Married by Accident

Married by Accident
CII-END



Hari ini Faralyn tepat berusia 5 tahun dimana Kelana dan Renjani menunggu momen tersebut untuk memberitahukan kehamilan Renjani. Atas ide Wira, mereka mengadakan pesta ulang tahun di taman apartemen dengan mengundang teman-teman sekolah Faralyn. Wira mengadakan pesta tersebut karena Faralyn telah tampil luar biasa untuk pertama kalinya di depan semua orang. Wira amat bahagia dan bangga pada Faralyn, ia ingin membuktikan kebahagiaan tersebut dengan mengadakan pesta untuk Faralyn. Jika dulu Wira mendidik Kelana dengan keras hingga Kelana membencinya, kali ini Wira ingin memperlakukan Faralyn dengan penuh kasih sayang. Wira tak mau mengulangi kesalahannya di masa lalu. Walaupun itu membuat Valia merasa iri tapi sekarang bagi Wira—Faralyn adalah prioritasnya.


"Cantik banget anak Ibu." Renjani menyematkan flower crown di kepala Faralyn sebagai sentuhan terakhir pakaian ulang tahunnya hari ini. Tahun-tahun sebelum Kelana dan Renjani hanya mengajak Faralyn makan di luar dan membeli barang yang Faralyn inginkan atau pergi ke panti asuhan membagikan kebutuhan anak-anak disana. Ini adalah pesta ulang tahun pertama Faralyn, itupun karena Wira yang ingin mengadakannya.


"Karena Ibu cantik." Tangan mungil Faralyn menyentuh pipi sang ibu. "Papa juga lumayan."


"Lumayan?" Mata Renjani melebar, menurutnya Kelana adalah pria paling tampan yang pernah ia kenal, sungguh.


Faralyn mengangguk.


"Jangan sampai Papa denger." Bisik Renjani. "Memangnya menurut Fara, ada yang lebih ganteng dari Papa?"


"Ada Bu."


"Siapa?"


"Om Devin." Faralyn ikut berbisik.


"Ssshh jangan sampai Papa denger." Renjani meletakkan telunjuknya di bibir Faralyn.


Faralyn terkikik menahan tawa. Mungkin karena Devin lebih muda, ia terlihat lebih tampan dibanding Kelana. Padahal menurut Renjani, Kelana tetaplah yang paling tampan.


Renjani menatap Faralyn lekat, fisik Faralyn memang mirip Renjani tapi sifatnya persis Kelana. Padahal Renjani pernah membaca artikel yang mengatakan jika ayah akan menurunkan bentuk fisik sedangkan sifat diturunkan oleh ibu. Faralyn mendapatkan kebalikannya.


"Fara seneng nggak ngerayain pesta ulang tahun kayak gini?"


"Aku lebih suka pergi sama Ibu dan Papa terus main sama kakak dan adik di panti."


"Besok kita ke panti ya, sekarang kita ke bawah ketemu sama temen-temen, kita juga harus menghargai Opa yang udah bikin acara ini untuk kamu."


"Iya Bu." Faralyn juga senang dengan pesta ini, hanya saja ia tidak ingin melewatkan pergi ke panti asuhan di hari ulang tahunnya. Faralyn bisa bertemu dengan banyak teman di panti asuhan.


Teman-teman sekolah Faralyn sudah berkumpul di taman yang juga telah didekorasi dengan balon-balon berwarna merah muda.


"Cucu Opa cantik sekali." Wira menyambut Faralyn dan menggendongnya, "siapa yang kasih flower crown?"


"Ibu."


"Kamu memang cantik pakai apapun." Wira menurunkan Faralyn tepat di belakang meja dengan kue ulang tahun di atasnya. Kue tiga tingkat berwarna putih dengan figur gadis kecil menari balet di atasnya. Itu adalah kue pilihan Ratih dan langsung disetujui oleh Faralyn.


Lagu ulang tahun dinyanyikan bersama oleh anak-anak yang mengelilingi meja, mereka bernyanyi dengan ceria dan lantang menularkan kebahagiaan pada orang-orang dewasa. Anak-anak tertawa dengan alasan sederhana atau bahkan tanpa alasan.


