Married by Accident

Married by Accident
XXVI



Udara pagi masuk melalui celah-celah jendela yang sedikit terbuka. Angin bertiup lembut menggoyangkan gorden biru mengalirkan kesejukan ke seluruh ruangan. Bersamaan dengan itu berkas sinar matahari menerpa wajah Renjani yang terlelap.


Renjani akhirnya tidur setelah kelelahan akibat menangis semalaman. Dokter memberikan obat pereda nyeri tapi itu hanya membantu sesaat, setelahnya Renjani kembali merasakan nyeri luar biasa di kakinya.


Renjani mengerjapkan mata karena silau, kepalanya terasa amat berat akibat kurang tidur. Samar-samar Renjani melihat Kelana yang masih tertidur. Kelana meletakkan kepala di pinggiran ranjang Renjani.


Kok ada sih orang tidur masih ganteng banget?


Tak terasa Renjani tersenyum melihat wajah tenang Kelana saat tertidur. Tiba-tiba pipi Renjani menghangat ketika mengingat ciuman mereka kemarin. Renjani menyentuh bibirnya, bahkan sampai sekarang ia masih ingat rasanya bersentuhan dengan bibir Kelana. Kenyal dan hangat. Renjani menggelengkan kepala kuat, ia tak seharusnya berpikir mesum sepagi ini. Tidak. Ia memang tak boleh berpikiran mesum pagi, siang, sore bahkan malam.


Pelan-pelan Renjani menarik tangannya dari genggaman Kelana. Lama-lama kesemutan juga berada di posisi itu. Namun meskipun gerakan Renjani sangat pelan, itu membuat Kelana terbangun. Renjani jadi merasa bersalah karena telah membangunkan Kelana. Mengapa Kelana mudah bangun padahal Renjani pernah memencet hidung lelaki itu tapi ia masih bisa tidur nyenyak.


"Kamu udah bangun?" Kelana menegakkan tubuhnya, ia melihat sekeliling, ternyata matahari sudah meninggi.


"Iya, kamu tidur aja lagi kalau masih ngantuk, tidur di sofa biar lebih nyaman."


"Enggak, ini udah kesiangan." Kelana beranjak dari sana dan meneguk segelas air. "Kamu mau ke kamar mandi?"


Renjani mengangguk, ia memang menahan kencing sejak tadi tapi malu untuk mengatakannya pada Kelana.


Kelana mengangkat tubuh Renjani menuju kamar mandi.


"Aku mau gosok gigi." Ucap Kelana sebelum Renjani memintanya keluar, "aku nggak akan lihat." Ia memutar badan memunggungi Renjani dan menggosok gigi.


Renjani terkekeh, ia tak berpikir bahwa Kelana akan mengintipnya. Namun Renjani tetap buang air kecil dengan terburu-buru.


Kelana juga memberikan sikat gigi untuk Renjani. Yana sudah membawa semua barang yang dibutuhkan Kelana dan Renjani.


"Aku bawa kamu jalan-jalan di sekitar sini ya." Kelana mendudukkan Renjani di atas kursi roda. Kelana harus menemukan penjual kopi disini tapi ia juga tak bisa meninggalkan Renjani sendirian.


Kelana mendorong kursi roda melewati koridor rumah sakit. Beberapa orang yang berada di kiri dan kanan koridor berbisik-bisik kala melihat Kelana. Ada juga yang langsung menyapa dan mengajak foto. Namun Kelana menolaknya dengan sopan, mereka boleh berfoto kapanpun dengannya tapi tidak sekarang. Kelana harap mereka mengerti kondisinya yang sedang berduka saat ini.


"Kenapa nggak pakai masker, pasti nggak nyaman karena banyak yang ngenalin kamu." Renjani memutar kepala melihat Kelana, ia prihatin terhadap Kelana karena tak bisa bebas sebab banyak orang yang mengenalinya.


"Aku lupa membawanya." Kelana berhenti di food court dan memesan satu Americano.


Renjani menelan ludah mencium aroma kopi yang begitu menggodanya tapi kenapa Kelana hanya memesan segelas kopi.


"Aku juga mau." Tukas Renjani.


"Kamu masih sakit, nggak baik minum kopi."


"Dokter nggak bilang kalau aku nggak boleh minum kopi."


"Dokter pasti lupa." Kelana mengucapkan terimakasih setelah menerima satu gelas kopi. Ia duduk di salah satu kursi yang berada di area food court.


