Married by Accident

Married by Accident
XLVII



"Cintai aku Renjani."


Renjani memejamkan mata, ia sudah melakukan itu jauh sebelum Kelana menyatakan cinta padanya. Bahkan saat sikap Kelana masih acuh tak acuh, Renjani sudah menaruh perasaan pada Kelana. Renjani tak pernah berani menunjukkan perasannya, ia cukup sadar diri akan posisinya. Ia hanya figuran di antara Kelana dan Elara.


"Mari lalui 7 bulan ini dengan penuh cinta, aku akan memberikan seluruh hidupku untukmu setelah itu terserah kamu."


Renjani membalikkan badan menghadap Kelana, ia mengangguk samar meski tak tahu apakah ia bisa melakukannya. Renjani takut jika dirinya berubah serakah dan menginginkan lebih.


"Kamu pernah bilang ingin membahagiakan ku."


"Iya."


"Mari saling menuangkan kasih sayang, itu akan membuatku bahagia, anggap saja kita akan bersama selamanya—seumur hidup."


"Jangan menyesal kalau setelah ini aku jadi serakah."


"Asal kau tahu, aku akan lebih serakah." Kelana sudah serakah sejak Renjani memintanya menurunkan resleting gaunnya.


Renjani tersenyum, "lakukan sesukamu." Ia melenggang pergi dari sana.


Renjani menuruni anak tangga dan menemukan Valia di ujung tangga. Valia menatap Renjani tajam penuh dendam tapi sayangnya itu sama sekali tidak membuat Renjani gentar. Valia yang memulai semua ini, Renjani tak akan mengalah begitu saja pada Valia yang telah melukai perasaan Kelana. Renjani benar-benar tidak suka dengan cara murahan yang Valia gunakan untuk meraih popularitas.


Renjani melewati Valia tanpa mengatakan apapun, ia tak ingin berdebat lagi dengan Valia, itu sungguh membuang waktunya.


"Kalian yakin nggak mau makan dulu?" Ratna beranjak dari sofa ketika melihat Renjani.


"Tidak usah Ma." Tolak Renjani sopan, berbeda dengan Kelana ia tetap bersikap baik terhadap Ratna dan Wira. "Kami juga buru-buru karena perjalanannya pasti akan lebih lama dari sini ke apartemennya."


"Ayo pergi." Kelana menarik tangan Renjani.


"Kami pamit dulu Ma, Pa." Renjani sedikit membungkukkan tubuhnya pada Ratna dan Wira sebelum Kelana menariknya keluar dari rumah megah tersebut. Rumah yang dulu pernah menjadi tempat tinggal Kelana sebelum Ratna dan Valia datang.


"Kamu beneran bikin lagu buat Valia?" Tanya Renjani ketika mereka telah berada di dalam mobil.


"Iya tapi aku yakin dia nggak akan bisa mainin lagu itu." Kelana membuat kombinasi nada yang sulit dimainkan bahkan guru musik Valia juga akan sulit memainkannya.


"Itu sebabnya kamu bilang Valia harus belajar sungguh-sungguh."


"Ya, main violin itu nggak gampang, menurutku lebih baik Valia memainkan alat musik lain tapi dia bersikukuh ingin menjadi violinist."


"Beberapa kali aku lihat video Valia, dia beda sama kamu, aku nggak bisa merasakan cinta dari permainan Valia."


"Papa yang memaksanya bermain violin, Papa juga yang selalu memujinya di hadapanku."


Renjani heran pada Wira yang selalu memuji Valia padahal permainan anak itu tidak cukup baik. Bahkan orang awam seperti Renjani bisa melihat itu.


"Oh iya Yana, kamu beli barang yang aku minta tadi pagi?" Kelana baru ingat jika ia meminta Yana membeli lipstik baru untuk Renjani.


"Ada di paper bag hitam di samping Mas Kelana." Jawab Kelana tanpa menoleh karena ia sedang fokus menyetir.


Kelana mengambil paper bag tersebut dan mengeluarkan isinya.


