
"Pak, berhenti!" seru Floe yang kini tengah menatap ke arah sosok pria di kursi depan karena perutnya yang seperti diaduk-aduk dan yakin jika sebentar lagi akan muntah.
Tentu saja sang supir kini kebingungan karena tidak bisa langsung berhenti ketika jalanan hari ini cukup padat merayap. Ia benar-benar sangat heran pada wanita yang duduk di kursi belakang tersebut.
"Sebentar, Nona." Kemudian mengurangi kecepatan dan perlahan menepikan mobil setelah melewati beberapa kendaraan yang melintas. Sambil menatap sekilas ke arah belakang dan seperti mengerti apa yang tengah dialami wanita itu karena membekap mulutnya.
Wajah Floe sudah berubah pucat dan ia mulai bergerak membuka pintu mobil begitu berhenti dan tentu saja langsung membungkuk dan memuntahkan seluruh isi perutnya.
Bahkan ia beralih berjongkok karena tidak kuat menopang beban tubuhnya. Makanan yang tadi siang ia nikmati kini keluar semua. Seperti biasa, ia tadi dibawakan makan siang oleh pengawal dengan membeli di kantin kampus. Kemudian saat pulang langsung ke butik.
Namun, tidak menyangka jika ia malah mendapatkan rasa sakit sedemikian rupa. Hingga berpengaruh pada kandungannya.
"Nona, apa Anda baik-baik saja? Sudah berapa bulan?" Sang supir yang tadinya hanya diam di dalam mobil dan berniat untuk menunggu, tapi lama kelamaan tidak tega, sehingga keluar untuk mengecek sekaligus memastikan kondisi penumpang yang masih berjongkok di tepi jalan.
Floe hanya menoleh sekilas dan menggelengkan kepalanya. "Ini menginjak tiga bulan. Aku sudah terbiasa seperti ini, jadi tidak masalah."
"Tapi wajah Anda pucat, Nona. Lebih baik Anda menghubungi suami untuk memberitahu tentang keadaan Anda. Apa saya telpon saja?" Sang supir takut jika terjadi sesuatu hal yang buruk pada penumpangnya dan malah terkena imbasnya.
Sementara itu, Floe makin bertambah kesal karena sama sekali tidak ingin Erland tahu tentang semua hal mengenainya. "Tidak perlu! Hubungan kami tidak seperti yang Anda pikirkan."
Saat ia baru menutup mulut, mendengar suara bariton yang sangat tidak asing dan membuatnya menoleh ke sebelah kiri.
"Erland tetap harus tahu mengenai kondisi istrinya yang sedang tidak baik-baik saja." Harry Saputra yang tadi naik taksi, melihat sekilas siluet wanita yang sangat tidak asing dan ia langsung menyuruh supir untuk berhenti begitu mengetahui jika Floe yang sedang berjongkok di tepi jalan.
Ia makin membulatkan mata ketika melihat Harry yang tiba-tiba membuka pintu belakang taksi dan membungkuk ke dalam mencari sesuatu.
Hingga ia mengetahui jika pria yang sudah berhasil mengambil tasnya tersebut seperti menelpon seseorang. "Apa yang kau lakukan? Kembalikan ponselku!"
Saat masih merasa lemas dan juga pusing, tidak membuatnya bangkit berdiri, sehingga masih berjongkok sambil mengulurkan tangannya.
"Satu menit! Nanti juga aku kembalikan," ucap Harry yang sudah menelpon Erland setelah melihat daftar panggilan.
"Kembalikan! Jangan melebihi batasmu, Harry!" teriak Floe yang merasa murka karena sangat yakin jika pria itu menelpon Erland.
Harry yang masih menunggu panggilan telepon diangkat, kini mengerutkan kening melihat kemurkaan Floe. Hingga sambungan telepon mati tanpa diangkat.
"Apa yang terjadi pada kalian?" Akhirnya Harry mengembalikan ponsel milik Floe yang masih memerah wajahnya karena murka padanya.
Tanpa berniat untuk menjawab, Floe langsung merebut ponsel miliknya dan bangkit berdiri setelah dirasa keadaannya cukup baik. Ia kembali masuk ke dalam taksi.
Namun, suara teriakan Harry membuatnya menoleh ke arah sebelah kanan.
"Floella, awas!" teriak Harry yang melihat dari arah belakang ada truk melaju sangat kencang tepat seperti hendak menabrak taksi yang parkir di tepi jalan.
To be continued...