
Floe yang saat ini masih menikmati gado-gado, menoleh ke arah belakang karena merasa tertarik dengan pria yang dikenal sebagai player di kampus. Tanpa memperdulikan jika ada pengawal yang saat ini tengah mengawasinya di depan.
"Kamu memangnya setiap hari membawa bekal?" Floe melanjutkan pertanyaannya begitu melihat pria itu hanya mengangguk sambil mengunyah makanan ketika menjawabnya. "Mamamu yang menyiapkan bekal?"
Awalnya ia berpikir jika Harry adalah anak mama yang tidak pernah bisa menolak perintah dari sang ibu, tapi kini mengerti jika pemikirannya salah.
"Ini dari pacarku. Aku sudah melarangnya membawakan makanan, tapi tidak mau mendengarkan. Ya sudah, aku setiap hari menikmati makanan sehat dan hemat uang jajan." Harry berbicara sambil menunjuk ke arah pengawal yang duduk di kursi dosen.
"Awas, nanti pengawalmu merekam dan melaporkan pada suamimu saat kamu berbicara denganku. Apa enak punya suami over protektif seperti itu? Kamu menikah karena dijodohkan atau hamil?" tanya Harry yang saat ini mengetahui jawaban dari pertanyaannya begitu melihat jika wanita yang duduk di barisan depan tersebut tersedak makanan yang dikunyah.
Floe seketika minum jus jeruk yang tadi dibelikan oleh pengawal dan berharap rasa panas di tenggorokan ketika tersedak makanan, sirna. Namun, bukannya marah merasa lega, tapi yang terjadi malah semakin batuk-batuk karena tenggorokannya terasa gatal sekaligus panas karena rasa pedas pada gado-gado yang ia nikmati.
"Nona!" sahut pengawal yang seketika bangkit berdiri dari kursi dan merasa khawatir dengan keadaan majikannya karena tidak berhenti batuk.
"Saya belikan air mineral dulu, Nona. Jus jeruk sepertinya malah membuat Anda semakin batuk." Saat ia masih merasa sangat khawatir pada keadaan majikan yang masih batuk, kini menatap ke arah pria yang bangkit berdiri dan membawa botol air mineral yang sudah berkurang isinya.
"Keburu dia sesak napas jika membeli di kantin. Minum ini saja!" sahut Harry yang kini mengulurkan botol air mineral miliknya. "Tapi tadi sudah aku minum dan itu bekasku. Kau biasa jijik dengan bekas orang lain atau tidak?"
Refleks Floe langsung merebut botol air mineral tersebut dan membukanya. Kemudian menekuk perlahan air mineral yang kini mulai sedikit demi sedikit membasahi tenggorokan dan meredakan rasa gatal serta panas yang dirasakannya.
Bahkan ia hanya menyisakan sedikit setelah dirasa tenggorokannya tidak lagi gatal karena minum jus jeruk saat tersedak. "Aaah ... leganya!"
Ia bahkan saat ini menatap sesal dan tidak mengucapkan terima kasih pada Harry karena memberikan air untuknya. Kesal karena tersedak disebabkan oleh pria dihadapannya tersebut, seketika membuatnya meninju lengan kekar itu.
"Apa kau selalu berbicara blak-blakan seperti itu pada para wanita? Punya mulut di filter sedikit!" sarkas Floe yang kini menampilkan wajah masam karena kesal.
Berbeda dengan Harry yang sudah mengetahui ke mana arah pembicaraan dari wanita yang diketahuinya menikah muda karena hamil. "Aaah ... jadi maksudmu aku tidak boleh bertanya tentang apa alasanmu menikah? Sudah berapa bulan?"
Ia selama ini semakin dilarang malah akan makin melakukannya, sehingga tidak memperdulikan raut wajah masam Floe dan melirik sekilas ke arah pria dengan raut wajah garang di hadapannya.
"Apa? Mau lapor pada majikanmu? Laporkan saja jika aku menolong istrinya agar tidak keguguran karena batuk terlalu berlebihan bisa berakibat fatal pada janin jika kehamilannya masih trimester pertama." Harry bisa berbicara seperti itu karena melihat sendiri bagaimana dulu sepupunya mengalami keguguran hanya karena batuk tidak berhenti ketika hamil muda.
