Married by Accident

Married by Accident
LIV



"Aku sudah memikirkannya." Kelana tiba-tiba bersuara di tengah-tengah sarapan bersama Renjani.


"Memikirkan apa?" Renjani masih fokus pada nasi duduk di piringnya, ia mencampur semua lauk dengan nasi dan melahapnya semangat. Renjani rela bangun pagi demi membeli nasi uduk langganannya yang cukup jauh dari apartemen.


"Mengulang kenangan."


Renjani melongo untuk beberapa saat bahkan ia berhenti mengunyah agar otaknya bisa mencerna kalimat Kelana dengan baik. Maklum, ia lumayan lemot apalagi saat masih pagi seperti ini.


"Kamu bilang kita akan mengulang kenangan ku bersama Mama."


"Ah!" Renjani hampir saja lupa dengan janjinya itu karena Kelana butuh waktu hampir seminggu untuk memikirkan kenangannya bersama Karalyn. Wajar jika Renjani lupa. Tidak, ia memang pelupa. "Jadi kita mau ngapain?"


"Ayo pergi ke taman bunga." Kelana ingat dulu ia dan mama nya pernah pergi ke taman bunga di Bandung. Mungkin sekarang taman itu sudah tidak ada tapi tak apa, Kelana bisa pergi ke taman lain. "Di Bandung."


"Baiklah, setelah ini kita packing." Renjani langsung menyetujui ajakan Kelana karena ia yakin kenangan Kelana dan mama nya yang sedikit itu amat berharga.


"Kamu kenapa nggak pernah pergi ke kantor?" Sejak Kelana libur, Renjani juga tidak pernah pergi ke kantor padahal ia bisa melakukan semuanya sendiri jadi Renjani tak perlu selalu berada di apartemen.


"Hm?" Alis Renjani terangkat, ia memang meliburkan karyawannya karena tak ada pemasukan di kantor. Beberapa hari ini Renjani menyunting sendiri naskah novel yang masuk. Asmara Publishing mungkin tak akan berkembang bahkan setelah Renjani melakukan promosi di media sosial. Renjani sudah memberi penawaran pada beberapa penulis tapi tak ada yang menerimanya. Tentu mereka lebih memilih perusahaan penerbit yang sudah terkenal.


"Aku kerja dari rumah." Jawab Renjani terbata.


"Ada masalah di kantor?" Kelana melihat kebohongan di wajah Renjani tapi ia tak mau mengatakannya. Kelana akan mencaritahu sendiri, walau bagaimanapun ia yang telah memberikan kepercayaan pada Renjani untuk memulai usaha tersebut. Kelana harus mendampingi Renjani hingga Asmara Publishing bisa berdiri tegak.


"Nggak ada kok." Renjani beranjak setelah menghabiskan nasi uduk hingga tak tersisa satu butir pun di piringnya. Renjani tidak mau menambah beban pikiran Kelana dengan masalahnya.


Kelana menyusul Renjani meletakkan piring di wastafel. Walaupun baru beberapa bulan mengenal Renjani tapi Kelana sudah cukup mengetahui kapan Renjani jujur dan bohong. Mereka sudah hidup bersama, Kelana tahu Renjani sedang berbohong sekarang.


"Kamu bisa cerita sama aku kalau ada apa-apa, kamu punya aku sekarang." Kelana memutar badan Renjani hingga menghadap dirinya.


Renjani memaksakan senyum, rupanya kemampuannya untuk berbohong sudah menurun karena Kelana langsung mengetahuinya.


"Beneran nggak ada apa-apa." Renjani berusaha meyakinkan Kelana.


"Baiklah kalau begitu." Kelana menepuk lengan Renjani, "tolong cerita kalau ada sesuatu."


"Pasti." Renjani melanjutkan cuci piring bekas makan mereka.


Bel apartemen terdengar berdenting beberapa kali. Renjani menghentikan gerakannya mencuci piring.


"Biar aku yang buka." Kelana melangkah ke depan untuk memeriksa siapa yang datang ke apartemen. Kelana hampir tidak pernah memiliki tamu karena tak banyak yang mengetahui alamatnya. Kalaupun ada tamu, pasti itu hanya Adam atau papa nya. Namun Kelana yakin setelah kejadian waktu itu, Wira tak akan berani datang. Kelana benar-benar memutuskan hubungan dengan Wira bahkan ia memblokir kontak Wira di ponselnya.


