Married by Accident

Married by Accident
XCI



Puluhan buket bunga dan hadiah terus berdatangan memenuhi ruang rawat sejak Adam mengumumkan kelahiran anak Kelana dan Renjani kemarin. Ratusan komentar ucapan selamat membanjiri foto Renjana di media sosial Renjani dan Kelana yang dikelola oleh admin. Kelana tak memiliki akun Instagram pribadi, semua media sosial dikelola admin.


Pada foto tersebut Renjani sengaja menutup sebagian wajah Renjana tapi mereka mengatakan bayi tersebut mirip Renjani.


Tak hanya dari penggemar, terdapat juga hadiah dari berbagai brand yang pernah bekerjasama dengan Kelana dan Renjani. Kelana tak tahu bagaimana cara membawa mereka semua ke apartemen. Ini lebih banyak dari yang biasa Kelana dapat sebelumnya. Sepertinya mereka semua bergembira atas kelahiran Renjana di tengah kabar kurang sedap yang sempat menimpa hubungan rumah tangga Kelana dan Renjani. Kelahiran Renjana memberi warna baru bagi kehidupan Kelana dan Renjani, warna cerah yang sangat menonjol.


Renjani selesai mengganti baju rumah sakit dengan dress longgar bewarna putih. Ia dan Renjana diperbolehkan pulang hari ini.


"Penggemar mu pasti orang-orang kaya." Renjani mendekat ke tumpukan buket bunga di sudut ruangan. Buket bunga tulip merah muda berukuran paling besar.


Selamat atas kelahiran putri kalian! Aku turut bahagia.


Elara


"Bisa saja mereka membeli ini dengan uang tabungan yang mereka kumpulkan selama berbulan-bulan." Kelana menyentuh kelopak mawar merah dengan telunjuknya di salah satu buket, ia memeriksa apakah ada duri yang tertinggal disana dan bisa melukai Renjani. "Itu sebabnya aku selalu menyimpan pemberian mereka."


Buket bunga segar bisa layu setelah beberapa hari maka biasanya Kelana akan menyimpan kartu ucapan dan surat yang terselip disana. Sejak awal karirnya, Kelana menyimpan semua pemberian para fans. Itu sebabnya Kelana begitu dicintai oleh penggemarnya.


"Ini dari Elara." Renjani mengangkat buket tersebut dengan susah payah.


"Kamu boleh membuangnya." Kelana melihat sekilas buket yang Renjani pegang. Ia tak mau berurusan lagi dengan Elara. Tak peduli betapa Kelana dulu mencintai Elara, sekarang di hidupnya hanya ada Renjani. Kelana tidak mau membuat Renjani salah paham lagi.


"Kenapa dibuang, bagus kok."


"Masih banyak yang lain dan lebih bagus." Kelana mengambil buket tersebut dari tangan Renjani membawanya keluar. Kelana melempar buket bunga Lily merah muda itu ke dalam tempat sampah di depan ruang rawat.


Renjani dibuat melongo untuk beberapa saat karena Kelana tega membuang buket bunga yang begitu cantik, sepertinya buket tersebut juga tidak murah. Tentu saja Elara tak mungkin memberikan barang murah.


"Itu mahal lho." Renjani menunjuk kelopak tulip yang menyembul dari tutup tempat sampah.


"Aku akan belikan yang lebih mahal dari itu kalau kamu mau."


"Aku lebih suka makanan, kamu tahu itu." Renjani melangkah memeriksa tak ada barang yang tertinggal, ia mengecek Renjana yang masih terlelap di dalam box nya. "Hari ini kita pulang sayang."


"Mobilnya sudah siap." Dayat muncul dari balik pintu bersama Yana dan Adam yang siap membantu Kelana membawa beberapa barang. Sementara puluhan hadiah yang memenuhi ruangan itu akan dibawa oleh staf Antasena lainnya.


"Ada banyak wartawan di luar." Tukas Adam agar Renjani tidak terkejut dengan keberadaan wartawan di depan sana. Meskipun ini bukan pertama kalinya bagi Renjani berhadapan dengan banyak wartawan tapi karena baru melahirkan mungkin Renjani sedikit sensitif.


Kelana memasangkan masker pada Renjani, itu akan membuat Renjani lebih nyaman. Renjani juga tidak memakai riasan, ia tak percaya diri menampakkan wajah di depan kamera.


Renjani menggendong Renjana yang sudah dibalut selimut putih senada dengan dress yang ia kenakan.


Ketika kamera Blitz mulai memburu Renjani memasang senyum di balik maskernya, ia ahli tersenyum karena sudah terlatih saat menjadi penjaga perpustakaan. Ia sudah seperti artis yang harus tetap tersenyum meski tidak ingin. Namun kali ini Renjani tersenyum tulus, ia bahagia dengan kelahiran Renjana.


"Siapa nama lengkapnya?" Tanya wartawan seraya mengarahkan mikrofon dan ponsel ke dekat Kelana. Sementara Renjani berdiri di samping Kelana dan di belakangnya Yana yang senantiasa menjaga mereka.