Ia bahkan geleng-geleng kepala melihat raut wajah terkejut dari Floe yang menjelaskan jika tidak mengetahui hal itu.
"Masa sih? Cuma batuk bisa keguguran? Amit-amit," ucap Floe yang saat ini langsung mengusap perutnya dan merapal doa agar tidak terjadi sesuatu yang buruk dari janin dalam kandungannya.
Ia menoleh ke arah pengawal yang hanya diam saja. "Belikan aku dua air mineral di kantin. Aku sekarang tidak ingin minum jus jeruk lagi karena tadi benar-benar membuat tenggorokanku gatal. Belikan air putih saja untuk minum setiap hari ketika di kampus."
Floe yang ingin berbicara empat mata dengan pria di hadapannya karena merasa tertarik dengan pembahasan pria itu mengenai kehamilan yang malah tidak diketahui olehnya. Ia mengibaskan tangannya agar pengawal segera pergi dan membiarkannya bicara berdua mumpung yang lain belum datang.
Pengawal yang sebenarnya merasa bingung harus melaksanakan perintah atau tetap di sana karena khawatir jika terjadi sesuatu yang buruk jika sampai pria itu berbuat macam-macam pada majikannya.
"Tapi Nona. Anda tidak boleh berduaan dengan seorang pria yang bukan mahramnya. Lebih baik saya membeli setelah ada mahasiswa yang kembali ke kelas." Ia yang masih merasa yakin jika keputusannya benar karena khawatir mendapatkan kemurkaan dari majikan laki-laki, seketika terdiam begitu terdampar oleh perkataan wanita yang membuatnya tidak berkutik tersebut.
Floe yang merasa sangat kesal karena baik di rumah maupun kampus tidak pernah punya privasi apapun, sehingga menatap tajam dan mengeluarkan taringnya.
"Ini air tinggal sedikit dan jika aku batuk lagi, tidak akan bisa membuat tenggorokanku lega. Apa kau mau bertanggung jawab?" sarkas Floe yang masih melampiaskan kekesalannya pada pria berbadan tinggi besar tersebut agar segera pergi dari hadapannya.
Sementara itu, Harry yang hanya tertawa sini dengan wajah datar ketika pemandangan di hadapannya sangat menarik karena pria dengan wajah sangat tersebut tidak berkutik dan akhirnya memilih pergi.
"Baiklah, Nona." Sang pengawal yang berpikir jika sampai terjadi sesuatu hal yang buruk pada janin majikannya, malah akan tamat riwayatnya, sehingga berlalu pergi dan sebelumnya menatap tajam pria itu.
Seolah ingin memberikan sebuah ancaman agar tidak macam-macam pada majikannya karena hanya berdua di dalam ruangan.
"Tenang saja, aku yang akan menjaga majikanmu yang tengah hamil ini." Harry kini melambaikan tangan ketika pria itu sudah menghilang di balik pintu dan beralih menatap ke arah Floe yang kembali bertanya dan penasaran tentang perkataannya barusan.
"Cepat jelaskan padaku karena Aku benar-benar tidak tahu soal itu. Memangnya kamu pernah melihat ada wanita hamil yang keguguran hanya karena batuk?" Floe bahkan tidak berhenti mengusap perutnya karena sudah ada ikatan batin antara dirinya dengan janin dalam kandungannya.
Ia akan mulai menerima janin yang berkembang di rahimnya dan ingin terus menjaga hingga dilahirkan ke dunia dengan sehat tanpa kekurangan suatu apapun.
Sementara itu, Harry kini hanya geleng-geleng kepala karena wanita di hadapannya tersebut seperti tidak mempunyai pengetahuan tentang kehamilan.
"Dasar! Kamu pinter buat, tapi tidak
mau mencari tahu tentang informasi mengenai kehamilan. Jangan pikir enak-enaknya saja, tapi juga dampaknya," sindir Harry yang seketika meringis menahan rasa nyeri pada tangannya yang dicubit sangat kuat hingga memerah.
"Iissh ... menyebalkan sekali! Kau tidak tahu apa-apa tentangku! Jadi, jangan berasumsi seenak jidatmu karena semuanya tidak seperti yang kau pikirkan. Ya sudah jika tidak mau menceritakan padaku. Pergi sana!" sarkas Floe yang kini menutup kotak makanan berisi gado-gado yang tidak dihabiskannya.
