Married by Accident

Married by Accident
XXXV



Crew Antasena sibuk kesana kemari melakukan pekerjannya masing-masing. Mereka mengatur pencahayaan, kamera hingga menata set. Kelana tengah melakukan syuting video klip untuk lagu Dancing in the Rain. Kali ini penyanyi yang mendapat kehormatan menyanyikan lagu tersebut adalah Liora—penyanyi muda yang baru memasuki dunia entertaintment sekitar 3 tahun terakhir.


Satu-satunya orang yang menganggur adalah Renjani, ia hanya duduk memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang melewatinya. Jika bukan karena Kelana yang memaksanya, ia tak akan mau ikut menyaksikan proses pembuatan video ini. Ia bahkan tak berperan apa-apa disini.


Renjani melihat ponselnya dengan malas, ia mengetik nama Valia Radiaksa dalam kolom pencarian di internet. Sedetik kemudian foto-foto Valia muncul. Lalu Renjani berpindah ke media sosial Valia. Ibu jarinya mengetuk foto terbaru yang Valia posting kemarin.


Follow Valia cuma karena dia adiknya Kelana


Kemampuannya bermain violin sangat kurang kalau dibanding violinist yang lain


Dia bisa populer cuma karena statusnya sebagai adik Kelana.


80% followers nya, fans Kelana pasti.


Untung jadi adiknya Kelana dan anaknya pemilik produksi violin terbesar se-Indonesia, kalau nggak, mungkin dia cuma cewek yang suka manja minta uang ke orangtua buat nongkrong sama temen-temen.


Renjani tersenyum miring membaca komentar tersebut. Netizen memang ahlinya nyinyir. Bahkan jika ia berbuat baik sekalipun pasti ada saja yang cacat di mata netizen. Sepertinya Renjani akan menggunakan senjata ini untuk membalas perlakuan Valia saat itu. Pada dasarnya Valia bukan apa-apa tanpa Kelana, ia numpang tenar pada sang kakak.


Sekarang Renjani tak terlalu berkecil hati jika ia mendapat komentar buruk dari para penggemar Kelana. Renjani harus membuktikan bahwa ucapan buruk mereka tentang dirinya itu tak sepenuhnya benar.


"Break 10 menit!" Seru sutradara membuat semua crew di ruangan itu melepaskan napas lega karena setelah seharian bekerja, akhirnya mereka bisa istirahat sebentar.


Kelana menerima sebotol air mineral dari Yana ketika dirinya melangkah menghampiri Renjani. Keberadaan Renjani disini membuat Kelana tak mudah bosan karena proses syuting memakan waktu cukup lama. Tak akan selesai dalam satu hari. Karena kemarin Kelana sudah menemani Renjani seharian maka hari ini ia meminta Renjani melakukan hal yang sama untuknya.


"Kamu lapar nggak?" Kelana duduk di samping Renjani, ia meneguk air hingga tersisa setengah botol. "Mau cari makan?"


"Cuma break 10 menit mana sempet cari makan." Sebenarnya Renjani ingin makan mie ayam, ia melihat warung mie ayam dan bakso dekat gedung ini.


"Kalau begitu, gunakan jasa pesan antar." Kelana menyodorkan ponselnya pada Renjani.


"Makan Aglio olio ya, mau nggak?" Renjani membuka aplikasi jasa pesan antar di ponsel Kelana dan mencari restoran pasta terdekat. Ia membayangkan makan mie ayam tapi jarinya justru mengetik menu spaghetti. Ia bisa makan mie ayam lain kali.


"Kamu aja, aku masih kenyang." Kelana tak akan sempat makan karena waktu istirahatnya hanya 10 menit. Namun ia tidak bisa membiarkan Renjani kelaparan. Katanya wanita akan mudah marah saat lapar. Mereka baru baikan semalam, Kelana tak mau Renjani ngambek lagi. Itu sangat menyusahkan.


Renjani memesan satu porsi besar Aglio olio dan kiwi mojito, ia juga memesan croffle dengan saus coklat untuk makanan penutup.


"Kelana!" Adam berseru memanggil Kelana.


Kelana yang baru duduk 5 menit itu terpaksa beranjak menghampiri Adam. Setelahnya mereka tampak membicarakan sesuatu yang serius. Adam dan Kelana sama-sama perfeksionis, sedikit saja kesalahan maka Kelana akan mengulanginya lagi dan lagi. Syuting itu akan memakan waktu lebih lama.


Renjani melihat Kelana kembali sibuk dengan laptop bersama sutradara dan Adam, sedangkan dua orang staf wanita memperbaiki riasan dan rambut Kelana.


Renjani iseng melihat galeri foto pada ponsel Kelana. Berbeda dengan galeri Renjani, foto di ponsel itu tidak banyak. Sekarang Renjani tahu kenapa ponselnya sering tiba-tiba mati, selain sudah butut, ponsel itu sudah penuh oleh foto dan video nya.


