Married by Accident

Married by Accident
Pakai ini



Saat ini, Marcella baru saja masuk ke dalam ruangan kamar dan begitu melupakan sesuatu, ia keluar lagi untuk mengambil tas miliknya yang tadi iya letakkan di atas meja di ruang tengah. Kemudian mengambil ponsel miliknya untuk memastikan apakah mendapatkan pesan.


Ia kini tersenyum simpul ketika melihat ada notifikasi dari sang kekasih dan langsung membuka pesan tersebut. Namun, seketika wajahnya berubah pucat setelah membaca isi dari pesan pria yang sangat dicintainya tersebut.


"Apa maksud Erland? Dia ingin fokus pada pekerjaannya tanpa berkomunikasi denganku? Apa dia sengaja ingin memutuskan hubungan dengan cara pengecut seperti ini?" Suara mendominasi dan tentu saja mewakili perasaan Marcella saat ini karena merasa khawatir jika sebenarnya ada sesuatu hal yang disembunyikan oleh sang kekasih.


Ia sudah tertawa miris karena merasa alasan dari sang kekasih sangatlah tidak masuk akal ketika mempermasalahkan berkomunikasi akan tidak bisa fokus pada pekerjaan.


"Bahkan di zaman modern sekarang ini pergi ke toilet pun membawa ponsel, lalu dia dengan entengnya mengatakan tidak ingin berkomunikasi denganku hanya karena agar bisa fokus pada perusahaan yang mengalami masalah." Ia saat ini masih menggenggam erat ponsel pintar miliknya.


Sebenarnya ia ingin menghubungi sang kekasih untuk menanyakan apa maksudnya. Namun, merasa terluka dan benar-benar sakit hati. Ia berpikir jika sang kekasih hanya beralasan karena ingin memutuskan hubungan dengannya gara-gara tidak mau diajak nikah.


"Apa alasan itu yang membuatnya memutuskan komunikasi denganku sebelum memutuskan hubungan? Atau dia sengaja melakukan itu agar aku mau berubah pikiran dan menerima ajakannya untuk menikah?" Marcella saat ini merasa bingung apa yang harus dilakukannya dan di saat bersamaan mendengar suara ketukan pintu.


Ia hanya terdiam saat menoleh ke arah pintu yang beberapa saat kemudian terbuka dan menampilkan sahabat baiknya sudah masuk ke dalam dan berjalan mendekat.


Hingga ia seolah bisa mengetahui jika sahabatnya lebih dulu membaca pesan dari sang kekasih dan bersikap sangat aneh hari ini dengan mendekatkannya pada Zack. Ia menatap dengan menelisik untuk mencari kebenaran dari tatapan sahabatnya yang mewakili rasa iba.


"Apa kamu tadi sempat membuka ponselku dan melihat pesan Erland?" Saat ia baru saja menutup mulut, seperti bisa menebak jika ekspresi wajah sahabatnya mewakili jawaban atas pertanyaannya barusan.


Lidya saat ini tidak langsung menjawab karena merasa bersalah ketika mengetahui lebih dulu dari sahabatnya. Ia mendaratkan tubuhnya di hadapan Marcella. Bahkan sudah menepuk pundaknya sendiri.


"Jika kamu butuh tempat untuk bersandar, ada aku di sini. Maaf karena tadi tidak sengaja ketika hendak memberikannya padamu, terlihat di notifikasi paling atas." Ia seketika tertampar dengan perkataan dari sahabatnya ketika membahas tentang perbuatan yang tadi ketika ada Zack.


"Jadi, itu alasannya kenapa kamu bersikap sangat aneh di depan Zack seolah ingin mendekatkanku padanya." Marcella tertawa terbahak-bahak karena merasa miris dengan sikap sahabatnya saat merasa kasihan padanya.


Sementara itu, Lidya merasa sangat tidak enak dan membuatnya kini menyatukan telapak tangan dihadapan sahabatnya tersebut. "Maaf. Aku tadi terbawa perasaan karena kesal pada Erland."


"LDR itu bisa bertahan karena lancarnya komunikasi. Jika tidak ada komunikasi sama sekali dengan alasan ingin fokus pada pekerjaan, menurutmu apa? Bukankah dia ingin memutuskan hubungan denganmu? Apa dia melakukan itu karena kamu menolak ajakannya untuk menikah?" Ia sebenarnya tidak tega pengungkit tentang prinsip hidup sahabatnya.