Kening Kelana berkerut melihat wajah Emma di layar monitor samping pintu. Untuk apa Emma datang kesini? Kelana sedang tidak ingin bertemu siapapun, ia juga sudah mengatakan hal tersebut pada Adam untuk tidak membiarkan siapapun datang ke apartemennya. Kelana tahu mungkin banyak rekan yang ingin menjenguknya tapi ia sedang butuh waktu sendiri untuk menyembuhkan lukanya.


Selama seminggu ini Kelana hanya bicara dengan Renjani, Yana sesekali datang untuk melihat keadaan Kelana. Perawat dari rumah sakit datang dua hari sekali untuk memeriksa dan mengantar obat Kelana.


"Siapa yang datang?" Renjani mengusap tangannya yang basah ke piyama setelah mencuci piring. Itu adalah kebiasaan buruk yang sulit dihilangkan meski Kelana sering menegur Renjani untuk tidak mengusap tangannya yang kotor atau basah ke pakaian.


"Emma, dia nggak bilang mau datang." Wajah Kelana muram, ia sedang memikirkan cara untuk mengusir Emma dari sini.


"Nggak apa-apa lah bukain, dia mau jenguk kamu."


Kelana mendengus, ia juga tahu jika Emma datang untuk menjenguknya.


Renjani membuka pintu setelah memasang senyum lebar bersiap menyambut teman-teman Kelana.


"Hai!" Emma tidak datang sendiri, ia bersama manajernya dan Jazylin, Cantika serta Mia. Tangan mereka penuh dengan barang bawaan.


Renjani mempersilakan mereka masuk dan duduk di ruang tamu sementara Kelana sudah lebih dulu duduk di sofa.


"Kelana, maaf kami nggak ngasih tahu dulu kalau mau datang." Emma duduk di hadapan Kelana disusul manajernya, Jazylin, Cantika dan Mia.


"Harusnya kami datang lebih awal." Timpal Cantika.


Tidak datang juga tak masalah.


"Gimana keadaan tangan kamu?" Mia melihat lengan Kelana yang harus menggunakan arm sling.


"Belum bisa digerakkan." Kelana hanya bisa menggerakkan jari-jarinya. "Maaf Jazylin, syutingnya jadi gagal karena kejadian ini." Ia melihat Jazylin yang duduk di ujung sofa.


"Jangan minta maaf." Jazylin mengibaskan tangan, tak seharusnya Kelana minta maaf karena kecelakaan yang menimpanya.


"Padahal Renjani baru saja sembuh dan sekarang kamu juga mengalami kecelakaan." Mia menatap Kelana prihatin apalagi kejadian itu membuat anggota tubuh Kelana yang berharga tidak berfungsi untuk sementara, Kelana tak akan bisa bermain violin dalam waktu yang cukup lama.


Kelana melirik Emma saat Mia menyinggung soal kecelakaan Renjani. Kelana menahan diri untuk tidak memberitahu siapapun termasuk Renjani. Kelana tak mau Renjani ketakutan jika ia menceritakan hal tersebut.


"Oh iya Kelana, aku bawain kamu kue." Emma berusaha mengalihkan pembicaraan, ia meletakkan sebuah kotak di atas meja.


Mia, Cantika dan Jazylin ikut memberikan bawaan mereka. Renjani sigap memindahkannya agar tidak memenuhi meja.


"Silakan." Renjani kembali dengan membawa minuman untuk semua orang. "Kalau gitu saya potong kue nya biar bisa dimakan sama-sama."


Kelana hendak menahan Renjani tapi wanita itu sudah menghilang dari ruang tamu. Renjani sangat gesit seperti bayi yang baru belajar berjalan.


Aroma jeruk menyeruak ketika Renjani membuka kotak kue yang Emma bawa. Terdapat kue bolu berwarna kuning dengan taburan kelapa parut di atasnya. Renjani memotongnya menjadi beberapa bagian lalu memindahkannya ke piring.


"Wah kelihatan enak." Mia menyambut kue yang Renjani letakkan di atas meja.


"Biar Kelana makan dulu." Emma menyikut Mia, ia telah memesan kue itu dari kemarin hanya untuk Kelana tapi Renjani justru memberikannya pada semua orang.


"Nggak apa-apa makan aja, aku lagi diet gula." Tukas Kelana, ia malas memakan kue pemberian Emma. Kelana menarik Renjani agar duduk lebih dekat dengannya.


"Kamu diet gula?" Renjani melihat Kelana dengan tatapan polos, ia tak tahu jika Kelana diet gula. Bukankah semalam mereka menghabiskan sekotak kue lapis surabaya.


