
Kita itu di takdirkan bersama
Jadi jangan pernah berlari dari takdir itu
Sean
Selamat Membaca
Sean mengendong Anna keluar kamar mandi, wajah gadis itu begitu pucat. Darah terus mengalir dari tangan Anna.
"Bertahanlah sayang" bisik Sean pada Anna.
Sean berteriak seperti orang gila, memerintah sopir untuk segera mengeluarkan mobil dan mengantar mereka ke rumah sakit.
Sampai di rumah sakit lorong IGD telah di kosongkan, sesuai perintah Sean. Mentang-mentang rumah sakit milik kakaknya. Sean tetap mengendong Anna, dia tak membiarkan siapapun menyentuh wanita miliknya.
"Sean kau tunggu di sini" Sakura menatap iba Sean.
"Kak ku mohon"
Sakura mengangguk, memasuki ruangan.
****
Sean mondar mandir di depan ruang IGD, berusaha masuk tapi dia ingat kata-kata Sakura. Ancaman agar Sean tak berbuat nekat.
Tepat dua jam Sakura keluar dari IGD, dulu Sean sering merasa aneh dengan nama sang kakak tapi mamanya bilang saat hamil Sakura mamanya tak mau tinggal di London, Mama ingin selalu tinggal di negri sakura.
"Bagaimana keadaan istriku"
"Kita harus bicara Sean"
***
"Jadi"
Tanya Sean langsung saat mereka telah sampai di ruangan Sakura.
"Anna depresi" ucap sakura pelan, tangan cantiknya membuka laporan kesehatan Anna.
"Maksudmu istriku gila kak"
Sakura menggeleng keras "Depresi bukan berarti gila Sean, Anna terlalu stress dia tertekan. Beruntung Anna segera di bawa kemari jika tidak aku tak bisa menjamin keselamatan Anna"
Mendengar penjelasan Sakura, diam-diam Sean merasa bersalah. Yang Sean tau Anna adalah wanita yang kuat, Sean terlalu mencintai Anna hingga membuat wanita miliknya merasa tersakiti.
"Kau tau Sean, kau beruntung bisa bersama belahan jiwa mu. Saranku, katakan semua rahasia dan hidup bahagia"
"Entahlah kak, aku bingung bagaimana menjelaskan pada Anna"
Sakura tersenyum "Aku percaya padamu Sean. Jangan sakiti Anna lagi, dia wanita yang baik dan kau beruntung bisa bersama orang yang kau cintai" tatapan Anna berubah sendu "tidak seperti diriku ini"
"Kau kak jika kau minta, akan ku bawa ******** itu kehadapan mu sekarang juga"
Sakura menggeleng "Dia sudah bahagia Sean, biarkan saja. Lagipula sejak awal aku yang salah"
"Kak"
Sakura tersenyum "Tak apa, temui Anna sekarang dia yang lebih membutuhkan dirimu. Apapun yang terjadi jangan biarkan Anna tersakiti"
***
Sean menatap ranjang di mana wanita itu terbaring, kelopak matanya lelap. Sangat damai dan cantik di mata Sean.
Tangan Sean telurur, mengusap kepala Anna pelan.
"Aku mencintaimu"
Sean menatap kembali selang-selang yang terhubung ke wanita miliknya, Anna kekurangan banyak darah, entah bagaimana hidup Sean jika harus kehilangan Anna.
"Kau tau Anna, saat berusia tujuh tahun orang tuaku tewas terbunuh. Aku beruntung bisa selamat dan saat itu rasanya aku ingin membunuh semua orang yang menyakiti papa dan mama"
Sean menghela nafas berat, dia tak sanggup melanjutkan cerita kelam dalam hidupnya.
"Beruntung mama menyiapkan tabungan rahasia untuk kehidupan kami, jika tidak mungkin aku akan menjadi gelandangan di jalanan. Dendam dan amarah terus merasuki diriku, hingga membuatku seperti ini. Dan saat semua hampir selesai aku bertemu dengan dirimu, berjalan keluar dari toko bunga. Dan saat itulah aku menyadari bahwa aku jatuh cinta padamu"
"Maaf telah membuat dirimu terluka, maaf telah menyembunyikan semua darimu dan maaf telah menjauhkanmu dari orang yang paling kau sayang"
"Aku berjanji jika kau sembuh kau akan bertemu dengan papamu"
Sean terpejam, tak sanggup melanjutkan ucapannya. Sisi lemah seorang Sean muncul, sisi yang tak pernah Anna lihat sebelumnya.
Sean membuka mata, menemukan Anna dalam kondisi sadar, mata Sean berkaca-kaca. Sean menciumi telapak tangan Anna.
