Married by Accident

Married by Accident
Mendengar sesuatu



Erland baru saja tiba di London dan ia melangkahkan kaki panjangnya keluar menuju terminal kedatangan sambil menghirup udara malam di kota yang menjadi tempat sang kekasih meniti karir. Ia sebenarnya cukup lelah karena melakukan perjalanan selama 16 jam lebih di udara.


Itu pun harus transit beberapa jam dan ia sampai di kota London. Revolusi Industri yang terjadi di London membuat kota itu memiliki julukan The Smoke. Pasalnya, polusi dari pabrik dan juga penggunaan batu bara sebagai penghangat ruangan membuat kota ini diselimuti kabut pekat.


"Akhirnya aku menginjakkan kaki di Bandara ini lagi. Sayangnya aku datang dengan rasa bersalah dan harapan besar untukmu agar baik-baik saja." Erland sebenarnya saat ini merasa sangat takut jika terjadi sesuatu hal yang buruk pada sang kekasih.


Namun, ia berusaha untuk berpikir positif dan tidak memenuhi pikirannya dengan hal-hal negatif yang menjurus ke arah kematian. Ya, ia benar-benar sangat takut jika wanita yang sangat dicintai dan sudah lama menjalin hubungan dengannya tersebut tidak tertolong dan berakhir meninggalkan dunia.


"Aku tidak akan pernah memaafkan diriku jika sampai apa yang ku takutkan terjadi. Kamu akan baik-baik saja dan kembali padaku, kan Sayang?" Erland masih berdiri sambil menatap ke arah orang-orang yang berlalu lalang menuju ke arah terminal kedatangan.


Sementara ia masih merasa bingung dan juga takut untuk berjalan keluar dari tempatnya berdiri. Ia kini mengambil napas teratur untuk menormalkan perasaannya yang dipenuhi oleh ketakutan pada keadaan sang kekasih yang masih kritis.


"Marcella akan sembuh dan bebas dari masa kritis," ucapnya dengan penuh keyakinan dan menghilangkan semua kekhawatirannya.


Selama beberapa detik ia menormalkan perasaannya sambil menunggu koper miliknya. Kemudian ia langsung mengambilnya begitu kopernya sudah terlihat.


Kemudian ia perjalanan menuju ke arah terminal kedatangan dan kini langsung naik taksi yang banyak berada di area bandara dan langsung menuju ke Rumah Sakit.


Sang asisten sudah mengirimkan alamat Rumah Sakit, sehingga ia langsung menunjukkan pada supir taksi yang kini mengemudikan kendaraan keluar area Bandara.


'Apa keadaan Marcella masih sama? Atau mengalami kemajuan? Aku harus bertanya,' gumam Erland yang tadinya mengedarkan pandangannya ke depan untuk mengamati suasana jalanan kota London.


Terakhir ia datang ke London beberapa bulan lalu untuk mengunjungi sang kekasih. Hingga ia pun kini menghirup udara malam hari setelah sebelumnya membuka kaca mobil sebelah kiri.


"London ...."


Suara lirih Erland yang didominasi oleh napas panjang yang mewakili rasa bersalahnya pada sang kekasih karena menjadi penyebab utama wanita yang sudah lama menjalin hubungan dengannya itu melakukan aksi bunuh diri karena perbuatannya.


"Kamu harus bertahan agar kita bisa kembali bersama dan menjalin hubungan seperti dulu lagi." Erland kini meraih ponsel milihnya di saku celana dan memencet tombol panggil pada nomor sang asisten.


Ia menunggu selama beberapa menit, tapi panggilan yang tersambung tidak mendapatkan jawaban hingga terputus. Erland yang saat ini mengerutkan kening karena melihat layar ponsel miliknya tidak mendapatkan jawaban dari sang asisten.


"Ke mana dia? Tidak mungkin jam segini sudah tidur." Sambil menatap ke arah mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangan kirinya menunjukkan pukul sembilan malam.


