Married by Accident

Married by Accident
Tentang pria



"Mommy hanya tidak ingin kamu terus memikirkan tentang apa yang berhubungan dengan Erland, Sayang. Bahkan Mommy benar-benar marah padanya karena masih berani mengirim pesan. Dia seharusnya sadar diri jika telah menyakitimu sangat dalam hanya gara-gara wanita itu." Akhirnya wanita paruh baya yang dari tadi mencoba untuk menenangkan perasaan, berharap putrinya tidak terus memberondong pertanyaan kata curiga padanya.


Floe yang sama sekali tidak mempercayai apa yang baru saja didengarnya karena melihat raut wajah sang ibu seperti dipenuhi oleh kecemasan. Sebagai seorang anak yang sudah mengenal sang ibu, tentu saja kini otaknya bersinergi dengan kecurigaan.


Namun, ia tahu jika tidak akan mudah membuat sang ibu membuka mulut dan memilih untuk mencari tahu sendiri. Kini, ia berakting tertawa atas responnya agar tidak menimbulkan kecurigaan dari sang ibu.


"Oh ... iya, Mom. Aku mengerti. Mommy tenang saja karena aku tidak akan pernah berhubungan lagi dengannya dalam segi apapun. Lagipula di antara kami sudah tidak ada ikatan apapun karena proses perceraian sebentar lagi selesai." Floe yang kini masih memegang ponsel miliknya, memblokir nomor Erland.


Ia pun menunjukkan pada sang ibu agar sepenuhnya percaya dengan aktingnya. Bahwa ia sama sekali tidak merasa curiga, padahal di dalam hati saat ini sibuk mencari jawaban atas pertanyaannya.


"Sekarang Mommy tenang, kan? Dengan begini, aku tidak akan pernah menerima pesannya lagi. Aku pun juga sangat muak dengannya." Saat Floe melihat sang ibu seperti tersenyum penuh kelegaan, kecurigaannya semakin bertambah.


'Sebenarnya apa yang mommy sembunyikan dariku? Sikap Mommy benar-benar sangat aneh,' gumam Floe yang hanya bisa mengungkapkan keluh kesahnya di dalam hati dan di saat bersamaan mendengar suara pintu gerbang yang terbuka dan membuatnya menoleh karena yakin siapa yang baru saja datang.


Benar tebakannya dan saat ini seketika tersenyum begitu melihat mobil berwarna hitam milik sang ayah sudah memasuki halaman dan langsung parkir di garasi. Ia sebenarnya ingin menghampiri sang ayah untuk segera mengetahui bagaimana hasilnya.


Namun, ia memilih menunggu hingga sang ayah berjalan ke arahnya. Ia kita akan melihat ekspresi dari sang ayah untuk menebak hasilnya dan ketika tidak ada raut wajah penuh kemurkaan, kini sudah bisa mengetahui jika semuanya berjalan lancar.


Bisa melihat kenangan satu-satunya dari anaknya adalah sebuah kebahagiaan luar biasa untuknya. Ia bahkan terdiam kala menatap foto USG yang sudah dibingkai itu.


'Pecundang itu ternyata tidak gila sepenuhnya karena memikirkan cara agar fotonya tidak rusak,' gumam Floe yang saat ini seketika mengangkat pandangannya begitu sang ayah berbicara.


"Sepertinya dia takut pada Daddy karena belum apa-apa saja sudah menyuruh asistennya untuk menyerahkan. Padahal Daddy belum puas mengumpatnya." Hugo Madison yang kini mengingat tentang kejadian di perusahaan Felix, kini sangat kesal karena melihat Erland yang hanya diam tanpa membantahnya.


Hingga ia mendengar suara dari sang istri yang baru saja menerima tas kerja miliknya.


"Sudah. Jangan membahas tentang hal yang hanya bikin kesal saja. Lebih baik masuk saja dan cepat mandi. Nanti dilanjutkan lagi ngobrolnya," ucap sang istri yang kini ingin segera memarahi suaminya karena hampir saja ketahuan oleh putrinya.


Hingga ia seketika terkejut begitu mendengar suara putrinya yang membuat jantungnya berdetak kencang melebihi batas normal.


"Oh ya, Dad. Tentang pria bernama siapa itu tadi ...."


To be continued...