Married by Accident

Married by Accident
Garis takdir



"Kenapa kau minta maaf saat sudah jelas siapa yang bersalah dalam hal ini?" tanya Floe yang kini menatap wajah dengan rahang tegas yang membuatnya harus mendongak karena jauh lebih tinggi darinya.


Sementara itu, Dhewa yang saat ini mengerutkan kening karena ingin mengikuti alur yang dibawa wanita dengan paras cantik yang menurutnya seperti bidadari dan membuatnya merasa sangat aneh.


"Sudah jelas siapa yang bersalah? Memangnya siapa yang bersalah?" Sengaja ia berpura-pura bodoh karena tidak ingin membuat wanita yang tadinya memerah wajahnya karena marah tersebut makin meluapkan kemurkaan padanya.


Berbeda dengan Floe yang seketika berdecih kesal karena menganggap tengah dipermainkan. "Sepertinya Anda punya hobi berpura-pura, Tuan."


Tidak ingin berlama-lama berinteraksi dengan pria yang memakai setelan lengkap itu, ia pun langsung mengulurkan tangannya. "Aku yang bersalah karena jalan tidak pakai mata. Maaf."


Tentu saja Dhewa yang tidak ingin membuat tangan menggantung di udara itu lama menunggu, refleks langsung menyambutnya. Kini ia sudah menjabat tangan dengan jemari lentik yang terasa hangat itu.


"Aku juga bersalah tadi karena tengah berbincang dengan temanku. Makanya minta maaf, bukan berpura-pura." Dhewa kini menoleh ke arah sang asisten agar mengikuti aktingnya dan kini melihatnya menganggukkan kepala.


Sang asisten yang tadinya hanya diam mengamati interaksi dari bos dan wanita yang seperti pernah dilihatnya, tapi lupa di mana. 'Beginilah nasib seorang asisten. Harus mengiyakan saat difitnah. Jelas-jelas tadi bos menyuruhku diam dan tidak bicara. Apa bos tertarik dengan wanita ini ya?'


Floe yang kini sudah menurunkan tangannya, hanya menoleh sekilas pada pria dengan jas hitam itu. "Baiklah. Anggap saja kita impas dan tidak ada kesalahpahaman lagi. Kalau begitu, silakan melanjutkan perjalanan kalian. Saya juga ada urusan."


Sebelum ia melangkah pergi, menundukkan kepala sebagai salam penghormatan terakhir. Kemudian berjalan dengan langkah kaki jenjangnya menuju lobby.


Sementara itu, Erland yang tadinya hanya menjawab dengan anggukan kepala tanpa membuka suara, kini menoleh ke belakang untuk melihat siluet wanita itu yang kemudian menghilang di balik dinding lobby perusahaan.


"Wanita yang sangat aneh, langka. Siapa sebenarnya dia? Bisa-bisanya datang ke perusahaan dengan penampilan seperti itu." Kemudian menoleh ke arah sang asisten untuk mencari sebuah pembenaran atas pemikirannya saat mengarahkan jari telunjuknya pada wanita yang menabraknya beberapa saat lalu.


"Menurutmu aneh tidak?"


Sang asisten yang akhirnya ikut-ikutan melihat punggung wanita itu, terdiam beberapa saat. "Malah saya penasaran dengan siapa wanita itu, Bos. Pasti dia bukan orang sembarangan karena bisa sesuka hati datang tanpa harus memakai pakaian rapi dan juga riasan di wajah."


Saat ia baru saja menutup mulut, seketika mengerucutkan bibir karena kesal.


Ia sebenarnya membenarkan perkataan dari sang asisten, tapi saat melihat jika ia makin terlambat, tidak ingin memikirkan itu lagi karena harus segera tiba di lokasi yang akan ditinjaunya.


Sang asisten seketika berlarian kecil untuk mengejar atasannya yang menurutnya berjalan terlalu cepat. "Presdir, tunggu!"


Saat ia ingin melupakan apa yang terjadi barusan, tiba-tiba ingatannya berhenti pada sesuatu dan berteriak pada sang atasan yang kini membuka pintu mobil.


"Bos, saya sekarang baru ingat."


Dhewa yang tadinya hendak masuk ke dalam mobil, kini mengerutkan kening karena tidak paham. "Tentang?"


"Tentang siapa wanita itu."


"Siapa?" Dhewa seketika memasang telinga lebar-lebar agar tidak melewatkan sesuatu membuatnya sangat tertarik karena jujur saja ia juga seperti pernah melihat wanita itu, tapi lupa di mana.


Hingga ia seketika terdiam begitu mendengar suara bariton sang asisten yang mengingat semuanya.


"Itu, Presdir. Anda benar, wanita itu memang menganggap perusahaan adalah taman bermain dan Anda lah yang akan jadi baby sitter-nya. Saya baru ingat jika wajahnya mirip sekali dengan putri pemilik perusahaan yang bernama Floella Khaisyla itu."


Kemudian sang asisten kini mengulurkan tangannya meskipun jarak mereka dipisahkan oleh kendaraan mewah berwarna hitam itu. "Selamat menjadi baby sitter seorang nona muda pemilik perusahaan, Presdir."


'Floella Khaisyla? Jadi, wanita yang cantik bak bidadari itu adalah Floella Khaisyla? Putri dari tuan Hugo Madison yang patah hati dan sedang proses bercerai?' lirih Dhewa yang saat ini merasa jika semuanya sudah menjadi garis tangannya.


'Apa ini yang disebut takdir? Seperti ada garis takdir yang membuatku terhubung dengannya,' gumam Dhewa saat mencoba untuk memikirkan apa yang barusan dialami dan merasa sangat aneh dengan apa yang dirasakan saat ini ketika mengingat kejadian beberapa saat lalu.


To be continued...