
Floe saat ini melihat raut wajah orang tuanya yang tengah beristirahat di ranjang satunya. Memang ruangan di rumah sakit yang saat ini ditempati, ada dua ranjang yang berada di sana, sehingga bisa digunakan untuk beristirahat.
Sang ibu yang tidur di atas ranjang perawatan di sebelah kirinya, sedangkan sang ayah saat ini juga tengah tertidur di atas sofa.
Tadi ia memang menyuruh orang tuanya untuk beristirahat karena melihat raut wajah kelelahan mereka dan tidak tega. Jadi, ia berusaha untuk berakting tengah tertidur juga.
Padahal sebenarnya pikirannya saat ini dipenuhi oleh berbagai macam hal, khususnya kesedihan luar biasa saat kehilangan janin yang sudah mulai diterimanya dengan baik dan juga merasa memiliki ikatan batin sangat kuat, sehingga timbul rasa sayang dari seorang ibu pada keturunannya.
Namun, semuanya kini sirna dan membuatnya benar-benar terpukul, tapi harus berakting seperti tidak terlalu bersedih kehilangan janinnya yang tidak ditakdirkan untuk bisa melihat indahnya dunia.
Floe tadinya memejamkan mata sangat lama karena menunggu orang tuanya tertidur pulas dan begitu mendengar suara napas teratur dari mereka, kini membuka mata dan terdiam seperti patung saat berada di atas ranjang.
Ia cukup lama menatap orang tuanya yang selalu ada untuknya dan sangat menyayanginya, sehingga dari tadi berusaha untuk menghibur agar tidak berlarut-larut dalam kesedihan ketika memikirkan tentang janinnya.
Hal itulah yang membuatnya tidak ingin melanjutkan kesedihan berlarut-larut di depan orang-orang yang selalu ada untuknya saat terpuruk dan berada di fase terendah dalam hidupnya.
Puas menatap intens wajah lelah orang tuanya, khususnya yang sang ibu karena berada cukup dekat, sedangkan sang ayah cukup jauh saat tidur di sofa, ia beralih menatap ke arah perutnya yang datar dan mengusapnya.
Hingga saat ini bola matanya berkaca-kaca dan berusaha untuk menahan diri agar tidak menangis tersedu-sedu dan didengar oleh orang tuanya yang sudah larut dalam alam bawah sadar.
'Maafkan Mama, Sayang. Mama adalah orang tua paling jahat karena tidak bisa menjagamu dan akhirnya tidak bisa dilahirkan. Mama seharusnya saat itu tidak pulang karena kecewa dan terluka pada ulah papamu. Jika waktu bisa diputar lagi, Mama saat itu akan pulang bersama papamu,' gumam Floe yang ini tidak bisa menahan aliran deras bulir air mata yang lolos tanpa seizinnya.
Hingga ia pun saat ini membekap mulutnya agar tidak sampai bersuara ketika meluapkan kesedihan seperti layaknya seorang wanita normal, yaitu dengan meledakkan semua kesedihan melalui tangisan.
Perbedaan pria dan wanita memang sangat jelas. Jika seorang pria lebih memilih untuk berdiam diri atau kadang meluapkan kesedihan dengan menantang maut ketika di jalanan ketika merasa bersedih atau kecewa, sedangkan seorang perempuan meluapkannya dengan cara menangis tersedu-sedu agar bisa sedikit lebih lega.
Bahkan waktu yang dibutuhkan untuk menyembuhkan diri juga berbeda karena perempuan akan hancur di awal dan perlahan bangkit kembali dengan berdarah-darah sampai sembuh dengan sendirinya.
Sementara para pria di awal tidak akan terlalu merasa terpuruk karena berusaha untuk melupakan dengan mengisi kesibukan, tapi lama-kelamaan semuanya terasa hampa dan menyadari kekecewaan serta kesedihan makin menyesakkan.
Jadi, ketika perempuan sudah merasa sembuh dan baik-baik saja dari keterpurukan yang dialami, sedangkan para laki-laki baru saja menyadari kehancuran dan semakin bertambah penyesalan yang dirasakan.
Seperti yang saat ini terlihat dari sosok wanita yang masih berusaha untuk tidak bersuara ketika kuliner air mata sudah menganak sungai dan mungkin membuat matanya sembab.
