Married by Accident

Married by Accident
XLVI



Sepulang kerja Kelana mengajak Renjani pergi ke rumah orangtuanya, bukan karena ia ingin mengunjungi papa nya apalagi Ratih. Kelana ingin memperlihatkan studio musik mama nya pada Renjani. Kelana ingin menunjukkan gantungan kunci yang mama nya buat dulu.


"Ada apa kamu kesini?" Wira menyambut Kelana di depan pintu.


"Aku cuma mau ke studio musik Mama memastikan alatnya nggak ada yang rusak." Sindir Kelana.


Wira tersenyum miring, "kamu lupa pintu itu menggunakan finger print?"


"Papa bisa melakukan segala cara jika sudah menginginkan sesuatu."


Ratih muncul di belakang Wira, ia menyapa Kelana dan Renjani meminta mereka segera masuk disertai senyum yang dibuat-buat. Renjani bisa melihat kebohongan di wajah Ratih.


"Kalian mau minum apa?" Tanya Ratih.


"Nggak usah repot-repot Ma." Renjani tersenyum menolak tawaran Ratih, ia yakin Kelana juga tidak akan mau berlama-lama mengobrol dengan mereka.


"Ayo ke atas." Kelana menarik tangan Renjani menaiki tangga menuju lantai dua.


Kelana menempelkan ibu jarinya pada sensor finger print lalu memutar kenop pintu. Indra penciuman Kelana langsung menangkap aroma kayu dan kertas-kertas yang sudah usang. Mungkin hanya Kelana yang bisa mencium aroma ini karena dulu ia sering menghabiskan waktu disini —sejak mamanya meninggal.


Dulu Karalyn juga sering menghabiskan waktu disini, membuat lagu dan bermain violin.


"Ayo masuk." Ajak Kelana pada Renjani yang terlihat ragu-ragu hendak masuk.


Renjani menyusul Kelana dan kembali menutup pintu. Pandangannya menyapu seluruh ruangan, berada di tempat seperti ini membuat Renjani tak berhenti merasa kagum. Sayang sekali ia tak berbakat memainkan alat musik apapun. Bahkan memainkan lagu twinkle twinkle little star saja ia tidak bisa.


"Ini bunga Azalea yang ditanam Mama mu?" Renjani mendekat ke bunga Azalea yang tertanam di dalam pot dekat jendela.


"Bukan, bunga itu sudah mati tapi aku menanamnya yang baru." Kelana membuka lemari untuk memperlihatkan gantungan kunci dari resin yang dibuat mama nya.


"Wah bagus banget, Mama Karalyn produktif ya." Mata Renjani berkilat-kilat melihat semua gantungan kunci yang tersimpan rapi di dalam lemari tersebut. "Yang ini ada bunga tulip nya." Renjani mengambil satu gantungan berbentuk hati dengan bunga tulip di dalamnya. Sekarang Renjani tahu kenapa Kelana amat menjaga studio ini. Jika jadi Kelana, Renjani juga tak akan membiarkan siapapun masuk kesini. Ini adalah satu-satunya tempat Kelana bisa mengenang mama nya.


"Yang ini buat kamu." Renjani memberikan gantungan kunci berbentuk violin transparan pada Kelana. "Ini punya kamu."


"Kamu boleh mengambilnya, itu sudah menjadi milikmu sejak 20 tahun yang lalu."


"Aku udah punya yang ini." Renjani menunjuk gantungan dengan bentuk sama yang ia dapat dari dalam album Kelana.


"Aku memberikannya untuk mu, lagi pula aku masih bisa lihat setiap hari di tas mu."


Renjani tersenyum lebar, jujur saja sebenarnya ia tidak rela mengembalikan gantungan tersebut walaupun itu bukan miliknya. Namun Renjani terbiasa melihatnya terpasang di tasnya.


Renjani melangkah mendekati piano yang berada di tengah ruangan. Ia menyentuh piano tersebut dengan hati-hati seolah itu adalah bayi baru lahir, takut menyakitinya.


"Kamu mau main?" Kelana mendorong bahu Renjani untuk duduk. Kelana membuka tutup piano itu dan duduk di samping Renjani.


