
Malam itu Kelana hadir di acara ulang tahun salah satu televisi swasta. Kelana membawakan dua lagu Dancing in the Rain dan Mind bersama Emma.
Sejak latihan hingga berada di atas panggung, Kelana menyadari jika Emma selalu menghindar dari tatapannya padahal biasanya ada saja alasan Emma untuk bicara dan dekat dengan Kelana. Kelana baru ingat kalau malam pertama Renjani dirawat di rumah sakit, Emma terlihat juga berada di rumah sakit itu. Harusnya Kelana mencurigai Emma dari awal.
Tepuk tangan riuh menggema ke seluruh studio mengakhiri penampilan Kelana dan Emma malam itu.
"Penampilan yang bagus." Puji salah satu staf saat Kelana dan Emma sampai di backstage.
"Seperti biasa, penampilan Kelana selalu bagus." Adam menyahut, sebagai manajer ia memang paling pandai memuji Kelana.
"Mas, orang-orang bertanya kapan kita bisa makan bersama?" Yana menghampiri Kelana dan melepas jas abu-abu yang Kelana kenakan.
"Makan lah tanpa aku." Kelana janji akan mentraktir para crew setelah konser waktu itu, tapi karena kejadian kecelakaan Renjani, ia jadi lupa pada janjinya.
"Mereka bilang tidak seru tanpa Mas Kelana." Seorang staf menghapus riasan Kelana.
"Apa yang ingin mereka makan?"
"Barbeque, Mas." Yana mendengar permintaan para crew saat Kelana tampil tadi. Mereka bergosip bahwa Kelana sudah melupakan janjinya.
"Besok malam nggak ada jadwal kan?"
"Benar Mas."
"Kamu bisa booking restoran barbeque untuk makan malam."
"Baik Mas." Yana duduk di salah satu kursi kosong dan mengeluarkan ponselnya. Ia menghubungi salah satu restoran barbeque untuk makan malam besok.
"Umumkan di grup obrolan agar semua orang ikut besok." Tambah Kelana. Ia melangkah menuju ruang ganti setelah wajahnya bersih oleh riasan.
"Terimakasih Kelana sudah mau hadir disini tapi sayang sekali Renjani tidak bisa hadir." Seorang staf perempuan mendatangi Kelana di ruang ganti.
"Kondisinya belum pulih."
"Kamu mengerti, kami menitipkan ini untuk Renjani." Staf tersebut memberikan buket bunga pada Kelana.
"Terimakasih." Kelana melihat buket tersebut sesaat lalu meletakkannya.
Dalam perjalanan pulang, Kelana ingin mampir sebentar ke pusat perbelanjaan untuk membeli produk wajah Renjani yang pecah gara-gara ia main terlalu kasar. Kelana tak peduli, ia bisa membelikan Renjani produk yang baru.
"Mau saya temani Mas?" Tanya Yana ketika Kelana turun dari mobil.
"Nggak usah, aku cuma sebentar." Kelana membaca kembali catatan yang Yana kirimkan padanya. Ada lima produk skincare dan 2 lipstik. Jika dipikir lagi, Renjani belum pernah membeli skincare atau makeup menggunakan uang Kelana.
"Renjani orang yang sangat hemat." Gumam Kelana, ia memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Kelana tidak membutuhkan catatan itu lagi, ia bisa memilih produk yang lebih bagus dari pada milik Renjani yang ia pecahkan.
Kelana mendatangi salah satu counter brand highend yang beberapa kali ia datangi bersama Yana. Ia memilih cleanser, krim pelembap, toner,tabir surya dan serum.
"Tolong pilihkan produk bibir yang bagus." Kelana melihat deretan produk bibir yang membuatnya bingung karena ia harus memilih salah satu dari mereka.
"Kalau boleh tahu untuk siapa Kak?" Tanya salah seorang pegawai dengan ramah.
"Istri saya, dia menyukai warna yang lembut dan segar." Kelana membayangkan bibir Renjani berwarna merah jambu yang segar hingga membuatnya ingin menggigit bibir ranum itu.
"Saya sarankan Charlotte Tilbury shade yang pillow talk, dia warnanya mauve pink cerah." Pegawai wanita itu menunjukkan satu lipstik pada Kelana.
Tanpa pikir panjang Kelana mengambil produk itu karena ia juga malas berlama-lama disini. Namun jika mengajak Renjani, sesi belanja itu akan lebih lama dan melelahkan . Kelana benar-benar tidak punya waktu untuk itu.