Floe masih membekap mulut ketika tidak bisa menahan derasnya air mata yang mengalir membasahi pipinya. 'Kamu harus kuat, Floe. Semua yang terjadi padamu bukanlah akhir dari segalanya.'
'Ada orang tua yang mempunyai harapan besar padamu dan jika kamu larut dalam kesedihan, akan membuat mereka ikut merasa bersalah dan bersedih. Anakku, apa mama bisa melanjutkan hidup setelah kehilanganmu? Kenapa tidak mengajak Mama saat pergi? Agar kita bisa berkumpul bersama di atas sana.'
Floe yang hanya bisa berkeluh kesah sendiri tanpa bersuara, saat ini seperti tidak punya semangat hidup karena sesuatu yang sangat berharga darinya telah pergi.
Antara rasa bersalah dan berdosa dirasakannya karena dulu di awal-awal ingin menggugurkan dan sekarang seperti merasa bahwa ia mendapatkan karma atas semua yang dulu ingin dilakukan.
Memilih untuk menjalani semua hukuman untuknya, Floe saat ini berusaha untuk membesarkan hatinya agar tidak menyalahkan takdir dari Tuhan atas jalan hidupnya yang memang sudah ditentukan oleh-Nya.
'Ya Allah, aku ikhlas karena yakin jika semua yang terjadi padaku adalah yang terbaik dari-Mu. Aku akan menerima semuanya tanpa mengeluh sedikit pun karena memang semuanya adalah salahku.'
'Jika aku tidak menjadi wanita lemah dan ceroboh hingga berakhir di klab malam saat kecewa pada Rafadhan, mungkin semua ini tidak terjadi,' lirih Floe di dalam hati dan kini memejamkan mata untuk berusaha menormalkan perasaan membuncah yang membuatnya sesak dan kesulitan bernapas.
Floe bahkan sudah membebaskan mulutnya yang dari tadi dibekap agar tidak menimbulkan suara karena memang sudah sedikit lebih tenang dan tidak menangis lagi. Meskipun masih ada sisa-sisa bulir kesedihan yang membuat wajahnya sembab dan mengusapnya dengan kasar.
Ia berusaha untuk kuat meskipun hatinya hancur berkeping-keping karena harus mengalami dua kemalangan sekaligus di waktu yang sama, yaitu tidak ada harapan lagi untuknya berharap agar Erland jatuh cinta padanya dan membalas perasaannya yang diam-diam menyukai pria itu.
Kemudian disusul dengan janinnya yang memilih untuk pergi karena tidak mempercayainya sebagai seorang ibu yang bisa membesarkan keturunan dengan baik.
Ia jadi membuka mata dan berusaha untuk menormalkan napasnya yang masih sesak karena dipenuhi oleh kesedihan. Hingga beberapa saat kemudian pikirannya kini beralih pada sosok pria yang sudah berada di negara berbeda.
'Apa dia sudah bertemu dengan wanita bernama Marcella itu? Apa Erland merasa lega dan bahagia karena akhirnya bisa bertemu dengan wanita yang dicintai? Lalu, apa dia sama sekali tidak merasa iba padaku yang baru saja kehilangan anaknya?' Floe menggelengkan kepalanya karena merasa bahwa apa yang dilakukannya salah.
Bahwa memikirkan seorang pria yang sama sekali tidak mencintainya dan mungkin sudah berbahagia dengan sang kekasih, itu adalah sesuatu hal yang salah dan hanya bisa menyakiti hatinya semakin dalam. Namun, ia tetap tidak bisa mengalihkan pikirannya dari rasa penasaran atas sosok pria yang ingin ia singkirkan dari hatinya.
'Kamu harus melupakan Erland, Floe! Kamu tidak boleh memikirkan pria yang sama sekali tidak menginginkanmu dan akan berbahagia dengan wanita yang dicintai. Sadarlah karena saat ini dia sama sekali tidak memikirkanmu.' Saat ia masih berusaha dengan kuat untuk menghilangkan pikiran tentang Erland, berharap bisa melanjutkan hidup seperti yang dikatakan oleh orang tua yang mempunyai harapan besar padanya.