Kelana memejamkan mata menghirup aroma kopi yang mampu menenangkan dirinya. Kelana menyesapnya perlahan, ia melirik Renjani yang terlihat sangat menginginkan kopi itu.


"Sedikit aja." Kelana menyodorkan kopi itu pada Renjani.


Renjani sumringah, ia menyesap kopi panas itu sedikit. Ia seperti dihidupkan kembali setelah kerongkongannya dialiri oleh kopi tersebut.


"Renjani, kamu sempet lihat nggak wajah orang yang nabrak kamu kemarin?"


Renjani tampak berpikir, tentu saja ia tak sempat melihat wajah orang itu karena kejadiannya begitu tiba-tiba. Renjani tak sadarkan diri setelah terlempar ke bahu jalan.


"Enggak, kenapa emangnya?" Renjani balik bertanya.


"Nggak apa-apa." Kelana tersenyum samar lalu kembali menyesap kopinya.


"Rere!"


Perhatian Kelana dan Renjani teralih pada suara cempreng bagai kaleng Khong Guan kosong itu di ujung koridor. Kelana langsung menunduk setelah mengetahui si pemilik suara itu, ia memilih menatap kopinya yang tinggal setengah gelas. Pasti sebentar lagi Jesi akan mengeluarkan rentetan ocehan pada Renjani. Kelana memang meminta Jesi pulang dan datang lagi hari ini karena ia tak mau istirahat Renjani terganggu.


"Sorry banget gue baru datang, suami lu yang nyuruh gue pulang kemarin." Jesi memeluk Renjani dengan gerakan dramatis.


"Lu juga harus kerja kan." Renjani melihat Jesi mengenakan seragam rumah sakit, ia baru sadar kalau ini adalah rumah sakit tempat Jesi bekerja. "Lu ada sift pagi?"


"Masih nanti siang tapi gue datang lebih awal buat nemenin lu."


Renjani tersenyum, itu berarti ia tak akan bosan lagi karena keberadaan Jesi. Berdua dengan Kelana selalu membuat Renjani bosan. Renjani serius soal Kelana adalah tipe orang yang membosankan kecuali tadi malam—saat Kelana memberikan ciuman di bibir Renjani. Ah kenapa Renjani jadi ingat momen itu lagi.


"Kalau gitu aku titip Renjani, aku ada urusan di luar sebentar."


Jesi mengangguk, tanpa diminta pun ia akan menjaga Renjani. Lagi pula Jesi sudah lebih dulu mengenal Renjani dari pada Kelana yang belum genap 3 bulan.


"Kamu sama Jesi ya, aku pergi sebentar." Kelana menghabiskan kopinya dan beranjak.


"Sendiri?"


"Sama Pak Adam."


Renjani mengangguk menatap kepergian Kelana. Setelah Kelana menghilang di ujung koridor, Jesi langsung mengoceh bahwa ia sangat mengkhawatirkan keadaan Renjani. Bagaimana jadinya jika kemarin Jesi tidak berada di belakang Renjani.


"Gue udah nggak apa-apa kok." Tukas Renjani.


"Tapi Kelana jadi baik gitu sama lu." Jesi tersenyum lebar mengingat betapa khawatirnya Kelana kemarin saat ia memberitahu keadaan Renjani.


"Dia kasihan sama gue, udah miskin eh pakai kecelakaan segala."


"Nggak mungkin lah." Renjani mengibaskan tangan, ia tahu Kelana sangat mencintai wanita bernama Elara itu. Mereka sudah lama putus tapi Kelana belum juga bisa melupakan Elara. Renjani sadar bahwa dibandingkan dengan dirinya, Elara jauh lebih baik. Ditambah Elara juga merupakan violinist terkenal. Renjani sempat mencaritahu tentang Elara di internet. Bahkan Elara lebih dulu terkenal sebelum Kelana.


"Eh tapi lu sekarang kan udah nggak miskin lagi." Jesi menyikut Renjani.


Renjani termenung, hanya karena tinggal di apartemen dan naik mobil mewah ia tak bisa disebut kaya. Semua itu milik Kelana. Setelah berpisah, Renjani akan kembali seperti dulu lagi.


"Gue mau lu hospital tour ya." Jesi mendorong kursi roda Renjani, ia akan membawa sahabatnya itu keliling rumah sakit agar tidak bosan. "Sekalian olahraga gue."


"Gue berat ya?"


"Banget." Semprot Jesi, tentu saja ia hanya bercanda.


