Married by Accident

Married by Accident
CI



Gerakan gemulai penari cilik di atas panggung menghipnotis semua orang. Mereka bergerak selaras mengikuti alunan musik yang berasal dari gesekan violin di salah satu sisi panggung. Tubuh mereka lentur seolah tidak memiliki tulang-tulang, itu berkat latihan keras selama satu bulan penuh demi menampilkan tari balet terbaik untuk semua penonton.


Penampilan mereka bertajuk Tarian Angsa putih, kaki-kaki kecil mereka bergerak lincah kesana kemari menguasai panggung.


Faralyn berada di tengah, ia benar-benar terlihat seperti angsa kecil yang menari di atas danau. Kelana dan Renjani menatap bangga pada Faralyn yang bisa menguasai gerakan sulit itu dengan baik. Itu adalah buah dari kerja keras Faralyn selama ini.


Di samping kanan Kelana, Wira dan Ratih juga tak bisa mengalihkan pandangan dari panggung enggan melewatkan gerakan Faralyn meski hanya satu detik. Wira amat bangga menyaksikan penampilan sang cucu, ia tak perlu memaksa Faralyn belajar musik atau menari, anak itu sudah dilahirkan dengan darah seni mengalir di tubuhnya.


Penonton berseru riuh ketika Faralyn mengangkat kaki tinggi menyentuh tangannya. Mereka terpukau oleh gerakan anak empat tahun tersebut.




Lima penari kecil itu saling berpegangan lalu membungkukkan tubuh secara bersamaan pertanda penampilan mereka telah berhasil. Tepuk tangan meriah mengakhiri penampilan luar biasa mereka. Terakhir sang violinis juga berjalan ke tengah panggung dan melakukan gerakan yang sama dengan penari sebagai penutup. Saat itu barulah penonton sadar bahwa violinis tersebut adalah Elara. Mereka bisa melihatnya dengan jelas saat lampu menyorot tepat pada sosok Elara.


Renjani tertegun, jadi violinis dari luar negeri yang dibicarakan para ibu saat latihan waktu itu adalah Elara. Mengapa Renjani tidak tahu soal ini, ia sungguh tidak berpikir jika itu adalah Elara.


Tatapan Elara mengarah pada Kelana, senyum tipis tersungging di bibir mungilnya. Ia tahu jika salah satu dari penari balet itu adalah anak Kelana karena mereka sempat bertemu saat gladi bersih kemarin. Elara bisa langsung mengenalinya karena Faralyn amat mirip Renjani.


Penonton juga bertepuk tangan untuk permainan violin Elara yang tak kalah spektakuler.


Kelana melihat ke arah Renjani menghindari tatapan Elara.


"Kenapa?" Renjani menyadari bahwa Kelana menghindari tatapan Elara. "Kamu takut?"


"Apa maksudmu, Re?" Kelana menggenggam tangan Renjani.


"Kamu takut jatuh cinta lagi kalau lihat dia?"


Kelana menggeleng, "nggak ada yang bisa merubah perasaan ku ke kamu, aku cuma mau menjaga perasaanmu." Ia tak mau Renjani salah paham. Bukankah wanita paling hobi membuat kesimpulan sendiri di kepalanya dan Kelana tak mau Renjani menduga-duga pada sesuatu yang tidak ia lakukan. Kelana tak mau merusak hari bahagia ini dengan pertengkaran.


"Aku sudah membuktikan cinta ku."


"Dengan?"


"Dengan ini." Kelana meraba perut Renjani, tadi pagi Renjani mencoba menggunakan test pack dan ternyata hasilnya positif. Bulan madu satu malam mereka di Bandung berhasil. Mereka juga sudah melakukan pemeriksaan di rumah sakit untuk memastikan kehamilan Renjani.


"Aku nggak sabar lihat reaksi Fara pas kita ngasih tahu dia nanti."


"Dia pasti exited banget."


"Aku ke belakang dulu samperin dia." Renjani menuju belakang panggung untuk bertemu Faralyn. Sementara Kelana tinggal di tempatnya untuk melihat penampilan yang lain.


"Anak Ibu hebat banget!" Renjani mengangkat tubuh Faralyn lalu menciumnya. "Kamu luar biasa sayang."


Faralyn sumringah dipuji Renjani, ia memeluk leher ibunya dengan sayang.


"Ini anak mu?" Suara seorang wanita muncul dari belakang mengalihkan perhatian Renjani dan Faralyn. Tampak Elara menghampiri mereka dengan senyum tipis.


"Iya." Renjani menjawab dengan suara sedikit tercekat, sudah beberapa tahun berlalu sejak mereka bertemu terakhir kali.


"Gimana kabar mu?" Elara mengulurkan tangan.


"Seperti yang kamu lihat, kamu?" Renjani menurunkan Fara untuk menyambut uluran tangan Elara. Begitu turun, Faralyn langsung berlari menghampiri teman-temannya yang lain. Anak seusia Faralyn memang tidak pernah bisa diam.