"Tiup lilinnya tiup lilinnya tiup lilinnya sekarang juga sekarang juga sekarang juga."


Faralyn meniup lilin angka 5 di atas kue disambut tepuk tangan meriah oleh yang lain. Faralyn dibantu Renjani memotong kue dan memberikannya pada Wira serta Ratih sedangkan potongan kedua untuk Renjani dan Kelana. Setelahnya mereka duduk di kursi yang telah disediakan dan makan bersama.


"Ibu punya hadiah buat kamu." Renjani memberikan kotak kado berukuran kecil pada Faralyn.


Faralyn berbinar-binar menerima kotak tersebut, ia mencoba menebak isi di dalamnya. Biasanya Renjani dan Kelana memberikan boneka, kotak musik atau jepitan kesukaan Faralyn.


Selembar foto USG menyembul ketika Faralyn membuka kotak di tangannya, "ini apa Bu?"


"Kamu hamil?" Ratih membelalak melihat foto USG, antara tak percaya dan senang karena ia dan Wira akan mendapatkan cucu kedua.


"Iya Ma."


"Ini foto adik, Bu?" Faralyn akhirnya mendapat jawaban, ia berbinar-binar mengamati foto yang sebenarnya tidak terlihat seperti bayi. Hanya sebuah titik kecil berwarna putih. Faralyn tidak sabar melihat adiknya keluar dari perut ibunya. Ini adalah hadiah terindah yang pernah Faralyn terima dibandingkan coklat, boneka atau jepitan. Hadiah yang akan bersama-sama dengan Faralyn seumur hidup.


"Selamat ya." Wira memeluk Renjani atas kehamilan anak keduanya, ia juga memberi selamat pada Kelana. "Papa hanya punya kamu dan Valia, tapi kamu bisa punya Faralyn dan adik-adiknya."


"Aku akan membuat tiga anak." Kata Kelana percaya diri, ia hanya bercanda karena jumlah anak sepenuhnya hak Renjani. Kelana tidak mau menentukannya sebab Renjani yang akan hamil anak mereka dan menyusuinya.


"Jangan kabur lagi kali ini." Wira pura-pura berkata dengan nada mengancam.


"Aku nggak akan kabur Pa, sama sekali nggak." Renjani telah menaruh kepercayaan sepenuhnya terhadap Kelana apalagi setelah bertemu Elara beberapa hari yang lalu dan mengetahui jika Elara sudah menikah.


"Kalau mau kabur, lebih baik kamu kabur ke rumah, Papa akan marahin Kelana."


Renjani tertawa, bukankah seharusnya seorang papa membela anaknya bukan menantunya. Namun Wira tidak demikian, ia akan membela siapapun yang benar.


"Semoga sesuai keinginan mu, laki-laki." Bisik Kelana seraya merangkul pinggang Renjani dari samping.


Mereka sudah mengkonsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan anak laki-laki, mulai dari menghitung masa subur, posisi kopulasi hingga makanan yang dikonsumsi. Namun sekarang apapun jenis kelamin anak di kandungan Renjani, mereka tak terlalu memusingkannya yang terpenting keduanya telah mengusahakan yang terbaik.


******


Keesokan harinya sesuai janji Renjani, ia mengajak Faralyn mengunjungi panti asuhan yang dulu merupakan tempat tinggal Yana. Mereka rutin mengunjungi panti tersebut sejak Faralyn berusia 1 tahun. Ide memperingati hari lahir Faralyn dengan makan bersama anak-anak panti berasal dari Kelana. Mereka ingin mengajarkan Faralyn berbagi dengan sesama sejak dini.


"Pak Adam bilang banyak brand yang menawarkan kerja sama dengan Fara." Kelana menunjukkan pesan Adam pada Renjani di ponselnya.


"Tiba-tiba?" Renjani mengambil alih ponsel Kelana.


"Mungkin karena kemarin kamu posting foto Fara yang dia pakai dress ulang tahunnya."


"Ah pantas saja banyak komentar akun official di foto itu." Mulai dari brand-brand pakaian hingga makanan mengomentari foto Faralyn pada momen ulang tahunnya kemarin. Padahal Renjani sering memposting foto Faralyn sebelumnya. "Itu cuma foto biasa."


