
"Mama!" Renjani memanggil mama nya yang berada di pinggir kolam renang. Suaranya timbul tenggelam seiring tubuhnya yang semakin dalam dipeluk air.
Kaki Renjani mengayun tak beraturan karena dirinya tak bisa berenang. Bukannya ke pinggir tubuh Renjani justru semakin bergerak ke tengah.
Tiba-tiba saat itu ia benci air, ia benci kolam. Tak ada yang mendengar teriakannya. Renjani berusaha tetap berada di permukaan tapi itu sia-sia.
Renjani menarik napas tapi bukannya udara, justru air yang masuk ke hidung dan mulutnya melewati tenggorokan yang terasa menyakitkan. Ia tak bisa bernapas.
Tubuh Renjani terasa ringan bergerak ke dasar kolam, menarik napas tak ada gunanya sekarang.
Di tengah kesadarannya yang mulai hilang, Renjani merasa ada seseorang yang menarik tubuhnya ke permukaan lalu bergerak ke pinggir kolam. Renjani tidak tahu apakah ini nyata atau ia hanya berhalusinasi. Atau sebenarnya tubuhnya masih berada di dasar kolam. Renjani tak dapat melihat atau mendengar apapun. Seluruhnya gelap dan sunyi.
"Rere!" Lasti berteriak panik melihat Renjani dibawa oleh dua orang ke pinggir kolam. Mengapa ia tidak menyadari bahwa anaknya sendiri tenggelam. Lasti tidak bisa memaafkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu yang buruk pada Renjani.
Orang-orang mulai mengerumuni Renjani yang basah kuyup di pinggir kolam. Mereka melepas pakaian Renjani dan menutupinya dengan handuk kering sebagai pertolongan pertama.
"Ada yang bisa memberikan napas buatan ?" Tanya salah satu dari mereka.
"Saya bisa." Sahut bocah 7 tahun yang juga telah menolong Renjani tersebut.
"Kamu yakin?" Lasti menatap bocah laki-laki itu dengan sayu.
"Dia bisa." Tukas laki-laki lainnya. "Saya Papanya."
Lasti mengalihkan pandangan pada laki-laki itu, ia menatapnya ragu. Namun pada saat seperti ini apa yang bisa Lasti lakukan selain menerima pertolongan dari siapapun. Akhirnya Lasti mengangguk membiarkan anak kecil itu menolong Renjani.
Dengan cekatan anak itu menjepit hidung Renjani dengan ibu jari dan telunjuknya lalu ia meniup mulut Renjani beberapa kali. Saat ia melihat Renjani mulai sadarkan diri, ia memiringkan tubuh anak tersebut. Saat itu juga Renjani memuntahkan air yang masuk ke dalam tubuhnya.
Orang-orang bergumam lega karena Renjani mendapat pertolongan pertama dengan tepat. Anak laki-laki itu segera pergi dari sana setelah memastikan Renjani sadarkan diri.
******
"Kelana!"
Kelana terkesiap mendengar Renjani tiba-tiba menyerukan namanya, ia bangkit dari kursi menatap Renjani yang masih memejamkan mata.
"Renjani, aku disini." Kelana menyentuh pipi Renjani yang amat dingin. Raut wajah Renjani tampak gelisah. "Rere." Panggilnya sekali lagi.
"Kelana." Renjani membuka mata dan langsung menghambur ke pelukan Kelana.
"Ada apa?" Kelana mengusap-usap punggung Renjani dengan lembut untuk memenangkannya.
"Aku takut." Lirih Renjani, ia pikir dirinya sudah mati. Saat tak sadarkan diri Renjani bermimpi tentang kejadian 20 tahun yang lalu ketika ia tenggelam di kolam. Mimpi itu mengingatkan Renjani pada sesuatu yang paling ia takutkan.
"Nggak apa-apa, ada aku disini." Bisik Kelana. Ia tak tahu apa yang Renjani lihat di alam bawah sadarnya selama pingsan. Namun Kelana harus tetap menenangkan Renjani. "Kita di rumah sakit."
Renjani melepas pelukannya mendengar kalimat Kelana, ia baru sadar bahwa ini bukan kamarnya atau kamar Kelana. Kenapa ia bisa berada di rumah sakit? Renjani tidak ingat apa yang ia lakukan hari ini
"Kamu ditabrak motor saat perjalanan pulang." Terang Kelana karena Renjani terlihat bingung.