Nafsu makannya kembali hilang karena berubah bad mood. Ia bahkan mengibaskan tangannya agar pria yang masih berdiri di sebelahnya tersebut segera pergi dan kembali ke kursinya. Hingga ia seketika tersenyum ketika suara bariton bernada penyesalan terdengar.
Namun, ia sama sekali tidak menolehkan kepala ke belakang karena masih sibuk membereskan makanannya, tapi telinga dipasang lebar-lebar untuk mendengarkan perkataan dari pria itu.
"Maaf. Aku hanya bercanda tadi. Sebenarnya aku melihat sepupuku mengalami pendarahan setelah batuk tidak berhenti. Memang para ibu hamil kerap mengalami keluhan batuk. Apabila tidak ditangani dengan baik, tidak hanya berisiko untuk ibu, tetapi juga janin dalam kandungan." Harry kini mendaratkan tubuhnya karena merasa pegal karena berdiri terlalu lama.
"Batuk saat hamil tidak boleh disepelekan karena dapat menyebabkan ketidaknyamanan. Bahkan, juga bisa memberikan dampak bagi janin. Itu karena saat batuk, perut ibu hamil akan bergerak ke atas dan ke bawah, dan hal ini menyebabkan tekanan di dalam perut yang dirasakan oleh janin." Ia kini melihat Floe yang menoleh ke arahnya karena tahu jika wanita itu merasa penjelasannya masuk akal.
"Ya, jika dipikirkan secara logika tanpamu perlu bertanya pada dokter, sudah masuk akal sih!" Floe yang saat ini makin penasaran pada penjelasan Harry, kembali bertanya, "Lalu?"
"Tekanan di dalam perut tidak menimbulkan rasa nyeri pada janin. Janin akan merasakan getaran ringan dan memberikan respons dengan sedikit gerakan di dalam perut yang akan dirasakan oleh ibu."
"Itulah yang kudengar dari penjelasan dokter ketika membawa sepupu yang keguguran ke Rumah Sakit." Ia kini menatap ke arah perut yang masih datar itu. "Memangnya kehamilanmu menginjak usia berapa minggu? Dulu keguguran saat usia 12 minggu karena masih rawan dan kandungannya lemah."
Floe yang kini menunduk ke arah perutnya yang datar, lalu menatap ke arah pria yang membuatnya sadar jika harus banyak mencari informasi mengenai kehamilan.
"Ini pun 12 minggu. Semoga tidak terjadi apapun pada baby karena aku mulai menyayanginya," ucap Floe yang berencana pergi ke toko buku membeli buku-buku tentang kehamilan.
"Terima kasih karena sudah mengingatkanku jika menjadi seorang calon ibu yang tidak bertanggung jawab karena tidak mencari informasi mengenai seputar kehamilan." Ia mengulurkan tangannya dan menunggu sampai mendapatkan balasan.
Refleks Harry mengacak rambut Floe karena melihat wanita itu membuatnya mengingat sepupunya. "Makanya jaga kandunganmu dengan baik agar tidak menyesal seperti sepupuku."
"Batuk yang terjadi pada trimester pertama atau tiga bulan pertama kehamilan berpotensi menyebabkan keguguran bila batuk tersebut sangat kuat, berulang, dan lama. Batuk meningkatkan tekanan dalam perut ibu, sehingga memicu terjadinya keguguran. Jadi, segera obati jika nanti batuk."
Saat Harry masih mengecat rambut Floe hingga berantakan, kembali merasakan cubitan, tapi kali ini di pahanya dan membuatnya seketika meringis menahan rasa panas yang menjalar.
"Berhenti tidak? Atau mau kutambah lagi?" sarkas Floe dengan wajah kesal dan bibir mengerucut.
"Astaga! Iya ... iya!" sahut Harry yang kini beralih menguburkan tangannya. "Sini tanganmu!"
Floe yang saat ini mengerutkan kening karena merasa heran apa yang diinginkan oleh Harry. "Mau apa?"
"Astaga! Bukannya kamu tadi mengucapkan terima kasih padaku? Buruan! Nanti aku berubah pikiran!" Saat Harry menjabat tangan Floe, seketika berlari menatap ke arah pintu yang di mana ada beberapa teman sekelas masuk dan menatap penuh curiga seperti ia baru saja melakukan perbuatan dilarang.
