Married by Accident

Married by Accident
XC



Suara tangisan bayi memenuhi seluruh ruangan. Tangisan yang justru memberikan kebahagiaan bagi Kelana dan Renjani. Akhirnya setelah berjuang merasakan kontraksi sejak pagi, bayi mereka lahir dengan selamat pada tengah malam.


Air mata bahagia mengalir deras kala dokter mengangkat tubuh Renjana dan meletakkannya di atas perut Renjani. Saat pertama kali memegang si kecil, Renjani merasa aneh dan asing. Renjani tak percaya jika ia bisa melahirkan seorang anak. Dulu Renjani hanya dapat merasakan gerakan sang jabang bayi itu di dalam perutnya tapi sekarang ia bisa mendekapnya—memberi kehangatan lewat sentuhan tangan ibu yang membuat si bayi tenang.


Renjana berarti rasa hati yang kuat seperti rindu dan kasih sayang. Itu adalah nama yang Kelana berikan dan langsung disetujui oleh Renjani, selain mirip dengan namanya, arti kata Renjana juga indah.


"Cantik sekali." Kelana mengusap matanya yang basah, ia mencium kening Renjani berkali-kali dan mengucapkan terimakasih atas semua perjuangan Renjani.


Awal-awal masa kehamilan Renjani tidaklah mudah karena harus menjalaninya seorang diri sebab Kelana menolak kehadiran bayi itu. Masa-masa morning sickness yang tak kalah menyakitkan. Raga dan hatinya sakit pada waktu yang bersamaan.


Saat itu Renjani berpikir Kelana akan kembali pada Elara. Renjani sudah mempersiapkan diri melahirkan dan membesarkan anaknya sendirian tanpa seorang ayah.


Namun tekad Renjani runtuh ketika Kelana datang dan berhasil meyakinkan dirinya. Rasa sakit itu terbayar sudah setelah Renjani akhirnya mendekap Renjana dalam pelukannya bersama Kelana. Ini lebih indah dari yang Renjani bayangkan. Mereka akan melihat Renjana tumbuh bersama-sama.


"Mirip siapa?" Renjani tidak bisa melihat wajah bayinya dengan jelas karena Renjana sedang mencoba minum ASI pertamanya.


Renjani tak tahu bahwa di dunia ini ada rasa sakit yang justru terasa menyenangkan dan mengharukan. Yakni rasa sakit melahirkan dan menyusui, keduanya membuat Renjani terharu.


"Mirip kamu." Kelana kali ini tersenyum lebar, ia akan punya dua Renjani di hidupnya. Benar kata Renjani, anak mereka memiliki wajah yang mirip dengannya. "Matanya lebar seperti kamu."


"Giliran Papa nya." Dokter mengangkat tubuh Renjana.


Kelana gugup saat duduk di sofa bersiap menerima Renjana, bahkan tanpa disadari ia menahan napas selama beberapa detik hingga Renjana berada dalam dekapannya.


"Oh lembek sekali." Kelana ragu-ragu saat hendak menyentuh punggung Renjana.


"Memang lembek, dia baru lahir." Renjani tertawa melihat ekspresi wajah Kelana.


"Ssshhh sayang, ini Papa." Kelana berusaha menenangkan Renjana yang terus menggerakkan kepalanya.


Beberapa saat kemudian Renjana tenang dalam dekapan Kelana. Melakukan kontak kulit dengan sang papa sangat bermanfaat untuk si kecil. Mereka bisa membangun kontak batin sejak dini. Tak hanya ibu, peran ayah juga sangat penting bagi bayi.


Perawat membersihkan tubuh Renjana dan membalutnya dengan bedong untuk menghangatkannya.


"Dia tidur." Kelana menyentuh pipi kemerahan Renjana yang berada di dalam box dengan hati-hati.


"Kita belum kasih dia nama lengkap."


"Aku pikir cukup Renjana Radiaksa." Kelana beralih melihat Renjani.


"Renjana Faralyn Radiaksa, gimana?"


"Itu mirip nama Mama."


"Aku emang terinspirasi dari Mama Karalyn, aku harap kehadiran Renjana akan mengisi bagian hatimu yang kosong ketika ditinggalkan Mama Karalyn."


Kelana tersenyum lembut menatap Renjani teduh, ia memajukan kursinya mendekat ke ranjang Renjani.


"Keberadaan mu saja membuat hidupku terasa lengkap lalu sekarang kamu membuat bidadari kecil hadir di tengah-tengah kita, bagaimana aku harus berterimakasih untuk semua ini?" Kelana mengelus pipi Renjani.