"Aku baru menikah bulan lalu."


"Oh ya?" Renjani membelalak terkejut dengan kabar gembira tersebut, ia ikut senang jika akhirnya Elara menemukan tambatan hatinya. "Selamat ya."


Elara terkekeh, "aku pikir aku nggak akan bisa menikah dengan siapapun seumur hidup."


"Nggak ada alasan untuk sendiri seumur hidup, kamu wanita yang sempurna."


"Aku nggak bisa bilang melupakan Kelana adalah sesuatu yang mudah, itu jauh lebih sulit dibandingkan dengan memainkan lagu The Last Rose Of Summer." Elara tersenyum getir, bahkan ujung jarinya sampai terluka saat memainkan lagu Heinrich Wilhelm Ernst tersebut. Namun melupakan Kelana seperti hal yang mustahil Elara lakukan sampai akhirnya ia bertemu dengan Grant tahun lalu.


Renjani tidak mengerti apa yang Elara katakan, sepertinya pemusik memang suka menggunakan istilah lagu-lagu saat mengobrol yang tentu saja tidak Renjani ketahui. Namun sepertinya lagu yang Elara sebutkan itu cukup sulit tapi melupakan Kelana jauh lebih sulit. Setidaknya Renjani tahu maksud dari pembicaraan mereka. Renjani serba salah, ia tak tahu harus mengatakan apa pada Elara saat ini.


Elara menghembuskan napas lega, "tapi sekarang aku sudah bertemu pasangan hidupku, dia bisa membuatku nyaman dan perlahan menggantikan posisi Kelana di hidupku."


"Semoga kalian selalu bahagia." Renjani menyentuh punggung tangan Elara, "aku nggak bermaksud lancang tapi kamu berhak bahagia El."


"Aku kesini bukan untuk bertemu Kelana."


"Nggak-nggak, aku nggak pernah berpikir begitu." Renjani mengibaskan tangannya, ia tahu kedatangan Elara kesini murni karena pekerjaan. Lagi pula keberadaan Elara tak akan mempengaruhi rumah tangga Kelana dan Renjani. Saat ini Renjani yakin sepenuhnya terhadap Kelana. Mereka sudah menikah lebih dari 6 tahun.


"Aku pikir dunia sudah berakhir sejak aku tahu Kelana menikah denganmu tapi kenyataannya dunia tetap berputar tanpa peduli apa yang aku alami saat itu."


"Maafkan aku soal itu."


"Ini bukan salah mu, lagi pula semua sudah berlalu, harusnya aku nggak ngomong gini."


"Aku lega kamu sudah menemukan lelaki yang akhirnya bisa mengisi seluruh ruang di hati mu."


Elara tertawa sumbang, Renjani benar, Grant telah membuat Elara melupakan sakit hati dan penyesalannya meninggalkan Kelana dulu.


Elara mengulurkan tangan memeluk Renjani, ia harus melakukan itu untuk benar-benar berdamai dengan dirinya sendiri.


"Aku nggak bisa berteman sama kamu." Gumam Elara setelah mengurai pelukan.


"Aku tahu." Renjani mengerti perasaan Elara, meskipun sekarang Elara terlihat sudah baik-baik saja tapi cukup sulit bagi mereka untuk berteman. "Aku juga nggak berniat berteman denganmu."


Elara kembali tertawa, dulu saat pertama kali bertemu, Renjani belum seberani ini. Renjani hanyalah gadis lugu yang mudah ditindas. Namun sekarang Renjani sudah banyak berkembang. Penampilannya juga terlihat berkelas hingga Elara akui, Renjani pantas bersanding dengan Kelana.


"Walaupun bukan teman tapi kita bisa saling sapa kalau ketemu di luar."


"Sampai jumpa lagi kalau gitu, ngomong-ngomong anak kamu cantik, tariannya juga bagus."


"Terimakasih untuk pujiannya, kamu juga luar biasa tadi." Renjani akui bahwa permainan violin Elara memang luar biasa setara dengan Kelana.


"Ibu!" Faralyn menghampiri Renjani, "mau ganti baju."


"Ayo." Renjani menggenggam tangan Faralyn, "aku pergi dulu." Pamitnya pada Elara.


Elara melihat kepergian Renjani bersama Faralyn, keduanya menghilang di balik tirai menuju ruang ganti.


******


"Kamu tahu lagu the Last Rose of Summer?" Renjani beranjak menghampiri Kelana yang sedang memperhatikan partitur di atas pianonya.


"Tahu sayang, semua orang tahu lagu itu." Kelana menjawab tanpa melihat Renjani, ia tengah serius dengan kertas di tangannya.