"Benar sayang, aku janji saat kau sehat kita bertemu papa mertua
Anna tersenyum. Sebenarnya dia sudah siuman sejak Sean mencium keningnya tapi dia diam. Anna ingin tau apa yang akan di ucapkan Sean, walau Anna tak mempercayai seratus persen. Bisa saja Sean bohong dan mengatakan bahwa Dady masih hidup padahal sudah tiada, karena Anna melihat dengan mata kepalanya bahwa Dady tertembak.
"Kau tidak percaya padaku"
Anna menggeleng "Aku melihat kau membunuh Dady ku"
"Papamu masih hidup Anna, aku tak membunuh dia"
"Bohong"
Sean berdecak, mengeluarkan ponsel dadi saku celana dan memutar sebuah video. Aland ayah Anna tampak di sana, duduk di bawah pohon kelapa sambil menikmati kelapa muda.
Rasanya Anna tak percaya.
"Hai Anna, putri kecil ayah yang katanya ingin bunuh diri. Dengar jangan lakukan hal bodoh semacam itu sayang, Dady bisa ikut mati jika kau tak selamat. Sean adalah pria yang baik hargai dia sayang, belum saatnya kita bertemu. Yang terlihat di depanmu belum tentu sesuai keadaan"
Video berhenti, rasanya Anna ingin menanggis. Bagaimana mungkin papa bisa di sana, Anna menatap Sean.
"Ada banyak hal yang belum saatnya kau ketahui Anna, cepatlah sembuh jika ingin bertemu papa mu"
Sean mencium kening Anna, dan pergi. Dia membiarkan Anna istirahat, menyuruh beberapa Bodyguard menjaga ruangan Anna. Ada beberapa urusan yang harus di urusi Sean, pria itu mengajak Ansel bersama dirinya.
***
Flashback
Dor,,,,,Dor,,,,Dor
Suara tembakan mengema di seluruh rumah, tampak para pelayan berlarian menyelamatkan diri mereka.
Seorang pria dan wanita menarik dua anak kecil, si perempuan berusia 9 tahun dan adik laki-lakinya berusia 7 tahun. Tak ada yang mereka tau, yang mereka tau hanya mereka akan berlibur ke Hawai tapi malah di ajak berlarian.
"Hans kita harus menyelamatkan anak-anak terlebih dahulu" wanita cantik itu tampak sangat panik, berusaha terlihat kuat agar ke dua anak mereka tidak ketakutan.
"Janne dengarkan aku, di belakang lemari ada ruangan rahasia bawalah mereka ke sana aku akan menyusul jika sempat"
Janne menggeleng "Mana mungkin aku meninggalnya dirimu, kita harus selamat bersama"
"Ku mohon Janne, aku harus menghadang mereka, jika aku tak selamat percayalah aku mencintaimu selamanya"
Janne mengerti ada yang harus di selamatkan lebih dulu, Hans mencium kening Janne dan kedua anaknya.
"Dengar kalian adalah saudara, kalian harus saling menjaga. Jika papa tak kembali tolong jaga mama dan kau Sean jangan jadi anak yang cengeng. Mengerti?"
Kedua anak itu tampak mengerti, Janne menarik dua buah hatinya. Tepat di depan lemari Janne membuka lemari, mengambil sebuah buku tua dan membukanya. Tampak sebuah kotak dengan pola rumit.
"Sean tempelkan tangan mu di sini"
Sean meletakan telapak tangan mungil sesuai perintah Janne, kotak itu mendeteksi lalu terbukalah pintu rahasianya.
Janne dan Hans sengaja mendesain kunci dengan telapak tangan Sean.
"El kemarilah cepat"
Janne memanggil Eliza adiknya, gadis itu berjalan mendekat sementara suara tembakan semakin dekat. Waktu Janne tak lama lagi.
"El tolong jaga keponakanmu dengan baik, di kotak yang kau bawa ada perhiasan dan uang. Hiduplah dengan itu" Janne menarik kalung yang di lehernya "Berikan pada Sakura saat usianya tujuh belas tahun, hadiah terakhir dari mamanya"
Eliza menerimanya dengan patuh "Tapi kak bukankah kau ikut kami"
Janne menggeleng "Aku harus menyusul Hans, kemungkinan kami selamat sangatlah kecil tapi meskipun aku ikut kalian aku tak akan bisa tenang sebelum memastikan Hans selamat"
Eliza mengangguk, membawa Sakura dan Sean di sampingnya.
"Sean Sakura dengarkan mama. Kalian adalah saudara, jangan saling menyakiti. Mama dan papa sangat mencinta kalian"
Janne mencium kening anak-anaknya "Eliza sekarang waktunya, jangan keluar dari ruangan ini sebelum dua jam, pintu keluar ada di sebelah kanan"
Pintu tertutup tepat saat orang-orang itu datang, Janne berbalik bersiap dengan hal terburuk yang ada.
Flashback End.
Jangan Lupa Komen
Kasih Lope buat Sean - Anna