Renjani memejamkan mata hingga perlahan ingatannya kembali. Ia sedang dalam perjalanan pulang dengan motornya saat tiba-tiba pengendara lain menyambarnya. Potongan-potongan kejadian itu muncul di kepala Renjani.
"Kamu mimpi buruk?"
Renjani mengangguk, itu adalah mimpi yang sangat menakutkan.
"Aku tenggelam di kolam, aku panggil-panggil Mama tapi dia nggak denger, terus aku panggil kamu—" Renjani tidak dapat meneruskan ceritanya karena terlalu takut saat mengingat mimpi itu lagi. Air mata Renjani mengalir deras membasahi wajahnya.
"Maafin aku." Kelana menarik Renjani ke pelukannya, ia merasa bersalah karena membiarkan Renjani pergi sendiri.
Renjani menggeleng, ini bukan salah Kelana. Renjani sendiri yang menolak untuk diantar Dayat.
Setelah merasa Renjani lebih tenang, Kelana mengambil segelas air untuk Renjani.
"Jangan pergi sendiri lagi, Renjani." Gumam Kelana seraya meletakkan gelas di atas nakas. "Kamu nggak tahu betapa paniknya aku waktu Jesi ngasih tahu kalau kamu kecelakaan."
"Bukannya kamu benci sama aku?" Renjani menatap Kelana.
"Kapan aku bilang gitu?"
"Kamu nggak bilang tapi sikap kamu menggambarkan hal tersebut."
"Aku nggak pernah benci kamu." Kelana menatap Renjani tajam, ia tak terima Renjani mengatakan hal itu. "Kalau memang benar, aku nggak mungkin menikahi mu."
"Tapi kita menikah karena insiden itu, kamu nggak pernah punya perasaan apapun ke aku."
Rahang Kelana mengeras, apakah ini balasan Renjani setelah ia mengkhawatirkan keadaannya. Kelana tak pernah bilang bahwa ia membenci Renjani. Tidak sama sekali.
Renjani ingat komentar pedas di media sosial yang ia baca. Renjani menyadari bahwa ia bukan apa-apa untuk Kelana yang luar biasa.
"Aku sadar diri Kelana, Aku—"
Kelana segera membungkam mulut Renjani sebelum wanita itu menyelesaikan kalimatnya. Renjani mendelik, ia tentu tak akan terkejut jika Kelana membungkamnya dengan tangan atau apapun itu. Namun Kelana membungkam Renjani dengan bibirnya.
Kelana menahan tengkuk Renjani agar ia bisa menciumnya lebih dalam. Renjani tak bisa melakukan apapun selain menerima ciuman tersebut. Keduanya terbuai oleh perasaan yang membuncah dalam dada. Tiba-tiba ruangan itu menjadi hangat padahal Renjani ingat tubuhnya kedinginan saat baru siuman. Namun tak butuh waktu lama tubuhnya kembali hangat.
"Jangan bicara seperti itu lagi." Lirih Kelana setelah mengakhiri ciuman manis itu. Renjani mengangguk kaku sambil mengusap bibirnya yang basah. Wajah Renjani memerah seperti kepiting rebus dengan saus padang—tidak, sambal rica-rica—tidak, sambal balado. Ah Renjani tak bisa berpikir jernih. Sepertinya otak Renjani sedikit rusak akibat kecelakaan itu.
"Apapun alasannya, kamu istriku, Renjani."
Renjani semakin salah tingkah mendengar itu, ia tak pernah mendengar kalimat semanis itu sebelumnya. Hidup Renjani terlalu pahit hingga kalimat sederhana seperti itu mampu membuatnya tersipu.
Seseorang mengetuk pintu, Kelana memintanya untuk masuk karena ia tahu itu adalah Yana.
"Mbak Rere udah siuman?" Yana tersenyum lebar melihat Renjani sudah sadarkan diri, saat menelpon tadi Kelana bilang Renjani masih pingsan.
Renjani mengangguk membalas senyum Yana.
"Saya bawa barang-barang yang Mas Kelana minta." Yana meletakkan tas yang dibawanya di atas sofa. Itu adalah pakaian ganti milik Kelana karena malam ini ia akan menemani Renjani disini.
