
Floe yang sama sekali tidak berpikir untuk meminta hadiah karena memang dari awal tidak menyetujuinya dan juga bukanlah seorang wanita yang materialistis. Namun, ia yang masih sedikit merasa kesal, kini ingin mengerjai pria dengan postur tubuh tinggi tegap tersebut.
Berpura-pura memegang dagu sambil memikirkan hadiah yang ingin dimintanya untuk mengerjai, Flow seketika mendapatkan sesuatu. "Seperti kata calon istrimu tadi. Dia menghina aku jika ingin merubah nasib dengan mengincarmu. Sepertinya itu patut dicoba." Ia sengaja berbicara ambigu untuk membuat pria itu makin penasaran.
Tentu saja saat ini Dhewa yang mengerti arah pembicaraan Floe, hanya tersenyum simpul dan berjalan makin mendekat. "Baiklah. Kalau begitu, coba saja." Ia bahkan saat ini mendaratkan tubuhnya di kursi yang ada di depan meja Floe.
Floe menatap curiga respon dari Dhewa tidak sesuai dengan apa yang ada di pikirannya saat ini, sehingga ingin tahu apa yang terpikirkan. "Memangnya kamu paham apa maksudku?"
Floe seolah terbiasa berbicara seperti layaknya pada seorang teman karena melupakan sikapnya beberapa saat lalu yang masih formal. Saat ini hanya ada kecurigaan yang dirasakan, sehingga malah semakin penasaran dengan isi pikiran seorang pria dengan iris mata berkilat tersebut.
Hingga ia makin bertambah kesal saat ini karena melihat pria di hadapannya malah tertawa, seolah ingin mengerjai dan mengejeknya.
"Ya paham lah. Bukannya kamu ingin mencoba menjadi wanitaku dan membuat perkataan Camelia menjadi kenyataan? Kamu bisa meminta apapun padaku karena aku akan memberikannya. Apalagi kamu sudah berhasil membuatku terbebas dari perjodohan yang menyesakkan ini." Ia bahkan tidak mengalihkan perhatiannya dari sosok wanita dengan paras bak bidadari tersebut.
"Jadi, merupakan sebuah hal yang wajar jika aku mengungkapkan rasa terima kasihku." Dhewa yang saat ini berharap Camelia benar-benar mundur dari perjodohan setelah kejadian hari ini, entah mengapa seperti ada dari takdir yang menghubungkannya dengan wanita di hadapannya tersebut.
Bahkan ia merasa sangat damai melihat raut wajah Floe yang dianggap sangat menenangkan. "Bukankah begitu, Ayu Ningrum?"
Dengan berakting sangat menyakitkan ketika memanggil nama palsu Floe, kini Dhewa ingin tahu seperti tanggapan dari wanita yang dianggap tengah mengerjainya. Ia takkan berpura-pura seperti orang bodoh yang tidak tahu apapun mengenai siapa Floe sebenarnya.
Saat ini Floe seketika mengarahkan tangannya yang mengepal karena saking kesalnya dengan pemikiran jauh Dhewa. "Dasar tukang halu. Memangnya siapa yang mau jadi wanitamu. Aku tadi hanya bercanda. Harga diriku lebih tinggi dari uang, Tuan."
Kemudian ia mengibaskan tangannya karena tidak jadi mengungkapkan apa yang sempat terpikirkan untuk mengerjai karena malah dikerjai balik. Ia bahkan seperti istilah suhu yang menghadapi pawang, jadi saling adu skill dan menunjukkan kekuatan masing-masing.
"Bukannya kamu tadi bilang ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan? Sudah sana kerjakan! Atau melanjutkan apa yang tadi sempat tertunda karena kedatangan calon istrimu itu." Floe seketika menatap ke arah meja kerja Dhewa, di mana di sana masih ada buku catatannya yang tadi tidak sempat di bawanya karena buru-buru pergi begitu melihat sosok wanita yang datang dengan gaun seksi itu.
Ia mendadak mengingat sesuatu dan ingin sekali menanyakan apakah yang terbersit di pikirannya benar. "Wajahnya tidak asing. Sepertinya dia selebgram. Apa calon istrimu itu adalah seorang selebgram?"
Memang ia bukan merupakan selebgram yang terkenal, tapi selama ini sering melihat akun di sosial media yang memiliki banyak followers. Saat melihat pria di hadapannya menganggukkan kepala, sehingga membuatnya makin penasaran.
"Siapa nama lengkap calon istrimu itu? Aku jadi kepo," ucap Floe yang saat ini mengambil ponsel miliknya karena ingin mencari di sosial media setelah mendapatkan jawaban dari pria dengan raut wajah masam tersebut.
"Jangan lagi menyebutnya calon istriku karena aku tidak pernah menganggapnya seperti itu. Aku akan memanggil calon istriku dengan sebutan Kanjeng Ratu Widodariku," ucap Dhewa yang merasa sangat malas membahas tentang Camelia.
Ia pun bangkit berdiri dari kursi dan melambaikan tangannya pada wanita yang seperti tengah sibuk mencari tahu di gawainya. "Sekarang kita kembali bekerja. Kemarilah karena aku akan menjelaskan hasil pekerjaanmu tadi."