Hanya ada foto violin dan studio musik, rupanya Kelana tak pernah selfie dengan ponselnya. Ibu jari Renjani berhenti menggulir layar ketika menemukan satu foto perempuan dari belakang, rambutnya yang kecoklatan terlihat mengkilap terkena sinar lampu. Sebuah violin bertengger di bahu perempuan itu sedangkan tangan kanannya tampak memegang bow. Walaupun tampak dari belakang tapi Renjani bisa mengenali si pemilik tubuh ramping itu, siapa lagi jika bukan Elara. Si pemilik seluruh ruang di hati Kelana.


Renjani meletakkan ponsel Kelana, lagi-lagi ia menyesali keisengannya membuka galeri foto Kelana. Renjani bingung dengan sikap manis Kelana akhir-akhir ini. Kelana jelas masih mencintai Elara, Renjani bisa melihat itu. Namun Kelana sudah tidak ketus seperti dulu lagi. Renjani menduga Kelana kasihan padanya yang pincang ini. Jika sudah sembuh total pasti Kelana akan kembali seperti dulu.


"Renjani."


Renjani mendongak mendengar seseorang memanggilnya.


"Devin." Renjani tersenyum melihat Devin melangkah menghampiri. Devin tampak tampan meski hanya mengenakan celana kain dan sweatshirt berwarna alpukat.


"Aku boleh duduk nggak?"


"Boleh-boleh." Renjani menggeser tubuhnya memberi ruang untuk Devin duduk. Menikah dengan Kelana membuatnya mudah bertemu dengan publik figur yang dulu hanya bisa dilihatnya di televisi. "Kamu syuting sama Kelana juga?"


"Enggak, aku ada urusan sedikit disini sekalian lihat proses syuting video nya Bang Kelana." Devin melihat ke depan sana dimana Kelana tengah memainkan violin dengan latar belakang berwarna hitam. Video Kelana memang kebanyakan berlatar belakang gelap.


Devin menyodorkan setangkai bunga mawar merah pada Renjani, "ada yang bagi-bagi bunga tadi di jalan."


"Buat aku?"


"Aneh kalau aku bawa bunga jadi buat kamu aja."


Renjani terkekeh dan mengucapkan terimakasih pada Devin. Ia menghirup aroma bunga tersebut sesaat lalu meletakkannya di atas meja.


"Gips kamu udah dilepas?" Devin melihat kaki Renjani sudah kembali seperti dulu.


"Iya." Renjani mengangguk beberapa kali, ia tak tahu harus menjawab apalagi, ia benar-benar kikuk berada di dekat Devin. "Tapi masih harus pakai tongkat."


"Iya pemulihan patah tulang memang butuh waktu cukup lama, asal kamu dengerin kata dokter pasti prosesnya akan lebih cepat."


"Iya, udah lumayan nggak bawa beban 6 kilo lagi di kaki."


"Akhirnya aku bisa lihat kaki kamu yang cantik." Puji Devin tulus, ini pertama kalinya ia melihat Renjani memakai sandal jepit.


Renjani tertawa, "orang-orang emang bilang kalau kaki ku lebih cantik dari pada wajah aku."


Devin ikut tertawa, ternyata Renjani orang yang humoris. Bagaimana jika orang seperti Renjani menikah dengan Kelana yang kaku itu. Devin tak bisa membayangkan seperti apa mereka setiap hari.


Kelana tidak bisa fokus melihat Devin menghampiri Renjani. Mengapa Devin datang kesini bahkan Renjani tampak asyik mengobrol dengannya. Kelana penasaran apa yang mereka bicarakan hingga Renjani bisa tertawa seperti itu. Kelana iri karena Renjani tak pernah tertawa lepas saat bersamanya. Bahkan Renjani mengatakan Kelana orang yang membosankan.


"Pesanan atas nama Kelana." Seorang kurir pesan antar berada di depan ruangan.


"Ah itu pesanan ku." Renjani mengambil satu tongkatnya hendak beranjak dari sana.


"Biar aku yang ambil." Devin bangkit lebih dulu, ia tak tega melihat Renjani susah payah hendak beranjak dari sofa.


"Makasih ya Devin." Renjani sumringah melihat makanannya datang, ia tak sabar ingin menyantap spaghetti aglio olio tersebut. "Kamu mau nggak?" Ia membuka bungkusan plastik itu mengeluarkan isinya. "Ada dua Croffle nih." Renjani membuka salah satu kotak berukuran lebih kecil berdiri Croffle dengan saus coklat dan vanilla.


"Stop, saya mau istirahat dulu!" Seru Kelana tiba-tiba, "tolong rekam bagian Liora dulu." Ia keluar dari set karena tidak tahan melihat kedekatan Renjani dan Devin. Mereka baru kenal tapi sudah terlihat seperti teman akrab.


Devin hendak mengambil satu Croffle di kotak tersebut tapi Kelana mendahuluinya membuat ia dan Renjani terkejut.


"Katanya tadi nggak mau." Renjani tidak mungkin salah dengar ketika Kelana menolak saat ia hendak memesan makanan.


"Ya udah yang ini buat kamu." Renjani memberikan satu-satunya Croffle miliknya pada Devin dengan berat hati, ia sudah menunggu lama demi makan kue tersebut tapi ia harus merelakannya.