"Aku khawatir banget sama Mbak Rere." Yana menghampiri Renjani dan meneliti seluruh bagian tubuhnya.
"Aku nggak apa-apa." Ucap Renjani menenangkan Yana meski ia sendiri tak tahu bagaimana keadaannya sekarang.
"Tolong batalkan semua jadwal ku untuk tiga hari ke depan." Ujar Kelana pada Yana.
"Baik Mas." Yana akan mengatur kembali jadwal Kelana nanti.
"Kenapa?" Renjani melihat Kelana dan Yana bergantian.
"Aku harus temenin kamu disini."
"Tapi aku udah nggak apa-apa kok." Renjani merasa tidak enak jika ia membuat Kelana membatalkan semua jadwalnya. Renjani bukan anak kecil yang harus selalu ditemani.
"Aku mandi dulu." Kelana beranjak dari sana mengabaikan ucapan Renjani, ia mengambil bathrobe dari dalam tas dan peralatan mandi miliknya. Tubuh Kelana belum tersentuh air sejak tadi pagi.
Setelah selesai mandi dan mengganti pakaian, Kelana meminta Yana pulang dan segera mengatur jadwalnya kembali.
"Saya pulang dulu, kalau butuh sesuatu telepon aja Mas, Mbak." Yana mengusap punggung tangan Renjani sebelum keluar dari ruangan itu.
"Kamu kenapa?" Kelana memperhatikan ekspresi Renjani.
"Kebelet pipis." Ujar Renjani perlahan, ia malu mengucapkan itu. "Kaki aku nggak bisa gerak, aku lumpuh ya?" Ia bingung karena kaki kirinya tak bisa digerakkan.
"Kamu nggak lumpuh." Kelana menyingkap selimut yang menutupi kaki Renjani, "kaki kiri mu patah dan harus dipasangi gips jadi untuk sementara kamu harus pakai kursi roda atau tongkat."
"Patah tulang aja kan?"
Kelana mengerutkan kening mendengar kalimat Renjani, bisa-bisanya Renjani terlihat santai mengetahui bahwa kakinya menyalami patah tulang sedangkan Kelana begitu terpukul saat dokter menjelaskan kondisi Renjani tadi.
"Ini bukan hal sepele." Kelana mengangkat tubuh Renjani menuju kamar mandi.
"Masih bisa sembuh jadi nggak usah terlalu khawatir, waktu kecil tanganku pernah patah tulang dan sekarang baik-baik aja." Renjani tersenyum seolah itu bukan hal yang serius.
Kelana mendudukkan Renjani di atas kloset, "dokter bilang ini akan sakit saat kamu siuman karena efek anestesinya sudah habis tapi kamu masih bisa senyum, memangnya nggak sakit?"
"Enggak." Renjani tidak merasakan apapun pada kakinya.
Mungkin sebentar lagi, begitu batin Kelana.
"Kenapa masih disini?" Renjani mendongak melihat Kelana yang masih berdiri di hadapannya.
"Aku tunggu sampai kamu selesai." Kelana tak mau terjadi sesuatu yang buruk pada Renjani jika ia meninggalkannya.
"Tunggu diluar aja, kencing ku nggak bisa keluar kalau kamu disini." Renjani tak mungkin membiarkan Kelana disini.
Kelana keluar dan menutup pintu kamar mandi menuruti permintaan Renjani. Padahal Kelana tak masalah menunggu di dalam lagi pula mereka sudah menikah.
"Kelana."
Kelana segera membuka pintu begitu Renjani memanggilnya.
"Udah." Renjani mengulurkan tangan agar Kelana membantunya berdiri.
Alih-alih membantu Renjani berdiri, Kelana mengangkat Renjani keluar kamar mandi. Dengan hati-hati Kelana membaringkan Renjani di atas brankar.
"Makasih Kelana."
"Kenapa berterimakasih, ini tugasku." Kelana menarik selimut hingga menutupi Renjani sebatas pinggang.
Renjani tersenyum, "kamu kayak suami beneran."
"Aku memang suami beneran, kamu lupa kalau aku mengucapkan ijab qobul di depan Ayah mu, penghulu dan para saksi?"
Renjani terkekeh, kenapa tiba-tiba serius begini padahal dari awal pernikahan mereka hanya karena keterpaksaan.