Ia memang menyuruh sang asisten agar selalu berada di Rumah Sakit untuk menjaga sang kekasih hingga dirinya tiba. Bahkan ia juga menyuruh untuk bertanya pada teman satu rumah Marcella, mengenai bagaimana kejadian sebenarnya hingga sang kekasih bisa menyayat pergelangan tangan hingga berakhir di rumah sakit.


Namun, sama sekali belum ada laporan mengenai apa yang ia perintahkan dan membuatnya makin aneh serta penasaran. "Sebenarnya apa saja yang dia lakukan di sini? Kenapa tiba-tiba kerjanya jadi lelet?"


"Apa teman satu rumah Marcella tidak tahu saat dia bunuh diri? Aku belum mendapatkan laporan yang jelas. Jadi, sampai sekarang belum tahu kapan Marcella menyayat pergelangan tangannya. Apakah setelah aku mengirimkan pesan padanya yang melarangnya untuk tidak menghubungiku?"


Ada banyak pertanyaan yang menari-nari di otaknya saat ini dan membuatnya benar-benar frustasi karena belum bisa mengetahui apa yang terjadi pada sang kekasih.


Erland yang saat ini merasa penasaran dengan apa yang saat ini dilakukan oleh sang asisten hingga tidak kunjung menjawab teleponnya, memilih untuk sekali lagi menelpon. Berharap pria yang berusia lebih mudah darinya tersebut menjawab dan melaporkan semua padanya.


"Biasanya dia selalu membawa ponselnya kemanapun pergi dan selalu menjawab teleponku kapanpun. Kenapa sekarang saat dibutuhkan dalam situasi seperti ini malah tidak mengangkat telpon?" lirih Erland yang dipenuhi oleh rasa kesal ketika mengingat jika asistennya tidak seperti saat berada di Jakarta yang selalu kerja sesuai dengan keinginannya.


Hingga lagi-lagi hanya rawat wajah penuh kekecewaan yang tampak saat ini karena kembali sambungan telepon terputus tanpa mendapatkan jawaban dari sang asisten.


"Awas saja jika ketemu nanti. Aku akan meninju perutnya karena membuatku kesal," sarkas Erland dengan raut wajah penuh amarah karena sangat kesal ketika tidak bisa mencari tahu sebelum tiba di Rumah Sakit.


"Akan aku potong gajinya karena membuatku kesal." Erland memijat pelipis karena merasa kepalanya sangat pusing.


Ia memang kurang tidur karena memikirkan banyak hal, sehingga ketika berada di dalam pesawat pun hanya memejamkan mata sebentar, tapi tetap tidak bisa larut dalam alam mimpi.


Jujur saja ia sebenarnya saat ini merasa sangat takut jika sampai sang kekasih tidak tertolong dan berakhir meninggal karenanya. Di sisi lain, ia yang sepanjang perjalanan ketika berada di dalam pesawat juga memikirkan keadaan Floe serta calon anaknya yang ternyata tidak ditakdirkan bisa melihat indahnya dunia.


'Aku sudah kehilangan calon anakku dan tidak bisa mendengarnya memanggilku papa. Sebenarnya aku benar-benar merasa berdosa karena telah membuatnya gagal dilahirkan. Pasti Floe juga merasakan demikian dan menyalahkan diri sendiri. Aku tidak bisa menghiburnya karena harus pergi mengunjungi Marcella yang juga sedang berjuang melawan maut.'


Erland saat ini menyatukan telapak tangan dan memejamkan mata untuk merapal doa agar bisa fokus pada harapannya agar dua wanita yang saat ini berada di rumah sakit itu sama-sama baik-baik saja ke depannya.


Hingga beberapa saat kemudian ia terdiam dan kembali menatap jalanan yang dihiasi dengan lampu penerangan yang sangat indah. Ia aku merasa penasaran dan menatap ke arah sang supir.


