Married by Accident

Married by Accident
Kesal



"Ganteng juga bosmu, Ayu Ningrum," ucap Harry yang saat ini sengaja menggoda sahabat baiknya yang tengah menikmati makanan.


Ia yang tadi melihat pria dengan bahu lebar tersebut berjalan menjauh saat menerima telepon, sebenarnya merasa aneh kenapa tidak mengangkatnya di samping mereka. Namun, berpikir jika mungkin itu berhubungan dengan masalah privasi yang tidak ingin didengar oleh anak buah ataupun orang lain sepertinya, sehingga hanya dia menatap pria yang terlihat memunggunginya.


Sementara itu, Floe sengaja tidak memperdulikan candaan dari Harry yang dianggap hanyalah bocah tengil yang selalu saja menggodanya jika dekat dengan lawan jenis. Padahal ia sama sekali tidak pernah berpikir untuk kembali membuka hati pada pria manapun dan berakhir sakit hati untuk kedua kalinya.


"Jangan membuatku tidak berselera makan. Jadi, biarkan aku makan dengan tenang, oke!" ucap Floe yang saat ini mengunyah makanan yang merupakan nasi Padang dengan lauk rendang kesukaannya.


Ia bahkan sering menikmati makanan favoritnya tersebut bersama dengan hari dan juga Zeze saat kurang dari kampus, sehingga saat ini merasa senang karena ketika kelaparan, bisa merasakannya.


Harry yang saat ini hanya terkekeh melihat raut wajah kesal dari Floe, kini akhirnya menuruti perintah itu dengan diam dan melihat sahabatnya makan.


"Iya, makanlah dengan tenang. Aku juga sudah selesai denganmu dan akan pulang. Sepertinya dia juga sudah selesai berbicara di telepon." Harry mengarahkan dagunya untuk menuju ke arah atasan sahabatnya yang kini terlihat menatap ke arah ponsel yang dipegang.


Saat Floe baru saja mengunyah makanan, mengikuti arah pandang yang ditunjukkan oleh sahabatnya dan mengerutkan kening karena merasa jika Dhewa cepat sekali menerima telepon. Padahal baru hitungan menit. Bahkan ia baru makan beberapa suap saja.


"Cepat sekali bos mengangkat telepon. Jadi penasaran apa yang dibicarakan hanya dalam beberapa menit saja." Floe kini kembali menikmati makanannya agar bisa segera habis karena merasa tidak enak jika pria yang kini berbalik badan dan berjalan ke arahnya akan menunggu terlalu lama saat ia makan.


Apalagi Harry saat ini sudah bangkit berdiri dan bersiap untuk pergi meninggalkannya ketika ia belum menghabiskan makanannya. "Mau pulang sekarang kah?"


Harry yang seketika menganggukkan kepala sambil melihat mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. "Sepupuku sekarang ada di rumah. Makanya tadi dia bertanya apa aku akan pulang cepat atau pergi bersama Zeze. Dia menunggu di rumah jika aku pulang cepat."


Floe kini mengibaskan tangannya sebagai tanda pengusiran. Bahkan ia berbicara dengan mulut masih penuh dengan makanan karena sudah biasa bersikap tanpa jaga image di depan Harry. "Ya, sudah pergi sana. Aku tidak enak pada sepupumu. Oh ya, salam buat dia dan sekali lagi terima kasih untuk makanannya hari ini. Lain kali lagi, ya."


Bahkan ia tertawa karena merasa kalimat terakhir yang diucapkan sangatlah konyol, seolah memanfaatkan memiliki seorang sahabat baik seperti Harry.


Refleks Harry bergerak cepat mencubit pipi Floe karena merasa gemas dengan candaan dari sahabat yang sudah dianggap seperti adik sendiri. "Dasar! Makanya cari pacar biar tidak menyusahkanku karena aku selalu tidak tega melihatmu bernasib malang."


"Issh ... nyebelin!" Floe menatap tajam sambil mencubit tangan yang digunakan untuk membuat pipinya terasa nyeri. "Aku bukan anak kecil, Harry. Selalu saja mencubit pipiku."


Floe bahkan mengerucutkan bibir karena merasa sangat kesal ketika pipinya terasa nyeri dan melihat Dhewa yang saat ini sudah berdiri di sebelah Harry dan menampilkan wajah muram, sehingga membuatnya mengerutkan kening karena merasa aneh.


"Kalian benar-benar seperti kakak beradik saja." Dhewa yang sebenarnya merasa sangat kesal setelah sang ibu mengatakan untuk mengajak Floe menjemput di bandara, sehingga membuatnya pusing harus bagaimana berbicara pada wanita yang malah saat ini terlihat sangat senang bercanda dengan sang sahabat.


Bahkan hal itu membuatnya semakin bertambah kesal karena kedekatan antara Floe dan sahabatnya tersebut seperti meninggalkan sesuatu yang tidak nyaman di hatinya. Meskipun menyadari jika apa yang dirasakan sangatlah berlebihan karena baru mengenal Floe dan sama sekali tidak punya hubungan apapun selain atasan dengan bawahan.