"Cukup dengan cintai aku seutuhnya tanpa ada wanita lain di hati mu." Renjani meraih tangan Kelana lalu menciumnya, jika diingat ia jarang melakukan itu. Padahal Renjani pernah dengar bahwa mencium tangan suami termasuk ibadah.


"Tentu saja." Kelana balas mencium tangan Renjani, "kamu istirahat gih."


"Iya, aku ngantuk banget." Renjani memejamkan mata. Jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah 4 subuh dan Renjani belum tidur sejak kemarin.


"Aku akan menjaga kalian." Kelana mengecup kening Renjani lalu menaikkan selimut hingga sebatas pinggang.


Kelana kembali memperhatikan Renjana yang masih terlelap setelah puas minum ASI, ia masih tak percaya jika bayi yang ada di hadapannya ini adalah anaknya. Kelana tak pernah membayangkan memiliki anak diusianya yang belum menginjak 30 tahun, ini sungguh berada di luar rencananya.


Hidup Kelana dulu sangat teratur, ia bahkan sudah merencanakan kehidupannya untuk 10 tahun ke depan tapi setelah bertemu Renjani semua rencana itu tak lagi berarti. Kelana tak lagi konsisten pada prinsip hidupnya. Menikah dan memiliki anak terjadi begitu saja bagi Kelana tapi semua itu membuatnya terasa lebih hidup.


"Permisi." Yana muncul dari balik pintu, ia baru diizinkan oleh Kelana masuk ke ruangan tersebut setelah Renjani selesai bersih-bersih dan sekarang sedang tidur. "Ya ampun, gemes banget." Pekikan nya tertahan karena Kelana langsung menatapnya dingin seolah takut jika Renjana dan Renjani bangun.


"Ya ampun, ini beneran anak Mas Lana?" Yana menyentuh pipi Renjana pelan-pelan, ia takut dimangsa Kelana yang tengah menatapnya tajam.


"Iya lah, memangnya nggak mirip?"


Yana melihat Renjana dan Kelana bergantian lalu ia tampak berpikir sejenak. Kelana mengerutkan kening, kenapa Yana perlu waktu lama untuk berpikir.


"Mirip Mbak Rere."


"Padahal Nana hasil kerja kerasku juga."


"Sabar Mas." Yana menepuk bahu Kelana berusaha menghiburnya.


"Tapi aku senang, ada dua Renjani di hidupku."


"Saya boleh gendong nggak?"


"Aku nggak bisa angkat dia."


"Saya bisa." Yana bersemangat hendak menggendong Renjana.


"Iya." Yana mengangkat tubuh mungil Renjana dengan hati-hati, mata berbinar-binar menatap si kecil Renjana yang sangat mirip Renjani.


Yana menimang Renjana sambil bersenandung pelan, ia ikut bangga karena telah menemani Kelana sejak awal karir, melalui masa sulit hingga menikah dan sekarang memiliki anak. Hubungan mereka tidak sekedar atasan dan asisten tapi sudah seperti keluarga. Yana tidak memiliki siapapun disini, ia hanya punya Kelana dan Renjani.


"Aku tidur ya." Kelana membaringkan tubuhnya di atas sofa dan memejamkan mata.


Yana mendapat Renjani penuh kasih sayang lalu Kelana yang terdengar mendengkur halus padahal baru beberapa detik ia menjatuhkan diri di sofa.


"Saya harap Mbak Rere, Mas Lana dan Nana selalu sehat dan bahagia." Yana mengecup kening Renjana gemas.


******


Pagi harinya Lasti datang dari Sumedang untuk melihat cucu nya, begitu mendengar Renjani melahirkan ia langsung berangkat ke Jakarta. Lasti tidak sabar melihat cucu pertamanya.


Meskipun hubungan Lasti dan Renjani tidak baik tapi Lasti tetaplah seorang ibu yang melahirkan Renjani. Lasti menyesal pernah mengatakan Renjani wanita murahan, saat itu sedang diliputi kemarahan. Bahkan saat Kelana memberitahu Renjani menghilang, Lasti tidak berusaha menghubungi Renjani. Bukannya Lasti tidak peduli, itu karena ia sudah memahami Renjani. Itu bukan pertama kalinya Renjani kabur dari rumah.


"Mama." Renjani melihat mama nya datang, ia tak tahu jika Kelana sudah memberi kabar pada Lasti bahwa dirinya melahirkan.


Lasti meletakkan tas nya di atas meja lalu bergegas menghampiri Renjani yang sedang sarapan di atas ranjangnya.