"Aku bener-bener nggak bisa main."


"Gimana kalau kamu belajar dari lagu yang paling gampang, Kiss the Rain yang waktu itu pernah aku mainkan."


"Gimana kalau Twinkle Twinkle Little Star aja?" Renjani bertanya dengan ragu.


"Baiklah."


Renjani terkejut, ia pikir Kelana akan mengejeknya karena memilih lagu anak-anak untuk dimainkan.


"Aku akan mulai baris pertama terus kamu ulang ya." Kelana menekan tuts untuk memainkan baris pertama lagu twinkle twinkle little star.


Renjani memperhatikan dengan sungguh-sungguh deolhaimha itu adalah ujian. Jika salah maka ia tak akan naik kelas.


Renjani mengulangnya sesuai urutan yang sudah Kelana contohkan.


Kelana memainkan baris selanjutnya, ia hafal lagu itu di luar kepala meski sudah lama tidak memainkannya.


"Sekarang kamu mainkan sendiri."


Gerakan tangan Renjani tidak se-luwes Kelana tapi ia berhasil memainkan lagu twinkle twinkle little star dengan lancar.


Kelana memberi tepuk tangan setelah Renjani mengakhiri permainan pianonya.


"Kamu punya bakat jadi pianis."


"Sama sekali enggak,ini bikin aku stress." Kata Renjani, meskipun ia senang saat berhasil memainkan satu lagu tapi ia merasa terbebani. Renjani lebih memilih mengedit naskah hingga tengah malam dari pada menekan tuts piano ini.


"Mau coba violin?" Kelana melihat beberapa violin yang berada di ruangan itu.


"Enggak, aku lihat kamu main aja."


"Tapi kamu udah sering lihat aku main violin."


"Tapi aku belum bosan."


"Pertunjukan violin memang nggak akan pernah membosankan." Kelana beranjak mengambil satu violin. "Lagu apa yang Nona ingin dengar?"


Renjani ingin mengatakan Senja Bertemu Cinta tapi ketika mengingat itu adalah lagu yang Kelana ciptakan untuk Elara, ia mengurungkan niatnya padahal itu adalah lagu favoritnya. Renjani harus segera menemukan lagu lain sebagai pengganti Senja Bertemu Cinta.


"A Cup of Coffe."


Renjani memperhatikan otot Kelana yang menonjol di balik lengan kemejanya. Kain itu sama sekali tidak bisa menyembunyikan tubuh kekar Kelana. Bagaimana Renjani tak jatuh hati pada pesona Kelana, pria itu sempurna.


Ketukan pintu menghentikan permainan Kelana di tengah lagu. Renjani beranjak lebih dulu untuk membuka pintu.


Valia muncul ketika Renjani membuka pintu. Valia melempar tatapan tajam pada Renjani dan menerobos masuk.


"Siapa yang mengizinkan mu masuk?" Tanpa melihat, Kelana tahu jika itu adalah Valia.


"Kak Kelana bilang mau bikinin aku lagu."


"Minta Papa memeriksa email nya, aku udah kirim tapi aku nggak yakin kalau kamu bisa memainkannya dengan baik."


"Kak Lana terlalu meremehkan ku."


"Kamu harus mempelajarinya, kamu harus bikin orang percaya kalau itu lagu buatan mu."


Valia berjalan melewati Kelana, ia sudah lama ingin masuk ke studio ini tapi Kelana tak pernah mengizinkannya.


"Ternyata kamu pakai cara seperti ini." Tukas Renjani, Valia menggunakan cara murahan untuk populer.


Valia menoleh, "maksud kamu apa?"


"Aku baca di comment section, mereka menonton video mu karena kamu adiknya Kelana, kamu harus berjuang lebih keras untuk mencapai popularitas, jangan pakai cara instan, bahkan orang awam kayak aku aja tahu kalau kemampuan kamu main violin masih di bawah rata-rata."


Kelana terkejut mendengar Renjani, ia bangga pada Renjani karena bisa berkata jujur terhadap Valia.


