Married by Accident

Married by Accident
Seseorang yang sangat tidak asing



Setelah mengetahui apa yang diinginkan oleh pria dengan raut wajah penuh permohonan tersebut, Dhewa sebenarnya merasa sangat terbebani karena menganggap seperti seorang yang punya tanggung jawab untuk mengajari. Padahal ia selama ini adalah orang yang tidak suka bicara ataupun berinteraksi dengan lawan jenis.


Jadi, tentu saja saat ini merasa bingung harus berbicara apa karena tidak sesuai dengan hati kecilnya. Sial! Kenapa tuan Hugo Madison malah memberikan aku sebuah tugas berat seperti ini? Memangnya aku baby sitter putrinya, apa.'


Dhewa yang hanya bisa berkeluh kesah di dalam hati saat meluapkan apa yang dirasakan, kini berdehem sejenak untuk menguraikan suasana keheningan di ruangan yang cukup luas dan yang di setting rapi disebut.


"Presdir, sepertinya saya tidak bisa melakukan tugas berat itu karena ...." Ia tidak melanjutkan perkataannya saat alasannya mungkin terdengar konyol.


Hugo Madison mengerutkan kening dan tadinya memasang telinga lebar-lebar agar mengetahui penolakan pria itu, tapi makin penasaran. "Karena apa?"


Dhewa seketika menggaruk tengkuknya yang tidak gatal untuk mencoba mengulur waktu. "Ehm ... jadi sebenarnya saya tidak suka berinteraksi dengan lawan jenis, Presdir. Ada satu alasan yang tidak bisa dijelaskan karena menyangkut privasi."


Seketika raut wajah Hugo Madison makin muram karena apa yang tadi membuatnya pesimis benar-benar terjadi dan tidak tahu lagi bagaimana cara untuk menjodohkan pria di hadapannya dengan putrinya.


Namun, ia tidak patah semangat dan masih berusaha untuk merubah jalan pikiran pria yang ternyata makin membuatnya kagum karena tidak berdekatan dengan wanita.


'Pria seperti ini yang sangat serasi untuk putriku karena pastinya akan sangat setia. Sepertinya dia pernah disakiti oleh kekasihnya. Makanya memilih untuk tidak berinteraksi dengan lawan jenis dan lebih fokus pada karir,' gumam Hugo Madison yang saat ini memasang wajah memelas yang tentu saja hanyalah sebuah akting semata demi bisa mengubah kata tidak menjadi iya.


"Aku benar-benar mau minta tolong padamu sebagai seorang ayah yang sangat menyayangi putrinya. Orang tua akan melakukan apapun demi anaknya agar tidak terpuruk dan berlarut-larut dalam kesedihan." Ia kini mencoba mengetuk nurani seorang pria yang terlihat seperti tidak bergeming dengan permohonannya.


"Apalagi jika sampai melakukan hal-hal yang buruk seperti bunuh diri, pasti tidak akan bisa memaafkan diri sendiri seumur hidup dan hanya dipenuhi penyesalan yang tidak akan berguna sama sekali." Kali ini ia sudah mengeluarkan jurus terakhir dan tentu saja sangat berharap akan disetujui.


Ingin sekali rasanya Dhewa mengumpat karena tidak bisa berkutik. Ia selalu menjadi orang lain jika berhubungan dengan tanggung jawab dalam pekerjaan.


Meskipun ia tidak langsung menjawab dan hanya hembusan napas kasar yang terdengar saat ini. Hingga akhirnya ia terdiam 5 detik dan membuka mulut setelah menyentuh telapak tangan yang menyatu dan menghadap ke arahnya.


"Jangan seperti ini, Presdir. Saya memang belum menikah ataupun mempunyai seorang anak, tapi bisa mengerti bagaimana perasaan orang tua yang menginginkan hal terbaik untuk keturunannya. Baiklah. Anggap semuanya beres karena saya akan mencoba untuk mengajari putri Anda." Ia pun agar berdiri dari sofa dan mengulurkan tangannya.


"Hubungi saya saja jika sudah membicarakannya padanya." Menatap jam tangan mewah di pergelangan tangan kiri yang menunjukkan jika dirinya sudah terlambat beberapa menit.