"Iya sayang, kamu lupa?" Kelana mengembangkan senyum lebar yang dibuat-buat, ia meremass punggung Renjani untuk memberi kode.


Renjani melongo lalu mengangguk mengiyakan. Pipi Renjani terasa panas karena itu pertama kalinya Kelana memanggilnya sayang.


"Berita soal kamu dan Pak Wira lagi rame di internet." Ujar Cantika.


"Aku tahu." Walaupun tidak membaca berita apapun di internet tapi Kelana tahu jika akan ada banyak artikel tentang dirinya dan Wira. Kelana akan membiarkan masyarakat berasumsi mengenai hubungannya dan Wira. Kelana tak peduli.


"Berita itu benar?"


"Sebagian besar benar, hubunganku dan Papa memang sudah memburuk sejak Papa menikah lagi." Kelana terus terang.


"Ah aku pikir itu cuma rumor karena kamu nggak pernah membahas soal keluargamu." Emma yang berada satu manajemen dengan Kelana bahkan tidak tahu hal itu.


"Kamu emang nggak tahu apa-apa, bahkan waktu Kelana nikah aja kamu nggak tahu kalau sebelumnya Kelana emang udah pacaran sama Renjani." Mia mencomot satu potong kue dan melahapnya. Dari penampilannya, Mia tahu kalau itu adalah kue mahal.


"Iya malah kami sempet curiga sama Renjani, walaupun udah terlambat tapi aku mau minta maaf soal kejadian di toilet." Cantika mengulurkan tangan pada Renjani.


Renjani membalas uluran tangan Cantika dengan ragu, itu sudah lama bahkan Renjani sudah melupakannya.


"Saya sudah melupakannya." Renjani menarik tangannya kembali.


Emma menahan dongkol dalam hatinya, kenapa juga Cantika harus minta maaf. Emma masih yakin jika pernikahan itu terjadi karena keterpaksaan walaupun sekarang Kelana sering mengumbar kemesraan.


******


Perjalanan Kelana dan Renjani sedikit terlambat karena kedatangan teman-teman artis Kelana. Mereka pergi bersama Dayat karena Kelana tidak bisa menyetir. Awalnya Renjani menawarkan diri untuk mengemudi tapi Kelana tak mau perjalanan mereka terhambat karena Renjani belum terlalu mahir mengemudi.


"Kamu berhutang penjelasan sama aku." Kelana memecah keheningan antara dirinya dan Renjani.


"Soal apa?" Renjani pura-pura tidak mengerti maksud Kelana, ia tak mau memperpanjang masalah tersebut.


"Soal ucapan Cantika tadi, ada masalah apa di toilet?"


"Itu udah lama, bahkan aku udah lupa sama kejadiannya." Dusta Renjani.


Kelana sedikit memutar badan menghadap Renjani sepenuhnya. Kelana tidak suka setiap kali Renjani berbohong kepadanya.


"Kamu masih anggap aku orang lain?"


"Maksud kamu?"


"Kenapa kamu nggak terbuka sama aku?"


Renjani gelagapan, ia selalu ketahuan setiap kali berbohong. Ia memang tidak punya bakat menjadi aktris.


"Memangnya kamu udah terbuka sama aku?"


"Aku berusaha menceritakan semua hal yang aku alami, aku udah jujur soal masa lalu ku termasuk Elara."


Renjani menelan salivanya dengan susah payah, seperti ada yang mengganjal di tenggorokannya. Kebohongan selalu membuatnya merasa tidak nyaman.


"Re, tolong jawab dengan jujur, mari saling terbuka tanpa menyembunyikan apapun."


"Apa aku boleh bergantung sama kamu?"


Kelana mengangguk, "aku akan berdiri kokoh supaya kamu bisa melakukan itu, bergantung lah pada ku Asmara Renjani, sejak mengucapkan janji suci di depan penghulu aku sudah sanggup untuk menanggung seluruh hidupmu."


Mata Renjani berkaca-kaca mendengar kalimat Kelana, ia sudah terbiasa hidup mandiri sejak memutuskan pergi dari Sumedang menuju Jakarta.


Akhirnya Renjani menceritakan kejadian beberapa bulan yang lalu saat mereka baru menikah. Renjani menceritakannya sedetail mungkin tanpa terlewat.


"Tapi wajar mereka berpikir begitu, jadi aku nggak mungkin marah." Renjani mengakhiri ceritanya dengan senyuman karena semua itu sudah berlalu.