"Bagi dua ya." Devin membelah Croffle menjadi dua dan memberikannya pada Renjani.


Kelana melongo, ia juga ingin berbagi dengan Renjani tapi sayangnya Croffle miliknya sudah masuk melewati kerongkongan.


Beberapa saat setelah menghabiskan Croffle nya, Devin pamit undur diri dari sana. Ia hanya mampir sebentar untuk melihat proses syuting video klip Kelana. Devin tidak lupa mengucapkan terimakasih pada Renjani yang telah memberinya Croffle.


Kelana kembali ke set setelah memastikan Devin benar-benar pergi. Sementara itu Renjani menikmati makan siangnya spaghetti aglio olio dan kiwi mojito yang menyegarkan.


******


Kelana tak henti-hentinya melirik setangkai bunga mawar yang berada di pangkuan Renjani ketika mereka dalam perjalanan pulang. Devin tahu kalau Renjani adalah istri Kelana tapi kenapa ia masih berani memberi bunga. Kelana harus waspada terhadap cowok yang hanya dua tahun lebih muda darinya itu.


"Berhenti." Pinta Kelana pada Pak Dayat ketika mobil mereka melewati pertokoan bunga.


"Mas Lana mau beli bunga?" Yana memutar badan melihat Kelana.


"Iya." Kelana keluar dari mobil.


Renjani melihat Kelana masuk ke dalam toko yang penuh dengan berbagai jenis bunga segar. Renjani mengerutkan kening, untuk apa Kelana membeli bunga.


"Kamu ulang tahun hari ini?" Tanya Renjani pada Yana.


"Enggak kok Mbak, ada apa?"


"Kok Kelana beli bunga?"


"Mas Lana nggak pernah ngasih bunga untuk hadiah ulang tahun, biasanya dia memberi saya uang tabungan yang katanya lebih berharga dibandingkan bunga."


Renjani manggut-manggut, Kelana pernah mengatakan hal serupa padanya saat ia mendapat kiriman buket dari stasiun tv.


"Buang yang itu." Kelana menghempaskan buket dengan belasan tangkai bunga mawar ke pangkuan Renjani.


Renjani terkejut, kenapa tiba-tiba membelikannya bunga dan apa yang harus ia buang?


"Bunga jelek itu harus dibuang." Kelana melihat mawar dari Devin, ia tak tahan lagi melihatnya.


"Biar saya bantu buang." Yana mengulurkan tangannya pada Renjani.


Walaupun kebingungan tapi Renjani memberikan bunga dari Devin pada Yana.


"Lihat, aku bisa membelikan yang lebih bagus buat kamu."


Mobil kembali berjalan melewati jalanan yang padat malam itu. Jakarta tak pernah sepi meski tengah malam sekalipun.


"Aneh banget tingkahnya." Gerutu Renjani, kalau boleh jujur ia tidak suka bunga. Renjani lebih suka makanan.


Sesampainya di apartemen, Renjani memindahkan bunga mawar ke dalam vas kaca dan memberinya air agar bisa segar lebih lama.


Renjani melihat Kelana memijit bahu dan tengkuknya. Kelana pasti kecapekan karena seharian ini harus syuting dan waktu istirahatnya hanya sebentar.


Renjani menyandarkan tongkatnya ke dinding, ia melangkah dengan hati-hati mendekati Kelana.


"Pegel ya?" Renjani memijit bahu Kelana.


"Lumayan."


"Impian kamu mengadakan konser tunggal sudah tercapai, karya kamu banyak dan nggak pernah kehabisan job tapi kenapa masih kerja keras kayak gini?"


"Aku nggak mau mudah puas terhadap pencapaian aku, Mama pernah bilang kalau violinist seperti kami memang dilahirkan untuk terus berkarya sampai mati."


"Tapi tubuh kamu butuh istirahat."


Kelana tersenyum, "kan ada kamu yang nemenin aku hari ini jadi nggak berasa capek."


"Aku bahkan nggak bantu apa-apa selain habisin saldo Gopay kamu." Renjani membeli banyak makanan bahkan setelah ia menghabiskan spaghetti. Untuk menghilangkan kebosanan ia memesan camilan hingga perutnya terasa penuh.


"Bisa diisi ulang." Bagi Kelana itu tidak masalah, Renjani tak menghabiskan begitu banyak uang untuk makanan tersebut.


"Kamu masih punya impian lain nggak?" Renjani penasaran apakah impian seseorang yang sudah memiliki segalanya.


"Tentu aja, aku akan terus bermimpi."


"Apa?"


"Aku ingin tour konser keliling dunia."


"Aku yakin suatu hari impian itu pasti tercapai, penggemar kamu tersebar di seluruh dunia."


Kelana memutar badan mendongak menatap sepasang mata Renjani.


"Mari terus bersama sampai saat itu."


"Hm?" Alis Renjani terangkat, ia berusaha mencerna kalimat itu tapi otaknya yang beku ini tak bisa digunakan untuk berpikir.