"Itu produk lip cream terbaru dari—saya lupa namanya tapi kata orang yang jaga di counter nya, itu sangat-sangat transferproof Mas." Jelas Yana sesuai dengan apa yang pegawai counter jelaskan padanya saat ia membeli produk tersebut tadi pagi.


"Ini buat kamu." Kelana meletakkan paper bag tersebut di pangkuan Renjani.


"Aku nggak minta lipstik baru, yang di apartemen aja belum habis dan kayaknya nggak bakal habis sampai tahun depan."


"Itu karena tahun depan kurang dua bulan lagi."


"Iya juga sih." Renjani lupa jika sebentar lagi tahun 2022 akan segera berlalu, ini adalah tahun paling ajaib selama ia hidup di bumi. Renjani yakin tahun yang akan datang akan lebih ajaib lagi, ia tak tahu seperti apa keajaiban itu tapi perasannya mengatakan demikian.


"Aku nggak mau lipstik mu transfer ke bibir ku saat kita berciuman jadi aku minta Yana belikan lipstik baru."


Renjani terkejut mendengar penjelasan Kelana, mengapa mereka membahas hal seperti itu secara blak-blakan di depan Yana.


Sesampainya di apartemen, Yana membuatkan jeruk peras untuk Kelana tanpa diminta. Yana akan membicarakan keinginannya untuk tinggal sendiri. Sebelum membahas itu, Yana harus membuat suasana hati Kelana lebih baik. Apalagi Kelana baru bertemu dengan papa nya. Perasaan Kelana selalu buruk setiap kali bertemu papa nya.


"Yana, aku minta maaf karena kamu harus beli lipstik buat aku." Renjani menghampiri Yana di dapur.


"Nggak apa-apa Mbak, sekalian saya bisa jalan-jalan tadi." Yana tersenyum sekilas pada Renjani, ia tengah mencuci buah jeruk sebelum membelahnya.


"Maaf juga soal tadi pagi."


"Kenapa Mbak minta maaf, saya bukan anak kecil Mbak." Yana terkekeh, ia bisa mengerti apa yang biasa terjadi pada pasangan seperti Kelana dan Renjani. "Justru saya senang karena Mas dan Mbak semakin dekat, semenjak saya bekerja dengan Mas Lana, saya nggak pernah lihat dia se-bahagia itu, Mas Lana juga sudah jarang marah dan lebih banyak tersenyum, itu berkat Mbak Rere."


Renjani jadi memikirkan ucapan Kelana tadi, benarkah Kelana sudah membuang album foto Elara.


"Mbak mau juga?"


"Nggak usah." Renjani lebih memilih menuang jus mangga kemasan.


"Ada apa?" Kelana tahu jika Yana pasti sedang ingin membicarakan sesuatu dengannya.


Yana duduk di sofa sebelum mulai bicara, "Mas Lana pernah menawarkan tempat tinggal pada saya."


"Ya?" Kelana meneguk jeruk peras buatan Yana, meski tidak memintanya tapi Kelana akan menghabiskan minuman tersebut.


"Mas Lana ingat jawaban saya waktu itu?"


"Kamu bilang akan tinggal sendiri setelah aku menikah tapi aku sudah biasa dengan keberadaan mu."


"Tapi saya ingin tinggal sendiri Mas, saya janji akan selalu datang pagi-pagi kesini."


"Tinggallah di apartemen sebelah."


"Apartemen ini terlalu besar untuk saya sendiri Mas."


"Aku akan mencari unit apartemen yang lebih kecil, yang penting kamu masih berada di gedung ini."


"Baik Mas." Yana hanya bisa menurut, yang penting Kelana setuju jika ia tinggal sendiri. Yana hanya ingin hubungan Kelana dan Renjani semakin dekat. Yana berharap hubungan mereka akan terus terjalin terlepas dari perjanjian itu.


Renjani tak sengaja mendengar percakapan Kelana dan Yana. Jika Yana tidak tinggal disini itu artinya Renjani akan menjadi istri sesungguhnya yang memasak dan melayani Kelana. Padahal Renjani menyukai Yana dan telah mengganggap gadis itu seperti adiknya sendiri walaupun sifat Yana jauh lebih dewasa.