Namun, jika berada di posisi sahabatnya tersebut yang sudah jelas-jelas diajak menikah oleh pria yang dicintai, pasti akan langsung menerima tanpa pikir panjang. Hanya saja, karir selalu menjadi alasan dan akhirnya berakhir seperti ini.


Ia hanya menyayangkan hal itu dan tidak mungkin menyalahkan sahabatnya yang tengah bersedih dan pastinya patah hati. Bahwa pesan dari sang kekasih tersebut seolah menjadi akhir dari hubungan mereka.


"Aku tahu itu," lirih Marcella yang juga berpikiran sama seperti sahabatnya karena memang selama ini hubungannya bisa berjalan lancar dan bertahan hingga bertahun-tahun itu karena komunikasi.


Namun, ketika sang kekasih memutuskan untuk tidak berkomunikasi dengannya, seketika membuatnya berpikir jika itu adalah sebuah cara untuk mengakhiri hubungan mereka dengan lebih halus.


"Di sini akulah yang salah karena memaksanya untuk selalu mengerti dan menerima prinsip hidupku. Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku tidak bisa meninggalkan semua mimpiku karena setelah menikah mungkin tidak akan bisa mengejar karir.


"Aku ingin lebih membanggakan agar orang tuaku semakin bahagia memiliki putri yang bisa sukses dengan tangan sendiri." Ia sebenarnya dulu mempunyai masa lalu kelam dalam hal ekonomi.


Hal itulah yang membuatnya berjanji akan benar-benar mengangkat derajat orang tuanya dari segi ekonomi sekaligus membanggakan mereka bahwa orang miskin bisa sukses dengan usaha tanpa bantuan orang lain.


Ia bahkan sering mimpi buruk karena dulu benar-benar mengalami kejadian yang menyakitkan saat ekonomi keluarganya terpuruk.


Kini, ia mulai membuka rahasia masa lalu yang tidak diceritakan pada siapapun, termasuk sang kekasih.


"Sebenarnya dulu ibuku pernah diculik dan diperkosa sebagai penebus hutang keluargaku. Bahkan aku sempat hampir mengalami hal yang sama, tapi ibukulah yang menyelamatkanku dengan mengumpankan tubuhnya sampai rentenir itu puas." Ia menceritakan itu dengan bersimbah air mata dan suara serak.


Ia benar-benar tidak menceritakan itu pada siapapun dan baru kali ini mengungkapkan pada sahabatnya karena mengetahui jika prinsip hidupnya membuat sang kekasih sekarang pergi menjauh.


"Apa? Dasar orang-orang laknat!" sarkas Lidya yang saat ini langsung bergerak memeluk sahabatnya untuk menenangkan karena sudah menangis tersedu-sedu ketika menceritakan sesuatu yang sangat menyakitkan.


Ia tidak bisa membayangkan sahabatnya tersebut saat masih kecil sudah mengalami hal paling kelam dan sampai sekarang menjadi seorang wanita yang kuat serta kokoh dalam hal apapun.


"Kenapa kamu tidak menceritakan hal ini pada Erland? Dia pasti bisa mengerti bagaimana trauma yang kamu rasakan. Pasti tidak akan mempermasalahkan saat kamu meminta waktu untuk lebih mengejar karir demi membanggakan orang tuamu yang dulu dilecehkan oleh orang-orang jahat itu." Lidya bahkan merasa semakin iba ketika tubuh sahabatnya bergetar hebat saat menangis tersedu-sedu di pelukannya.


Marcella saat ini memilih untuk meluapkan semuanya dengan menangis tanpa memperdulikan apapun dan juga tidak menanggapi perkataan dari sahabatnya.


Ia juga tidak memperdulikan jika pakaian sahabatnya basah karena air matanya sudah menganak sungai. Entah sudah berapa menit berlalu ia menangis, hingga perasaannya sedikit lebih lega setelah mengungkapkan keluh kesah pada sahabat yang sudah dianggap seperti saudara sendiri tersebut.