"Kakak tidak mau mencoba yang ini, ini produk baru dari YSL, bagus melembapkan bibir kering."
Kelana mengangguk, walaupun sepertinya bibir Renjani jarang terlihat kering.
******
Renjani mematikan televisi setelah penampilan Kelana berakhir, ternyata seperti ini rasanya melihat orang yang kamu kenal muncul di televisi.
"Ini udah malem, masa masih makan pisang goreng?"
Renjani dikejutkan oleh suara mama nya ketika ia hendak bergerak masuk kamar. Renjani spontan berhenti mengunyah dengan pipi menggembung karena ia memakan pisang goreng dengan sekali lahap.
Renjani melotot, apakah itu salahnya? padahal Lasti sendiri yang membuat pisang goreng tersebut. Bukankah itu untuk dimakan?
"Kan Mama sendiri yang bikin, masa nggak boleh dimakan?" Protes Renjani setelah menyelesaikan kunyahan nya.
"Nanti kamu gendut kalau makan malam-malam."
Renjani memutar bola mata jengah, kenapa mama nya tidak segera kembali ke Sumedang. Renjani benar-benar kesal mendengar omelan mama nya seharian ini.
"Udah Mama masuk kamar gih, udah malem, nggak bagus orang tua bergadang."
"Dasar kamu tuh!" Lasti menggerutu lalu pergi dari hadapan Renjani masuk ke kamar yang awalnya adalah kamar Renjani. Namun untungnya Renjani tidur bersama Kelana sehingga Lasti tidak curiga jika sebenarnya Kelana dan Renjani sebelumnya tidur terpisah.
Pintu apartemen terbuka lalu Kelana dan Yana muncul. Kelana mengulas senyum melihat Renjani. Itu adalah pemandangan yang harus dilihatnya saat pertama kali sampai di apartemen.
"Untuk mu." Kelana menghempaskan goodie bag dan buket bunga di pangkuan Renjani.
"Apa?" Renjani mengintip ke dalam goodie bag berwarna hitam dan putih tersebut.
"Mas Lana beliin skincare baru buat Mbak Rere." Sahut Yana.
"Wah makasih ya." Mata Renjani berkilat-kilat mengeluarkan satu produk dari goodie bag itu.
"Lihat setelah sampai di kamar." Kelana mendorong kursi roda Renjani masuk ke kamar.
Renjani meletakkan goodie bag dan memegang buket dengan tiga jenis bunga berwarna merah muda, jingga dan biru. Renjani menghirup aromanya yang sangat wangi dan segar.
"Jangan salah sangka, itu pemberian staf TV." Tukas Kelana melihat senyum lebar di wajah Renjani.
"Oh." Senyum Renjani langsung lenyap, ia pikir Kelana yang begitu manis membelikannya buket bunga.
"Kamu kenapa beliin aku sebanyak ini, yang pecah kan cuma serum aku aja." Renjani mengeluarkan semua produk itu dari goodie bag. "Gila, kamu beliin aku Estee Lauder?"
"Kamu nggak suka?"
"Wah apa muka ku nanti bisa kayak YoonA?" Renjani mencoba mengaplikasikan 3 tetes serum tersebut di wajahnya. Baru-baru ini ia dengar YoonA member SNSD resmi menjadi brand ambassador Estee Lauder.
"Siapa itu?"
"Tetangga sebelah kita." Jawab Renjani asal.
"Kamu kenal tetangga sebelah kita? bukannya dia orang Jepang jadi namanya YoonA." Kelana tampak berpikir, hanya Renjani yang membuatnya memikirkan sesuatu yang tidak penting.
"Eh penampilan kamu tadi bagus banget, aku nonton dari awal sampai akhir nggak ada yang kelewat."
Kelana menahan senyum, ia sudah sering mendapat sanjungan seperti itu tapi saat Renjani yang mengatakannya, dadanya terasa hangat.
"Suara Emma juga bagus jadi bisa balance sama permainan violin kamu."
Kelana setuju dengan ucapan Renjani, jika tidak bagus maka ia tak mungkin menggandeng Emma untuk menyanyikan beberapa lagunya. Hanya saja kepribadiannya yang buruk.
"Lagu favorit kamu apa?" Renjani tiba-tiba ingin menanyakan hal itu pada Kelana, "yang bukan lagu kamu."
"Banyak."