"Apa rumah sakitnya masih jauh dari sini? Aku ingin segera melihat kekasihku." Erland bisa melihat sang sopir yang melirik ke arah spion ketika ia bertanya.


"Sekitar 15 menit lagi, Tuan. Sebentar lagi tiba." Sang supir mengemudikan kendaraan dengan kecepatan rata-rata karena ingin membuat penumpang merasa nyaman, sehingga memang agak lama tiba meskipun jarak antara Bandara dan Rumah Sakit tidak terlalu jauh.


"Baiklah." Erland memilih untuk kembali fokus pada ponsel yang dari tadi masih digenggamnya. Ia kini membuka galeri untuk mengusir kebosanan selama perjalanan.


Awalnya ia berniat untuk mencari foto-foto kebersamaannya dengan sang kekasih yang masih tersimpan rapi di sana serta tidak ada satupun yang dihapusnya.


Namun, di bagian atas, ada beberapa foto Floe yang diambil ketika ia melihat posisi wanita itu sangat fotogenik ketika berada di pantai. Ia sempat memotret tanpa sengaja ketika awalnya hendak mengambil gambar pemandangan.


Saat menatap foto Floe yang diambil dari sisi sebelah kanan dan tanpa menatap ke arah kamera, terlihat wanita yang masih berada di rumah sakit tersebut sangat natural ketika ia ambil gambarnya diam-diam.


Kini, ia baru menyadari jika wanita yang beberapa lama tinggal bersamanya dalam satu rumah tersebut memiliki paras yang cantik. Bahkan ada sesuatu yang tiba-tiba berdesir di hatinya ketika tidak berkedip mengamati foto di layar ponselnya.


Masih terdiam membisu dan tidak berkedip menatapnya, ia bergerak mengusap lembut bagian wajah dari samping foto itu. "Floe, apa kamu sudah sadar? Apakah kamu tidak berhenti menangis setelah mengetahui anak kita diambil kembali oleh-Nya?"


"Maafkan aku karena menjadi pria yang jahat untukmu. Ya, ini semua memang salahku dan penyesalan di akhir tidak akan pernah mengubah takdir anak kita. Apakah sekarang kamu sangat membenciku? Apakah kamu mau memaafkanku saat aku meminta maaf?"


Suara lirih yang terdengar menyayat hati menghiasi suasana di dalam mobil yang sangat hening. Bahkan hanya sekilas melirik ke arah spion karena tidak paham dengan perkataan dari pria yang duduk di kursi penumpang tersebut.


Hanya saja, raut wajahmu kesedihan membuatnya merasa yakin jika apa yang dikatakan oleh pria itu ditujukan pada sang kekasih yang berada di rumah sakit dan tidak sabar untuk segera tiba, sehingga bertanya padanya.


Ia pun kini kembali fokus menatap ke arah jalanan karena setelah dua lampu merah di depan sana akan segera tiba di area Rumah Sakit yang dituju.


Sementara itu, Erland yang saat ini menggelengkan kepala karena ia merasa tujuan utamanya untuk melihat foto Marcella malah berakhir pada Floe.


"Fokus, Erland! Kenapa kau malah melihat foto Floe? Kau harusnya saat ini hanya memikirkan Marcella yang tengah berjuang melawan maut. Floe baik-baik saja seperti apa kata perawat tadi, sedangkan Marcella masih kritis."


Ia bahkan menepuk jidatnya berkali-kali karena menyalahkan diri sendiri saat memikirkan wanita lain ketika berada di London. Meskipun dalam hati kecilnya juga perasaan bersalah teramat besar pada sosok wanita yang gagal menjadi ibu dari calon anaknya.


'Bahkan perkataan Floe sampai sekarang selalu terngiang-ngiang di kepalaku. Adil, dia selalu menuntut itu dariku. Kata adil seolah membuatku seperti seorang suami yang memiliki dua istri dan harus bersikap tidak berat sebelah,' gumamnya yang saat ini mengembuskan napas kasar atas beban berat yang dirasakannya.


