya pagi-pagi sekali.
"Harry? Kamu kenapa ke sini? Memangnya nggak kuliah apa?" Floe yang tadinya duduk asal-asalan, membenarkan posisinya.
Apalagi saat ini terlihat penampilannya sangat berantakan karena rambutnya yang terurai sangat kusut dan belum disisir.
'Issh ... bikin malu saja. Seperti apa penampilanku saat ini? Aku selalu terlihat sempurna saat kuliah, tapi sekarang terlihat seperti gelandangan dan dilihat oleh Harry.' Lamunannya seketika buyar begitu mendengar suara bariton dari teman kampusnya yang terlihat santai meletakkan paper bag yang entah isinya apa ke atas laci.
Sementara itu, Harry yang saat ini mengarahkan tangannya pada kening Floe untuk memastikan wanita yang masih terlihat pucat tersebut sudah lebih baik.
"Astaga! Apa yang kamu lakukan?" Floe bahkan refleks bergerak mundur karena merasa terkejut dengan perbuatan pria yang berhasil menyentuh keningnya.
Harry yang tidak mempedulikan ada protes itu, kemudian meletakkan telapak tangannya ke dahinya untuk membandingkan. "Aku ingin tahu apakah kamu mengalami demam seperti sepupuku."
"Syukurlah, sepertinya kamu sudah baikan. Bagaimana perasaanmu?" Harry yang saat ini masih berdiri di hadapan Floe, mengarahkan jari telunjuknya ke arah paper bag yang berada di atas laci.
"Ada makanan dari sepupuku untukmu karena ia ikut berduka cita atas apa yang kamu alami. Sepertinya dia ingin mendukung wanita yang mengalami nasib sama sepertinya." Harry yang tadinya ingin berangkat kuliah, ditelepon sepupunya untuk mengambil makanan yang sengaja dibuat untuk wanita yang baru saja keguguran.
Ia melirik sekilas ke arah jam tangan di pergelangan tangan kirinya untuk memastikan masih Ada waktu berbincang dengan wanita yang baru saja kehilangan janinnya tersebut.
"Ini masih terlalu pagi untuk berangkat ke kampus, makanya aku mampir dulu untuk memberikan kiriman dari sepupuku." Harry seketika mengambil paper bag yang diminta oleh Floe karena seperti penasaran dengan apa yang dibawanya.
Wajah Floe seketika berubah berbinar karena mengetahui jika ada orang tidak dikenalnya bisa sebaik itu. Ia yang suka dibawakan sesuatu, kini bergerak untuk membukanya.
"Bagaimana sepupumu bisa tahu jika aku keguguran? Kamu bercerita padanya?" tanya Floe yang saat ini langsung menelan saliva karena melihat makanan yang merupakan kesukaannya.
"Wah ... sepertinya ini enak." Ia langsung bergerak mengarahkan sendok pada bubur ayam dengan topping lengkap tersebut dan tanpa segan ataupun malu pada Harry, sudah menyiapkan ke dalam mulutnya. "Emm ... ini enak. Sangat enak malah."
Harry hanya terkekeh melihat wajah polos Floe yang mulai menikmati bubur yang dibawanya. "Syukurlah kalau kamu suka. Tidak sia-sia sepupuku memasak. Dia semalam datang ke rumah dan melihatku baru pulang. Makanya aku ditanya dan akhirnya menceritakan semuanya."
"Begitulah ceritanya," ucap Harry yang saat ini masih fokus menatap wanita yang terlihat tidak seperti wanita lain ketika jaim berada di hadapan pria.
Apalagi ia melihat jika sang kekasih selalu berhati-hati dan tidak saya ceroboh seperti Floe saat makan, sehingga membuatnya hanya tertawa.
"Jadi, seperti ini aslinya wanita saat makan? Tidak seperti yang dilakukan para way ketika sangat anggun dan mengunyah dengan sangat pelan hingga para pria menunggu sampai bosan hanya makan satu piring saja." Saat ia baru saja menutup mulut, melihat mulut Floe di sebelah kanan yang ada sisa bubur.
Refleks ia mengambil tisu di atas laci dan langsung mengusapnya. "Pelan-pelan, tidak perlu buru-buru karena aku tidak akan memintanya."
