Married by Accident

Married by Accident
Tunggu kelanjutannya



Kali ini Floe seketika tertawa terbahak-bahak karena kata jodoh yang lolos dari bibir pria yang kini duduk tak jauh dari hadapannya, seolah membuatnya merasa geli. Apalagi saat ini ia sama sekali tidak memikirkan mengenai pasangan dan hanya ingin fokus pada pekerjaan dan kuliah.


Lalu, pemimpin perusahaan sang ayah dan menjadikannya jauh lebih besar dari sekarang. "Jangan bicara jodoh di hari pertama bertemu karena rasanya benar-benar sungguh menggelikan."


Floe kini sangat malas menanggapi pria yang hanya diam saja tanpa membantahnya seperti yang sudah-sudah. Saat ia sudah membaca poin-poin penting mengenai peraturan yang harus dipatuhi dan juga larangan yang tidak boleh dilakukan, ia pun mendapatkan jawaban mengenai masalah ponsel.


Bahwa ia masih bisa mengangkat telepon saat bekerja, asalkan tidak mengganggu pekerjaan yang dilakukan. Kini ia meraih ponsel dari dalam saku bawahannya dan ingin mengetahui siapa yang baru saja mengirimkan pesan.


Begitu melihat kontak sang ayah dan membaca pesan, seketika membuatnya menghembuskan napas kasar karena kini kembali kesal. 'Daddy menyuruhku untuk memberikan bekal yang kubawa tadi? Lha aku makan apa nanti?'


Refleks ia bergerak untuk membuka tas berwarna hitam yang tadi diberikan oleh sang ibu dan begitu membuka serta memeriksa, ada dua kotak makanan yang membuatnya kini paham.


Ia seketika memijat pelipis dan mengangkat pandangan untuk melihat pria yang kini duduk di kursi kerjanya. 'Untung dia memilih diam karena aku hari ini benar-benar kesal dan ingin sekali mengumpat siapapun yang kulihat.'


Tatapannya berhenti pada satu titik, yaitu pada gitar yang sudah kembali di tempat semula. 'Apa aku pakai alasan itu saja ya? Daddy juga aneh-aneh sih. Masa menyuruhku untuk mengarang alasan yang paling tepat saat memberikan bekal.'


Beberapa saat kemudian ia seketika mengambil satu kotak makanan dan bangkit berdiri dari kursi kerja. Dengan sangat ragu ia melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke arah Dhewa.


Saat Floe berniat untuk segera kembali ke tempat semula, tidak jadi melakukannya karena saat ini Dhewa membuat kekesalannya tadi seketika luntur hanya dengan beberapa patah kata.


"Nanti aku akan melanjutkan lagunya yang tadi sebagai ucapan terima kasih. Sekarang kembalilah lakukan tugasmu." Dhewa yang tadinya tidak ingin mendebat perkataan Floe karena merasa percuma menghadapi wanita yang tidak pernah mengaku salah.


Jadi, membiarkannya berbicara sesuka hati. Namun, begitu melihat kotak makanan di hadapannya dan kebetulan hari ini belum sarapan karena tadi buru-buru ke lokasi, seketika ia langsung membukanya dan wajahnya berbinar melihat menu kesukaannya.


"Alhamdulillah dapat makan gratis saat belum sarapan. Ini kamu yang masak sendiri? Tenang saja karena aku tidak pernah menganggap kebaikan orang adalah sebuah rencana untuk menyuapku. Sepertinya capjay dan cumi goreng ini enak." Langsung mengambil satu sendok makanan dan menyuapkan ke dalam mulut.


Ia pun ini terlihat mengunyah makanan yang sudah berada di dalam mulutnya sambil menikmati rasa yang menurutnya sangat pas di mulut. Hingga mendengar suara Floe yang kini membuatnya sudah tidak heran lagi.


Floe yang tadinya malas sekaligus kesal pada Dhewa, kini seolah rasa itu seketika menghilang dan membuatnya bersemangat. Ia baru pertama kali ini kenal pria yang bisa main gitar dan bernyanyi secara langsung.


"Kalau begitu, saya tunggu kelanjutannya nanti. Makan siang nanti sambil mendengarkan Anda bermain gitar dan bernyanyi sepertinya sangat menyenangkan. Oh iya, sampai lupa. Apa Anda keturunan Jawa? Kok bisa nyanyi lagu Jawa?" tanya Floe yang rasa ingin tahunya tinggi karena ia yang kakeknya Jawa asli saja tidak pandai bahasa daerah.


To be continued...