'Kamu sama sekali tidak berharga di mata Erland, Floe. Jangan bodoh. Kau sekarang memikirkannya, tapi dia hanya memikirkan Marcella. Kau tidak akan pernah bisa mengalahkan wanita dari masa lalu Erland. Seperti apa yang selalu kudengar bahwa orang baru tidak bisa menggantikan kehadiran orang lama,' gumam Floe yang kini menarik rambutnya untuk menyakiti diri sendiri.
Berharap dengan melakukan itu bisa membuatnya sadar dan tidak terus-menerus terpuruk dalam rasa sakit ketika mencintai sosok pria yang salah.
'Aku tidak boleh menyiksa diri sendiri dengan perasaanku pada Erland karena cintaku bertepuk sebelah tangan.' Floe merasakan rasa sakit luar biasa saat kulit kepalanya terasa panas karena tarikan yang dilakukannya sangat kuat beberapa saat lalu.
Ia tadi terlihat meringis kesakitan karena berpikir jika apa yang dilakukannya bisa membuatnya melupakan rasa sakit di hati.
'Rasa ini sama-sama tidak terlihat dan juga sama-sama sakit, tapi mengapa jauh lebih sakit rasa sakit di hati daripada di kepalaku yang kutarik sangat kuat? Rasa yang tertinggal ini juga akan berbeda sembuhnya. Tapi aku benar-benar takut jika muka di hatiku tidak bisa sembuh selamanya.'
Floe berusaha mengambil napas teratur ketika rasa sesak semakin mendominasi dan membuatnya kesulitan bernapas. Semua perasaan membuncah dirasakan saat ini kala hatinya hancur berkeping-keping saat tidak menjadi pilihan hati pria yang dicintai.
Hingga beberapa saat kemudian ia yang masih berusaha untuk tegar dan kuat dengan tidak terus memikirkan perasaan tidak terbalas untuk Erland, kini berusaha berdamai dengan hatinya.
'Lupakan semuanya, Floe. Kamu hidup di dunia ini tidak melulu soal cinta karena ada banyak hal yang harus kau capai. Apalagi kau adalah putri tunggal keluarga Madison dan memiliki tanggung jawab untuk meneruskan perjuangan orang tuamu.' Ia kembali menatap ke arah orang tuanya yang masih tertidur pulas dan membuatnya sedikit lega karena tidak mengetahui bahwa ia dari tadi meluapkan kesedihannya.
'Aku harus menjadi putri yang kuat untuk mereka. Aku tidak boleh lemah hanya karena perasaanku pada Erland. Ya, aku akan baik-baik saja setelah melupakan semuanya dan membuka lembaran baru dalam hidupku.'
'Antara sabar dan sadar memiliki arti berbeda, meski hampir sama. Seperti perasaanku dan Erland yang tidak pernah selaras dan sama karena di sini hanya aku yang mencintainya, sedangkan dia mencintai Marcella begitu besarnya. Hingga membuatku merasa takdir tidak berpihak pada cinta yang kurasakan untuknya.'
Floe pun kini bertekad untuk bangkit dari keterpurukan dan memilih fokus pada masa depan tanpa memikirkan cinta yang dimiliki untuk sosok pria yang sebentar lagi akan berstatus sebagai mantan suami.
'Kami akan bercerai dan tidak akan ada lagi yang tersisa. Semuanya benar-benar berakhir setelah status kami berubah dan menjalani hidup masing-masing. Ya, semua itu akan terjadi dan aku tidak boleh terus-menerus hancur seperti ini,' lirih Floe yang saat ini merasa jika ia bagaikan pecahan kaca yang hendak disatukan kembali.
Meskipun butuh waktu dan usaha yang keras untuk melakukannya, ia menyadari jika semuanya tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Juga akan ada bekas dari kaca yang telah hancur itu saat disatukan dengan perlahan dan mungkin membutuhkan waktu cukup lama, tapi ia tetap ingin optimis jika waktu bisa menyembuhkan luka di hatinya.
'Daddy benar karena semuanya akan baik-baik saja dan aku akan disembuhkan oleh waktu karena terbiasa hidup dengan luka. Biar waktu yang akan menjawab semuanya dan mulai besok, aku akan membuka lembaran baru setelah benar-benar menghilangkan perasaanku pada Erland.'
'Rasa yang tertinggal sekarang akan perlahan ku hilangkan sedikit demi sedikit. Bantu aku untuk menyembuhkan luka ini ya Allah karena semua yang kurasakan juga berasal dari-Mu dan akan kembali pada-Mu.' Floe kini mengusap wajahnya dengan telapak tangan dan perasaannya sekarang jauh lebih baik.