"Saya harus berangkat sekarang, Presdir. Mungkin lain kali kita bisa berbincang."


Wajah yang tadinya murung, seketika berubah berbinar. Hugo Madison yang saat ini seketika menyambut uluran tangan Dhewa sambil menepuk bahunya. "Terima kasih. Aku benar-benar saat berhutang budi padamu, Dhewa. Maaf karena telah membuang buang waktumu."


Dhewa saat ini hanya hanya menggelengkan kepala sekaligus tersenyum simpul, kini terlalu pergi karena jika terus berbicara, tidak akan segera berangkat ke lokasi yang harus ditinjaunya hari ini.


Ia saat ini berbalik badan dan langsung keluar diantar oleh sang pemilik ruangan. Bahkan ketika membuka pintu, pandangannya bersitatap dengan sang asisten yang menunggu di sebelah kiri ruangan.


"Sudah, Bos. Semoga hari ini tidak macet." Sang asisten memencet tombol pada lift dan langkah masuk ke dalam ruangan kotak besi tersebut.


Ia sebenarnya ingin bertanya apa yang tadi disampaikan oleh pemilik perusahaan hingga berbicara cukup lama di dalam, tapi tidak pernah melakukannya jika atasannya tidak menceritakannya sendiri.


Sementara itu, Dhewa yang saat ini merasa seperti terbebas dari beban begitu berada di dalam lift, seketika membuka satu kancing kemeja yang terasa menyesakkan.


Kemudian beralih memijat pelipisnya karena pusing memikirkan persetujuannya untuk pertama kali tidak sesuai dengan hati kecilnya.


Ia pun menoleh ke arah sana asisten yang berada di sebelah kanannya. "Kau tahu apa yang diminta pria itu padaku?"


Sang asisten seketika hanya menggelengkan kepala karena merasa jika pertanyaan sang atas sang atasan sangatlah konyol. "Tidak, Bos."


"Aku disuruh jadi baby sitter," ucap Dhewa yang saat ini beberapa kali mengembuskan napas kasar yang mewakili perasaannya sangat kesal.


Masih mencerna apa yang dimaksud oleh sang atasan dan membuatnya tidak paham, sang asisten kini mengerti ke mana arah pembicaraan pria yang sangat dihormatinya tersebut karena memang sudah mencari tahu semua hal tentang seorang Hugo Madison.


"Apa maksud Anda adalah putrinya yang sangat cantik itu? Sepertinya tuan Hugo Madison berniat untuk menjodohkan Anda dengan putrinya yang semata wayang." Saat ia baru saja menutup mulut, mendengar suara bariton sang atasan yang seketika membuat gendang telinganya seperti menggema.


"Dasar bodoh! Bukan itu!" Saat Dhewa berniat untuk menjelaskan, pintu kotak besi tersebut terbuka dan membuatnya berjalan keluar ke arah lobby. Hingga ia pun mulai menjelaskan apa yang tadi diminta oleh pria itu untuk membuat putrinya yang tengah patah hati karena akan bercerai, teralihkan dengan kesibukan.


Sang asisten kini mangkut-manggut dan mengerti, masih berjalan di sebelah atasannya tersebut. "Ini benar-benar sungguh mengejutkan. Jadi, putri emas itu ternyata sudah menikah dan akan bercerai?"


Tidak ingin suara sang asisten didengar oleh orang lain yang berada di perusahaan, Dhewa seketika menatap tajam untuk memberikan sebuah ancaman.


"Sekalian kau berbicara menggunakan loudspeaker agar semua orang mendengarnya." Saat ia sudah keluar dari lobby perusahaan dan berjalan menuju tempat parkir, seketika terdiam ketika pandangannya berhenti pada satu titik.


"Maaf, Bos," sahut sang asisten yang kini mengerutkan kening ketika melihat tatapan dari bosnya, sehingga mengikuti arah pandangnya.


Seseorang yang sangat tidak asing tengah berjalan menuju ke arah mereka dengan fokus menatap ke arah layar ponsel dan sepertinya tengah mengirimkan pesan.


Dhewa yang tadinya berjalan cepat, kini memperlambat langkah kaki dan tidak mengalihkan perhatiannya dari seseorang yang makin mendekat tersebut.


To be continued...