"Berarti aku bukan orang." Renjani merengut, setelah 6 tahun menikah dengan Kelana kenapa Renjani belum tahu apa-apa soal musik. Renjani juga ingin mengerti hal-hal yang Kelana ketahui dalam bidang musik sesederhana judul lagu populer di kalangan musik.


Kelana akhirnya meletakkan kertasnya dan mengalihkan perhatian pada Renjani menyadari ada yang tidak beres dengan sang istri.


"Apa lagu itu sulit?"


"The Last Rose of Summer termasuk lagu yang sulit tapi nggak se-sulit Caprice di D mayor 'Il labirinto armonico."


Renjani memutar bola mata, ia tak peduli lagi apapun yang Kelana sebutkan ia tetap tidak mengerti.


"Kalau gitu mau kan lagu Caprice itu." Renjani mengangkat dagu dengan wajah galak, ia tak punya alasan untuk kesal pada Kelana tapi karena Elara dan Kelana sama-sama mengetahui lagu itu maka Renjani merasa terasing.


"Caprice di D mayor 'Il labirinto armonico?" Kelana membelalak tak percaya.


"Iya." Renjani mengangguk yakin.


"Sekarang?" Kelana bertanya sekali lagi, ia bingung karena Renjani tiba-tiba ingin mendengar lagu tersebut.


"Masa tahun depan?"


"Tapi Fara lagi tidur lho Bu, nanti dia kebangun." Kelana berusaha mencari alasan agar Renjani urung memintanya memainkan lagu itu.


"Studio ini kedap suara, jangan banyak alasan." Renjani mengambil salah satu violin dan memberikannya pada Kelana.


"Lagu itu sangat sulit." Rengek Kelana seperti anak kecil yang minta mainan pada ibunya.


"Tapi kamu udah bertahun-tahun main violin."


"Akan aku coba." Kelana menarik napas dalam-dalam, ia lupa kapan terakhir kali memainkan lagu tersebut. Mungkin saat menempuh pendidikan di Melody dan itu sudah belasan tahun lalu. Renjani begitu kejam.


Kelana menggesek violin yang bertengger di bahunya dengan tempo cepat, ia masih ingat setiap nada pada lagu tersebut. Jemarinya piawai menekan senar violin bergantian.


Renjani yang mulanya memasang ekspresi kesal berubah kagum hingga mulutnya setengah terbuka. Alunan violin itu terdengar melompat-lompat memekakkan telinga, semakin lama semakin cepat.


Tak hanya kagum Renjani juga terkejut pada lagu yang judulnya saja tidak bisa ia ucapkan dengan benar. Renjani seperti dibawa ke kerajaan Eropa tahun 1700 an dimana ia mengenakan dress panjang berbahan satin yang menampilkan lekuk tubuh serta renda bertumpuk di bagian leher. Lagu yang Kelana bawakan telah menghipnotis Renjani, ia merasa tubuhnya melayang ke masa lampau.


"Ah!"


Renjani mengerjap mendengar pekikan Kelana dan lagu yang semula menghipnotisnya tiba-tiba berhenti.


"Ada apa?" Renjani mendadak panik ketika Kelana tiba-tiba meletakkan violin nya. "Tangan kamu luka." Ia memeriksa dua jari Kelana yang mengelupas dan sedikit berdarah.


"Mungkin karena udah lama nggak main lagu itu."


"Aku minta maaf." Renjani segera beranjak mengambil plester untuk Kelana. "Harusnya aku percaya sama kamu kalau lagu sulit."


"Harusnya kamu memuji ku."


"Kamu hebat banget, aku sampai melongo lihat kamu mainin lagu itu barusan." Renjani meniup luka Kelana lalu membalutnya dengan plester.


"Aku pikir kamu ngidam lagu-lagu sulit itu."


"Kamu tahu aku nggak pernah ngidam." Renjani menggenggam tangan Kelana, ia merasa amat bersalah karena memaksa Kelana memainkan lagu yang amat sulit.


"Kamu harus ngidam, ada aku." Kelana tak ingin Renjani merasa sendiri seperti saat hamil Faralyn dulu, "aku akan memenuhi semua keinginan mu."


"Sebenarnya aku kesel tadi."


"Karena apa?" Kelana merentangkan tangan Renjani dan membawa sang istri ke pelukannya.


"Elara bilang ngelupain kamu lebih sulit dari lagu the Last Rose of Summer."


"Lalu kamu cemburu?"


Renjani mengangguk meski awalnya malu mengakuinya.


"Kalau begitu melupakan Elara bagiku seperti memainkan lagu Twinkle Twinkle Little Star."


"Itu juga sulit." Renjani mendongak menatap Kelana tajam.


"Maksudku itu sangat mudah, bahkan Faralyn pandai memainkannya, mari jangan mempedulikan orang lain, aku hanya akan melihatmu memperhatikanmu dan mencintaimu seumur hidup ku."


Diam-diam Renjani tersenyum, ia menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah di dada bidang Kelana.