"Ya, Anda benar karena dia memang adikku. Makanya tadi saya meminta tolong pada Anda untuk menjaganya agar tidak bersedih ataupun memarahinya jika melakukan kesalahan. Dia hanyalah seorang wanita lemah dan cengeng yang pasti akan menangis jika dimarahi." Harry pun kini mengulurkan tangannya karena ingin segera pergi agar sepupunya tidak terlalu lama menunggu di rumah.


"Senang bisa berkenalan dengan Anda, Tuan Dhewa. Saya harus pulang sekarang karena ada urusan dengan keluarga. Sekali lagi tolong jangan buat adikku ini menangis karena dia sudah ...." Harry tidak jadi melanjutkan perkataannya karena mendapatkan tatapan tajam dari Floe.


Ia baru menyadari jika tidak boleh mengatakan mengenai kehidupan privasi Floe yang kurang beruntung dalam masalah asmara dan juga sedang proses perceraian.


"Sudah apa? Kenapa tidak dilanjutkan?" Dhewa yang mengerutkan kening karena merasa ada sesuatu hal yang disembunyikan oleh pria yang kini masih berjabat tangan dengannya.


Ia baru melepaskan ketika Harry menggelengkan kepala sambil tertawa. Seolah tidak ingin bercerita padanya. Meskipun ia sebenarnya sudah mengetahui apa yang mungkin akan disampaikan oleh pria itu, tetap saja membuatnya berpura-pura seperti orang bodoh yang tidak tahu apapun.


'Dia pasti ingin mengatakan mengenai masalah perceraian Floe dan berpikir aku tidak tahu apapun mengenainya. Apalagi tatapan Floe benar-benar sangat tajam dan jelas-jelas melarang Harry untuk memberitahu,' gumam Dhewa yang saat ini melepaskan tangannya setelah pria itu membungkuk hormat padanya.


"Lupakan saja karena yang bersangkutan tidak mau diketahui masalah pribadinya. Kalau begitu, saya pergi dulu. Semoga Anda cepat pulih dan kembali seperti sedia kala." Kemudian Harry pun beralih menoleh ke arah Floe setelah pria di hadapannya menganggukkan kepala. "Aku pulang dulu. Habiskan makanannya karena mubazir jika tidak kamu makan semuanya."


Floe menganggukkan kepala dan melambaikan tangannya tanpa berniat untuk bangkit berdiri. Ia bernapas lega karena sahabatnya tidak membuka aib kehidupan rumah tangganya yang gagal.


"Terima kasih makanannya. Hati-hati di jalan dan jangan ngebut!" seru Floe yang saat ini melihat siluet belakang pria yang sudah berjalan menjauh darinya.


Ia pun beralih menatap ke arah pria yang kini duduk di sebelahnya setelah memasukkan ponsel ke dalam saku celana dan terdengar mengembuskan napas kasar seperti orang yang baru saja mengalami masalah besar.


'Kenapa lagi dia? Seperti ada batu besar di pundaknya saja saat menghela napas berat seperti itu. Aah ... lebih baik aku habiskan makananku dulu daripada bertanya mengenai apa yang tengah dialaminya hingga seperti itu,' gumam Floe yang kembali menyuapkan satu sendok makan ke dalam mulutnya dan mengunyahnya.


Ia sebenarnya merasa sangat penasaran dan ingin sekali bertanya mengenai apa yang tengah mengganggu pikiran pria di sebelahnya tersebut. Namun, rasa ingin tahunya tidak sebesar rasa lapar yang kini membuat cacing-cacing di perutnya masih belum puas.


Floe memilih fokus menikmati makanan di dalam mulutnya, sambil menunggu sampai pria itu membuka suara.


Sementara itu, Dhewa yang saat ini hanya menunggu Floe menghabiskan makanannya, sedangkan pikirannya berkutat dengan sesuatu yang dari tadi mengganggunya. Ia tidak tahu harus bagaimana mengungkapkan apa yang ada di pikirannya saat ini.


'Dia marah atau tidak ya saat aku meminta bantuannya? Tapi tadi saja tidak mau dan membuatku terpaksa tidak memperdulikan penolakannya, sehingga memanfaatkan untuk membuat Camelia pergi serta membatalkan perjodohan. Ternyata semuanya tidak berjalan seperti yang kuharapkan karena malah semakin bertambah rumit seperti ini.'


Dhewa saat ini hanya bisa berkeluh kesah di dalam hati sambil beberapa kali mengembuskan napas kasar karena merasa bingung harus bagaimana. Ia seolah sudah bisa menebak jawaban dari wanita yang kini membuatnya menoleh dan melihat Floe kesal padanya karena menampilkan wajah masam atas apa yang dilakukannya berhasil membuat tidak nyaman.


To be continued...