Renjani mengerucutkan bibirnya, ia lupa kapan terakhir menimbang berat badan. Setelah ini ia harus pergi ke kamar mandi sendiri tanpa bantuan Kelana. Bagaimana jika lengan Kelana yang berharga itu keseleo dan tidak bisa bermain violin karena terlalu sering menggendong Renjani.


******


Seorang lelaki bertubuh jangkung itu menunduk di hadapan polisi yang menginterogasi nya. Ia mencoba duduk dengan tenang meski tangannya terlihat gemetar karena takut.


Adam duduk tak jauh dari sana memperhatikan gerak-gerik lelaki itu. Adam bukan detektif yang bisa membaca ekspresi wajah seseorang jadi ia tak bisa berspekulasi bahwa lelaki itu sengaja menabrak Renjani.


Adam beranjak saat melihat Kelana datang. Adam memberitahu Kelana bahwa laki-laki itu tidak sengaja menabrak Renjani.


"Selamat pagi Pak Kelana." Seorang polisi menyapa dan menjabat tangan Kelana.


"Selamat pagi Pak, terimakasih sudah membantu kami." Kelana melirik sekilas pada laki-laki yang setia menunduk sejak dirinya datang.


"Ini sudah tugas kami." Polisi mempersilakan Kelana duduk. "Namanya Rehan."


Kelana mengangguk samar, "silakan dilanjutkan Pak."


Polisi bertanya pada lelaki bernama Rehan itu mengapa ia kabur jika memang dirinya tidak sengaja menabrak Renjani.


"Setelah satu bahwa orang yang saya tabrak itu istri Kelana saya langsung pergi karena takut Pak."


"Tapi dari rekaman CCTV kamu bahkan tidak melihat korban, setelah bangkit kamu langsung naik kembali ke motor dan pergi."


"Saya tahu dia istri Pak Kelana karena saya mendengar ada yang meneriakkan namanya."


Kelana mengangguk, ia bisa menerima jawaban tersebut. Saat itu pasti Jesi meneriakkan nama Renjani dengan suara yang sangat kencang. Kelana tahu seperti apa suara Jesi.


"Siapa?" Kelana menoleh pada Rehan.


"Saya tidak tahu." Tentu saja Rehan tidak tahu siapa yang berteriak karena saat itu ia langsung pergi.


"Nama yang kamu dengar." Kelana memperjelas pertanyaannya.


"Renjani." Jawab Rehan yakin, ia mengingat Emma menyebutkan nama Renjani berkali-kali. Ia tak mungkin melupakan itu.


Kelana tersenyum miring, ia yakin Jesi memanggil Renjani dengan Rere. Rehan pasti berbohong.


"Bagaimana Pak Kelana, apakah kita akan menyelesaikan ini secara kekeluargaan?"


"Saya mau Bapak menyelediki nya lebih lanjut."


Rehan tersentak mendengar kalimat Kelana, ia pikir Kelana akan membebaskannya. Apalagi Rehan memberikan jawaban yang cukup meyakinkan.


Adam juga terkejut mendengar jawaban Kelana, ia bertanya-tanya apa yang membuat Kelana meminta polisi untuk menyelidikinya lagi.


"Baik kalau begitu." Polisi ikut beranjak saat Kelana berdiri.


"Kalau begitu kami permisi." Adam pamit undur diri dari ruangan itu.


Yana sudah menunggu di tempat parkir, ia penasaran bagaimana kelanjutan kasus tabrakan ini.


"Saya ikut kamu." Adam masuk mobil disusul Kelana.


Yana yang duduk di kursi kemudi melihat Kelana dari spion atas dengan wajah gusar. Ia penasaran tapi tidak berani bertanya.


"Saya pikir kita akan menyelesaikan ini dengan damai, kenapa kamu minta polisi untuk menyelidiki laki-laki itu?"


"Saya tahu dia berbohong." Jawab Kelana tanpa melihat Adam, ia menatap lurus ke depan dan meminta Yana menjalankan mobilnya.


Adam tertawa, "kamu bukan cenayang."


Kelana menoleh, bukankah tak harus jadi cenayang untuk tahu seseorang itu berbohong atau tidak.


"Pak Adam sendiri yang bilang kalau Renjani mungkin punya musuh setelah menikah dengan saya."


"Misalnya siapa?"


"Saya tidak tahu."


"Kamu mencurigai seseorang?"


Kelana kembali mengalihkan pandangan lalu menggeleng, untuk saat ini ia tidak bisa mencurigai siapapun.