Married by Accident

Married by Accident
LXIII



Renjani tertegun melihat Kelana dan Elara tengah berpelukan di bangku depan gedung Antasena. Lihatlah Re, sepertinya semesta memang enggan membiarkanmu bahagia dengan Kelana apalagi sejak awal Elara adalah wanita yang paling Kelana cintai.



Perih sekali, Renjani menelan ludahnya dengan susah payah. Perlahan ia membalikkan badan dan melangkah tanpa suara menuju tempat parkir. Harusnya ia menuruti ucapan Kelana untuk masuk mobil lebih dulu. Renjani hanya mengikuti kata hatinya untuk tetap berada disini. Mungkin semesta ingin memberitahunya bahwa Elara dan Kelana akan kembali bersatu. Sedangkan Renjani harus kembali ke dunianya yang kumuh. Menjadi penjaga perpustakaan dan tersenyum pada pengunjung meski mereka mengabaikannya.


Renjani menghempaskan tubuhnya ke jok mobil mengabaikan pandangan Yana. Mungkin Yana penasaran mengapa Renjani kembali tanpa Kelana. Renjani terlalu malas untuk menjelaskannya. Kelana pasti akan menceritakannya sendiri pada Yana nanti.


"Maaf membuat mu menunggu." Kelana muncul dari luar, ia segera duduk di samping Renjani dan meminta Dayat menjalankan mobil.


Renjani hanya tersenyum hambar tanpa menjawab apapun, ia melempar pandangan keluar jendela dari pada melihat Kelana. Bayangan Kelana dan Elara berpelukan masih melekat di pikiran Renjani. Mungkin malam ini ia tak akan bisa tidur memikirkan itu.


"Dia Elara." Tukas Kelana tanpa ditanya, mungkin saja Renjani menginginkan sebuah penjelasan tapi tak berani bertanya jadi Kelana berinisiatif untuk memberitahu.


Renjani mengangguk, ia dengar Kelana menyebutkan nama itu saat pertama kali melihat Elara disertai eskpresi terkejut yang sulit dijelaskan.


"Dia kembali?"


"Iya, Lara ada kolaborasi sama beberapa musisi Indonesia, paling lama satu bulan setelah itu kembali ke Perancis."


"Oh." Renjani ber-Oh ria, lagi pula ia tidak ingin tahu apa alasan Elara kembali ke Indonesia.


"Dia mau berkenalan dengan mu tapi aku belum menyetujuinya karena harus tanya kamu dulu."


"Atur aja waktunya." Renjani berusaha tetap tenang padahal ia terkejut karena Elara ingin berkenalan dengannya. Untuk apa mereka saling mengenal. Apakah Elara ingin menunjukkan bahwa pada akhirnya ia bisa memiliki Kelana lagi.


"Jadi seseorang yang mau bertemu Mas Lana itu Elara?" Yana akhirnya menyela.


"Iya, ternyata dia menungguku sejak tadi siang."


Renjani mencibir, bukankah ia juga menunggu Kelana dari awal? Kenapa Kelana terlihat begitu bangga ketika tahu Elara menunggunya. Renjani bahkan sudah melakukan itu lebih lama.


Sekarang Yana mengerti kenapa Renjani terlihat muram saat masuk mobil. Kedatangan Elara membuat suasana semakin keruh.


"Kamu bersih-bersih dulu gih, aku bikinin makan." Ujar Kelana pada Renjani saat mereka sampai di apartemen.


"Nggak usah, aku langsung tidur aja." Renjani tidak mau melakukan apapun selain pergi ke kamar dan bersembunyi di dalam selimut.


"Re, tapi kamu belum makan dari tadi, kamu nggak enak badan?" Kelana kembali memeriksa suhu tubuh Renjani dengan menyentuh keningnya.


"Cuma agak pusing, besok juga udah baikan." Renjani melangkah masuk kamar lebih dulu.


"Ganti baju dulu, ini nggak nyaman untuk tidur." Kelana mendudukkan Renjani di atas ranjang sementara ia mengambil baju tidur di walk in closet.


"Kamu masih mencintainya?" Tanya Renjani ketika Kelana mengganti pakaiannya dengan baju tidur.


Kelana menghentikan gerakannya memasang kancing piyama Renjani.


"Kamu cemburu?" Kelana melihat ekspresi Renjani sekilas lalu kembali melanjutkan aktivitasnya.


"Jawab pertanyaan ku."


"Aku mencintaimu." Kelana mengecup kening Renjani, sekarang ia tahu alasan kenapa Renjani kehilangan selera makan. "Aku oleskan minyak kayu putih, sepertinya kamu masuk angin."


Renjani berbaring membiarkan Kelana mengoleskan minyak kayu putih di perutnya padahal ia tidak mengatakan bahwa dirinya masuk angin.


"Re, jangan mikir macam-macam, perasaanku nggak akan berubah, Elara dan aku sudah berakhir."


Bagaimana Renjani tidak berpikir macam-macam jika ia melihat sendiri Kelana dan Elara berpelukan.


"Aku bikinin makanan ya, walaupun nggak selera tapi kamu harus tetap makan."


"Aku mau tidur." Renjani memeluk guling menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Ya sudah." Kelana mematikan lampu ruangan, ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan ganti baju sebelum ikut berbaring di tempat tidur.