"Issh ... jangan seperti itu! Kau bisa membuat anak orang baper jika semua wanita kamu giniin." Floe menatap tajam Harry yang terlihat sangat datar seolah tidak mempedulikan nada protesnya. Bahkan ia merebut tisu dari tangan teman sekampusnya itu agar tidak melanjutkan aksinya.
Harry yang sama sekali tidak berniat seperti yang dituduhkan, sehingga sama sekali tidak tersinggung. Hanya saja ia malah terbahak karena berpikir jika Floe tengah baper padanya.
"Kamu baper?"
Refleks Floe langsung mengarahkan pukulan pada lengan kekar di balik ke meja berwarna hitam itu. "Issh ... jangan sembarangan. Aku hanya menyadarkanmu, bukan baper. Memangnya kamu siapa, bisa membuat seorang Floella Khaisyla baper."
Ia mengerjapkan bibirnya karena kesal dan kembali menikmati bubur ayam yang dirasanya jauh lebih enak dari tempat langganannya. "Aku ingin mengucapkan terima kasih secara langsung pada sepupumu. Berikan aku nomor teleponnya."
Kemudian ia kembali melanjutkan aksinya untuk memenuhi perutnya yang kelaparan karena memang dari semalam tidak nafsu makan, tapi seketika berubah dengan kedatangan Harry yang membawa makanan kesukaannya.
"Ya, kukirim nomornya nanti. Oh iya, aku tidak sembarangan dekat dengan lawan jenis. Hanya Zeze dan kamu saja. Jadi, tidak akan ada yang baper kecuali kalian. Jika sampai kamu baper, aku minta maaf karena tidak bisa bertanggung jawab. Cepatlah sembuh." Ia tersenyum simpul dan sebelum berjalan ke arah pintu keluar, kembali menggoda.
"Aku mau berangkat kuliah dulu, Sayang." Harry yang tadinya berniat untuk menghibur wanita yang baru saja kehilangan janin dan juga suami karena memilih kembali dengan kekasih lamanya, tidak jadi keluar ruangan begitu melihat respon Floe.
Floe yang tadinya lahap menikmati bubur, seketika tersedak ketika mendengar kalimat terakhir dari pria yang sudah menolongnya tersebut. Ia merasa tenggorokannya sangat panas dan kini berniat untuk meraih botol minum, tapi melihat jika Harry seketika mengambil dan membuka penutup, lalu memberikan padanya.
"Cepat minum!" Harry yang saat ini merasa bersalah karena menjadi penyebab Floe tersedak saat lahap menikmati makanannya. "Maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu seperti ini."
Floe yang baru saja selesai minum, kini memberikan kembali botol tersebut akan ditutup oleh Harry. Bahkan karena saking kesalnya, ia kembali meninju lengan kekar pria yang malah membuatnya tersedak.
"Awas saja jika berani memanggilku seperti itu lagi. Rasanya terdengar sangat geli," seru Floe yang saat ini menunjukkan bulu kuduknya yang meremang karena merasa aneh mendengar Harry memanggilnya sayang untuk pertama kali.
Padahal ia sudah berteman baik dengan pria yang menjadi penyebab ia tidak jadi meninggalkan dunia. "Sekali lagi awas, kamu!"
"Iya ... iya, tidak lagi. Tadi kan hanya bercanda." Harry yang terlihat bergerak menaruh botol air mineral kembali ke tempatnya, kini berbicara dengan raut wajah serius karena sebenarnya ingin sekali menghibur Floe.
"Cepatlah sembuh agar bisa masuk kuliah lagi. Akan ada pelangi setelah mendung dan turun hujan. Apa yang kamu alami bukanlah sebuah akhir dari perjalanan hidupmu. Masih ada banyak hal yang belum kamu lakukan di dunia ini." Ia tidak mempermasalahkan jika nanti masuk kuliah terlambat karena ingin sedikit menghibur.
"Jadi, semua cobaan yang kamu jalani, jangan sampai membuatmu putus asa karena ada banyak orang-orang yang menyayangimu, Floe. Jika membutuhkan apa-apa, jangan sungkan bilang padaku, oke!" Ia pun melihat raut wajah yang tadinya kesal tersebut seperti berubah perlahan jadi cerah.