Renjani bisa mengerti, Yana pasti butuh ruang untuk dirinya sendiri. Bahkan gadis-gadis seusianya sekarang sedang menikmati masa muda mereka, gonta-ganti pacar sebulan sekali. Namun Yana berbeda, ia melakukan sesuatu yang lebih berguna.


"Aku baru saja dapat informasi kalau penghuni unit apartemen sebelah akan pindah, kamu bisa menempatinya, mungkin dia akan menikah."


"Hm? siapa Mas?"


"Orang yang tinggal di apartemen sebelah."


"Tapi penghuni apartemen itu seorang lelaki berusia 50 tahunan, sepertinya dia juga sudah berkeluarga."


"Renjani bilang namanya Yuna."


"Bukan Mas, kalau nggak salah namanya Pak Bara."


"Aku ingat saat membelikan Renjani serum, dia bilang serum itu akan membuatnya secantik Yuna, aku tanya siapa Yuna, dia bilang tetangga sebelah."


Yana menahan tawa, jika Kelana tak ada disini pasti ia sudah tertawa kencang.


"Maaf Mas tapi Yuna itu brand ambassador serum yang Mas Kelana belikan untuk Mbak Rere, dia artis Korea."


Kelana melongo, jadi Renjani membohonginya. Awas saja kamu Re!


Suara benda jatuh mencuri perhatian Kelana dan Yana. Renjani yang dari berada di depan pintu tak sengaja menjatuhkan gelas di tangannya. Renjani buru-buru memungut gelas itu dan kabur padahal ia sudah tertangkap basah.


"Rere!" Kelana setengah berlari mengejar Renjani ke dapur, "kamu bohongin aku?"


Renjani mati kutu, ia hanya bercanda soal itu tapi Kelana percaya begitu saja.


"Ampun!" Renjani menautkan tangan di depan dada meminta maaf karena telah menjahili Kelana. Kapan lagi ia akan dapat kesempatan menjahili seorang superstar.


"Kamu berani ya jahilin aku!" Kelana mengangkat tabuh Renjani dan meletakkan di bahunya dengan mudah. Renjani belum tahu saja kekuatan bahu Kelana.


Kelana menghempaskan tubuh Renjani ke ranjang dengan keras hingga membuat Renjani memantul beberapa kali.


"Jangan apa-apain aku!" Renjani menjerit.


"Aku bakal kasih kamu pelajaran supaya nggak jahil lagi." Kelana menindih tubuh Renjani.


"Kan aku udah minta maaf, aku janji nggak bakal jahil lagi, ya ampun kamu berat banget."


"Aku nggak percaya."


"Sumpah aku nggak bakal ngulangin lagi, ah berapa sih berat badan kamu?" Renjani tidak bisa bernapas karena Kelana menindihnya. Walaupun hanya dengan setengah tubuhnya tapi itu sudah cukup membuat Renjani sesak.


"Delapan puluh doang."


Renjani mendelik, itu dua kali lipat berat badannya. Renjani berusaha melepaskan diri dari tangan kekar Kelana tapi tenaganya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan Kelana. Tentu saja orang yang rutin olahraga berbeda dengan ia yang selalu bangun kesiangan. Mulai besok Renjani berkomitmen untuk rutin olahraga agar ia bisa memiliki sedikit kekuatan untuk melawan Kelana yang badannya seperti kingkong.


Kelana menekan pipi Renjani hingga bibir wanita itu berbentuk seperti ikan. Saat itu juga Kelana mencium Renjani dengan brutal. Kelana gemas dengan tingkah Renjani yang seperti anak kecil. Renjani sudah 25 tahun tapi ia seperti anak 17 tahun, begitupun dengan badannya yang kecil.


Di ruang tengah Yana hanya tertawa mendengar keributan Kelana dan Renjani. Ia bisa tenang membiarkan Kelana bersama Renjani. Sejak awal bertemu Yana sudah yakin jika Renjani bisa menjaga Kelana dengan baik. Renjani bukan tipe wanita yang mengincar kekayaan dan kepopuleran Kelana di dunia hiburan. Renjani adalah gadis yang tulus.