"Selamat ya Nak." Lasti memeluk Renjani mengusap rambutnya, entah kenapa ia meneteskan air mata saat melihat Renjani.


Tubuh Renjani kaku, ia lupa kapan terakhir kali Lasti memeluknya dan ini terasa asing. Renjani tidak mau mengingat kata-kata menyakitkan yang kerap diucapkan Lasti tapi kepalannya otomatis memutar semua kalimat itu kembali.


"Maafin Mama."


Renjani melirik Kelana yang sedari tadi menatapnya. Kelana tampak mengangguk samar memberi kode bahwa Renjani boleh saja memaafkan Lasti meskipun itu tidak mudah. Seperti Kelana yang sulit memaafkan papa nya tapi mereka memiliki jalan untuk memperbaiki hubungan.


"Selama perjalanan kesini, Mama berpikir selama ini Mama belum menjadi Mama yang baik untuk mu, sekarang kamu sudah menjadi Ibu, Mama harap kamu jadi Ibu yang baik untuk anak mu."


Renjani mendongak menatap mama nya, "memangnya ibu yang baik itu seperti apa Ma?" Tanyanya.


"Ibu yang membesarkan anaknya dengan penuh kasih sayang, Mama harap kamu begitu."


"Apa aku bisa melakukannya sedangkan aku sendiri nggak pernah merasakan itu."


Lasti melepas pelukannya, wajahnya berubah pias, "meski begitu Mama tetap sayang kamu Re."


"Aku hidup dengan Mama yang selalu marah-marah dan tumbuh dengan mendengar pertengkaran orangtuanya setiap hari."


"Kamu selalu begitu sejak dulu, di dunia ini banyak anak yang lebih menderita tapi kamu bersikap seolah-olah paling tersakiti di dunia ini, kamu beruntung karena masih punya orangtua."


Renjani tertegun, air mata menggenang di pelupuk matanya. Sekali berkedip, air mata itu akan luruh ke pipinya. Mereka sering berdebat seperti itu, pada akhirnya Lasti lah yang akan menang dan Renjani hanya bisa diam.


"Cukup Ma." Kelana beranjak dari duduknya, "saya tidak bermaksud kurang ajar tapi kalau Mama kesini hanya untuk menyakiti Renjani lebih baik Mama keluar." Kelana menarik tangan Lasti membawanya keluar ruangan.


"Ma, Renjani baru melahirkan, emosinya masih labil dan nggak seharusnya Mama bicara seperti itu."


"Dia yang memulainya, lagi pula kamu nggak tahu apa-apa tentang Renjani."


"Saya tahu Renjani, saya yang paling mengerti perasaannya karena kami sama-sama hidup di keluarga yang tidak utuh, Mama sendiri yang bilang agar saya menjaga Renjani dengan baik karena Mama tidak mau kami bercerai seperti Mama dan Papa."


"Seenggaknya kasih Mama kesempatan untuk gendong anak Rere."


"Mama tunggu disini dulu." Kelana masuk menemui Renjani.


Renjani tampak menutup wajahnya dengan dua tangan, bahunya naik turun dengan cepat.


"Kamu belum menghabiskan makanan mu sayang." Kelana mengusap bahu Renjani, "aku suapin ya."


Renjani mengangkat wajah lalu menggeleng samar, ia tidak punya selera lagi untuk menghabiskan sarapannya.


"Kamu harus habisin biar ASI mu terisi penuh."


Renjani membuang muka menggeser piring di atas overbed table.


"Kamu mau makan apa nanti aku beliin."


Renjani tetap tidak menjawab, akhirnya Kelana meletakkan piring di atas nakas dan menurunkan overbed table. Kelana duduk di atas ranjang dan menarik Renjani ke dalam pelukannya. Tangis Renjani semakin menjadi, meski sedang bersama Kelana tapi ia merasa sendirian.


"Ada aku, jangan merasa sendiri." Ujar Kelana seolah bisa membaca pikiran Renjani. "Kamu istriku yang kuat, ibunya Renjana yang luar biasa."


"Aku nggak mau ketemu Mama."


"Tapi Mama pengen gendong Renjana, beri dia kesempatan, ya?" Kelana menangkup pipi Renjani.


"Tapi bawa aku keluar."


"Baiklah." Kelana menarik kursi roda ke dekat ranjang lalu membantu Renjani duduk di atasnya. "Jalan-jalan pagi baik untuk mu." Kelana membawa Renjani keluar sekaligus mempersilakan Lasti masuk.