Ia saat ini memutuskan untuk tidak akan pernah mencari tahu sedikitpun mengenai Erland yang berada di London dan berusaha untuk fokus pada kuliah agar bisa melanjutkan perusahaan sang ayah suatu saat nanti.
Saat ia kini berpikir untuk menjadi seorang wanita karir yang hebat seperti sang ayah karena memang menjadi satu-satunya harapan orang tua, memutuskan untuk fokus dan ingin menjadi mahasiswi yang cerdas dan mendadak teringat pada pria yang menyelamatkannya dari maut.
'Aku akan memintanya mengajariku agar bisa secerdas dirinya. Aku tidak boleh menjadi wanita bodoh karena perusahaan akan bangkrut jika mempunyai pemimpin yang tidak cerdas.' Floe terdiam sejenak karena ragu pada keputusannya yang hendak menyusahkan teman satu kelasnya tersebut.
'Aku tidak boleh terlihat dekat dengannya di kampus karena akan menjadi konsumsi para mahasiswa. Akan terjadi kesalahpahaman pada hubungannya dengan kekasihnya.' Floe mendadak berubah pikiran dan ia ingin mencari seorang dosen private daripada harus menyusahkan Harry.
Hingga ia terpikirkan pada dosennya yang merupakan teman dari Erland. 'Apa pak Tegar mau membantuku jika aku mengungkapkan ingin menjadikannya dosen private khusus untukku? Tidak ada salahnya membicarakan ini padanya saat nanti aku kembali pulih dan masuk kuliah.'
Floe sebenarnya merasa tidak nyaman kuliah di universitas yang baru dan ada niat untuk pindah ke kampus lama, tapi karena berpikir hanya akan menjadi gosip karena pindah-pindah saat kuliah, sehingga mengurungkan niat.
'Tidak masalah aku tetap kuliah di sana dan harus fokus tanpa memikirkan yang lain.' Kini ia bertekad untuk fokus kuliah dan setelah lulus akan langsung bekerja di perusahaan sang ayah agar bisa menjadi seorang wanita yang hebat suatu saat nanti.
Floe menatap ke arah sang ayah yang berada jauh darinya. "Dad, putrimu ini suatu saat akan membuatmu bangga."
Kemudian ia beralih menatap ke arah sang ibu yang tertidur pulas. "Mom, aku sangat menyayangimu. Terima kasih karena sudah menjadi ibu yang luar biasa untukku dengan sangat menyayangiku meskipun selalu mengecewakanmu."
Ia berbicara dengan suara sangat lirih agar tidak terdengar oleh kedua orang tua yang sangat disayanginya tersebut. Meski keunikan malam di ruangan terbaik Rumah Sakit tersebut tetap saja membuat suara lirihnya terdengar memenuhi kesunyian dini hari.
Floe saat ini merasa perasaannya jauh lebih baik setelah meledakkan semuanya beberapa saat lalu dengan menangis tanpa suara dan tanpa diketahui oleh orang tua. Kini, ia merasa yakin jika perkataan dari sang ayah akan benar-benar membuat luka di hatinya sirna perlahan-lahan.
Bahwa waktu yang akan menyembuhkan semuanya dan ia akan berbahagia saat tiba masanya ketika menemukan seseorang yang bangga memilikinya dan meratukannya seperti sang ayah yang selalu mencintai sang ibu.
'Teruntuk jodohku nanti, semoga aku bisa seperti mommy yang selalu dicintai dari awal hingga akhir. Semoga pasanganku nanti bisa bersyukur memilikiku, sehingga membuatku merasa menjadi satu-satunya wanita paling bahagia di dunia. Aku serahkan semua pada-Mu karena Engkau adalah penulis skenario terbaik semua umat-Mu.'
Akan tiba masanya kesedihan berubah menjadi kebahagiaan seperti pelangi yang datang setelah hujan. Floe berharap hidupnya suatu saat nanti akan berakhir di negeri semburat pelangi saat bertemu dengan jodohnya. Meskipun ia tidak tahu kapan dan siapa, tapi sangat yakin jika Tuhan sudah menentukan jodoh terbaik untuknya.
To be continued...