"Kamu berpikir Fara cocok jadi model?"


Renjani menggeleng, jika boleh meminta maka ia tak ingin Faralyn terjun ke dunia hiburan seperti Kelana.


Faralyn sudah berlari mendahului Kelana dan Renjani menghampiri anak-anak yang menunggu mereka di depan pagar.


"Oke." Walaupun Renjani tidak menginginkan itu tapi ia tetap harus menanyakannya pada Faralyn. Renjani tak boleh mengatasi keinginan Faralyn selama itu baik.


"Gimana kabarnya Bu? Kelana menyapa pengurus panti yang juga menyambut mereka.


Mereka menyerahkan bungkusan besar berisi persediaan bahan makanan untuk anak-anak di panti tersebut. Biasanya mereka akan masak dan makan bersama. Renjani juga membawa beberapa pakaian dan buku untuk mereka.


"Semuanya baik, kalian selalu membawa banyak barang padahal saya berkali-kali bilang kalau mau kesini nggak perlu bawa sesuatu."


"Nggak apa-apa Bu, ini buku yang sudah tidak Fara baca." Sahut Renjani.


Dua pengurus panti mengambil alih kantong plastik besar di tangan Renjani dan Kelana membawanya ke dalam.


Sementara itu Kelana dan Renjani memperhatikan Faralyn yang tengah berlarian di halaman depan panti bersama anak-anak. Faralyn tertawa ceria yang menular pada Renjani dan Kelana.


"Anak kita sudah besar." Gumam Kelana, ketika kemarin mereka merayakan ulang tahun Faralyn ia baru sadar jika sang buah hati yang dulu hanya bisa menangis sekarang sudah tumbuh besar. Kelana bahkan masih ingat ketika ia dan Renjani ribut karena harus gantian mengganti popok Faralyn di tengah malam. Pertengkaran kecil yang lucu jika diingat.


"Dia mirip kamu." Renjani melirik Kelana, "sifatnya."


"Memangnya sifatku bagaimana?"


"Jutek kalau sama orang yang nggak kalian suka, suka musik dan selalu merencanakan sesuatu dengan rinci, Fara sekarang mulai nulis jadwalnya sendiri, anak seusia dia udah punya to do list yang dicatat setiap hari."


Kelana terkekeh, ia memang mengajarkan Faralyn untuk mempersiapkan segala sesuatu dengan matang dari yang paling sederhana seperti kegiatan sehari-hari.


"Gurunya di sekolah bilang kalau Fara jutek tapi lihat sekarang, dia bahkan ketawa sama anak-anak itu." Renjani melemparkan pandangan para Faralyn.


"Kamu benar sayang."


"Ayo susun buku-buku itu." Renjani menarik Kelana menuju perpustakaan panti yang sudah mereka hafal letaknya.


Perpustakaan panti tidak terlalu besar tapi memiliki banyak koleksi buku anak-anak hingga remaja berkat sumbangan dari para donatur. Renjani juga sering membawa buku baru maupun bekas yang masih layak baca dan menyimpannya di perpustakaan tersebut.


"Kamu masih takut?" Renjani mengeluarkan satu per satu buku dari dalam kantong plastik.


"Nggak terlalu."


"Aku yakin kamu bisa melawan trauma itu."


"Bayangan Mama terbakar bersama buku-buku itu masih lekat di pikiranku." Gerakan Kelana menyusun buku di rak melambat.


"Pa," Renjani mengambil alih buku di tangan Kelana, "lihat aku." Ia memegang kedua tangan Kelana. "Setiap melihat rak-rak ini kamu harus ingat bahwa disitulah kamu menemukan aku, kejadian aneh yang membuat kita terpaksa harus menikah."


"Ingat bahwa disitulah kamu menemukan wanita yang sekarang jadi istri kamu, wanita yang kamu cintai, wanita yang sekarang hamil anak mu." Renjani menurunkan tangan Kelana ke arah perutnya yang masih rata.


"Di tengah rak-rak buku kamu menemukan kebahagiaan, buang jauh-jauh kenangan buruk itu, kamu hanya boleh mengingat kenangan baik."


