Married by Accident

Married by Accident
Maaf



Beberapa saat lalu, Dhewa yang tanpa sengaja menatap sosok wanita dengan raut wajah tidak asing, tapi ketika ia mencoba untuk mengingat-ingat, tidak menemukannya. Hal yang membuatnya tidak mengalihkan perhatian dari wanita yang berjalan mendekat tersebut adalah penampilan yang sangat sederhana.


Ke perusahaan hanya mengenakan gaun selutut dengan rambut acak-acakan dicepol ke atas dan sama sekali tidak memakai riasan di wajah adalah sesuatu yang baru pertama kali dilihatnya.


'Wanita itu sangat aneh sekali. Ternyata ada wanita yang sangat percaya diri berpenampilan seperti itu. Langka sekali,' gumam Dhewa yang kini masih terus melangkah perlahan dan tidak mengalihkan pandangannya.


Ia bahkan bisa menebak apa yang akan terjadi sebentar lagi. Hingga ia mendengar suara lirih dari sang asisten dan langsung memberikan kode dengan jari di mulutnya.


"Bos, wajah wanita itu seperti tidak asing." Sang asisten yang kini terdiam melihat kode dari atasannya, sekaligus heran karena langkah kaki pria yang jauh lebih tinggi darinya tersebut malah seolah mengarah pada wanita yang bahkan hanya fokus pada ponselnya.


Hingga ia yang belum sempat mengungkapkan apa yang ada di pikirannya, malah kini melihatnya sendiri secara langsung.


Dhewa yang berjalan lurus, memang sudah mengetahui jika wanita yang sama sekali tidak melihat jalan itu akan menabraknya dan sengaja tidak menghindar.


Hingga ia merasakan dadanya terempas dahi wanita yang memiliki postur tubuh hanya sepundaknya tersebut. Bahkan ia pun seketika bersitatap dengan netra kecoklatan yang kini menguncinya.


Jarak yang sangat dekat itu membuatnya bisa menatap pahatan wajah wanita di hadapannya mulai dari kelopak mata hingga bibir sensual berwarna merah jambu karena sama sekali tidak memakai lipstik seperti yang sering dilihatnya.


Bisa dibilang ini adalah pertama kalinya ia melihat seorang wanita muda tampil percaya diri tanpa memakai riasan sedikit pun dan malah membuatnya kagum sekaligus terpesona pada wajah natural itu.


'Cantik. Bahkan sangat cantik dan mungkin seperti ini wajah bidadari karena di atas sana pasti sama sekali tidak ada alat make up,' gumam Dhewa yang kini mengalihkan perhatiannya saat ditatap tajam oleh wanita yang seperti terlihat kesal karena menabraknya.


Ia memang tahu jika salah karena lebih fokus pada ponselnya saat mengirim pesan pada Erland, tapi berpikir jika pria itu tidak melihat jalan saat berjalan, sehingga tidak bisa menghindar dari tabrakan.


'Apa yang dilihatnya hingga tidak tahu jika ada orang sebesar ini yang berjalan ke arahnya? Apa dia sengaja melakukannya? Aaah ... tidak mungkin karena penampilanku saja seperti ini, sangat kacau. Kalau aku seperti biasanya, mungkin itu benar karena para pria selalu tidak berkedip menatap seorang Floella Khaisyla ketika lewat,' gumam Floe yang kini berniat untuk mengambil ponselnya di tanah.


Namun, ia seketika mengurungkan niatnya karena melihat pria yang dimarahinya membungkuk untuk mengambil ponsel miliknya.


Sementara itu, Dhewa yang mengalihkan pandangannya karena sedikit gugup berada pada posisi sangat intim dengan seorang wanita, seketika memberikan ponsel di tangannya.


"Maaf," ucapnya singkat karena tidak ingin meladeni seorang wanita tengah emosi. Apalagi ia tahu dan sangat hafal dengan bagaimana karakter wanita yang merupakan kasta tertinggi di dunia.


'Percuma aku berdebat dengan seorang wanita yang berpikir tidak pernah salah. Bahkan jelas-jelas dia yang bersalah, tapi malah menyalahkanku. Meskipun sebenarnya aku sengaja melakukannya. Tapi kenapa aku melakukan hal sebodoh ini?' gumam Dhewa yang saat ini melihat ekspresi wajah wanita di hadapannya berubah.


"Maaf?" Floe yang kini langsung menerima ponsel miliknya, merasa terkejut sekaligus heran.


Awalnya Floe berpikir jika pria itu akan balik marah padanya karena memang yang bersalah dalam hal ini adalah ia, jadi kini seperti bertemu dengan pria aneh dan sangat langka.


To be continued...