
"Ya, lebih baik kalian bercerai karena tidak ada lagi alasan untuk tetap bertahan saat Floe sudah kehilangan janinnya!" sarkas Hugo Madison yang saat ini tidak lagi bertele-tele karena berharap menantu yang sangat tidak disukainya itu segera menyetujui.
Apalagi ia selama ini tidak tinggal diam setelah putrinya memutuskan menikah dengan putra dari musuh besarnya. Ia tahu jika Erland menjalin kasih dengan seorang wanita yang dulu adalah teman kampusnya hingga sekarang yang telah menjadi dosen di London.
"Jadi, kau bisa kembali pada kekasihmu yang bernama Marcella itu. Jangan pikir aku hanya seorang pria tua yang tidak tahu apa-apa." Ia tersenyum smirk kala melihat ekspresi Erland terkejut dan menampilkan wajah tidak suka padanya.
Erland yang tadinya melirik mesin waktu untuk memastikan masih ada waktu sebelum ia berangkat ke bandara, seketika mengangkat pandangannya pada sosok mertua yang ternyata menyelidiki tentang kehidupan pribadinya.
Ia sebenarnya sangat kesal karena campur tangan mertuanya pada kehidupan pribadinya. Berpikir jika masa lalunya sama sekali tidak berhubungan dengan kesalahan yang dilakukan bersama Floe ketika mabuk.
Hatinya yang dikuasai oleh emosi, kini membuatnya tidak lagi membuang waktu lebih lama. "Baiklah. Jika Anda ngotot ingin mengurus perceraian, lakukan saja."
Ia hanya membiarkan sang ibu yang menggerakkan lengannya agar berhenti, tapi sama sekali tidak mau mengalah dengan sikap seenaknya sendiri dari sang mertua.
"Tentu saja Anda juga harus mengatakan hal sebenarnya pada Floe dan tidak memfitnahku yang memikirkan perceraian di saat istri baru mengalami kemalangan." Kemudian ia menoleh ke arah sang ibu. "Ayo, kita pergi, Ma. Buat apa tetap di sini jika sama sekali tidak dihargai sebagai seorang manusia."
Saat Elvina Garvita sudah menduga jika semuanya akan makin memburuk jika mengandalkan emosi, ia makin menyayangkan jika perceraian terjadi saat Floe masih berada di dalam ruangan operasi.
"Sayang, jangan mengandalkan emosi du saat yang tidak tepat. Apa tidak bisa diselesaikan dengan kepala dingin setelah Floe pulih?" Ia melihat Lestari Juwita pun menganggukkan kepala dan menatapnya dengan penuh rasa terima kasih.
Seolah berterima kasih jika ia bisa memahami perasaan putri satu-satunya wanita itu. "Saat ini bukankah seharusnya kita harus bersatu untuk menghibur seorang ibu yang kehilangan janinnya? Floe sekarang butuh dukungan, bukan malah makin menghancurkan mentalnya!"
"Mungkin hanya seorang wanita yang bisa mengerti bagaimana hancurnya perasaan seorang calon ibu yang kehilangan calon keturunannya." Lestari Juwita sengaja menyindir sang suami dan mengarahkan tatapan tajam.
Ia benar-benar sangat geram karena bukan pertama kalinya sang suami lebih mengedepankan ego daripada menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Hingga ia pun kini mulai berjalan menuju ke arah sosok wanita yang merupakan besannya tersebut.
"Terima kasih karena menjadi sosok ibu untuk Floe. Putriku sering menceritakan tentang ibu mertua yang baik dan selalu memberikan perhatian saat hamil." Memeluk erat besannya untuk menyalurkan hawa positif agar tidak larut dalam kesedihan.
"Sama-sama, Jeng. Jangan bicara seperti itu karena aku pun punya seorang putri dan berharap akan diperlakukan dengan baik oleh mertuanya suatu saat ketika sudah menikah dan pergi dari rumah." Elvina Garvita yang kini membalas pelukan sambil mengusap lembut punggung besannya.
Sementara itu, Erland dan Hugo Madison hanya diam menatap ke arah dua wanita yang masih saling memberikan support sistem tersebut. Bahkan mereka juga sempat saling bersitatap dan membuang muka saat menyadarinya.
Seolah keduanya masih belum bisa menetralkan amarah serta keegoisan masing-masing. Hingga beberapa saat kemudian suara bariton Erland menguraikan suasana penuh ketegangan di antara mereka.
"Mungkin akan lebih baik jika menyerahkan semuanya pada Floe. Aku akan mengikuti apapun keputusannya. Memang sekarang bukan saat yang tepat untuk membahasnya dan bukan aku yang memulainya. Jadi, lebih baik aku pergi, daripada terus menerus berdebat di sini." Kemudian Erland berlalu pergi karena yakin jika sang ibu tidak ingin pergi dari sana sebelum mengetahui keadaan Floe.