Kini, ia menarik diri dan menghapus air matanya dengan tisu yang baru saja diambilkan oleh sahabatnya. "Aku tidak menceritakan ini padanya karena takut dia jijik pada orang miskin yang membayar hutang dengan tubuh."


"Sebenarnya beberapa kali aku ingin mengatakannya, tapi nyaliku tidak sekuat saat ini ketika mengetahui ia memutuskan untuk tidak lagi mau berkomunikasi denganku. Aku memang sangat mencintainya, tapi rasa cinta pada orang tuaku jauh lebih besar." Saat ia mengingat jika masih mempunyai target besar dalam hidupnya, berniat untuk menerima keinginan sang kekasih.


Sementara itu, Lidya seketika terdiam karena bingung harus bagaimana untuk membantu sahabat baiknya ketika berada dalam masalah pelik. "Lalu, apa kamu akan menerima semuanya dengan pasrah seperti ini? Kamu tidak ingin menanyakan alasan Erland?"


Refleks Marcella menggelengkan kepala karena berpikir jika sang kekasih juga berada dalam posisi yang serba salah sepertinya. "Mungkin memang dia sedang mengalami masalah besar dari perusahaannya."


"Aku sangat percaya pada Erland karena sudah mengenalnya sangat lama. Ia akan berbicara sebenarnya jika ingin memutuskan hubungan kami. Erland bukanlah seorang pengecut yang mengakhiri kisah kami dengan mengatasnamakan masalah perusahaan." Meskipun sebenarnya merasa ragu atas pemikirannya, tetap saja ia tidak bisa tenang.


Ini adalah pertama kalinya sang kekasih mengatakan tidak ingin berkomunikasi dengannya. Jadi, merasa sangat bingung dengan apa yang dilakukan pria itu. Juga tidak tahu apa yang diinginkan oleh sang kekasih.


"Mungkin waktu yang bisa menjawabnya." Lidya yang saat ini juga merasa bahwa ia tidak bisa membantu apapun kecuali memberikan sebuah semangat agar sahabatnya tetap menatap masa depan demi mewujudkan harapan besar yang dimiliki.


"Ya, kamu benar. Aku menerima semua takdir yang sudah diatur oleh Tuhan. Meskipun aku tahu jika jodoh itu harus diusahakan dan dibarengi doa dan juga keinginan dari keduanya, tetap saja aku butuh waktu untuk menyembuhkan traumaku ini." Ia bahkan masih mengikuti kabar tentang pria yang membuatnya sangat trauma itu.


"Apakah aku akan sembuh jika pria itu mati? Rasanya aku ingin membunuhnya karena tidak bisa melupakan saat dia melucuti pakaianku dulu. Aku benar-benar sangat trauma dan sering mimpi buruk." Dengan beberapa kali membersihkan bulir air mata di wajahnya, tetap saja tidak bisa menghentikan kesedihan yang terwakilkan oleh cairan yang menganak sungai di pipi.


"Bahkan dengan mata kepalaku sendiri, menyaksikan ibuku dipaksa melayani. Ayahku sama sekali tidak mengetahui hal itu karena jika tahu, mungkin akan mengakhiri hidupnya karena merasa menjadi seorang suami serta ayah tidak berguna." Saat mengingat kejadian paling menakutkan sepanjang sejarah hidupnya, Marcella selalu tidak bisa menahan tangannya yang bergetar hebat.


Ia seperti mengalami sebuah sindrom trauma hingga sampai tangannya gemetar dan bayangan-bayangan buruk di masa lalu itu terngiang serta terbayang di pikirannya.


Hal itulah yang membuatnya tidak pernah menceritakan kepada siapapun dan memendamnya sendiri di dalam hati. Namun, semuanya pecah ketika ia tidak ingin sepenuhnya disalahkan oleh sahabatnya.


Apalagi selama ini tidak pernah sekalipun bertengkar dengan sahabatnya tersebut dan selalu berbagi keluh kesah perjuangan di negeri orang hingga bisa seperti sekarang.


"Tenanglah, Cella! Lupakan dan jangan bahas itu lagi. Kamu akan tersiksa jika terus membahasnya. Maafkan aku karena membuatmu berakhir menceritakan traumamu. Aku benar-benar tidak bermaksud untuk mendorongmu jatuh ke lembah penderitaan seperti ini." Lidya kembali memeluk erat sahabatnya dan beberapa kali mengusap lembut punggung yang dihiasi rambut panjang tergerai itu.