Valia mendekati Renjani, "memangnya kamu siapa, coba kamu ngaca deh sebelum ngomong kayak gitu."


Renjani menaikkan dagunya, ia sudah lama ingin melawan Valia yang kurang ajar ini.


"Kamu nikahin Kakak aku karena uang kan?"


"Kamu membicarakan aku atau Mama mu?"


"Kurang ajar ya kamu!" Valia hendak melayangkan tamparan pada wajah Renjani tapi sebelum itu terjadi Kelana menahan tangannya.


"Keluar dari sini." Pinta Kelana dengan raut wajah dingin.


Valia menelan salivanya susah payah, ia menepis tangan Kelana dan berlalu dari sana.


Wajah Renjani memerah menahan amarah tapi Kelana justru tertawa gemas. Kelana masih tak menyangka karena Renjani memiliki keberanian untuk melawan Valia.


"Dia pernah membuatmu kesal sebelumnya?" Tanya Kelana karena ia lihat Renjani seperti menyimpan dendam pada Valia.


"Dia pernah bilang kalau aku bukan tipe mu, aku tahu dan sangat sadar diri tanpa dia bilang gitu." Renjani menjelaskan dengan menggebu-gebu.


Kelana menatap Renjani lekat, ia hendak mencium kening Renjani tapi dengan cepat Renjani melepaskan diri dari Kelana.


"Kenapa menghindar?" Kelana tersinggung karena Renjani sering menghindar saat ia hendak menciumnya. "Kenapa Re?"


"Kamu bikin aku bingung." Kelana melihat keluar jendela, tidak ada yang bisa dilihatnya—hanya gedung rumah tetangga.


"Dimana letak kebingungan mu?" Kelana tak mengerti mengapa Renjani bingung setelah ia mengungkapkan perasaannya dengan sangat jelas.


"Kamu bilang cinta sama aku." Renjani memutar kepala menatap Kelana.


"Kamu nggak percaya?" Kelana berjalan mendekat.


"Aku pengen banget percaya tapi nggak bisa." Kata Renjani frustrasi, semakin menginginkannya ia juga tak bisa melakukan itu. Ada sosok Elara yang membayang-bayanginya.


"Kenapa, aku sudah membuktikan dengan seluruh tubuhku bahwa aku mencintaimu."


"Aku nggak sengaja lihat foto-foto Elara di laci nakas." Renjani mengalihkan pandangan ke arah lain, ia merasa bersalah karena lancang melihat barang-barang Kelana tanpa izin tapi jika tidak maka ia akan terus dipermainkan oleh Kelana.


"Jadi kamu udah lihat itu?" Sepertinya Kelana telat membuang album itu. Kekhawatirannya terjadi, Renjani pasti salah paham.


"Iya, makanya jangan pernah bilang cinta lagi, aku nggak akan percaya, ayo lewati 7 bulan yang tersisa tanpa cinta supaya aku nggak terjebak di dalam perasaanmu yang bikin aku bingung." Renjani berjalan melewati Kelana, ia ingin pulang meskipun tidak punya rumah. Tak ada tempat yang bisa menjadi rumahnya untuk berkeluh kesah.


"Aku udah buang album itu."


Langkah Renjani terhenti mendengar itu, apakah kali ini Kelana membohonginya lagi.


"Kamu bisa tanya Yana kalau nggak percaya."


Renjani kembali melangkah, saat ini pikirannya benar-benar keruh. Ia terlalu sering dibohongi untuk mudah percaya.


"Tunggu Re." Kelana memeluk Renjani dari belakang, kakinya yang panjang membuatnya mudah menyusul Renjani yang berada di depan pintu. "Apa yang harus aku lakukan supaya kamu percaya?"


Renjani terdiam, ia belum bisa menerima perasaan Kelana. Hubungan ini akan lebih sulit jika mereka saling jatuh cinta. Renjani tak tahu apakah ia mampu menampung cinta dari seorang Kelana yang sempurna di hatinya yang begitu sempit tergerus rasa sakit di masa lalu.


"Cintai aku, Renjani." Kelana mengeratkan pelukannya, ia tak mau melepasnya sebelum Renjani menjawab.