Ketika ia baru beberapa langkah berjalan, seketika berhenti kala tertampar dengan perkataan dari sang ayah mertua.
"Pergilah dan jangan kembali menampakkan wajahmu di depan putriku. Bukankah kau akan berangkat ke London beberapa jam lagi?" Hugo Madison tertawa terbahak-bahak melihat siluet belakang Erland yang tidak berkutik dan yakin jika tidak akan berani berbalik badan.
Akhirnya ia membuka rahasia itu karena berpikir jika sang istri salah paham padanya dengan menganggapnya egois dan tidak memikirkan tentang perasaan putri sendiri.
'Sial! Jadi dia tahu semuanya? Aku malah sekarang seperti seorang pecundang di depannya. Harusnya tadi kukatakan saja jika akan pergi ke London karena Marcella bunuh diri dan masih kritis keadaannya,' gumam Erland yang merasa bingung harus menjelaskan atau tidak.
Bahkan ia seolah tidak punya nyali untuk berbalik badan menghadapi sang mertua. Hingga ia pun kembali mendengar suara tertawa terbahak-bahak yang seolah mengejeknya habis-habisan.
Hugo Madison yang melihat ekspresi wajah berbeda dari sang istri, kini merasa puas karena bisa membalik keadaan dalam sekejap. Sambil menunjuk ke arah Erland yang masih memunggunginya, ia pun kini makin meledakkan amarah tertahan yang dirasakan.
"Sekarang kamu tahu alasanku tidak ingin membuang waktu, bukan? Itu karena aku sangat menyayangi putriku dan tidak rela jika disia-siakan oleh seorang pria pecundang sepertinya!" Dengan wajah memerah, ia kini merasa senang ketika sang istri sudah tidak lagi menyalahkannya.
Lestari Juwita yang tadinya baru saja melepaskan pelukannya pada besan, seketika ingin mencari pembenaran dari ucapan sang suami. "Apa benar itu, Jeng? Kamu tahu putramu akan pergi ke London hari ini dan membiarkan putriku pulang naik taksi?"
"Aku bisa menjelaskannya, Jeng." Ervina Garvita yang merasa bersalah karena tidak bisa menasihati Erland, sehingga saat ini seperti tidak punya muka lagi di hadapan seorang wanita yang tengah terluka hatinya.
Namun, ia seketika terdiam begitu wanita itu hanya menggelengkan kepala dan makin membuatnya tidak berkutik.
"Lebih baik kau pergi bersama putramu dan hubungan ini berakhir hari ini juga. Memang lebih baik jika putriku menjadi janda daripada harus merasa menjadi istri tidak diinginkan." Ia pun kini berjalan menuju ke arah kursi setelah meninggalkan sosok wanita yang tadinya ia pikir menyayangi putrinya.
Ervina Garvita yang sama sekali tidak berkutik, tidak ingin membela diri ketika semuanya makin memanas. Bahwa besannya tengah dikuasai oleh emosi dan akan percuma jika ia membela diri.
"Maafkan aku karena tidak bisa menjadi mertua yang baik untuk Floe." Ia pun melangkah pergi hendak berlalu dari ruangan operasi bersama putranya.
Namun, melihat Erland yang berbalik badan dan berjalan mendekati pasangan suami istri paruh baya itu, membuatnya menahan lengan putranya.
"Semuanya tidak seperti yang Anda pikirkan, Nyonya Lestari Juwita! Mamaku sama sekali tidak bersalah dan tidak ada kaitannya dengan kesalahanku!" seru Erland yang tidak terima dengan tuduhan dari ibu mertuanya.
Ia ingin menjelaskan semuanya tentang perintah dari sang ibu, tapi tidak diperdulikan. Namun, ia malah ditarik oleh sang ibu agar segera pergi dari sana.
"Erland, semuanya sudah terjadi. Tidak perlu menjelaskan apa yang memang benar terjadi." Kemudian menarik lengan putranya agar berjalan bersamanya meninggalkan pasangan suami istri itu.
"Tapi, Ma. Mama tidak bersalah." Masih berusaha untuk tidak mengikuti perintah sang ibu. Namun, ia melihat pergerakan wanita yang sangat disayanginya itu ketika melirik ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiri.
Hal itu membuatnya menyadari jika waktu makin berjalan dan tidak ada waktu lagi untuk berada di Rumah Sakit. Meskipun merasa bersalah pada sang ibu, tetap saja ia tidak bisa membuatnya menguraikan kesalahpahaman.
'Maafkan aku, Ma,' lirih Erland yang akhirnya hanya bisa mengungkapkan di dalam hati dan membuatnya melangkahkan kaki panjangnya mengikuti sang ibu.
To be continued...