Ia benar-benar tidak tega sekaligus merasa berdosa karena membuat sahabatnya sampai menceritakan hal paling menyakitkan yang dialami.


Dengan berusaha menyalurkan aura ketenangan, berharap sahabatnya sedikit lebih baik meskipun tidak sepenuhnya menyembuhkan luka hati yang menganga lebar hingga berakhir menangis tersedu-sedu.


"Jalani saja takdir yang membawa kita sampai ke mana. Jika Erland adalah jodohmu, dia pasti akan kembali. Namun, jika dia bukan jodohmu, jangan menghancurkan hidupmu." Kalimat terakhir yang diucapkannya memang menyakiti sahabatnya, tapi ia berharap kedewasaan seorang Marcella tidak membuat wanita itu berakhir mengakhiri hidup karena patah hati.


Banyak wanita maupun pria yang memilih untuk mengakhiri hidup saat patah hati dan tidak ingin itu terjadi pada sahabatnya. Ia bahkan saat ini berjanji akan selalu menjaga perasaan Marcella.


Hingga ia saat ini seketika merasa lega begitu sahabatnya tersebut melepaskan pelukan dan menepuk lengannya.


"Aku tidak ingin berakhir di neraka dengan cara mengakhiri hidup. Itu akan membuat orang tuaku menderita dan usahaku sejauh ini tidak akan ada gunanya. Aku tidak akan bunuh diri hanya karena patah hati karena bisa sampai sekarang ini dengan berusaha keras agar memiliki ekonomi yang lebih baik."


Saat ini Marcella terdiam karena mengingat jika orang-orang yang dulu menghina keluarganya sudah tidak berani menampilkan wajah di depan orang tuanya.


Ia bahkan ingin mereka sadar jika roda kehidupan berputar dan ada masanya keluarganya berada di masa kejayaan. Jadi, tidak ingin menodai semuanya dengan bunuh diri hanya karena patah hati.


"Syukurlah kalau kamu berpikir seperti itu. Aku benar-benar sangat lega mendengarnya. Bagaimana jika kita keluar?" ucap Lidya yang saat ini ingin mengajak sahabatnya pergi ke salah satu club malam.


"Ke mana? Aku bahkan belum selesai menangis," sahut Marcella yang saat ini merasa bingung dengan perkataan sahabatnya.


Refleks Lidya terdiam karena ia ingin merahasiakannya dari Marcella. Ia bangkit berdiri dari ranjang. "Sudah, ikut saja! Cepat mandi dan dandan yang cantik. Kita bersenang-senang hari ini."


Kini, Lidya keluar tanpa menunggu tanggapan dari sahabatnya. Ia berpikir jika sahabatnya tersebut sekali-kali juga butuh bersenang-senang.


Sementara itu, Marcella sebenarnya merasa sangat ragu dengan ajakan dari sahabatnya yang tidak mengatakan tempat yang dituju. Namun, karena berpikir akan bertambah stress jika hanya diam di kamar dan terus menangis, akhirnya menganggukkan kepala dan beranjak pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Saat ini, Lidya menghubungi sang kekasih karena ingin ditemani ketika berada di klub malam agar tidak ada yang mengganggu mereka saat bersenang-senang. Ia berjaga-jaga agar tidak ada yang berani menggoda sahabatnya yang tengah patah hati.


Kemudian bersiap-siap untuk berangkat ke klab malam. Ia bahkan sudah menyiapkan pakaian untuk sahabatnya karena mengetahui tidak memiliki pakaian yang tepat karena kebanyakan formal yang dibeli.


Saat membawa gaun berwarna hitam dengan panjang selutut dan tidak terlalu terbuka karena ia tahu jika sahabatnya tidak akan mau memakai jika menampilkan dadanya.


Hingga ia yang saat ini melihat sahabatnya sudah keluar dari kamar mandi, menunjukkan pakaian yang di bawanya.


"Pakai ini!"


"Apa?" teriak Marcella yang membulatkan matanya karena merasa terkejut dengan jenis pakaian yang menurutnya sangat pendek tersebut.


To be continued