"Nama nya Renjana Faralyn Radiaksa." Kelana mengucapkan itu kata demi kata agar wartawan mendengarnya dengan jelas.


"Boleh dijelaskan arti nama tersebut?"


"Renjana berarti rindu dan kasih sayang, saya dan Ibunya Renjana akan mencurahkan semua kasih sayang kami padanya, Faralyn dari nama Mama saya Karalyn dan Radiaksa nama belakang saya."


"Jadi panggilannya apa nih?" Tanya yang lain.


"Ibu dan Papa."


"Kenapa tidak Mama?"


"Renjani ingin dipanggil Ibu, tidak ada alasan khusus."


"Boleh kasih lihat wajah Renjana sebentar?"


"Saat ini kami belum bisa menunjukkan wajah Renjana tapi kami akan segera menampilkan fotonya."


"Kapan Kelana?"


"Segera." Kelana tidak bisa menyebutkan waktu pastinya.


"Renjani, bagaimana perasaan mu setelah melahirkan?" Mereka beralih pada Renjani.


"Luar biasa, ini lebih dari sekedar bahagia dan saya minta maaf jika penggemar Kelana kecewa karena sedikit bocoran Renjana lebih mirip saya dari pada papa nya."


"Kenapa mereka kecewa, kamu cantik." Sahut Kelana cepat.


Wartawan bersorak mendengar kalimat Kelana, pantas saja Kelana dan Renjani disebut-sebut sebagai couple of the year karena mereka memang selalu terlihat romantis.


******


Wira dan Ratih sudah menunggu ketika Renjani dan yang lain sampai di apartemen. Kemarin Wira sempat datang ke rumah sakit tapi kali ini ia bersama Ratih dan Valia.


Aji—papa Renjani juga datang dengan bingkisan berukuran sedang di tangannya.


Kelana yang sejak dari rumah sakit tersenyum berseri-seri langsung muram begitu melihat Ratih dan Valia. Namun ia tak mau membuat keributan di hari yang membahagiakan.


"Wah cucu kita sudah datang Pa." Ratih menghampiri Renjani yang tengah menggendong Renjana, "Mama boleh gendong nggak?"


"Boleh Ma." Renjani memindahkan Renjana ke gendongan Ratih.


Valia juga antusias melihat keponakannya untuk pertama kali, ia mentowel-towel pipi Renjana dengan gemas.


"Selamat ya Re." Aji memberi selamat pada Renjani, ia memeluk sang putri semata wayang yang kini sudah menjadi seorang ibu.


"Makasih Pa."


"Ini hadiah untuk Renjana." Wira mengeluarkan sebuah amplop coklat dari dalam tasnya lalu memberikannya pada Kelana.


"Apa Pa?"  Kelana mengeluarkan kertas dari dalam amplop tersebut, ia tak bisa menebak apa isinya. Renjana banyak mendapat hadiah tapi yang ini sangat berbeda, hanya sebuah kertas di dalam amplop.


Itu adalah surat kepemilikan gedung atas nama Renjana Faralyn Radiaksa. Renjani melongo tak percaya melihatnya, anak mereka yang baru berusia tiga hari diberi hadiah gedung. Sepertinya orang-orang kaya sudah kehabisa cara untuk menghabiskan uang mereka.


"Kamu bilang Renjana sudah punya semuanya, jadi Papa kasih gedung yang bisa dia gunakan setelah dewasa nanti."


"Pa, ini terlalu—" Renjani tidak bisa berkata-kata sedangkan Kelana masih setia memasang eskpresi datarnya, ia masih gengsi untuk berterimakasih pada Wira.


"Kamu bisa mendukung cita-cita Renjana nanti dengan memberinya fasilitas seperti gedung ini." Wira meyakinkan Renjani bahwa itu sama sekali tidak berlebihan. Sudah sepatutnya Wira memberi hadiah yang bisa digunakan dalam jangka panjang. Renjana bisa menggunakan gedung itu untuk apapun yang ia mau.


Yana meletakkan minuman dan makanan ringan di atas meja di tengah obrolan mereka.


Melihat hadiah Wira untuk Renjana, Aji menyembunyikan bingkisan yang dibawanya ke belakang tubuhnya. Namun itu tidak lepas dari pandangan Renjani.


Renjani beranjak menghampiri papa nya yang duduk di seberang meja membiarkan Kelana dan Wira mengobrol—membahas sesuatu yang tak bisa Renjani pahami.


"Papa bawa apa untuk Renjana, Rere mau lihat." Tukas Renjani dengan suara pelan pada Aji, ia tak ingin papa nya minder karena melihat hadiah Wira untuk Renjana karena mereka memang berasal dari keluarga yang jauh berbeda. Namun Aji tak perlu merasa minder.


"Papa nggak bawa apa-apa." Dusta Aji.


"Aku lihat tadi Papa bawa bingkisan merah muda, Papa nggak mau kasih lihat?" Renjani mencoba melihat sesuatu yang berada di belakang tubuh Aji. Renjani mengulurkan tangan mengambil bingkisan dari belakang tubuh papa nya.