"Mainin violin dong buat aku, satu lagu aja, lagu favorit kamu." Renjani merasa ketagihan setelah melihat penampilan Kelana tadi bersama Emma.
Kelana langsung menyetujui permintaan Renjani, ia menggendong Renjani menuju studio musik. Kelana mendudukkan Renjani di kursi piano lalu ia memilih satu violin miliknya.
"Aku akan memainkan lagu violinist panutan ku,lagu yang paling terkenal, Liebeslied."
Renjani melongo saat Kelana menyebutkan judulnya karena ia sama sekali tidak pernah dengar lagu tersebut. Apakah selama ini Renjani hidup di tempat yang terpencil hingga lagu terkenal yang Kelana sebutkan saja tidak ia ketahui.
"Kamu nggak tahu?"
Renjani menggeleng sambil nyengir kuda, "kamu tahu sendiri kita berasal dari dunia yang berbeda."
"Nggak masalah, aku akan tetap main." Kelana bisa mengenalkan sedikit demi sedikit pada Renjani sesuatu yang ia sukai.
Kelana mulai menggesek violin nya. Ia tak mau berharap banyak pada seorang Renjani. Mulanya ia selalu bersemangat saat Renjani membahas soal violin. Tanpa sadar ia telah membandingkan Renjani dengan Elara. Mulai sekarang Kelana akan mencintai Renjani seutuhnya tanpa bayang-bayang Elara. Kelana bisa mendapatkan kebahagiaan dengan cara lain dari seorang Renjani. Mereka tak perlu memiliki hobi yang sama untuk jatuh cinta.
Seperti biasa Renjani selalu dibuat terkesima oleh penampilan Kelana. Di atas panggung maupun di luar panggung, Kelana selalu bermain dengan sungguh-sungguh. Kelana dan violin seperti sepasang kekasih yang tidak dapat dipisahkan.
Renjani memberi tepuk tangan meriah setelah Kelana mengakhiri lagunya. Ia ingin memberikan standing applause seperti saat menonton konser Kelana di Soehanna Hall tapi sayangnya ia tak bisa berdiri.
"Luar biasa banget." Renjani berkomentar, matanya berbinar-binar menatap Kelana. Ia tampak lebih bahagia dibandingkan saat mengetahui Kelana membelikannya serum Estee Lauder.
Kelana tersenyum lebar meletakkan violin nya lalu duduk di samping Renjani. Ia juga bisa memainkan piano untuk Renjani.
"Siapa pianis yang kamu tahu?" Kelana membuka tutup piano dan meletakkan jari-jarinya di atas tuts.
"Yiruma, kamu tahu lah Kiss the Rain, semua orang di dunia ini tahu lagu itu."
"Waktu baru belajar main piano, itu lagu pertama yang bisa aku mainkan dengan baik."
Denting piano mulai terdengar mengalun lembut. Lagu ini seperti menggambarkan kehidupan Renjani saat ini. Ia mencintai Kelana yang tak bisa melupakan cinta pertamanya. Renjani sadar bahwa ia tak akan memiliki Kelana seutuhnya terlepas dari status mereka sebagai suami istri.
It's hollow inside
I never had your love
And I never will
Ini adalah perasaan yang salah. Ketika menyadarinya, rasa itu telah mengalir deras seperti hujan di bulan Desember—tidak terkendali. Bagaimana Renjani akan mengahadapi perasannya setelah ini. Renjani tak boleh tenggelam terlalu dalam—tenggelam selalu menyakitkan.
and every night
i lie awake
thinking maybe you love me
like i’ve always loved you
but how can you love me
like i loved you when
you can’t even look me straight in my eyes
Renjani mendongak berusaha menelan air matanya yang hendak luruh ketika Kelana mengakhiri permainan piano nya.
"Kamu nangis?"
Renjani memaksakan senyum, "iya saking bagusnya." Dustanya.
"Lagu ini juga punya arti yang menyedihkan."
Aku tahu.
"Oh ya?" Renjani pura-pura tidak mengerti padahal ia hafal di luar kepala lirik lagu Kiss the Rain karya pianis Yiruma.
"Besok aku mau ajak kamu makan malam sama crew Antasena, aku udah janji mau traktir mereka." Kelana menutup pianonya kembali.
"Oke." Renjani mengangguk, ia menghindar dari pandangan Kelana.
Bagaimana jika sudah saatnya berpisah, Renjani tak rela untuk melepas Kelana padahal mereka menikah memang untuk berpisah. Itu sudah direncanakan sejak awal.