"Maaf sudah membuatmu melalui semua ini." Kelana menarik Renjani ke dalam pelukannya. "Jangan simpan semuanya sendiri, kamu sendiri yang bilang kalau kita saling memiliki."


******


Gerimis menyambut Kelana dan Renjani di Bandung. Udara lembap dan dingin memeluk tubuh saat keduanya keluar dari mobil. Mereka sampai di penginapan untuk bermalam. Besok mereka baru pergi ke taman bunga dan beberapa tempat yang sudah Kelana catat di ponselnya. Kelana sudah menyiapkan liburan mereka dengan baik termasuk tempat dan makanan yang harus mereka coba selama berada di Bandung. Itu adalah makanan yang pernah Kelana makan bersama mama nya dulu.


"Aku pernah tinggal di Bandung selama satu tahun." Kelana meletakkan kopernya dan Renjani di dekat lemari pakaian.


"Ah itu makanya kita bisa ketemu di waterpark dulu." Renjani bahkan tidak berpikir sampai situ saat Kelana memberitahu bahwa dirinyalah yang menolong Renjani.


"Kenangan ku dan Mama berhenti di usia 7 tahun tapi kenangan ku dan kamu dimulai saat itu."


"Dunia ini memang penuh keseimbangan, walaupun terlalu menyakitkan tapi kita adalah manusia luar biasa yang biasa melalui masa-masa sulit."


"Renjani, ingat satu hal bahwa kamu punya segalanya untuk pantas bersanding denganku, kamu cantik dan tulus, itu udah cukup buat aku jadi jangan terlalu peduli sama perkataan orang lain."


Renjani buruh waktu untuk menyesuaikan diri dengan dunia Kelana yang sangat asing baginya. Dunia yang penuh dengan gemerlap dan kemewahan. Renjani sudah cukup baik beradaptasi dengan semuanya. Renjani akan berjalan penuh percaya diri dan mengatakan bahwa ia adalah istri Kelana.


"Rupanya sejak awal kita ditakdirkan bersama." Kelana tersenyum lebar, ia melangkah mendekati piano yang berada di dekat jendela. Ia sengaja memesan penginapan yang memiliki piano. "Aku bikin lagu buat kamu."


"Lagu?" Renjani menyusul Kelana.


"Kamu bilang aku selalu memaksamu, sekarang aku sedang merayumu dengan sebuah lagu."


Renjani terpana, ia pikir Kelana tak akan memasukkan ucapannya ke dalam hati. Renjani mengatakan jika Kelana selalu memasaknya sedangkan pada Elara—Kelana merayunya.


"Maaf kalau nggak maksimal karena aku pakai satu tangan."


Renjani tak peduli, ia yakin permainan piano Kelana akan tetap luar biasa meski dengan satu tangan.


Denting piano mengalun lembut beradu dengan suara gerimis di luar. Jemari Kelana bergerak menekan tuts piano dengan piawai.


Kala mendung mulai menggantung


Engkau adalah pendar di dalam hati yang gelap


Kala dingin memeluk tubuh


Kehangatan mu selalu menyelimuti ku


Kelana yang tidak percaya diri dengan suaranya itu mulai bernyanyi. Suara yang sebenarnya mampu membuat semua orang takjub termasuk Renjani terutama sekarang.


Duniaku gelap lalu kau datang memberi sinar


Senyum mu hadir menyapu kesedihan


Renjani, berjanjilah untuk selalu di sisiku


Mari bersama hingga waktu berakhir


Sepasang manik Renjani berbinar-binar menatap Kelana. Itu adalah lagu paling indah yang pernah Renjani dengar. Apalagi Kelana menyisipkan nama Renjani di lagu tersebut.


Renjani bertepuk tangan ketika Kelana menyelesaikan lagunya.


"Bagus banget." Pujian itu lolos begitu saja dari mulut Renjani.


"Aku beri judul Renjani."


"Makasih Kelana." Renjani tak bisa mengatakan apapun lagi karena terlalu kagum dengan permainan piano Kelana. "Kamu tetap luar biasa walaupun main piano dengan satu tangan, aku suka banget."


"Syukurlah kalau kamu suka, aku akan merekamnya setelah tanganku pulih dan menambahkan lirik beberapa baris."


"Jangan buru-buru." Renjani menggelayut di lengan Kelana.


Jiwa Renjani melayang ke angkasa, ia merasa kakinya tak lagi menapak bumi setelah mendengarkan lagu yang dibuat Kelana untuknya.


Renjani meneriaki dirinya sendiri agar segera kembali ke bumi, lagu itu sudah berakhir.