"Terima kasih." Floe yang dari awal memang sudah melow, seketika terharu mendengar ketulusan dari pria yang bahkan baru mengenalnya.
Ia bersyukur ada banyak orang yang peduli padanya saat tidak diinginkan oleh dia yang disukai. Menahan perasaanmu buncah yang dirasakan agar tidak membuatnya berkaca-kaca di depan Harry, sehingga saat ini memilih untuk mengalihkan topik.
"Aku ingin menjadi mahasiswi yang cerdas seperti kekasihmu itu. Apa kau bisa membantuku? Tapi aku tidak ingin ada kesalahpahaman jika sampai didengar oleh Zeze. Aku hanya ingin fokus pada kuliah dan menjadi penerus perusahaan keluarga, tidak bermaksud untuk mengganggu hubungan kalian."
Floe sebenarnya serba bingung karena ia melupakan rencananya untuk menjadikan dosennya sebagai pengajar privat. Itu karena ia berpikir akan jauh lebih nyaman jika belajar dengan dibantu oleh kawan sendiri.
Berbeda jika dengan dosen akan membuatnya banyak segan dan mungkin tidak berani banyak bertanya. Jadi, saat ini ingin tahu seperti apa respon Harry.
"Tidak masalah. Aku bisa datang ke rumahmu jika kamu membutuhkan bantuanku. Lagipula orang tuamu sudah berbicara padaku untuk sering mampir ke rumah. Kita bahas lagi nanti karena aku sekarang harus berangkat." Harry menunjukkan jam tangan yang sudah hampir menyita waktu dan bisa membuatnya terlambat tiba di kampus.
"Kamu naik apa tadi?" teriak Floe yang melihat pria itu hendak membuka pintu.
Ia merasa bersalah karena mengajak bicara Harry hingga hampir terlambat.
"Aku naik motor, jadi bisa lewat jalan pintas agar tidak terjebak macet. Nanti pulang kuliah aku akan mampir." Harry melambaikan tangan pada wanita yang berada di atas ranjang sambil memangku kotak makan berisi bubur ayam.
Sementara itu, Floe membalas dengan melambaikan tangan sambil tersenyum. "Hati-hati di jalan." Ia tahu perkataannya barusan sudah tidak bisa didengar pria yang sudah menghilang di balik pintu.
Kini, perasaannya jauh lebih baik begitu bertemu dengan Harry yang dianggap bisa menjadi teman baiknya dan mengerti bagaimana dan apa yang dirasakannya saat ini.
"Bahkan dia bisa melihat apa yang ada di hatiku saat aku berakting baik-baik saja. Ternyata datar seperti hari memiliki sisi hangat. Pantas saja wanita itu seperti sangat tergila-gila padanya." Floe kembali menatap ke arah bubur yang sudah tersisa separuh tersebut.
"Kapan aku diizinkan pulang? Aku ingin segera menjalani hari seperti biasanya karena bosan hanya berada di ruangan ini dengan tiduran. Aku ingin pergi kuliah agar bisa menyibukkan diri. Dengan begitu, aku tidak akan pernah mengingatnya lagi. Apa dia sebentar lagi akan menikah?" Floe mengingat jika resepsi pernikahan akan dilangsungkan dua minggu lagi.
"Gaun resepsi yang kucoba saat itu, apakah akan dikenakan wanita bernama Marcella itu? Bahkan nama mempelai wanita di daftar undangan juga akan diganti. Berbahagialah, Floe." Ia meremas kedua sisi seragam rumah sakit yang dikenakan dan berusaha untuk tidak lemah.
"Dia saja mampu tidak mencari kabarmu dan mengabaikan perasaanmu. Lantas, kenapa kamu tidak menggunakan logika untuk melawan hatimu?" lirih Floe yang saat ini beberapa kali menepuk dadanya yang terasa sesak.
Ia berusaha sekuat tenaga agar tidak dipenuhi oleh kesedihan saat memikirkan pria yang bahkan tidak dua kali berpikir untuk mengurungkan niat mengunjungi Marcella.
"Aku kuat ... harus kuat. Semuanya akan baik-baik saja," lirih Floe yang saat ini memejamkan mata dan juga mendongakkan kepala agar tidak meloloskan bulir kesedihan yang dirasakan saat ini.
To be continued...