Aji hendak mengambilnya kembali tapi Renjani telanjur melihatnya.


"Wah ini baju buat Nana ya!" Meskipun tak bisa melihat seluruh isinya tapi Renjani yakin itu adalah pakaian bayi berwarna merah muda. "ayo bantu Rere buka." Renjani menarik tangan Aji membawanya ke kamar Renjana.


"Papa senang kamu tinggal di tempat yang nyaman." Aji mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar Renjana. Bagaimana mungkin Aji bisa memberikan hadiah mahal untuk Renjana jika kamar ini saja jauh lebih besar dibanding tempat tinggalnya.


"Papa jangan kerja terlalu keras, Papa udah tua, beli makanan yang enak-enak dan ambil cuti nanti Rere akan rutin kirim uang untuk Papa." Renjani memegang tangan papa nya, ia prihatin melihat wajah papa nya yang tirus dan tampak lebih tua dari usianya.


Aji tersenyum, "itu bukan kewajiban mu."


"Papa udah biayain aku kuliah dan selalu nurutin kemauan ku yang aneh-aneh." Sejak tinggal di Jakarta, Renjani jadi lebih dekat dengan Aji. Selain itu Aji yang membiayai seluruh biaya kuliah Renjani. Setelah Renjani lulus dan memiliki pekerjaan sendiri pun, Aji masih mengirim uang untuk biaya hidup Renjani. Kadang Renjani juga meminta dibelikan sepatu dan tas yang agak mahal. Meski demikian Aji selalu menuruti kemauan Renjani.


"Itu sudah tugas Papa menafkahi kamu."


"Tolong buka dong Pa." Renjani menyodorkan hadiah yang papa nya bawa.


"Baiklah." Aji membuka bingkisan yang ia pesan dari salah satu toko barang bayi dekat pabrik tempatnya bekerja. "Papa cuma bisa kasih ini."


"Wah, bagus banget, Nana pasti lucu pakai ini." Renjani mengambil satu jumper berwarna putih yang tampak menggemaskan apalagi jika ia memakaikannya pada Renjana nanti. "Ada pitanya juga."


"Kamu suka?"


"Suka banget Pa, aku nggak sabar lihat Nana pakai ini " Renjani melihat baju lainnya, ada empat jumper dengan pita masing-masing yang memiliki warna senada.


"Kamu ketemu Mama mu?"


"Iya, waktu itu Mama ke rumah sakit."


"Sekarang?"


"Mama di apartemen sebelah." Sebenarnya Renjani malas bertemu Lasti tapi ia tak mungkin meminta mama nya kembali begitu saja setelah menempuh perjalanan jauh dari Sumedang.


"Mbak, Ibu datang." Yana muncul di depan pintu memberitahu jika Lasti datang. "Ibu bawa—"


Sebelum Yana menyelesaikan kalimatnya, sosok Lasti muncul di belakang Yana.


"Mama bikinin sarapan buat kamu." Lasti melanjutkan ucapan Yana yang baru saja terpotong, ia melangkah masuk ke kamar tapi setelah melihat Aji langkahnya terhenti. Ia baru sadar jika Renjani tidak sendiri melainkan bersama Aji.


Aji hanya melirik Lasti sekilas lalu menunduk, "kamu makan dulu gih." Ucapnya.


Renjani beranjak dari sofa melewati mama nya keluar kamar. Lasti segera membalikkan badan menyusul Renjani ke ruang makan.


Sayur daun katuk dan wortel serta jagung sudah tersaji di atas meja. Lasti membuatnya khusus untuk Renjani untuk melancarkan ASI.


"Kamu masih marah sama Mama?" Lasti duduk di hadapan Renjani.


Renjani melihat Lasti sebentar lalu melahap nasi dan sayur katuk tanpa menjawab pertanyaan tersebut.


"Mama tulus minta maaf sama kamu."


"Aku udah maafin Mama, nggak ada gunanya juga marah-marah."


"Kamu bisa punya hubungan baik dengan Papa mu tapi sikap mu beda sama Mama."


"Yakin Mama mau dengar alasannya?"


"Katakan." Lasti mengedikkan bahu mempersilakan Renjani memberi penjelasan.


"Mama selalu marah-marah sama aku tanpa alasan yang jelas, aku udah dewasa dan nggak perlu dimarahin kayak anak kecil, dulu waktu aku tanya kenapa kalian bercerai, Mama jawab Papa nggak bisa memenuhi kebutuhan keluarga, males kerja jadi nggak bisa menghasilkan banyak uang padahal aku tahu Papa udah kerja keras demi keluarga kita Ma, sedangkan Papa selalu menerima dan membenarkan ucapan Mama tanpa membantah sedikitpun."


Lasti tertegun mendengar jawaban Renjani, "jadi kamu nyalahin Mama?"


"Please Ma, jangan bahas ini terus, aku nggak mau kehilangan selera makan ku."