"Hayo, apa yang kalian lakukan?" tanya sendiri yang baru saja masuk bersama dengan teman-teman lainnya.
Bahkan juga ada lagi yang mulai berdatangan masuk ke dalam kelas karena memang jam pelajaran akan dilanjutkan.
Sementara itu, Floe yang saat ini saling bersitatap dengan hari dan memberikan kode agar tidak mengatakan pembicaraan tentang kehamilannya karena masih belum siap jika di hari pertama sudah tersiar kabar tentang keadaannya yang menikah karena kecelakaan.
'Semoga dia bukan pria bermulut ember dan merahasiakan pembicaraan kami,' gumam Floe yang saat ini berakting seperti tidak berbicara hal penting dengan Harry.
"Aah ... aku tadi mengatakan jika ingin meminjam buku Harry karena mengetahui jika tulisannya sangat rapi dan bisa mencatat poin-poin penting cari penjelasan dosen," ucap Floe saat ini berharap beberapa orang yang berdiri di hadapannya dengan tatapan menyelidik tersebut mempercayai perkataannya.
Sementara itu, Harry yang terlihat sampai dan bersikap cuek pada semua orang karena merasa tidak perlu untuk menjelaskan. Namun, melihat tatapan tajam ketika Floe meliriknya, membuatnya mau tidak mau hanya menganggukkan kepala.
"Kalian tidak ada kerjaan selain mengintrogasi kami, ya? Ini jelas dan pintu terbuka lebar. Apa kalian berpikir jika aku akan berbuat macam-macam pada istri orang?" Ia pun mengarahkan jari telunjuk pada pelipisnya untuk menyindir semua orang agar memakai otak ketika mencurigainya.
Tentu saja semua yang tadinya menatap curiga, seketika menelan saliva dengan kasar karena tersindir. Seolah mengejek jika mereka tidak menggunakan otak ketika menuduh.
Hingga yang paling utama merasa tersinggung adalah Rere dan akhirnya berjalan meninggalkan anak baru dan Harry yang selama ini diincarnya, tapi tidak pernah meliriknya sama sekali.
Ia benar-benar merasa kesal sekaligus iri pada anak baru ya tadi terlihat sangat akrab dengan Harry. 'Awas saja kau anak baru. Aku tidak akan tinggal diam jika kau berani menggoda incaranku.'
Rere masih mengumpat di dalam hati karena merasa sangat kesal pada sosok mahasiswi baru yang merupakan istri dari salah satu alumni terbaik di kampus. Ia kini sudah mendaratkan tubuhnya di kursi kosong bersama dengan beberapa temannya, tapi memilih membahas hal lain.
Saat Harry berniat untuk pergi ke toilet untuk mencuci tangan, ia mendengar suara lirih dari Floe dan menoleh.
"Terima kasih," lirih Floe yang kini merasa lega ketika pria itu tidak membuka rahasianya di depan yang lain.
Hingga ia melihat Harry mengangguk perlahan dan bertemu dengan pengawal ketika melewati pintu. Bahkan melihat jika satu botol air mineral diberikan pada pria itu dan satu lagi diberikan padanya.
"Pergilah ke kantin untuk makan siang dan tidak perlu menjagaku setelah dosen masuk." Floe kembali mengibaskan tangan karena tidak ingin menjadi pusat perhatian lagi.
Tidak ingin membuat majikan bad mood, akhirnya pengawal tidak lagi membantah karena memang perutnya juga kelaparan. "Kalau butuh sesuatu telpon saja, Nona."
Floe hanya mengibaskan tangannya karena merasa risi dengan perhatian pengawal di depan teman kuliah di dalam kelas.
Hingga ia merasa lega begitu pria itu pergi dan sudah menghilang di balik pintu. 'Rasanya aku sekarang seperti burung yang terbebas dari sangkar emas.'
Ia yang baru saja menghabiskan sisa air Harry, kini berjanji pada diri sendiri untuk merawat dengan baik janinnya.
'Mungkin batuk juga memicu Kelahiran Prematur. Seperti penjelasan Harry tadi, sepertinya peningkatan tekanan dalam perut dan guncangan bagi janin akibat batuk yang kuat, berulang, dan lama juga dapat memicu kelahiran prematur. Aku akan berusaha untuk merawatmu dengan baik,' gumam Floe yang kini memegangi perutnya yang datar.
To be continued...