Dhewa yang saat ini berjalan menuju kursi kebesarannya, tanpa memperdulikan rasa ingin tahu Floe yang dianggap tidak penting. Ia saat ini ingin kembali fokus pada pekerjaan tanpa memikirkan tentang masalah pribadinya.
Tadinya Floe sudah mengetik nama Camelia di gawainya, tapi ada banyak gambar seorang wanita yang tidak menunjukkan wanita itu, sehingga kini merasa jika nama sosial medianya bukan itu. Ia pun kini menaruh ponselnya di atas meja karena yakin jika pria itu tidak akan memberitahunya.
"Bagaimana menurut Anda mengenai hasil kerja saya?" tanya Floe yang kini menatap intens pria yang menundukkan wajahnya saat kembali membaca hasil kerjanya.
Dhewa saat ini mengangkat pandangannya dan seketika bersitatap dengan iris kecoklatan Floe. Bahkan bisa melihat hidung mancung serta bibir sensual wanita yang juga tengah menatapnya saat ini. Ia menormalkan perasaannya yang aneh ketika bisa menatap dari jarak dekat dan sangat jelas seperti itu.
"Duduklah! Tidak mungkin kamu terus berdiri seperti itu. Bisa-bisa kakimu pegal dan akan mengumpatku secara diam-diam nanti karena tidak mempersilahkanmu duduk." Dhewa saat ini sedikit mendorong buku catatan milik Floe yang saat ini sudah mendapatkan tubuhnya di kursi.
"Coba kau baca di bagian tengah ini. Sepertinya ada satu hal yang terlewatkan," ucap Dhewa yang kini berani menunjuk ke arah kertas putih berisi keterangan tentang projek kerja.
Floe saat ini terdiam dan fokus pada apa yang ditunjukkan. Hingga ia seketika menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena merasa malu ada satu poin yang terlewatkan. "Aaah ... maaf. Berarti aku benar-benar kurang fokus," ucap Floe yang saat ini meraih buku catatan miliknya dan kini langsung bergerak dengan cekatan untuk membenarkan apa yang tadi ditulisnya di sana.
Saat Floe fokus pada pekerjaannya, berbeda dengan Dhewa yang saat ini tidak mengalihkan perhatiannya dari sosok wanita yang berhasil menggetarkan hatinya. 'Perasaan apa ini? Aku bahkan sudah lama tidak merasakannya semenjak pengkhianatan wanita iblis itu.'
Dhewa saat ini terdiam ketika mengingat tentang masa lalu yang berhubungan dengan seorang wanita yang dulu pernah membuatnya tergila-gila hingga kehilangan akal sehat. Ia bahkan sampai kehilangan semangat hidup begitu hubungannya berakhir.
Hingga menutup hati dan juga matanya agar tidak lagi berharap pada kaum hawa yang hanya membuatnya terluka. Tanpa sadar ia membuka suara untuk menanyakan sesuatu pada wanita yang masih fokus pada pekerjaannya.
"Apa kamu pernah menjadi sangat bodoh karena mencintai seseorang?" Dhewa yang saat ini melihat Floe mengangkat pandangan untuk menatapnya, seketika tersadar dengan kebodohannya. "Aaah ... lupakan! Lanjutkan saja pekerjaanmu. Aku yakin kamu adalah seorang wanita yang cerdas dan bisa menyelesaikannya."
Floe yang saat ini masih memegang bolpoin di tangan kanan, seketika mengingat tentang masa lalu yang membuatnya terpuruk. Mulai dari dikhianati Rafadhan dan bersambung pada Erland. Hingga membuatnya seketika tertawa miris.
"Kamu membuatku mengingat dua pria bajingan yang sempat kucintai dengan tulus," ucapnya yang kini kembali menundukkan wajahnya dan melanjutkan pekerjaan.
Sementara Dhewa yang seketika terkejut karena tidak menyangka jika Floe malah menyebutkan dua pria, bukan satu pria, yaitu suaminya, sehingga membuatnya kini makin penasaran dengan masa lalu dari wanita itu.
'Seperti apa masa lalu Floe? Jadi, dia mempunyai hubungan dengan dua orang pria yang membuatnya terpuruk?' gumam Dhewa yang kini tengah mencari ide untuk bisa mengurangi informasi dari sosok wanita di hadapannya.
Namun, ia memulai semuanya dengan mengulurkan tangan. "Bagaimana jika kita berteman? Anggap aku bukan atasanmu saat kita hanya berdua di sini. Jadi, kamu bisa bersikap biasa padaku karena sebenarnya aku tidak suka melihatmu formal seperti tadi. Rasanya sangat kaku."
Floe saat ini hanya melihat tangan dengan buku-buku kuat yang menggantung di udara itu. Ia terdiam karena tidak langsung menyetujuinya. Itu karena saat ini seperti mengalami Dejavu.
'Dulu Erland juga mengatakannya padaku. Bahkan ekspresi wajah mereka sama meskipun merupakan dua orang yang berbeda,' gumam Floe yang saat ini merasa jika pria di hadapannya hanya akan kembali membuatnya merasakan luka.
Refleks ia langsung menggelengkan kepala sebagai penolakan tanpa berniat untuk menjabat tangan yang masih belum diturunkan tersebut. "Maaf, saya tidak berteman dengan atasan. Saya hanya akan berteman dengan wanita saja, bukan lawan jenis."
To be continued...