Kelana mengambil ponsel di atas nakas saat melihat layarnya menyala dan bergetar panjang. Ia mendapat panggilan dari nomor yang tidak ada dalam kontaknya.


Kelana mengabaikannya karena ia biasa mendapat panggilan dari nomor yang tidak dikenal. Meski sudah mengganti nomor tapi ada saja penggemar nakal yang menelepon dan itu sangat mengganggu Kelana.


Sesaat kemudian satu pesan masuk ke ponsel Kelana dari nomor yang sama.


Ini aku Lara


Detik berikutnya layar berganti menampilkan sebuah panggilan masuk. Kelana menjawabnya dengan sekali ketuk.


Kelana menjawabnya dengan anggukan padahal Elara tidak ada disini. Rasanya aneh setelah sekian lama tidak mendengar suara Elara lewat telepon. Kelana masih tidak percaya jika Elara kembali, wanita yang sudah ia tunggu sangat lama.


"Maaf aku mengganggumu."


Kelana melirik Renjani yang mengubah posisi memunggunginya.


Kenapa Renjani memunggungi ku? sebelumnya dia nggak pernah begini.


"Kelana, tolong datang ke konser kami Minggu depan, aku hanya minta waktu mu satu hari sebelum aku kembali ke Perancis."


"Dimana?"


"Istora Senayan."


"Baiklah."


"Oh iya Kelana, tolong dengarkan lagu ini, aku baru membuatnya dan akan ditampilkan di konser nanti setelah itu beri penilaian."


"Kamu lebih jago soal ini."


"Tetap saja harus minta pendapat violinis lain."


Kelana turun dari tempat tidur keluar menuju balkon khawatir mengganggu waktu istirahat Renjani.


Kelana meletakkan ponsel di meja kecil di sampingnya setelah menaikkan volume. Beberapa saat kemudian terdengar alunan violin yang membuai. Sesuai dugaan Kelana, kemampuan Elara bermain violin meningkat pesat setelah belajar di Perancis.


Ditemani semilir angin malam yang menyejukkan, Kelana terlena oleh permainan violin Elara. Perasaan hangat menelusup ke rongga dadanya pada saat yang bersamaan.


Sementara itu Renjani menyingkap selimut karena Kelana tidak segera kembali ke kamar.


"Mereka ngomongin apa?" Renjani penasaran tapi ia juga tidak bisa menguping pembicaraan Kelana. "Itu pasti Elara." Renjani mencibir, Kelana bahkan tidak menjawab saat ditanya soal perasannya pada Elara.


******


Aroma roti panggang menguar ke seluruh dapur. Karena semalam Kelana tidak jadi membuat makanan jadi pagi ini ia bangun lebih awal untuk membuat sarapan. Roti panggang dengan buah alpukat dan tambahan telur untuk Renjani. Sementara Kelana cukup dengan selai kacang karena ia tidak suka alpukat.


"Kenapa Rere belum bangun?" Kelana sudah selesai membuat sarapan tapi Renjani belum keluar dari kamar.



Kelana menghampiri Renjani yang masih terlelap, "Rere, bangun yuk aku udah bikinin sarapan."


Perlahan Renjani membuka mata, ia masih ingin tidur tapi perutnya lapar.


"Mau aku bawa makanannya kesini?"


Renjani turun dari tempat tidur tanpa menjawab pertanyaan Kelana. Kenapa Kelana sok baik pagi ini padahal semalam ia bicara dengan Elara hingga larut malam. Renjani berniat tidak akan tidur hingga Kelana kembali ke kamar tapi ia ketiduran saking lamanya Kelana berada di balkon.


"Re, kita ke dokter ya kalau kamu masih nggak enak badan." Kelana menyusul Renjani ke ruang makan.


"Kapan aku bisa ketemu Elara?" Renjani menatap Kelana yang duduk di hadapannya.


"Hm? tiba-tiba mau ketemu?"


"Karena dia nggak lama disini, lebih cepat ketemu lebih baik."


"Aku belum tanya sama dia sih semalem."


"Jadi semalem kamu bicara sama Elara?" Renjani pura-pura tidak tahu padahal ia yakin seratus persen bahwa orang yang berbicara dengan Kelana adalah Elara. Kelana tak mungkin menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengobrol.


"Iya dia nunjukin lagu barunya ke aku, maaf ya." Kelana merasa bersalah karena meninggalkan Renjani terlalu lama, ia sadar setelah melihat durasi teleponnya dengan Elara hampir 3 jam.


"Kenapa minta maaf?" Renjani menahan rasa dongkol dalam dadanya, ia tidak boleh menunjukkannya pada Kelana.


"Karena aku nggak nemenin kamu tidur."


"Aku bukan bayi yang harus ditemenin terus."


"Kalau gitu jangan cemberut." Kelana mencubit sudut bibir Renjani, ia sudah membuat sarapan enak tapi Renjani masih saja cemberut.


Renjani menghabiskan sarapannya dengan cepat lalu pergi mandi. Ia harus memilih pakaian terbaik untuk bertemu Elara. Meskipun Renjani tahu dirinya masih kalah jauh dengan Elara yang tak hanya cantik tapi berkharisma.