Hingga ia yang belum sempat melihat foto-foto kebersamaannya dengan sang kekasih, tersadar setelah mendengar suara bariton dari sang supir yang ternyata sudah berbelok ke arah Rumah Sakit.


"Tuan."


Sang supir yang saat ini sudah menghentikan taksi yang dikemudikannya tepat di depan lobby rumah sakit, mengerutkan kening ketika melihat bahwa penumpangnya ternyata setengah melamun saat menatap ke arah ponsel yang dipegang.


"Aaah ... iya. Ternyata kita sudah sampai." Erland yang merasa kalang kabut karena buru-buru memasukkan ponsel miliknya ke dalam satu celana dan menatap ke arah sebelah kanan kaca jendela mobil.


Bahwa saat ini berada tepat di depan bangunan tinggi menjulang yang merupakan Rumah Sakit terbesar di London karena mengetahui saat sang asisten melaporkan semuanya.


"Tolong koper saya," ucapnya yang saat ini beranjak dari tempat duduknya dan membuka pintu mobil serta keluar dari sana.


Sang supir yang langsung mengikuti pergerakan dari penumpang serta melaksanakan perintah karena memang tadi masih menunggu hingga pria itu tersadar dari lamunannya. Kini, sudah membuka bagasi mobil dan mengeluarkan koper besar milik pria tersebut.


"Ini, Tuan."


"Terima kasih," sahut Erland yang saat ini baru saja mengeluarkan uang dari dalam dompet miliknya.


Ia memang sudah menukarkan uang saat hendak menuju ke bandara agar memudahkannya setelah tiba di London.


Sang supir yang menganggukkan kepala setelah menerima uang, lalu kembali masuk ke dalam mobil dan mengemudikannya meninggalkan area rumah sakit.


Berbeda dengan Erland yang saat ini langsung menarik koper miliknya menuju ke lobi Rumah Sakit untuk langsung menuju ke arah lift yang akan membawanya ke lantai lima karena menurut informasi dari asistennya, menyatakan jika ruang ICU ada di sana.


Dengan dada bergemuruh dan perasaan berkecamuk karena dipenuhi oleh kekhawatiran pada keadaan sang kekasih yang masih kritis, ia memencet tombol pada lift dan menatap angka digital yang kini bergerak menuju ke lantai atas.


Suasana rumah sakit yang cukup hening dan lenggang karena memang ini sudah cukup malam dan pastinya pihak keluarga pasien sudah tidak ada yang berlalu lalang.


"Sayang, aku datang. Kamu baru sembuh setelah aku tiba di sini. Kita akan kembali bersama seperti dulu lagi. Aku berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu atau membiarkan kita tidak berkomunikasi seperti apa yang kukatakan." Erland yang saat ini langsung berjalan keluar begitu pintu kotak besi tersebut terbuka dan melihat ke kanan kiri untuk memastikan ia pergi ke mana.


Hingga pandangannya kini tertuju pada siluet belakang sosok pria yang kini tengah berbicara dengan pria berseragam putih yang diduganya adalah dokter di Rumah Sakit tersebut.


"Itu pasti adalah dokter yang menangani Marcella," lirih Erland sambil menarik koper miliknya dan berjalan mendekat dua pria yang tak jauh darinya tersebut.


Saat ia hendak membuka mulut untuk memanggil sang asisten agar menoleh padanya untuk mengetahui bahwa ia sudah datang, tidak jadi melakukannya karena seketika jantungnya seperti dihunus tombak tajam ketika mendengar apa yang disampaikan oleh dokter.


Bahkan ia sempat mundur satu langkah karena merasa sangat terkejut atas apa yang baru saja didengarnya.


"Tidak!" lirih Erland yang saat ini membuat sang asisten mendengar suaranya dan menoleh ke arahnya.


Bahkan ia melihat asistennya seperti sangat terkejut begitu melihat kedatangannya.


"Presdir?"


To be continued...