Sudut bibir Kelana terangkat membentuk senyum manis. Jika Kelana bisa menghipnotis orang dengan permainan violin nya maka Renjani bisa melakukan itu dengan kalimatnya. Itu kelebihan yang dimiliki penggemar novel romantis, pandai merangkai kata.


"Kamu sama Mama juga punya kenangan manis, naik bianglala dan pergi ke taman yang penuh bunga."


"Terimakasih Re." Kelana memeluk Renjani, jika bukan karena Renjani mungkin Kelana hanya akan mengingat kenangan buruk itu seumur hidupnya padahal mereka juga memiliki masa-masa indah yang dulu pernah hadir—walaupun sebentar tapi itu semua terasa berharga karena sekarang Kelana tidak dapat melihat sosok mama nya.


Dulu mereka tak pernah berpikir bahwa pernikahan tersebut akan bertahan lebih dari satu tahun. Hari demi hari silih berganti ketika mereka harus menelan kenyataan bahwa perasaan keduanya mulai berubah. Dari tidak saling kenal, tidak suka menjadi ketergantungan dan enggan kehilangan.


Kisah pertemuan mereka tidak bisa disebut indah, justru bagi Kelana itu hal yang membuatnya sial ketika pertama kali namanya terpampang di berbagai akun gosip. Satu hal yang Kelana sadari bahwa kehadiran Renjani membuat hidupnya terasa berbeda. Renjani adalah orang pertama yang peduli pada perasaan Kelana, apakah Kelana bahagia menjalani kehidupan seperti itu yang bahkan ia sendiri tidak peduli. Renjani mengajarkan Kelana bahwa kebahagiaan bisa diraih dengan hal-hal sederhana, seperti naik bianglala atau makan nasi uduk di warung pinggir jalan.


Renjani juga yang telah mematahkan rencana-rencana besar Kelana termasuk kehamilannya. Namun sekarang Faralyn menjadi kebahagiaan paling besar Kelana, kebahagiaan yang tidak akan pernah ia dapat jika tak ada Renjani.


"Yuk lanjut." Renjani mengurai pelukan dengan berat hati karena mereka harus melanjutkan menyusun buku.


"Mau ngapain?" Kelana melihat Renjani naik ke kursi.


"Mau taruh buku lah." Renjani hendak meletakkan buku di rak paling atas, sebenarnya rak tersebut tidak terlalu tinggi tapi tetap saja Renjani tidak bisa mencapainya, dasar memang tubuhnya yang pendek.


"Yang tinggi biar aku aja."


"Nggak apa-apa, udah biasa dulu malah lebih tinggi dari ini."


"Biar aku aja, sini turun." Kelana menarik Renjani dengan paksa.


"Eh!" Renjani memekik ketika ia hampir terjatuh tapi untung saja Kelana menangkapnya dengan cekatan. Namun Kelana sengaja menjatuhkan diri mereka di tengah tumpukan buku.


Renjani beku untuk beberapa saat, ia seperti di bawa ke masa beberapa tahun lalu ketika dirinya untuk pertama kali melihat wajah Kelana dari jarak yang amat dekat. Bahkan Renjani bisa mencium aroma kopi dari mulut Kelana. Posisinya kurang lebih seperti sekarang. Bedanya bukan aroma kopi yang tercium melainkan susu vanilla karena tadi Faralyn tidak menghabiskan susunya dan memberikannya pada Kelana. Aroma susu berpadu dengan lavender, sandalwood dan jahe dari tubuh Kelana.


Setelah beberapa detik saling terdiam sementara pandangan mereka terkunci, keduanya lalu tertawa menyadari posisi ini mengingatkan mereka pada insiden konyol yang berakhir pernikahan.


"Kamu nggak apa-apa?" Bukannya bangun, Kelana justru menarik kepala Renjani dan mendekapnya.


"Kamu penangkap yang baik."


Mereka menikmati posisi itu, ditemani tumpukan buku yang juga mengeluarkan aroma khas. Aroma yang mereka sukai, Renjani dan Kelana sama-sama pecinta buku lalu keduanya dipertemukan di tempat dengan banyak buku di dalamnya. Katanya kita akan menemukan jodoh dimana kita sering berada.